Ayat Kursi Menjelang Tidur


Abu Hurairah r.a. pernah ditugaskan oleh Rasulullah S.A.W untuk menjaga gudang zakat di bulan Ramadhan. Tiba-tiba muncullah seseorang, lalu mencuri segenggam makanan. Namun kepintaran Hurairah memang patut dipuji, kemudian pencuri itu kemudian berhasil ditangkapnya.
"Akan aku adukan kamu kepada Rasulullah S.A.W," gertak Abu Hurairah.
Bukan main takutnya pencuri itu mendengar ancaman Abu Hurairah, hingga kemudian ia pun merengek-rengek : "Saya ini orang miskin, keluarga tanggungan saya banyak, sementara saya sangat memerlukan makanan."
Maka pencuri itu pun dilepaskan. Bukankah zakat itu pada akhirnya akan diberikan kepada fakir miskin ? Hanya saja, cara memang keliru. Mestinya jangan keliru.
Keesokan harinya, Abu Hurairah melaporkan kepada Rasulullah S.A.W. Maka bertanyalah beliau : "Apa yang dilakukan kepada tawananmu semalam, ya Abu Hurairah?"
Ia mengeluh, "Ya Rasulullah, bahawa ia orang miskin, keluarganya banyak dan sangat memerlukan makanan," jawab Abu Hurairah. Lalu diterangkan pula olehnya, bahawa ia kasihan kepada pencuri itu,, lalu dilepaskannya.
"Bohong dia," kata Nabi : "Pada hala nanti malam ia akan datang lagi."
Kerana Rasulullah S.A.W berkata begitu, maka penjagaannya diperketat, dan kewaspadaan pun ditingkatkan.Dan, benar juga, pencuri itu kembali lagi, lalu mengambil makanan seperti kelmarin. Dan kali ini ia pun tertangkap.
"Akan aku adukan kamu kepada Rasulullah S.A.W," ancam Abu Hurairah, sama seperti kelmarin. Dan pencuri itu pun sekali lagi meminta ampun : "Saya orang miskin, keluarga saya banyak. Saya berjanji esok tidak akan kembali lagi."
Kasihan juga rupanya Abu Hurairah mendengar keluhan orang itu, dan kali ini pun ia kembali dilepaskan. Pada paginya, kejadian itu dilaporkan kepada Rasulullah S.A.W, dan beliau pun bertanya seperti kelmarin. Dan setelah mendapat jawapan yang sama, sekali lagi Rasulullah menegaskan : "Pencuri itu bohong, dan nanti malam ia akan kembali lagi."
Malam itu Abu Hurairah berjaga-jaga dengan kewaspadaan dan kepintaran penuh. Mata, telinga dan perasaannya dipasang baik-baik. Diperhatikannya dengan teliti setiap gerak-geri disekelilingnya sudah dua kali ia dibohongi oleh pencuri. Jika pencuri itu benar-benar datang seperti diperkatakan oleh Rasulullah dan ia berhasil menangkapnya, ia telah bertekad tidak akan melepaskannya sekali lagi. Hatinya sudah tidak sabar lagi menunggu-nunggu datangnya pencuri jahanam itu. Ia kesal. Kenapa pencuri kelmarin itu dilepaskan begitu sahaja sebelum diseret ke hadapan Rasulullah S.A.W ? Kenapa mahu saja ia ditipu olehnya ? "Awas!" katanya dalam hati. "Kali ini tidak akan kuberikan ampun."
Malam semakin larut, jalanan sudah sepi, ketika tiba-tiba muncul sesosok bayangan yang datang menghampiri longgokan makanan yang dia jaga. "Nah, benar juga, ia datang lagi," katanya dalam hati. Dan tidak lama kemudian pencuri itu telah bertekuk lutut di hadapannya dengan wajah ketakutan. Diperhatikannya benar-benar wajah pencuri itu. Ada semacam kepura-puraan pada gerak-gerinya.


"Kali ini kau pastinya kuadukan kepada Rasulullah. Sudah dua kali kau berjanji tidak akan datang lagi ke mari, tapi ternyata kau kembali juga. Lepaskan saya," pencuri itu memohon. Tapi, dari tangan Abu Hurairah yang menggenggam erat-erat dapat difahami, bahawa kali ini ia tidak akan dilepaskan lagi. Maka dengan rasa putus asa ahirnya pencuri itu berkata : "Lepaskan saya, akan saya ajari tuan beberapa kalimat yang sangat berguna."
"Kalimat-kalimat apakah itu?" Tanya Abu Hurairah dengan rasa ingin tahu. "Bila tuan hendak tidur, bacalah ayat Kursi : Allaahu laa Ilaaha illaa Huwal-Hayyul Qayyuuumu….. Dan seterusnya sampai akhir ayat. Maka tuan akan selalu dipelihara oleh Allah, dan tidak akan ada syaitan yang berani mendekati tuan sampai pagi."
Maka pencuri itu pun dilepaskan oleh Abu Hurairah. Agaknya naluri keilmuannya lebih menguasai jiwanya sebagai penjaga gudang.
Dan keesokan harinya, ia kembali menghadap Rasulullah S.A.W untuk melaporkan pengalamannya yang luar biasa tadi malam. Ada seorang pencuri yang mengajarinya kegunaan ayat Kursi.
"Apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?" tanya Rasul sebelum Abu Hurairah sempat menceritakan segalanya.
"Ia mengajariku beberapa kalimat yang katanya sangat berguna, lalu ia saya lepaskan," jawab Abu Hurairah.
"Kalimat apakah itu?" tanya Nabi.
Katanya : "Kalau kamu tidur, bacalah ayat Kursi : Allaahu laa Ilaaha illaa Huwal-Hayyul Qayyuuumu….. Dan seterusnya sampai akhir ayat. Dan ia katakan pula : "Jika engkau membaca itu, maka engkau akan selalu dijaga oleh Allah, dan tidak akan didekati syaitan hingga pagi hari."
Menanggapi cerita Abu Hurairah, Nabi S.A.W berkata, "Pencuri itu telah berkata benar, sekalipun sebenarnya ia tetap pendusta." Kemudian Nabi S.A.W bertanya pula : "Tahukah kamu, siapa sebenarnya pencuri yang ertemu denganmu tiap malam itu?"
"Entahlah." Jawab Abu Hurairah.
"Itulah syaitan." /@cwi

selengkapnya...

Faktor Penyebab Isti'jaal : Lalai Terhadap Kaidah-Kaidah Sunatullah

Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa dan menciptakan manusia, hewan, tumbuhan secara bertahap, sekalipun Allah Maha Kuasa untuk menciptakan seluruhnya itu dengan hanya mengucap "kun" (jadilah). Sebagaimana firman-Nya, إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ "Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata, 'Jadilah', maka terjadilah". (QS : Yaasin : 82) Sedangkan kaidah sunatullah mengenai sifat kejiwaan manusia antara lain bahwasanya seseorang tiak mungkin berkorban atau mengerahkan kemampuan yang dimilikinya sebelum rohaninya dibersihkan, sehingga dia mengetahui nilai dan manfaat suatu pengorbanan dan pemberiannya itu. Firman-Nya : قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ﴿٩﴾ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا ﴿١٠﴾ "Sunguh telan menang orang yang membersihkan jiwanya, dan sungguh telah merugi orang yang telah mengotori jiwanya". (QS : Asy-Syam : 9-10) Sunatullah dalam syar'i antara lain bahwasanya khamar (minuman keras) dan riba diharamkan melalui tahapan-tahapan. Jika seorang aktivis dakwah lalai akan sunnatullah ini, di khawatirkan ia akan tertarik kepada tindakan isti'jaal. Akan tetapi, bila prinsip sunatullah ini diletakkan pada pola pikir, kemudian dihidupkan pandangan dan hati, maka hal tersebut pasti dapat memberi ketenangan pada jiwa, meluruskan aktivitas, dan menumbuhkan sikap teliti dalam setiap langkah. 
Melupakan Hakikat Tujuan Seorang Muslim 
Landasan dan tujuan utama seorang Muslim dalam beramal adalah untuk mencari ridha Allah. Untuk mencapainya bukan hal yang mudah. Hal itu hanya dapat dicapai jika mereka melaksanakan seluruh manhaj (aturan)-Nya, tidak menyepelekan, dan tetap tsabat (teguh) sampai saat dipertemukan oleh Allah sesuai dengan kemampuan dan keikhlasannya. Firman Allah Ta'ala : فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا " ... Maka barangsiapa yang menghendaki pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah mesyarikatkan Tuhannya dalam beribadah dengan sesuatu". (QS : Al-Kahfi : 110) " ... Maka bertakwalah kalian sebatas kemampuanmu .." (QS : At-Taghabun : 16) Masalah inilah yang pertama kali diangkat dan dipertanyakan Allah Swt kelak di hari kiamat. Di sanalah letaknya selama atau tidaknya seseorang. Adapun masalah hasil perjuangan, yakni terwujud atau tidaknya tamkiin (pengukuhan konsepsi Allah) di muka bumi, tidak akan dipertanyakan, karena sesungguhnya hal tersebut mutlak berada dibawah kehendak Allah. Ia dapat saja merealisasi hal itu atau tidak, sesuai kehendak-Nya. Hakikat ini jika dilalaikan para da'i yang tengah berjuang di jalan Islam, niscahya akan menjerumuskannya pada jurang isti'jaal.
Melalaikan Sunatullah Bersama Para Penentang dan Pendusta.
Kendati di dunia ini banyak manusia yang membangkang atau mendustakan-Nya, tetapi Allah tidak serta merta menurunkan hukuman atau azab-Nya kepada mereka. Allah akan memberikan tenggang waktu kepada mereka, sebagaimana firman-Nya : "Dan aku beri tangguh kepada mereka (orang-orang yang berdusta). Sesungguhnya rencana-Ku sangat teguh". (QS : Al-A'arf : 183) وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ لَوْ يُؤَاخِذُهُم بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ بَل لَّهُم مَّوْعِدٌ لَّن يَجِدُوا مِن دُونِهِ مَوْئِلًا "Dan Tuhanmulah yang Maha Pengampun lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegarkan azab bagi mereka. Akan tetapi, bagi mereka ada waktu tertentu (untuk mendapatkan azab yagn mereka sekali - kali tidak dapat berlindung darinya". (QS : Al-Kahfi : 58) Termasuk sunatullah juga bahwasanya jka Allah akan menimpakan azab kepada mereka, maka Dia melakukannya dengan tiba-tiba. Sebagaiman firman-Nya : وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ "Dan demikian azab Tuhanmu ika dia mengazab penduduk negeri -negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya sangat pedih lagi keras". (QS : Huud : 102) وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ سَبَقُواْ إِنَّهُمْ لاَ يُعْجِزُونَ "Dan janganlah orang-orang kafir itu mengira bahwa mereka akan dapat lolos (dari kekuasaan Allah). Sesungguhnya mereka tidak dapat melemahkan (Allah)". (QS : Al-Anfaal : 59) Selain itu, termasuk diantara sunnah-Nya bahwa satu hari dalam penilaian Allah itu tidak sama dengan satu hari dalam penilaian kita. Firman-Nya : وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَن يُخْلِفَ اللَّهُ وَعْدَهُ وَإِنَّ يَوْمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ "Dan mereka meminta-minta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnay sehari disisi tuhanmu adalah seperti seribu tahun dari tahun-tahun yang kamu hitung." (QS : Al-Hajj : 47) Sekiranya para aktivis melupakan sunatullah niscaya dia akan mudah bersikap isti'jaal. 
Bertemu Dengan Orang-Orang yang Isti'jaal. 
Fakto lain yang dapat mendorong kita bersikap isti'jaal yakni akibat dari menjalin hubungan persahabatan dengan orang-orang yang suka isti'jaal. Oleh karena itu, sebagai seorang Muslim, kita harus c ermat dan selektif dalam memilih kawan tau sahabat. Wallahu'alam. 

sumber: http://eramuslim.com

/@cwi

selengkapnya...

Petualang Cinta Bermodal Al-Qur’an

Oleh: Jaufa

Ilustrasi (inet)
Anak kecil mana yang tidak lucu? Pun juga murid-murid ku, walau mereka sudah mulai beranjak remaja bahkan sudah ada beberapa di antaranya memasuki jenjang SMP semester depan, namun bagiku mereka tetaplah anak-anak yang polos dan lugu. Kebandelan mereka di kelas dan terkadang suka malas menghafalkan ayat pendek yang ku tugaskan sedikit pun tidak mengurangi rasa sayangku kepada mereka. Walau terkadang aku suka jengkel juga, ketika mereka bersemangat menceritakan artis Korea kesukaan mereka namun tidak antusias dengan Sirah Nabawiyah yang ku coba ceritakan semenarik mungkin. Hah… salah siapa ini? Aku gurunya yang tidak bisa menciptakan suasana kelas yang asyik… atau tantangan zaman yang memang sudah sebegitu hebatnya. Terkadang aku berfikir keras, bagaimana caranya pelajaran Islam bisa disampaikan dengan metode yang sedemikian kreatifnya sehingga tidak kalah dengan Girl Generation ataupun Super Junior. Ada yang puny ide? Hmmfph… “Laoshi[1]…” Alika, gadis manis blesteran Taiwan-Pakistan mampir ke meja ku. Ku tutup bahan ajar yang baru saja kusampaikan di kelas dan membalas panggilannya dengan sebuah senyuman. “Yaps…?” respon ku kemudian. Alika tersenyum tak kalah manisnya, dan seperti biasa agak sedikit malu-malu melanjutkan kalimatnya. “Papa mengajak Laoshi makan malam hari ini, Laoshi sibuk nggak?” “Makan malam?” “Um…” Alika mengangguk mantab dan menjelaskan bahwa Papanya ingin menjamu Aa Gym, yang kebetulan diundang para pekerja ke Taiwan. Rekan-rekan pekerja di Taiwan memang rutin mengadakan tabligh akbar dan dai kondang di tanah air rutin dihadirkan untuk menarik minat para jamaah. “Oke…” jawabku singkat. Barangkali saja Mr. Hisyam, ayahnya Alika membutuhkan penerjemah. Walau bahasa Cina ku masih sangat ala kadarnya, tapi tampaknya masih lumayan jika dibandingkan dengan Aa Gym, hehehe. “Xie-xie Laoshi…” Alika tersenyum lebar, ku tatap senyuman yang begitu manis. Alika sungguh benar-benar cantik… dengan kulit putih warisan ibunya dia memiliki bola mata yang bulat turunan dari ayahnya. Bibirnya penuh dan berwarna pink, bulu matanya lentik dan alis matanya tebal, ditambah lagi bola mata berwarna kecoklatan yang selalu berbinar-binar. “Bu ke qi…” ku colek hidungnya, dan kini dia tersenyum tersipu malu-malu. *** “Mencari pasangan yang bagus agamanya itu sangat penting….” Mr. Hisyam memecah keheningan di dalam mobil sedan mungilnya. Hanya ada dia, aku dan Alika yang sudah tertidur. Alika duduk di depan, di sebelah Mr. Hisyam dan aku di belakang. Sama sekali tidak ingat, tadi kami berbicara apa, hingga Mr. Hisyam bercerita panjang lebar mengenai pasangan hidup. Bahkan kini dia mulai bercerita mengenai istrinya. “Istriku sangat parah….” Lanjutnya, menatap nanar ke arah jalan. Sebenarnya aku tidak suka dia bercerita mengenai istrinya, namun aku pun tidak punya cara untuk menghentikannya. “Bagaimana dia bisa memberikan pendidikan agama yang bagus untuk anak-anaknya jika dia tidak mau belajar agama dengan baik?” Keluh Mr. Hisyam. Ternyata istri Mr. Hisyam merupakan orang Taiwan yang memeluk Islam setelah menikah dengannya. Berdasarkan penuturannya, istrinya hanya sekedar bersyahadat dan tidak makan babi saja, selepasnya dia tidak mau peduli dengan segala hal yang berkaitan dengan Islam yang menurutnya memberatkan. Hah… kisah yang sangat umum memang di Taiwan, pemuda ataupun pemudi yang masuk Islam hanya demi sebuah pernikahan. “Tapi kamu kan kepala keluarga… kamu yang seharusnya mendidik, mengajarkan dan mengarahkan istrimu.” Balasku. Karena bagaimanapun.. itu tugas kepala keluarga kan? Dan sebelum memutuskan, semestinya mereka sudah paham akan menghadapi permasalahan ini? “Kamu tidak kenal istriku… dia orangnya keras kepala sekali.” Kali ini aku tidak ingin beradu argumen lagi. Ku dengarkan saja ceritanya, barangkali dia memang butuh teman untuk berbagi unek-unek. Untungnya perjalanan dari Restoran Halal di pusat kota ke asrama ku hanya memakan waktu tiga puluh menit saja. Jadi aku tidak usah berlama-lama mendengarkan keluh kesah Mr. Hisyam. “Jazakallah…” ucapku dan mendaratkan ciuman ke pipi Alika yang masih tertidur pulas. Capek sekali tampaknya. “Waiyyaki…” balas Mr. Hisyam cepat dan memutar arah mobilnya setelah memastikan aku masuk ke dalam asrama. Cerita Mr. Hisyam mengenai keluarganya masih terngiang-ngiang, bahkan setelah membersihkan diri dan bersiap-siap ke peraduan. Hm… tentunya ini bukan satu-satunya kasus terhadap pasangan seperti Mr. Hisyam dan istrinya. Ya Allah… berikanlah hidayah-Mu… *** Suasana kantor masjid terasa panas, panas luar dalam padahal musim panas masih dua bulan lagi menjelang. Tidak tahu apa yang terjadi, namun segerombolan pekerja Indonesia yang aktif di masjid tengah duduk berkerumun di salah satu pojok kantor. Aku tidak tertarik dengan apa yang tengah mereka perbincangkan, makanya hanya numpang lewat saja dan mengambil tas yang tergeletak di sebelah mereka. “Wanita sok alim ini nih salah satunya.” Seorang mbak dengan penuh amarah mengucapkan kata-kata yang penuh unsur sarkasme tersebut. “Wah… lagi perang dunia nih kayaknya…” bisik hati kecil ku. Ku percepat langkahku dan segera pergi menyelamatkan diri. Aku paling tidak suka terlibat dengan permasalahan para pekerja, karena biasanya hanya karena permasalahan kecil yang dibesar-besarkan. “Lihat saja kan… pasang muka tak berdosa gitu.” Kalimat memojokkan lainnya, dari wanita yang sama tampaknya. Tidak ingin nguping, tapi terdengar. “Yakin mbak ini?” kali ini suara Mas Ardi yang terdengar, ketua para pekerja di masjid tersebut. “Mbak Dewi… Mbak…” terdengar suara Mas Ardi memanggil namaku. Huaaaa…. Maksud hati mau kabur malah dilibatkan gini. Sedikit enggan, kubalikkan tubuhku yang sudah sampai di depan pintu. “Ya Mas?” “Bisa ke sini sebentar nggak mbak?” Huks…. Gimana mau jawab tidak? Akhirnya dengan berat, ku mendekat dan duduk di antara mereka. Tatapan mata yang ada di situ tampak tidak bersahabat. Dua orang mbak-mbak, yang satu berurai air mata, yang satu membelalak ke arah ku. Mbak-mbak dan mas-mas yang hadir pun turut mengalihkan pandangan ke arah ku disertai bisik-bisik. Risih… sangat sirih sekali berada di sana. “Ada apa mas?” tanyaku penuh basa-basi. “Ayo mbak Ulfa silakan diklarifikasi.” Mas Ardi menujukan kalimatnya ke salah satu di antara wanita yang sedang bersengketa tersebut. Ternyata yang bernama Ulfa mbak yang tidak henti-hentinya melotot ke arah ku, dan yang tadi berkata-kata kasar. Kayaknya kata-kata kasarnya ditujukan ke mbak satunya, yang masih saja berurai air mata. “Mas Ardi saja… emosi saya mas! Emosi!” Mas Ardi tampak enggan, namun dia tidak punya pilihan. “Jadi begini mbak Dewi…” Mas Ardi memotong kalimatnya, menunjukkan betapa berat bagi beliau untuk melanjutkan kalimat berikutnya. “Sebelumnya saya mohon maaf ya mbak… Tapi ini kita ingin tabayyun… dan meluruskan semua permasalahan yang ada. Apalagi berita ini sudah beredar di antara mbak-mbak, nama Mbak Dewi bisa buruk gara-gara hal ini.” Mas Ardi kembali memotong kalimatnya, dan perasaanku mulai nggak enak. Setelah berkali-kali memperbaiki posisi duduknya, akhirnya Mas Ardi menjelaskan apa yang terjadi, persengketaan antara Mbak Ulfa dan Mbak Wati. Mbak Ulfa yang dicampakkan, karena sang pria bertemu dengan Mbak Wati. Aku menyimak baik-baik dan terus menebak apa sangkut pautnya dengan diriku. “Nah… beliau juga menyatakan, bahwa sebelum dengan mbak Wati dan mbak Ulfa, beliau memiliki hubungan khusus dengan Mbak Dewi.” “H-E-HHHH Apa???” tanyaku terkejut “Huh… pakai acara pura-pura terkejut lagi.” Mbak Ulfa masih saja sinis terhadapku, tampaknya dia benar-benar sakit hati dicampakkan. “Maa-mas dan mbak-mbak semua, saya memang tidak pernah ada hubungan istimewa apapun dengan beliau. Silahkan orang yang bersangkutan di telpon dan dihadirkan ke sini… untuk mengklarifikasi semuanya. Terus terang, saya merasa dirugikan dalam hal ini.” Jawabku tegas. Rasa kesal ku telah menjalar ke ubun-ubun. Astaghfirullah … sungguh aku tidak habis pikir, bisa-bisanya orang membuat fitnah terhadap dirinya sendiri. “Iya Mbak… Tapi kita tidak ingin hal ini menimbulkan permasalahan di masjid. Karena bagaimana pun beliau orang penting di masjid. Jangan sampai, gara-gara hal ini, beliau jadi menarik diri dari masjid.” Tambah Mas Ardi, bijaksana. “Saya paham mas. Namun ini memang harus dituntaskan oleh orang yang bersangkutan. Mas tahu siapa saya, dan saya benar-benar tidak pernah memiliki hubungan istimewa dengan beliau. Dan kalau mbak-mbak ini sedang berseteru memperebutkan beliau, itu urusan kalian, saya jangan dibawa-bawa.” Kutatap mbak Ulfa dengan tajam, menaikkan posisiku bukan di tempat yang bisa di hujat dan dimarahi seenaknya. Kali ini matanya tidak berani lagi melotot ke arahku. “Saayyaa..saaayyyaa juga tidak ingin masalah ini berkelanjutan…. Sayyaa… sayyaa.. huhuhuhu…” Mbak Wati yang sedari tadi diam mencoba angkat bicara, namun yang ada justru isak tangisnya yang semakin menjadi-jadi. “Saya tidak pernah ingin merebut pacar orang… Beliau waktu itu bilang ingin menikah dengan saya… Makanya saya sambut niatnya dengan baik… karena saya juga sudah ingin menikah secepatnya…. Saya sama sekali tidak tahu… kalau ternyata beliau juga menjanjikan hal yang sama ke Mbak Ulfa dan Mbak Dewi…” “Mbak… saya tegaskan… saya tidak punya hubungan apapun dengan beliau!” potongku kesal. Mbak Wati tidak menggubris kalimat ku. “Mbak-mbak ini pada tau kan kalau beliau sudah menikah? Sudah punya istri dan anak dan belum bercerai hingga detik ini??? Dan mbak-mbak tau nggak hukum di Taiwan, kalau seorang pria hanya diperbolehkan memiliki seorang istri???” Aku semakin kesal dengan “kebodohan” mereka. “Ini saya kembalikan saja… Saya tidak mau benda suci ini justru menjadi awal persengketaan…” Mbak Wati menyodorkan sebuah Al-Qur’an terjemahan bahasa Indonesia ke Mas Ardi. Mas Ardi meminta Mbak Wati untuk tetap menyimpannya, namun beliau menolak dengan air mata yang mengalir semakin deras. “Ho… jadi itu penyebabnya!” gumam ku dalam hati. Sekarang semua permasalahan jelas sudah! *** “Sister… ini saya punya Al Quran dengan terjemahan bahasa Indonesia.” Adegan yang terjadi beberapa bulan yang lalu hadir kembali ke memori ku. Saat Mr. Hisyam menghampiriku yang tengah berada di ruang kantor masjid, dan menyodorkan sebuah Al-Qur’an cantik berwarna abu-abu. Ku sambut pemberiannya dengan senang hati. “Jika ada teman-teman yang membutuhkan, mereka bisa menghubungi nomor saya. Tinggal sms kan nama dan alamat mereka, saya akan langsung kirimkan. For free.. !” lanjutnya kali ini menyodorkan kartu namanya. “Wow.. subhanallah… Anda juga bisa titipkan beberapa Al Quran ke saya, nanti bagi mbak-mbak yang datang ke masjid dan butuh Al Quran terjemahan bahasa Indonesia, saya tinggal kasih.” “Tidak… kamu berikan saja nomor telpon saya, nanti saya yang akan kirim langsung ke mereka.” “ Hm… okey…. Anda baik sekali.” Jawabku kemudian, tanpa rasa curiga apapun. Yang ada di pikiranku hanya betapa baiknya Mr. Hisyam dan sangat peduli dengan rekan-rekan muslim lainnya. Pemerintah Indonesia yang ada di Taiwan saja… belum pernah menghadiahi warganya Al Quran terjemahan bahasa Indonesia. Sedikit pun aku tidak pernah berfikir, bahwa kebaikannya itu merupakan cara untuk menggaet pekerja-pekerja dari Indonesia. Dia memang pernah menyampaikan kepadaku, bahwa dia iri dengan pria-pria yang menikahi wanita Indonesia. Karena dalam pandangannya wanita Indonesia begitu lembut, penurut, dan paham akan agama. Sosok ideal dalam bayangannya untuk menjadi ibu dari anak-anaknya. Lagi… bagiku dulu itu hanya sekedar pandangan saja… sekedar pendapat saja… Bukan sebuah obsesi yang menjadikannya orang yang berani melakukan hal-hal di luar batas. “Laoshi……” Alika yang baru beres dari kelas berlari menuju kea rah ku, yang hendak keluar dari area masjid. “Alika…” ku peluk gadis manis tersebut, dan seperti biasa, menghadiahkan ciuman di kedua pipi nya yang lembut. Dari kejauhan tampak sosok Mr. Hisyam, yang baru saja turun dari mobilnya. Dia datang ke masjid untuk menjemput anaknya. Dia melambai kan tangan dari jauh, tidak ku hiraukan dan buru-buru menuju pemberhentian bus. Sembari menunggu bus datang, cepat kuraih telpon genggamku dan menelpon temanku… “Yow… Dew-dew… ada yang bisa kubanting?” balas suara dari ujung sana. “Hentikan penyebaran no Mr. Hisyam.. no untuk mendapatkan Al Qur’an secara gratis itu lho… “ “Wow.. ada yang serius tampaknya nih…” “Iya pake banget… I’ll tell you later. Ini mau naik bus dulu.” Jawab ku singkat dan segera naik ke atas bus. Beep. – Tamat Catatan Kaki: [1] Laoshi = guru Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/10/15402/petualang-cinta-bermodal-al-quran/#ixzz1iaPvEg2V /@cwi

selengkapnya...

Gabung bersama kami

About Me

admin jg menerima pelayanan jasa

admin jg menerima pelayanan jasa
Jasa arsitek rumah; desain arsitek / desain rumah, gambar denah rumah, bangun rumah baru, renovasi rumah dan pembangunan mesjid, mushola, ruko, disaign taman, dll. klik gambar utk kontak personal.

Syiar Islam On Twitter

Site info

Kalkulator Zakat Fitrah

  © Syiar islam Intisari Muslim by Dede Suhaya (@putra_f4jar) 2015

Back to TOP  

Share |