Catatan Seorang Gembala

Di pagi yg cukup cerah ini, dan utk mengisi kekosongan waktu serta sedikit membuat nyaman hati, kucoba menghibur diri d tengah dilema yg ada. Dimensi kian merajut asa dalam kesendirian tidak, kebersamaanpun jauh dari kata nyaman. Sementara diri harus tetap berdiri teguh melantunkan melodi melodi serta syair-syair yg sekiranya bisa memberi motivasi lebih utk terus bertahan hidup. Maka akupun d bawa terbang ke alam mereka yg berusaha memboyongku dalam persimpangan masing-masing yg menurut mrk adalah jalan terbaik utkku. Namun biarlah, aku dg diriku sendiri. Dg citaku sendiri dan dg anganku sendiri. Bagiku mengikuti insting nurani yg aku merasa sdh terlatih secara alami adalah lebih menentramkan. Ujian tak hanya datang dari kesenanganbelaka, namun dalam kepedihan, ujian akan terasa lbh nyata dan lebih bermakna dalam memaknai arti dari sebuah ujian. Aku tak pernah berfikir ini adalah jalan terbaikku, mamun aku hanya ingin menikmati setiap jengkal langkah yg telah terkendali dari dalam diri secara alami. Biarkan semua mengalir dg apa adanya tanpa harus menyembunyikan setiap kekesalan yg kerap kali timbul karenanya. Biarkan semua tumbuh bersama hujan dan petir. Biarkan tanah bergolak menenggelamkanmu dalam perlawanan daripada menyerah pd keadaan. Karena Allah senantiasa bersama orang-orang yg senantiasa bertafakuqur. Berjalan tergontai memberi sedikit pencerahan bahwa kehiduan ini bukanlah sebuah perencanaan dan laminan apalagi mimpi yg kerap d khaualkan tanpa tindakan. Bahwasanya, tindakan yg real, tindakan nyata meski itu tergontai, walau sedikit terhuyung, dg sedikit pikiran maju d depan akan perencanaan cukuplah membuat sinar terang dalam mwenemani langkah-langkah gontai ini. Memang hidup tanpa perencanaan ibarat melam tanpa bintang. Hitam, pekat, dan menyeramkan. Yang acap kali membuat org tersesatkan karenanya. Namun meski demikian, hidup penuh dg rencana, hidup penuh dg ide, ataupun hidup penuh dg mimpitanpa tindakan-tinfakan ug nyata dan kongkrit hanya akan menciptakan kegilaan-kegilaan batu. Karena bagaimana bisa org yg hany bisanya membuat planing dan pinter menyusun naskah protokol tencana jangka pendek, menengah dan panjang itu sanggup menciptakan inovasi-inovasi dalam hidupnya jika bergerak saja dia kesulitan. Yak, kesulitan entah karena itu kebanyakan rencana atau kepanjangan naskah hingga bingung harus memulai dari mana. Bahkan bukankah Allah sendiri melarang umatnya utk neranjang angan-angan? Tidaklah diragukan bahwa barangsiapa yang berangan-angan bisa berjalan di siang hari maka dia akan berjalan dengan langkah yang lemah dan penuh kemalasan. Demikian juga barang siapa yang berangan-angan mendapatkan waktu subuh maka dia akan beramal di malam hari dengan amal yang ‘lemah/ala kadarnya’. Sedangkan barang siapa yang membayangkan/tergambar di depan matanya kematian akan segera datang maka dia akan bergegas dan bersungguh-sungguh. Bahkan Ibnul Jauziy Rahimahullah melanjutkan Maukah kalian aku peringatkan dari bahaya ‘nanti/menunda-nunda sesungguhnya adalah bala tentara iblis yang paling besar. Dalam setiap tindkan mmg kiya d tuntut utk sll berfikir. Tapi bukan berarti harus berfikir trz tanpa tindakan. Karenaitu hanua akan menciptakan masalah baru bagi langkah dan tindakan yg seharusnya d ambil dg cepat. Berpikirlah sblm bertindak. Lantas ambil tindakan secapatnya ug sesuai dg bisikan nurani. Kesampingkan dulu rasa nyaman. Katena kenyamanan hanya bisa di dapat setelah usaha d kerjakan. Terlepas dari hasil yang di peroleh. QS 4. An Nisaa':120 يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمْ ٱلشَّيْطَـٰنُ إِلاَّ غُرُوراً "Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka." Dalam suatu hadits, bersabda Nabi saw. : “Sesuatu yang paling mengkhawatirkan dan aku khawatir atas kamu adalah dua hal : Panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu. Dan sesungguhnya panjang angan-angan membuat lupa kepada akhirat, sedang mengikuti hawa nafsu akan menghalangi dari kebenaran”. Maka dari itu, singsingan lengn baju. Apalagi yg hendak d tunggu, segeralah bertindak. Bismillahitawaqaltu 'alallah.... /@cwi

selengkapnya...

Ajari Anak tentang Iman Kepada Allah

فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِيمَانِ؟ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ, قَالَ: صَدَقْتَ “Kabarkanlah kepadaku tentang iman, Beliau menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir baik dan buruknya.’ Ia mengatakan, ‘Engkau Benar.’” (HR. Muslim no. 8 ) Inilah enam rukun iman yang wajib kita ajarkan kepada anak. Iman mengharuskan adanya sikap menerima dan tunduk. Diperlukan pengetahuan untuk mendapatkan sikap tunduk dan menerima sehingga pengikraran kita tidak semata ada di lisan saja, tetapi juga diiringi hati yang tunduk dan menerima, tidak menolaknya. Anak harus paham bahwa ia diciptakan ke muka bumi ini hanya untuk beribadah kepada Allah semata. Beribadah kepada Allah ini harus diiringi kepatuhan, tunduk dan menerima segala aturan yang telah Allah tetapkan.  Oleh karena itu berilah ia pengetahuan tentang siapa Rabbnya, dan bagaimana ia mengenal-Nya. Hingga akhirnya ia dapat menerima dengan ikhlas tanpa adanya paksaan atas segala perintah Allah dan Rasul-Nya. Artikel ini akan membahas rukun iman yang pertama yakni iman kepada Allah. Iman kepada Allah merupakan pondasi utama dalam pembentukan karakter anak dimana kelak diharapkan anak mempunyai karakter yang kuat sebagaimana Rasulullah shalallaahu ‘alaihi  wa salam. Yang takut kepada Allah dan selalu berhati-hati dalam tiap tindakan yang beliau lakukan. Yang berusaha melaksanakan semua perintah-Nya dan menghindari larangan-Nya. Yang selalu menjaga amal ibadah sehari-hari dan tidak menyia-nyiakan waktu yang ada. Iman kepada Allah jugalah yang merupakan pembeda antara orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir. Ajarkan Ia Iman Kepada Allah Beriman kepada Allah mencakup empat hal : Pertama: Beriman dengan wujud Allah. Terangkan kepadanya bahwa Allah itu ada dan barang siapa yang mengingkari keberadaan Allah, maka dia bukan orang yang beriman. Ceritakan kisah Fir’aun yang berkata kepada Musa ‘alaihisallam “Siapakah Rabb alam semesta?” Fir’aun tetap menyimpan keyakinan dalam hatinya akan adanya Allah. Musa berkata kepadanya, “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tidak ada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata” (QS. Israa’: 102). Akan tetapi dia tetap mengingkarinya sebagaimana Allah ta’ala berfirman وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا “Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan, padahal hati mereka meyakini kebenarannya.” (QS. An-Naml: 14) Kedua: Beriman dengan keesaan Allah dalam Rububiyah-Nya. Artinya meyakini bahwa Dialah satu-satunya Rab, Yang Esa dalam Rububiyah-Nya.  Ar-Rabb artinya pencipta, pemilik, pengatur (semua hal yang merupakan perbuatan Allah, yang khusus bagi-Nya). Ceritakan kepada anak tentang surat Al-Ikhlas. قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (١)اللَّهُ الصَّمَدُ (٢)لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (٣)وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (٤) “Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”  (QS. Al Ikhlas: 1-4) Katakan padanya bahwa Allah itu satu, Allah itu Maha Esa.  Untuk membantu anak memahami hakikat makna “satu atau esa” dalam kalimat “Allah itu satu, Maha Esa”, dapat dilakukan dengan permainan. Contoh permainannya sebagai berikut: Pertama jelaskan terlebih dahulu makna tauhid kepada Allah, yaitu mengesakan Allah, tidak mempersekutukan-Nya. Hanya Allah sajalah yang mengatur segela urusan kita. Seluruh makhluk bergantung kepada-Nya dalam semua urusan dan permasalahan.  Allah tidak punya anak, tidak punya orang tua juga tidak punya istri. Allah itu satu. Kemudian jelaskan isyarat bilangan 1-5 dengan jari-jari tangan: bilangan satu (mengacungkan telunjuk) dan bilangan dua (mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah), dst Perintahkan anak mengucapkan “Allah Maha Esa” ketika kita menunjukkan isyarat satu jari. Jika kita mengacungkan jumlah yang selainnya maka anak mengucapkan “Tidak!” Instruktur mengacungkan isyarat jari tangan dengan jumlah bilangan yang berselang-seling. Misal satu, kemudian empat, kemudian satu lagi, lalu tiga dan seterusnya. Anak yang salah ucap diberi kesempatan menjawab sendiri. Demikian seterusnya sampai anak dapat memahami hakikat makna esa (satu) dan seluruh anak memahami benar konsep Allah itu Esa (Satu). Semakin lama kita semakin cepat menunjukkan isyarat jarinya. Berhentilah jika anak sudah bosan. Ketiga: Beriman terhadap keesaan Allah dalam Uluhiyah-Nya. Bahwasanya Allah Ta’ala sajalah yang berhak disembah. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Dia dan tidak ada sekutu bagi-Nya.  Tauhid inilah yang membedakan orang islam dengan orang kafir. Kenalkan kalimat tauhid kepadanya sejak dini. Ketika ia mulai berinteraksi dengan lingkungan sekitar, yakni saat ia sudah mulai menirukan tingkah laku serta perkataan yang kita lakukan dan ucapkan.  Ajarkanlah ‘laa ilaaha illallah’, sebagai kalimat yang pertama kali bisa mereka ucapkan secara fasih. Ibnul Qayyim dalam kitab Ahkamul Maulud menjelaskan, “Dia awal waktu ketika anak-anak mulai bisa berbicara, hendaklah mendiktekan kepada mereka kalimat  ‘Laa ilaaha illallah, Muhammad rasulullah’ dan hendaklah sesuatu yang pertama kali didengar oleh telinga mereka adalah ma’rifatullah (mengenal Allah) dan mentauhidkan-Nya. Juga ajarkan kepada mereka bahwa Allah berada diatas Arsy-Nya, Dia senantiasa melihat dan mendengar perkataan hamba-Nya, dia senantiasa bersama mereka dimanapun mereka berada.” Tanamkan kecintaan yang mendalam kepada Allah. Jelaskan padanya bahwa hanya kepada Allah lah kita meminta, dan hanya kepada-Nya pulalah kita memohon pertolongan.  Jelaskan pula seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering. Kempat: Beriman terhadap asma’ dan sifat Allah yakni beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya. Kita wajib beriman terhadap nama dan sifat Allah sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya shalallaahu ‘alaihi wa salam menurut apa yang pantas bagi Allah subhanahu wa ta’ala, tanpa tahrif (penyelewengan), ta’thil (perubahan makna), takyiif (menanyakan bagaimananya) dan tamtsiil (memisalkan atau menyerupakan dengan makhluk).  Allah ta’ala berfirman لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ “Tidak sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-syura: 11) Jelaskan dengan contoh  bahwa Allah itu Maha mendengar namun pendengaran Allah tidak sama dengan pendegaran makhluk. Sebagaimana kucing mempunyai kaki, dan kaki kucing tidak sama dengan kaki manusia. Allah itu berbicara sebagaimana yang dia kehendaki. Sebagaimana firman Allah وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا “Dan siapakah orang yang lebih benar perkataannya dari pada Allah?“ (QS.An-Nisa’: 87) وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung” (QS. An-Nisa’:164) Dan tentu berbicaranya Allah tidaklah sama dengan berbicaranya makhluk. Sebagaimana berbicaranya kucing tidak sama dengan berbicaranya manusia. Menetapkan nama dan sifat untuk Allah harus sesuai dengan nama dan sifat yang Dia berikan untuk Diri Nya dalam kitab Nya atau disampaikan oleh Rasul Nya. Tidak boleh melanggar Al-Qur’an dan As-Sunnah karena tidak seorang pun yang lebih mengetahui Allah daripada Allah sendiri, dan tidak ada –sesudah Allah-orang yang lebih mengetahui Allah daripada Rasul Nya. Demikian pembahasan iman kepada Allah. Semoga dapat memberi manfaat. *** Penulis: Putrisia Hendra A. (Ummu Hafizh) Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits. Artikel www.muslimah.or.id /@cwi

selengkapnya...

DEJAVU

Takkan pernah ada yang akan memungkiri kalau kehidupan ini penuh dengn intrik-intrik dan berbagai macam masalah. Begitupun halnya dengan berumah tangga. Bukan sesuatu yang mudah untuk bisa menyatukan segala perbedaan yg ada. Apalagi spt kita ketahui bersama, pondasi daripada rumah tangga yang kuat itu adalah cinta. Memang, menikah adalah sebuah kewajiban bagi tiap - tiap muslim. Selain utk menyempurnakan agama, dg menikah juga bisamenjauhkan segalamacam bentuk fitnah yg tak jarang membuat tak nyenyak utk tidur. Namun disamping itu pula, dg menikah bkn lantas persoalan akan selsai sampai d sanah.justru kehidupan yg sebenarnya baru di mulai.
Baiklah, ku juga sadar aku bukanlah siapa - siapa untuk terus ngacaprak mencari alibi membenarkan dg apa yg telah menjadi sebuah keputusanku. D sni kuhanya ingin sedikit ngedongen.bercerita tanpa bermaksud ingin mennelek-jelekan siapapun juga. Hanya sekedar mencari pembelajaranakan rumus dalam kehidupan yg penuh dengann mksteri ini. Hari ini, tepat satu thn yg llu, merupakan malam yg istimewa buat org yg istimewa pula. Berjalan dalam penuh kesederhanaan di tengah kejamnya aktifitas yg menyita dan banyak mengurangi waktuku untuk senantiasa terus menari di atas kebebasan yg begitu berarti buatku. BErkendara ditengah malam yg dingin, mencari se ercah semanvat yv dapat menhatukan dan memperkuat perasaan ikatan cinta kita.malam yg mencekam, karena akupa tak bisa membawamu terbang jauh spt yg kamu inginkan. Karena mmg sekali lg, waktu kebebasan ktulahyv sll menguntit dan senantiasa tak merasa senang jika kita berjalan beriringan lbh jauh lg. Namun,y terkadang waktu ygs sediki jualah yg terkadang mmmbuat segalanya terasa lbh istimewa. Dan akhirnya kitapun menemukan boneka dasamuka spt yg kamu inginkan. Tak banyak bicara dan tak banyak komentar, kumengayuh malamm terus utk menelusunri pagi yg kuharapka dapat menemukan kecerahan yg senantasa Ku impikan dan selaluakhharapkan itu bisa aku temukandalam sosok dirimu. Masih di malam yg sema,aku tak mau menyebut ini adalah sebuah perjuangan. Bagiku ini sdh menjadi kewajlban utk bisa membahagianmu dg harapan akupun bisa menemukan alasan utk terus mencintaimusampai akhir hayat nnt. Cerita tak terputus d jalan itu. Kitapinmelanjutka perjalanan menunu sebuah ceriga yg amu baral bisa berbuah kesan yv manis. Dan mememng, bagiku cukup sukses, walau aku sendiri tak yakain dg dirimu. Aku hanya berusaha memenhbi kewajibanku utk membuatmu bahagia dg caraku dan yg aku bisa. Malam itu, ditengah deru yg mengebu, di puncak kejayaan kita mengibarkan panji. Kubisikan bayu yg menggebu d sebelah telingamu sebelah kiri. Kuraih syair, dan kuteriakan d antara telingamu yg aku sendiri tau, kamupun menikmatinya. Kita menari, d tengah rembulan semu yg kau ciptakan utkku. Yak aku ingat itu. Dan akan sll mengingatnya walau aku senidiri tak prnh mau mengingatnya. Satu hal yg pernah aku dapatkan, rembulan semu yg walaj sempat melenakannku dalam imatan suci, namun terkhianati oleh sesuatu yg aku banggakan sendiri. Kiranya tak ada zesuatu ygabadi d dunia ini, namun aku ingin mengakhirinya dg indah. Bukan spt ini. Manusiawi jika kiranya manusia ingi kan apa yg terbaik utk diraih. Tapi janganlah mengorbankan sesuat yg telah d korbankan. Hargailah, dan pandanglah itu sbg objektifitas yg senantiasa memayungi pagar kehidupanmu.semoga kamu menemukan kebahagiaan dg apa yg telah kamu lakukan thpku. Aku d sni,utk saat ini takkan bisa melupakan apa yg telah kamu perbuat utku. Well, thx so much atas pembelajarannya. Wasalam,see u..... /@cwi

selengkapnya...

Gabung bersama kami

About Me

admin jg menerima pelayanan jasa

admin jg menerima pelayanan jasa
Jasa arsitek rumah; desain arsitek / desain rumah, gambar denah rumah, bangun rumah baru, renovasi rumah dan pembangunan mesjid, mushola, ruko, disaign taman, dll. klik gambar utk kontak personal.

Syiar Islam On Twitter

Site info

Kalkulator Zakat Fitrah

  © Syiar islam Intisari Muslim by Dede Suhaya (@putra_f4jar) 2015

Back to TOP  

Share |