Wanita Dulu Dan Sekarang

– Allah SWT menciptakan makhuknya berpasang-pasangan. Di antara
makhluknya yang paling indah dan sempurna adalah
manusia. Allah SWT juga telah menurunkan
petunjuknya yang paling sempurna. Sehingga, bila
manusia menerima dan mengamalkan petunjuk itu,
betapa indahnya manusia itu. Sebaliknya, bila ia menolaknya, betapa rendah dan jeleknya manusia itu,
bahkan Al-Qur’an menyebutnya lebih hina dari
binatang. Allah SWT menjadikan keindahan ada dalam wanita
meskipun pada hakikatnya antara pria dan wanita
sama di hadapan Allah SWT. Hanya saja, Allah
menjadikan keindahan itu ada pada wanita karena
kelembutan, kasih sayang, dan emosinya yang lebih
daripada kaum pria. Betapa indahnya sang wanita jika dihiasi dengan syariat Allah. Ia menjadi anak
yang taat kepada Allah dan kedua orang tuanya. Jika
ia menikah, ia menjadi penyayang bagi suaminya. Jika
ia menjadi ibu, ia menyayangi dan mendidik anak-
anaknya dengan sebaik mungkin. Dari wanita
shalehah seperti inilah lahir pejuang-pejuang yang tangguh dan pemimpin yang bijaksana. Perhatikan
keadaan wanita pada masa Rasulullah saw. dengan
generasi salafus saleh sesudahnya. Mereka, kaum
wanita itu, ada di balik segala keberhasilan dan
kecemerlangan peradaban Islam. Apakah wanita
dewasa ini bisa mengikuti jejak para pendahulunya? Marilah kita lihat kenyataannya. Wanita dalam Al-Qur’an Di dalam Al-Qur’an terdapat 114 surah. Di dalamnya
tidak ada satu pun surah tentang pria (ar-rijal), tapi
menariknya ada surah tentang wanita (An-Nisaa’),
bahkan lebih spesifik ada surah Maryam, meskipun
dia bukan nabi. Umar ra. memerintahkan kepada
wanita untuk mempelajari surah An-Nuur (cahaya) karena di dalamnya mengandung pelajaran bagi
kaum wanita agar lebih bercahaya. Keberadaan
kaum wanita sama dengan kaum pria di hadapan
Allah. Allah SWT berfirman (yang artinya), “Maka, Rabb
mereka memperkenankan permohonannya (dengan
berfirman): ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-
nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara
kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena)
sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain …’.” (Ali Imran, 3: 195). “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik
laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan
beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan
kepadanya kehidupan yang baik …” (An-Nahl: 97). Keberadaan wanita sebagaimana pria dalam
kehidupan ini mengalami ujian yang bermacam-
macam. Namun, mereka harus tetap tegar dan
shalehah seperti yang dicontohkan Al-Qur’an
dengan Asiyah, istri Fira’un yang sabar dalam
menghadapi ujian dari suaminya, atau seperti Maryam yang tabah menghadapi ujian hidup tanpa
suami. (Lihat At-Tahrim 11-12). Sebaliknya, jangan
seperti istri Nabi Nuh a.s. dan Nabi Luth a.s. yang
berkhianat terhadap suaminya dan tidak taat kepada
Allah. (At-Tahriim: 10). Wanita pada Masa Rasulullah Rata-rata kaum wanita pada masa Rasulullah saw.
tidak ketinggalan ikut berlomba meraih kebaikan,
meskipun mereka juga sibuk sebagai ibu rumah
tangga. Mereka ikut belajar dan bertanya kepada
Rasulullah saw. Wanita yang paling setia kepada Rasulullah adalah
Khadijah yang telah berkorban dengan jiwa dan
hartanya. Kemudian Aisyah, yang banyak belajar dari
Rasulullah kemudian mengajarkannya kepada kaum
wanita dan pria. Bahkan, ada pendapat ulama yang
mengatakan, seandainya ilmu seluruh wanita dikumpulkan dibanding ilmu Aisyah, maka ilmu
Aisyah akan lebih banyak. Begitulah Rasulullah saw.
memuji Aisyah. Ada seorang wanita bernama Asma binti Sakan. Dia
suka hadir dalam pengajian Rasulullah saw. Pada
suatu hari dia bertanya kepada Rasulullah,”Ya
Rasulullah saw., engkau diutus Allah kepada kaum
pria dan wanita, tapi mengapa banyak ajaran syariat
lebih banyak untuk kaum pria? Kami pun ingin seperti mereka. Kaum pria diwajibkan shalat Jum’at,
sedangkan kami tidak; mereka mengantar jenazah,
sementara kami tidak; mereka diwajibkan berjihad,
sedangkan kami tidak. Bahkan, kami mengurusi
rumah, harta, dan anak mereka. Kami ingin seperti
mereka. Maka, Rasulullah saw. menoleh kepada sahabatnya sambil berkata, “Tidak pernah aku
mendapat pertanyaan sebaik pertanyaan wanita ini.
Wahai Asma, sampaikan kepada seluruh wanita di
belakangmu, jika kalian berbakti kepada suami kalian
dan bertanggung jawab dalam keluarga kalian, maka
kalian akan mendapatkan pahala yang diperoleh kaum pria tadi.” (HR Ibnu Abdil Bar). Dalam riwayat Imam Ahmad, Asma meriwayatkan bahwa suatu kali dia berada dekat Rasulullah saw. Di
sekitar Rasulullah berkumpullah kaum pria dan juga
kaum wanita. Maka beliau bersabda, “Bisa jadi ada
orang laki-laki bertanya tentang hubungan seseorang
dengan istrinya atau seorang wanita menceritakan
hubungannya dengan sumianya.” Maka tak seorang pun yang berani bicara, maka saya angkat suara.
“Benar ya Rasulullah, ada pria atau wanita yang
suka menceritakan hal pribadi itu.” Rasulullah
menimpali, “Jangan kalian lakukan itu, karena itu
jebakan syaitan seakan syaitan pria bertemu dengan
syaitan wanita, kemudian berselingkuh dan manusia pada melihatnya.” Ada juga wanita yang tabah dalam kehidupan rumah
tangga yang serba pas-pasan tapi tidak pernah
mengeluh seperti Asma’ binti Abi Bakar dan
Fatimah. Kutub Tarajim membenarkan cerita tentang
Fatimah. “Suatu saat dia tidak makan berhari-hari
karena nggak ada makanan, sehingga suaminya, Ali bin Abi Thalib, melihat mukanya pucat dan
bertanya,”Mengapa engkau ini, wahai Fatimah, kok
kelihatan pucat?” Dia menjawab,”Saya sudah tiga hari belum makan,
karena tidak ada makanan di rumah.” Ali menimpali,”Mengapa engkau tidak bilang
kepadaku?” Dia menjawab,”Ayahku, Rasulullah saw.,
menasehatiku di malam pengantin, jika Ali membawa
makanan, maka makanlah. Bila tidak, maka kamu
jangan meminta.” Luar biasa bukan? Ada juga wanita yang diuji dengan penyakit, sehingga
dia datang kepada Rasulullah saw. meminta untuk
didoakan. Atha’ bin Abi Rabah bercerita bahwa Ibnu
Abbas r.a. berkata kepadaku,”Maukah aku
tunjukkan kepadamu wanita surga?” Aku menjawab,”Ya.” Dia melanjutkan,”Ini wanita hitam yang datang ke
Rasulullah saw. mengadu, ‘Saya terserang epilepsi
dan auratku terbuka, maka doakanlah saya.’
Rasulullah saw. bersabda, “Jika kamu sabar, itu lebih
baik, kamu dapat surga. Atau, kalau kamu mau, saya
berdoa kepada Allah agar kamu sembuh.” Wanita itu berkata,”Kalau begitu saya sabar, hanya
saja auratku suka tersingkap. Doakan supaya tidak
tersingkap auratku.” Maka, Rasulullah saw. mendoakannya. Ada juga wanita yang ikut berperang seperti Nasibah
binti Kaab yang dikenal dengan Ummu Imarah. Dia
becerita,”Pada Perang Uhud, sambil membawa air
aku keluar agak siang dan melihat para mujahidin,
sampai aku menemukan Rasulullah saw. Sementara,
aku melihat pasukan Islam kocar-kacir. Maka, aku mendekati Rasulullah sambil ikut berperang
membentengi beliau dengan pedang dan terkadang
aku memanah. Aku pun terluka, tapi manakala
Rasulullah saw. terpojok dan Ibnu Qamiah ingin
membunuhnya, aku membentengi beliau bersama
Mush’ab bin Umair. Aku berusaha memukul dia dengan pedangku, tapi dia memakai pelindung besi
dan dia dapat memukul pundakku sampai terluka.
Rasulullah saw. bercerita,”Setiap kali aku melihat
kanan kiriku, kudapati Ummu Imarah membentengiku
pada Perang Uhud.” Begitu tangguhnya Ummu
Imarah. Ada juga Khansa yang merelakan empat anaknya
mati syahid. Ia berkata,”Alhamdulillah yang telah
menjadikan anak-anakku mati syahid.” Begitulah peranan wanita pada masa Rasulullah saw.
Mereka berpikir untuk akhiratnya, sedang wanita
sekarang yang lebih banyak memikirkan dunia,
rumah tinggal, makanan, minuman, kendaraan, dan
lain-lain. Kaum Wanita paa Masa Berikutnya Ketika Utsman bin Affan mengerahkan pasukan
melawan manuver-manuver Romawi, komandan
diserahkan kepada Hubaib bin Maslamah al-Fikir. Istri
Hubaib termasuk pasukan yang akan berangkat
perang. Sebelum perang dimulai, Hubaib memeriksa
kesiapan pasukan. Tiba-tiba istrinya bertanya,”Di mana saya
menjumpai Anda ketika perang sedang
berkecamuk?” Dia menjawab,”Di kemah komandan Romawi atau di
surga.” Ketika perang sedang berkecamuk, Hubaib berperang
dengan penuh keberanian sampai mendapatkan
kemenangan. Segera dia menuju ke kemah
komandan Romawi menunggui istrinya. Yang
menakjubkan, saat Hubaib sampai ke tenda itu, dia
mendapatkan istrinya sudah mendahuluinya. Allahu Akbar. Pada masa Dinasti Abbasiyah yang dipimipin oleh
Harun al-Rasyid, ada seorang Muslimah disandera
oleh tentara Romawi. Maka, seorang ulama bernama
Al-Manshur bin Ammar mendorong umat Islam untuk
berjihad di dekat istana Harun al-Rasyid dan dia pun
menyaksikan ceramahnya. Tiba-tiba ada kiriman bungkusan disertai dengan surat. Surat itu lalu dibuka
dan dibaca oleh ulama tadi dan ternyata berasal dari
seorang perempuan dan berbunyi,”Aku mendengar
tentara Romawi melecehkan wanita Muslimah dan
engkau mendorong umat Islam untuk berjihad, maka
aku persembahkan yang paling berharga dalam diriku. Yaitu, seuntai rambutku yang aku kirimkan
dalam bungkusan itu. Dan, aku memohon agar rambut
itu dijadikan tali penarik kuda di jalan Allah agar aku
dapat nantinya dilihat Allah dan mendapatkan
rahmatnya.” Maka, ulama itu menangis dan seluruh
hadirin ikut menangis. Harun al-Rasyid kemudian memutuskan mengirim pasukan untuk membebaskan
wanita Muslimah yang disandera itu. Seorang istri Shaleh bin Yahya ditinggal suaminya dan
hidup bersama dua anaknya. Ia mendidik anak-
anaknya dengan ibadah dan qiyamul lail (shalat
malam). Ketika anak-anaknya semakin besar, dia
berkata,”Anak-anakku, mulai malam ini tidak boleh
satu malam pun yang terlewat di rumah ini tanpa ada yang shalat qiyamullail.” “Apa maksud ibu?” tanya mereka. Ibu menjawab,”Begini, kita bagi malam menjadi tiga
dan kita masing-masing mendapat bagian sepertiga.
Kalian berdua, dua pertiga, dan saya sepertiga yang
terakhir. Ketika waktu sudah mendekati subuh, saya
akan bangunkan kalian.” Ternyata kebiasan ini berlanjut sampai ibu mereka
meninggal. Dan amalan itu tetap dilanjutkan oleh dua
anak itu karena mereka sudah merasakan nikmatnya
qiyamullalil. Wanita Dewasa Ini Kalau kita perhatikan perkembangan wanita dewasa
ini, memang cukup mengkhawatirkan, meskipun di
lain pihak masih banyak kaum wanita berjilbab yang
semarak. Bahkan, pengajian-pengajian justru dipenuhi
oleh kaum wanita. Tapi, melihat berbagai upaya
musuh Islam untuk menghancurkan kaum hawa dengan berbagai cara melalui media massa
yangdestruktif (merusak), maka tantangannya
semakin berat. Kalau tidak berbekal ilmu agama yang
cukup dan disertai semangat juang yang tinggi,
niscaya wanita pada zaman sekarang sulit untuk
selamat. Bayangkan, kehidupan masyarakat di sekeliling kita sampai pergaulan di tingkat nasional
dan internasional sudah sangat bejat. Kebejatan itu
diliput dan disampaikan ke rumah-rumah kita melalui
saluran-saluran TV. Dan, yang tidak puas ditambah
dengan VCD dan internet. Sehingga, waktu untuk
beribadah kepada Allah semakin terpinggirkan atau tergeser oleh otak yang merekam semua adegan itu. Sementara, penangkalnya relatif kecil, dengan cara
tradisional melalui pengajian minimal seminggu
sekali. Maka, kita perlu kunci-kunci keselamatan.

sumber: Muslimahzone.com /@cwi

selengkapnya...

Pengorbanan Cinta Salman Al-Farisi radhiallahu ‘anhu


Muslimahzone.com – Alangkah bahagianya bila kita dapat menikahi seseorang yang kita cintai.
Namun, bagaimana bila seseorang yang kita cintai
pada takdir yang ditetapkan-Nya harus menikah
dengan orang lain atau bahkan sahabat kita sendiri.
Hal ini bukan cerita dongeng, pengorbanan demikian
pernah dialami oleh salah seorang sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, ia adalah Salman Al-
Farisi radhiallahu ‘anhu. Cintanya harus dikorbankan
untuk saudaranya yang ia cintai karena Allah. *** Salman al-Farisi pada awal hidupnya adalah seorang
bangsawan dari Persia, sebagai seorang Persia ia
menganut agama Majusi, tapi ia tidak merasa nyaman
dengan agamanya. Kemudian ia mengalami
pergolakan batin untuk mencari agama yang dapat
menentramkan hatinya. Pencarian agamanya membawa hingga ke jazirah Arab dan akhirnya
memeluk agama Islam. Ia menjadi pahlawan dengan ide membuat parit
dalam upaya melindungi kota Madinah dalam
pertempuran khandaq.
Setelah meninggalnya Nabi
Muhammad, ia dikirim untuk menjadi gubernur di
daerah kelahirannya, hingga ia wafat. Salman
termasuk sahabat nabi yang dekat bahkan ada sebuah riwayat Rasulullah saw menyatakan,
“Salman termasuk keluraga bagi kami.” Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah.
Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai
wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil
tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih.
Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa
tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci. Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah
bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah
tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat,
rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu
dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis
pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab
dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam
khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu
kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan
dengannya, Abud Darda’. ”Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud
Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia
dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa
cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju
sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah.
Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa. ”Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara
saya Salman seorang Persia. Allah telah
memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah
memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia
memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah
Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya
datang untuk mewakili saudara saya ini melamar
putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud
Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling
murni. ”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah,
”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang
mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini
bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang
utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya
serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri
menanti dengan segala debar hati. ”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata
suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara
mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua
yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah
saya menjawab bahwa puteri kami menolak
pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka
puteri kami telah menyiapkan jawaban
mengiyakan.” Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan,
ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik
kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu
mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan
indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan
sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan
sebentuk malu yang membuncah dan bertemu
dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang
belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya.
Mari kita dengar ia bicara. ”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan
nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan
pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi
pernikahan kalian!” teman baik ku dunia akhirat.
Dan aku akan menjadi saksi pernikahan bersejarah
kalian!” air mata kasih dan syukur membening suasana redup di suatu petang itu. /@cwi

selengkapnya...

SADARLAH BAHWA ALLAH-LAH YANG MENGATUR SEGALA SESUATU DALAM SETIAP DETAIL NYA

Kebanyakan orangsenang ketika hal-hal terjadi sesuai dengan keinginan mereka, tetapi mudah kesal ketika hal-hal kecil tidak sesuai dengan keinginan mereka.Tetapi, seseorang memercayai Allah (khususnya muslim) tidak boleh memiliki sifat seperti itu. Dalam Al-Qur'an, Allah mengungkapkan kabar baik bahwa Ia telah menentukan setiap peristiwa yang terjadi hanyalah demi kebaikan hamba-Nya yang benar, dan tidak ada yang harus menjadi kesedihan atau kesulitan bagi mereka. Seseorang yang mengetahui kebenaran ini didalam hatinya, dapat menyenangi hal apapun yang ia jalani dan berkah yang terdapat di balik hal itu. Banyak orang tidak memikirkan bagaimana mereka tercipta ataupun mengapa mereka ada. Meskipun hati nurani mereka membimbing mereka agar sadar tentang keajaiban dan sempurnanya dunia yang dimiliki oleh Sang Pencipta, banyak sekali cinta yang mereka rasakan untuk kehidupan dunia ini, atau keengganan mereka untuk menghadapi kebenaran, membawa mereka untuk menyangkal realitas mengenai keberadaan-Nya. Mereka menolak bukti bahwa setiap kejadian dari hidup mereka telah ditentukan sesuai dengan rencana dan tujuan, tetapi perilaku mereka menunjukkan aksi yang salah, yakni menganggap hal-hal yang terjadi hanyalah kebetulan ataupun keberuntungan. Bagaimanapun, itu hanyalah pandangan sekilas dari manusia yang menghalangi mereka untuk melihat kebaikan/sisi positif dari suatu kejadian dan mengambil pelajaran dari kejadian tersebut. Adajuga mereka, yang sadar akan keberadaan Tuhan, dan memahami bahwa Dialah yang telah menciptakan seluruh alam semesta. Mereka mengakui bukti bahwa Allah-lah yang menurunkan hujan atau mengatur terbit dan terbenamnya matahari. Mereka mengakui bahwa selain karena kuasa Allah, tidak ada satupun kejadian yang dapat terjadi. Namun, ketika terjadi sedikit insiden kecil dalam hidup mereka, mereka tidak dapat berpikir mengenai kekuasaan Allah. Namun demikian, Dialah yang mentakdirkan seorang maling untuk mencuri ke rumah seseorang saat malam, menjadikan suatu halangan yang membuat seseorang jatuh, sebidang tanah yang subur untuk menghasilkan tanaman menjadi gersang, perdagangan agar menguntungkan, ataupun panci masakan yang terlupakan di kompor. Setiap kejadian termasuk dalam hikmah Allah yang tak terbatas dan sesuai dengan rencana-Nya yang luhur. Setetes noda lumpur pada celana kita, sebuah tusukan pada ban, jerawat muncul di wajah seseorang, penyakit, atau hal yang tidak diinginkan, semuanya dimasukkan kedalam kehidupan seseorang dengan rencana tertentu. Tidak ada seseorang yang mengalami—mulai dari ia membuka matanya—dapat berdiri sendiri tanpa bantuan dan terpisah dari Allah. Semua kehidupan, secara keseluruhan diciptakan oleh Allah, satu- satunya yang memegang kendali atas alam semesta. Ciptaan Allah adalah sempurna, tanpa cacat, dan penuh dengan tujuan. Ini adalah bagian dari takdir yang diciptakan oleh Allah, seseorang tidak boleh mendiskriminasi suatu kejadian dengan menetapkan suatu kejadian buruk dan jahat. Apa yang menjadi kewajiban pada seseorang adalah untuk mengenali dan menghargai kesempurnaan dari semua kejadian, dan untuk percaya dengan semua kepastian yang terletak didalamnya, terlebih dari itu kita juga harus sadar mengenai kebijakan Allah yang tak terbatas, semua dirancang untuk mengarah kepada tujuan yang luar biasa. Memang, bagi mereka yang percaya dan mengenali kebaikan dalam segala hal yang menimpa mereka, baik di dunia ini dan dunia luar merupakan bagian dari suatu kebaikan yang kekal. Dalam Al-Qur’an, Allah menarik perhatian kita kepada fakta tersebut, hampir di setiap halaman. Inilah sebabnya mengapa kegagalan untuk mengingat bahwa segala sesuatu menurut takdir tertentu merupakan kegagalan bagi seseorang yanb beriman. Takdir yang sudah ditentukan oleh Allah itu unik, dan dialami oleh seseorang persis seperti yang telah Allah tetapkan. Orang awam bisa merasakan keyakinan pada takdir hanya sebagaicara untuk “menghibur saat terjadi bencana.” Takdirditahbiskan oleh Allah adalah unik, dan dialami oleh seseorang dalam persis cara Allah telah ditakdirkan. Orang biasa merasakan keyakinan pada takdir hanya sebagai cara untuk "menghibur saat terjadi bencana". Seorang mukmin, di sisi lain, mencapai pemahaman yang benar terhadap takdirnya, sepenuhnya menangkap bahwa itu adalah program yang sempurna satu-satunya yang dirancang khusus untuknya. Takdir adalah agenda sempurna yang seluruhnya dikembangkan untuk seseorang untuk masuk surga. Hal ini penuh dengan berkat dan untuk tujuan ilahi. Setiap kesulitan yang ditemui seseorang di dalam dunia ini akan menjadi sumber kebahagiaan tak terbatas, suka cita, dan damai di akhirat. Ayat “Karena seseungguhnya sesudah kesulitan datang kemudahan.” (Q.S. Al-Insyirah : 5) menarik perhatian kita pada fakta ini, dalam takdir seseorang, kesabaran, dan keberanian dari seseorang yang beriman adalah ditakdirkan bersama dengan imbalannya masing-masing di akhirat. Ini mungkin terjadi selama hari itu, bahwa orang beriman akan menjadi jengkel atau khawatir tentang hal-hal tertentu yang telah terjadi. Alasan utama dari rasa jengkel tersebut adalah kegagalannya untuk mengingat bahwa kegagalan dalam hidupnya adalah bagian dari takdir yang khusus diciptakan oleh Allah. Padahal, ia akan dihibur dan tenang ketika ia diingatkan tentag tujuan penciptaan Allah. Inilah sebabnya mengapaorang beriman harus belajar untuk terus diingat bahwa semuanya sudah ditakdirkan, serta mengingatkan orang lain mengenai fakta ini. Dia harus menunjukkan kesabaran dalam menghadapi kejadian tersebut bahwa Allah telah ditakdirkan untuknya, di relung tanpa batas waktu, menaruh kepercayaan kepada-Nya, dan berusaha untuk mengenali alasan-alasan di balik itu. Mereka yang berusaha memahami alasan ini akan—dengan izin Allah—sukses. Meskipun mereka mungkin tidak selalu bisa mendeteksi tujuan mereka yang sebenarnya, mereka harus tetap diyakinkan bahwa, ketika sesuatu terjadi, tentu saja untuk beberapa yang baik dan untuk tujuan. /@cwi

selengkapnya...

Gabung bersama kami

About Me

admin jg menerima pelayanan jasa

admin jg menerima pelayanan jasa
Jasa arsitek rumah; desain arsitek / desain rumah, gambar denah rumah, bangun rumah baru, renovasi rumah dan pembangunan mesjid, mushola, ruko, disaign taman, dll. klik gambar utk kontak personal.

Syiar Islam On Twitter

Site info

Kalkulator Zakat Fitrah

  © Syiar islam Intisari Muslim by Dede Suhaya (@putra_f4jar) 2015

Back to TOP  

Share |