Ada Apa dengan Ayat Kursi?



Oleh: H. Muhammad Widus Sempo, MA
Kirim Print
2
email
Ilustrasi (jualkhat.wordpress.com)
Firman Allah SWT:
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ ﴿٢٥٥﴾
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 255)
Sebelum terlalu jauh menelaah kandungan makna Ayat Kursi, hemat penulis, seyogianya menelusuri pemberitaan hadits tentang kemuliaannya.
Sabda Rasul SAW:
عَنْ أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ e: «يَا أَبَا الْمُنْذِرِ، أَتَدْرِى أَىُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟» قَالَ: قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: «يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِى أَىُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟». قَالَ: قُلْتُ: اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ. قَالَ: فَضَرَبَ فِى صَدْرِى، وَقَالَ «وَاللَّهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِر»[[1]].
“Ubayyi bin Ka’b berkata: Rasul Saw bersabda: (Wahai Abu al-Mundzir! Apakah Anda tahu ayat yang mana di kitab Allah SWT yang paling agung?). Aku menjawab: hanya Allah dan Rasul-Nya yang tahu. Dia kemudian berkata lagi: (Wahai Abu al-Mundzir! Apakah Anda tahu ayat yang mana di kitab Allah SWT yang paling agung?). Aku menjawab: اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ, maka beliau pun menepuk dadaku dan berkata: (semoga engkau mudah menimba ilmu dan kelak menjadi alim, wahai Abu al-Mundzir!)”[[2]]
Dan sabdanya:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ t: أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ e قَالَ: «سُوْرَةُ البَقَرَةِ فِيْهَا آَيَةٌ سَيِّدَةُ آَيِ الْقُرْآنِ، لاَ تُقْرَأُ فِيْ بَيْتٍ، وَفِيْهِ شَيْطَانٌ إِلاَّ خَرَجَ مِنْهُ: آيَةُ الكُرْسِيِّ».
“Abu Hurairah RA berkata: Rasul Saw bersabda: (di Surah Al-Baqarah terdapat ayat yang merupakan Sayyidah (ratu, miss universe) ayat-ayat Al-Qur’an, dia tidak dibaca di dalam sebuah rumah yang dihuni setan, kecuali setan tersebut keluar. Ayat itu adalah Ayat Kursi.)”[[3]]
Kedua periwayatan tersebut menggarisbawahi kemuliaan Ayat Kursi dengan memberi dua label kemuliaan: Pertama: ayat yang paling agung, dan kedua: Sayyidah ayat-ayat Al-Qur’an. Tentunya, ini mengundang tanya: “ada apa dengan Ayat Kursi? Makna apa yang dibiaskan ke alam kehidupan manusia sehingga dia mendapatkan kemuliaan seperti ini?”
Hemat penulis, Dia miss universe ayat-ayat Al-Qur’an karena mengoleksi makna ketauhidan yang sempurna. Di sana ada ketauhidan zat, nama dan sifat-sifat Allah SWT. Olehnya itu, bukan hal yang aneh jika di pentas ayat-ayat ketauhidan dia mendapatkan kehormatan dan keagungan. Dia telah mementaskan pesona makna-makna ketauhidan yang tidak ditemui pada ayat-ayat lain.
Telaah seperti ini telah disuarakan sejak dini oleh Imam al-Ghazali, beliau berkata:
“tujuan utama ilmu-ilmu Al-Qur’an adalah untuk mengetahui Allah, zat dan sifat-sifat-Nya. Sementara itu, Ayat Kursi menyebutkan zat, sifat dan perbuatan Allah SWT yang tidak disinggung oleh ayat-ayat lain. Olehnya itu, dia Sayyidah ayat-ayat Al-Qur’an.
Firman-Nya: (الله) menunjukkan zat-Nya, firman-Nya: (لاَ إَلهَ إِلاَّ هُوَ) mengisyaratkan ketauhidan zat, dan firman-Nya: الْحَيُّ القَيُّوْمُ)) menegaskan sifat zat dan kemuliaannya. القَيُّوْمُ)) Yang berdiri sendiri, tidak tergantung kepada zat lain, dan tempat bergantung semua entitas kehidupan. Tentunya, yang demikian itu puncak dari sebuah kemuliaan dan keagungan.
Firman-Nya: (لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ) menyuguhkan penyucian dan kemuliaan terhadap-Nya dari segala sifat kemusnahan (seperti sifat-sifat makhluk) yang mustahil didapatkan dalam diri-Nya, firman-Nya: (لَهُ مَا فِيْ السَّموَاتِ وَمَا فِيْ الأَرْضِ) isyarat terhadap kepemilikan mutlak. Sesungguhnya dari Dia segala sesuatu, dan kepada-Nya tempat kembali segala sesuatu, dan firman-Nya: (مَنْ ذَ الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ) isyarat terhadap kepemilikan tunggal atas kekuasaan dan hukum. Sesungguhnya barang siapa yang memiliki hak memberi syafaat, maka ia pun memiliki dengan sendirinya hak untuk memuliakan diri-Nya. Tentunya, ini menunjukkan kepemilikan tunggal terhadap kekuasaan dan hukum-Nya dan menafikan dari diri-Nya persekutuan dengan makhluk apapun terhadap kepemilikan tersebut.
Firman-Nya: يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِم وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ)) menegaskan sifat ilmu Allah SWT yang meliputi segala sesuatu dan menafikan ilmu terhadap yang lain, kecuali ilmu itu sendiri datang dari-Nya sebagai bentuk anugerah terhadap hamba sesuai dengan keinginan-Nya, firman-Nya: (وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّموَاتِ وَالأَرْضِ) pernyataan terhadap keagungan dan kesempurnaan kekuasaan-Nya. Di sana masih banyak rahasia yang terselubung di balik makna (الكُرْسِيِّ), sifatnya, dan bagaimana ia meliputi langit dan bumi, yang karena keterbatasan tingkat pengetahuan manusia, maka di sini tidak dijelaskan, [[4]] dan firman-Nya: (وَلاَ يَؤُوْدُهُ حِفْظُهُمَا) isyarat terhadap sifat-sifat kekuatan Allah SWT (qudrah) dan penyucian terhadap-Nya dari segala bentuk kelemahan dan kekurangan.
Firman-Nya: (وَهُوَ العَلِيُّ العَظيْمُ) isyarat terhadap ketinggian dan keagungan kedua sifat Allah itu sendiri yang tidak pernah habis memberikan pemaknaan bagi mereka yang ingin mengais darinya makna-makna ketauhidan.
Sekarang, jika Anda menelaah koleksi makna-makna ini, kemudian Anda membaca ayat-ayat Al-Qur’an, saya pastikan Anda tidak akan menjumpai kumpulan makna ketauhidan, penyucian, dan penjelasan ketinggian sifat-sifat-Nya seperti apa yang ada dalam Ayat Kursi. Olehnya itu, sangat wajar jika ia digelar sebagai Sayyidah ayat-ayat Al-Qur’an.”[[5]]
Jika kita kembali menengok Ayat Kursi, maka ia akan memperlihatkan 10 penggalan kalimat [[6]] yang memberikan pemaknaan tersendiri. Olehnya itu, Ayat kursi tidak menggunakan huruf (و) yang berarti: (dan) sebagai kata penghubung antara satu penggalan kalimat dengan kalimat lain. Sistematika seperti ini telah menjadi kaidah baku dalam menyusun rangkaian kalimat. Mereka sepakat bahwa kalimat yang berdiri sendiri dalam memberikan pemaknaan jika dihubungkan dengan kalimat lain dengan kata penghubung akan melahirkan kerancuan.
Jarullâh az-Zamakhsyari berkata:
“jika Anda bertanya: “Bagaimana penggalan-penggalan kalimat Ayat kursi terangkai tanpa menggunakan kata penghubung?”
Saya menjawab: “tidak ada satu penggalan kalimat pun dalam ayat itu kecuali datang memberikan penjelasan tersendiri. Dan penjelasan mereka terpadu dan menyatu terhadap apa yang dijelaskan. Seandainya antara satu penggalan kalimat dengan kalimat lain disisipi kata penghubung, maka keterpaduan yang harmonis tersebut dalam memberikan pemaknaan akan rusak.””[[7]]
Maka dari itu, Wajar jika Dr. Majidah Muhammad Mohna dalam kupasannya menyimpulkan bahwa ada empat sebab utama yang melatarbelakangi penamaan Ayat Kursi sebagai ratu ayat-ayat Al-Qur’an:
Pertama: Ayat kursi mencakup Zat Allah yang Agung, sifat-sifatnya, dan 11 kata ganti (dhamir هُوَ, dan هُ) yang berarti: (dia, atau Nya). Semua kata ganti ini kembali kepada Zat Allah yang Mulia (الله).
Tentunya, semua ayat-ayat di dalam Al-Qur’an mengikut ke Ayat Kursi, seperti ayat-ayat kisah, perumpamaan, ancaman dan janji, kabar gembira dan buruk, perintah dan larangan. Yang demikian itu karena segala sesuatu selain daripada Zat Allah mengikut kepada-Nya, bukan hanya itu, tapi semua sifat-sifat Allah yang terdapat di beberapa tempat disatukan dalam ayat ini.
Kedua: Dengan 11 kata ganti tersebut Ayat Kursi seperti menutupi Zat dan kesempurnaan sifat-sifat Allah dengan tirai misteri yang mengundang para pemerhati tema-tema Al-Qur’an untuk mengungkap rahasia ketauhidan di balik tirai maknawi tersebut. Olehnya itu, penyebutan kata ganti berkali-kali menyimpan rahasia-rahasia yang butuh penalaran lebih lanjut. Para sufi meyakini bahwa dengan menyebut (هُوَ) berulang kali, seseorang bisa saja merasakan dirinya seperti di alam lain yang diselimuti oleh cahaya-cahaya ketauhidan, berlayar di lautan makna yang tidak bertepi dan hanyut dalam penghayatan. Jika kondisi seperti ini berlangsung lama maka orang tersebut boleh jadi hanya menyebut (هُ), tanda bahwa dia benar-benar hanyut dan tenggelam di lautan ketauhidan yang memukau.
Kedua: Kemuliaan Ayat Kursi dari ayat-ayat lain memberi indikasi kuat bahwa ciptaan-ciptaan Allah bukan pada satu tingkat. Setiap dari mereka punya keistimewaan tersendiri dari yang lain. Itu wajar saja karena yang memberi kemuliaan dan keistimewaan adalah Allah yang jika berkehendak pasti terjadi.
Keempat: yang memberikan penamaan terhadap Ayat Kursi dengan nama Sayyidah adalah Rasul Saw. Tentunya ini menunjukkan bahwa nama itu mulia, dan jika nama mulia pasti yang menyandang penamaan tersebut juga ikut mulia. [[8]]
Di penghujung tulisan singkat ini, saya mengajak pemerhati tema-tema keislaman untuk menyimpulkan makna-makna ketauhidan yang dipercikkan Ayat Kursi:
“Ayat Kursi adalah matahari ketauhidan yang menyinari kehidupan manusia. Di sana ada sapaan yang menyuarakan ketauhidan zat, nama dan sifat-sifat-Nya. Sejukkan rohani Anda dengan melantunkan ayat ini siang dan malam, pinang miss universe ayat-ayat Al-Qur’an tersebut dengan membuat diri Anda terbuai dan hanyut oleh ketinggian makna ketauhidan yang dipancarkan dan rahasia-rahasia kehidupan yang dikemas dan ditutupi oleh tabir maknawi. Mari bersama-sama budayakan cinta Ayat Kursi dan membacanya setiap hari!”

Catatan Kaki:
[1] Syekh Ali bin Sultân Muhammad al-Qârî berkata:
“sabdanya: (لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ) dengan nada perintah. Asal kata kerja tersebut adalah: (لِيَهْنِئَكَ), huruf hamzahnya (ء) dijatuhkan supaya ringan diucapkan, artinya: (supaya engkau mudah menimba ilmu). Orang Arab sering sekali menggunakan kalimat tersebut dalam memberikan doa dan ucapan selamat, seperti: (لِيَهْنِئَكَ الْوَلَدُ), artinya: (semoga anakmu mendatangkan kebahagiaan terhadapmu dan keluarga). Ucapan Rasul Saw tersebut merupakan doa terhadap Abu al-Mundzir agar mudah baginya menuntut ilmu dan kelak menjadi alim. Tentunya, doa itu mengindikasikan bahwa dia seorang alim yang sarat dengan ilmu. Di lain sisi, ia juga menyiratkan kemuliaan orang yang berilmu pengetahuan.” [Lihat: Syekh Ali bin Sultân Muhammad al-Qârî, Mirqâtul al-Mâfâtîh syarh Misykâtul Mashâbîh, ditahkik oleh Syekh Jamal Aetâni, Dar Kutub Ilmiah, Beirut, cet. 1, 1422 H/2011 M, vol. 5, hlm. 19]
[2] Shahîh Muslim, Kitab Shalâtul Musâfirîn, bab Fadlu Surah Al-Kahfi wa Ãyat Al-Kursi, hadits. No: 1921, hlm. 374-375
[3] Imam al-Hakim, al-Mustadrak ala As-Shahîhain, kitab Tafsir, bab min Surah Al-Baqarah, hadits. No: 3085, vol. 2, hlm. 312
[4] yang terlihat oleh penulis dari pernyataan Imam al-Gazâli di atas adalah kecenderungan kuat beliau untuk tidak memberikan pemaknaan terlalu jauh terhadap (الكرسي). Di sini ulama berbeda pendapat dalam menyikapi mufradat-mufradat seperti itu (Mutasyabihat).Para Ulama Salaf (Sahabat, Tabiin dan generasi setelah Tabiin (Tabi’ Tabiin)) tidak terlalu jauh memberikan penta’wilan, bahkan di antara mereka ada yang tidak ingin menta’wilkan, mengingat zat Allah SWT di luar dari jangkauan pengetahuan manusia. Olehnya itu, karena zat-Nya tidak diketahui, maka sifat-sifat-Nya yang berkaitan dengan (الكرسي) pun tidak diketahui. Mereka mengatakan Allah SWT punya kursi yang sifat dan bentuknya hanya Dia yang tahu. Beda halnya dengan ulama yang datang setelah tiga kurun waktu tersebut, khususnya ulama-ulama sekarang, mereka berupaya menta’wilkan mufradat-mufradat seperti ini sesuai dengan konteks kalimat yang ada tanpa melanggar batasan-batasan Aqidah.
Syekh Abu Suud, salah seorang mufassir di zaman pemerintahan dinasti Utsmani, berkata:
“Di sana tidak ada kursi, duduk dan berdiri, tetapi itu adalah perumpamaan terhadap kebesaran dan kekuasaan Allah yang mutlak, serta ilmu-Nya yang menyeluruh.” [Lihat: Tafsir Syekh Abi as-Suud, vol. 1 hlm. 296]
Lain halnya dengan Imam Hasan al-Bashri, beliau melihat bahwa (الكرسي) di sini adalah Arsy, dan ini dilegitimasi oleh Syekh Ibn Asyur, beliau berkata:
“itulah penafsiran yang paling nampak, karena (الكرسي) tidak pernah disebutkan di dalam Al-Qur’an kecuali pada ayat ini, sementara Arsy penyebutannya berkali-kali, dan keduanya tidak pernah disebutkan bersamaan. Seandainya (الكرسي) itu bukan Arsy, maka pasti ia disebutkan bersamaan.” [Lihat: at-Tahrîr wa at-Tanwîr, vol. 3, hlm. 23]
[5] Lihat: Imam Abi Hâmid al-Ghazâli, Jawâhir Al-Qur’an wa Duraruh, ditahkik oleh Syekh Muhammad Rasyîd Ridhâ, Dar Ihya’ al-Ulum, cet. 3, 1411 H/1990 M, hlm. 73-75
[6] Inilah penggalan-penggalan kalimat tersebut: (الله),) لا إَلهَ إِلاَّ الله هُو الحَيُّ القَيُّوْمُ), (لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ), (لَهُ مَا فِيْ السَّموَاتِ وَمَا فِيْ الأَرْضِ), (مَنْ ذَ الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ), يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ)), (وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ), (وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّموَاتِ والأرْضَ), (وَلاَ يَؤُوْدُهُ حِفُظُهُمَا) dan (وَهُوَ العَلِيُّ العَظِيْمُ).
[7] Tafsir al-Kassyâf, vol. 1, hlm. 483
[8] Lihat: Dr. Majidah Muhammad Mohna, Khutuwât ala ash-Shirât al-Mustakîm (at-Tauhid), Matbaah as-Syarq al-Haditsah, Kairo, hlm. 100-101

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/12/17659/ada-apa-dengan-ayat-kursi/#ixzz1iaS9EQax@cwi

selengkapnya...

Allah Ada di Dekatku

Oleh: kiptiah hasan
Ilustrasi (temonsoejadi.wordpress.com)
 Ternyata Allah begitu dekat, melebihi dekatnya urat nadi pada tubuh kita. Pada Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 186, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” Bahkan jika kita berjalan mendekat kepada Allah, Allah akan berlari menyambut kita. Kasih sayang Allah begitu terasa, walaupun ketika kita dalam keadaan sulit sekalipun. Karena Allah tak inginkan kita lemah jika hanya memberikan kita kesenangan dan kemudahan dan Allah tak inginkan kita terus menerus berurai airmata tanpa di selingi kebahagiaan yang menerbitkan rasa syukur. Tak perlu jauh-jauh mencari sebuah kebahagiaan, tak perlu risau dengan kesulitan. Tak perlu biaya mahal untuk mendekatiNya, tak perlu jauh-jauh mencariNya. Karena Allah ada di hati orang-orang yang beriman. Asalkan keyakinan tumbuh di dalam hati, keyakinan akan apa yang di berikan Allah adalah yang terbaik dan akan ada hikmah setelahnya maka apapun yang terjadi bisa di syukuri, Insya Allah. Bila sekarang kita mengalami kondisi yang kurang baik atau dalam kata lain sedang dalam ujian, yakinlah bahwa setelah kesulitan ada kemudahan dan Allah tidak semata-mata memberikan kesulitan tanpa adanya pelajaran dan janji peningkatan derajat bagi mereka yang mampu melaluinya dengan sabar dan tawakkal. Kebahagiaan yang tak mampu di sandingkan dengan kemewahan duniawi, kedekatan kepada Allah. Selalu merasa dekat, merasa di awasi, hingga apapun yang kita lakukan menjadi terkontrol dan memiliki nilai positif di mata Allah. Jika terkadang kita merasa di abaikan manakala sulit mencari telinga yang mampu menampung segala resah dan masalah yang sedang di alami, tapi sesungguhnya telinga Allah akan selalu ada dan setia setiap saat mendengar keluh kesah hambaNya. Karena fitrah manusia adalah berkeluh kesah dan sebaik-baik berkeluh kesah hanyalah pada Allah. Allah tak akan pernah bosan mendengarkan hambaNya yang meminta, sebanyak apapun. Hanya kepada Allah manusia menyembah dan hanya kepada Allah manusia meminta pertolongan, bukan yang lain. Allah adalah tempat meminta segala sesuatu. Allah justru akan benci kepada hambaNya yang tak pernah meminta, karena merupakan hamba yang sombong. Karena sejatinya manusia tak mampu berbuat apa-apa melainkan karena kekuatan dari Allah. Jikalau doa kita tak langsung di kabulkan, baiknya adalah selalu berprasangka baik. Bisa jadi doa tersebut tak baik untuk kita atau belum saatnya atau mungkin di simpan untuk di akhirat kelak dan berbuah pahala. Lalu apakah kedekatan kita dengan Allah bisa muncul dengan tiba-tiba tanpa adanya usaha terlebih dahulu ? Seperti sepasang kekasih yang saling mencintai. Pada awalnya mereka tak saling mengenal, apalagi timbul sebuah rasa. Namun karena intensitas pertemuan yang makin tinggi dari waktu ke waktu sehingga menimbulkan rasa kasih dan sayang. Pertemuan-pertemuan tersebut menimbulkan pemahaman dan pengenalan terhadap diri masing- masing. Rasa kasih sayang yang timbul lambat laun menimbulkan rasa cinta, tatkala kekasihnya meminta sesuatu darinya maka tak akan sanggup dia untuk menolak permintaannya. Begitu pun dengan Allah. Allah tak akan melekat dalam hati jika kita tak ingin mengenalNya. Dengan belajar mengenal Allah, melalui ibadah dan menjalankan segala perintahNya serta menjauhi segala larangannya maka Allah akan dekat kepada kita. Apapun yang kita minta selama itu baik untuk kita, Allah tak akan segan untuk memberinya. Jikalau Allah memberikan sesuatu yang tidak kita sukai, yakinlah bahwasanya apa yang kita suka belum tentu yang terbaik untuk kita dan apa yang Allah berikan adalah yang terbaik yang kita butuhkan. Jadi, bahagia itu adalah dekatnya kita dengan Sang Pencipta bukan yang lain. Di mana ketenteraman itu akan muncul melebihi segala kenikmatan duniawi. Kesulitan pun menjadi indah tatkala Allah menjadi tumpuannya. Sungguh, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Allahua’lam. Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/12/17358/allah-ada-di-dekatku/#ixzz1iaL8WkeY /@cwi

selengkapnya...

Tauhid, Menggugurkan Dosa

Tauhid memiliki kedudukan yang sangat agung dan utama di dalam agama Islam, karena sesungguhnya tauhid merupakan inti ajaran Islam ini. Imam Ibnu Abil ‘Izzi Al-Hanafi –rahimahullah- berkata, “Ketahuilah, bahwa tauhid merupakan awal dakwah seluruh para rasul, awal tempat singgah perjalanan, dan awal tempat berdiri seorang hamba yang berjalan menuju Allah.” (Minhatul Ilahiyah Fi Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal. 45). Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah –rahimahullah- berkata, “Sesungguhnya Allah ‘Azza Wa Jalla telah mengutus para Rasul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya, menciptakan langit-langit dan bumi, agar Dia dikenal, diibadahi, ditauhidkan, dan agar agama itu semuanya bagi Allah, semua ketaatan untuk-Nya, dan dakwah hanya untuk-Nya.” Kemudian beliau menyebutkan beberapa ayat Al-Qur’an (Adz-Dzariyat: 56; Ath-Thalaq: 12; Al-Maidah: 97), lalu berkata, “Allah memberitakan bahwa tujuan penciptaan dan perintah adalah agar dikenal nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, hanya Dia yang diibadahi, tidak disekutukan.” (Ad-Da’ wad Dawa’, hal:196, tahqiq Syeikh Ali bin Hasan, penerbit: Dar Ibnil Jauzi). Oleh karena itulah, tidak mengherankan bahwa tauhid memiliki banyak sekali keutamaan. Di antara keutamaannya adalah bahwa tauhid menggugurkan dosa-dosa. Inilah di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut: 1- Dosa sepenuh bumi gugur dengan tauhid. عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَأَزِيدُ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَجَزَاؤُهُ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا أَوْ أَغْفِرُ وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ ذِرَاعًا وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَمَنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً وَمَنْ لَقِيَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطِيئَةً لَا يُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَقِيتُهُ بِمِثْلِهَا مَغْفِرَةً Dari Abu Dzarr, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman, ‘Barangsiapa membawa satu kebaikan, maka dia mendapatkan balasan sepuluh kalinya, dan Aku akan menambahi. Barangsiapa membawa satu keburukan, maka balasannya satu keburukan semisalnya, atau Aku akan mengampuni. Barangsiapa mendekat kepada-Ku sejengkal, niscaya Aku mendekatinya sehasta. Barangsiapa mendekat kepada-Ku sehasta, niscaya Aku mendekatinya sedepa. Barangsiapa mendatangi-Ku dengan berjalan, niscaya Aku mendatanginya dengan berjalan cepat. Barangsiapa menemui-Ku dengan dosa sepenuh bumi, dia tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Ku, niscaya Aku menemuinya dengan ampunan seperti itu.’” (Hadits shahih riwayat Muslim no. 2687; Ibnu Majah, no. 3821; Ahmad, no. 20853). Dalam hadits lain diriwayatkan, عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً Dari Anas bin Malik , dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam, sesungguhnya selama engkau berdoa kepada-Ku dan mengharap kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni untukmu dosa yang ada padamu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai awan di langit, kemudian engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menghadap-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian menemui-Ku, engkau tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Ku, niscaya Aku menemuimu dengan ampunan seperti itu.” (Hadits shahih riwayat Tirmidzi, no. 3540. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani). Hadits ini memuat tiga sebab untuk meraih ampunan Allah, yaitu: berdoa disertai dengan harapan, istighfar (mohon ampun), dan tauhid. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali –rahimahullah- berkata, “Sebab ke tiga di antara sebab-sebab ampunan adalah tauhid. Ini adalah sebab yang terbesar. Barangsiapa kehilangan tauhid, maka dia telah kehilangan ampunan dari Allah. Dan barangsiapa menghadap Allah dengan membawa tauhid, maka dia telah membawa sebab ampunan yang paling besar. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya, Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (Q.S. An-Nisa’/4: 48, 116). Maka, barangsiapa menghadap Allah dengan bertauhid, walau dengan membawa dosa sepenuh bumi, maka Allah akan menemuinya dengan ampunan sepenuh bumi juga. Tetapi ini bersama dengan kehendak Allah ‘Azza wa Jalla. Jika Dia menghendaki, Dia akan mengampuninya; Namun, jika Dia menghendaki, Dia akan menyiksanya dengan sebab dosa-dosanya. Kemudian, akhirnya dia tidak kekal di dalam neraka, namun akan keluar darinya, kemudian akan measuk ke dalam surga.” (Jami’ul ‘Uluum wal Hikam, juz 1, hal. 416-417, dengan penelitian Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrahim Baajis, penerbit. Muassasah Ar-Risalah). 2- Sembilan puluh sembilan lembar catatan keburukan gugur dengan tauhid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, إِنَّ اللَّهَ سَيُخَلِّصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا كُلُّ سِجِلٍّ مِثْلُ مَدِّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ فَيَقُولُ لَا يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَفَلَكَ عُذْرٌ فَيَقُولُ لَا يَا رَبِّ فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً فَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتَخْرُجُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَيَقُولُ احْضُرْ وَزْنَكَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ فَقَالَ إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ قَالَ فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ فَلَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللَّهِ شَيْءٌ Sesungguhnya, Allah akan membebaskan seorang lelaki dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Akan dibentangkan padanya 99 lembaran (catatan amal keburukan), tiap-tiap lembaran seukuran sejauh pandangan mata. Kemudian Allah bertanya, “Apakah engkau mengingkari sesuatu dari lembaran (catatan amal keburukan) ini? Apakah para (malaikat) penulis-Ku al-Hafizhun (yang mencatat) menzhalimimu?” Maka, hamba tadi menjawab, “Tidak wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah engkau memilik alasan?” Maka, hamba tadi menjawab, “Tidak wahai Rabb-ku.” Maka, Allah berfirman, “Benar, sesungguhnya di sisi Kami engkau memiliki satu kebaikan. Sesungguhnya pada hari ini engkau tidak akan dizhalimi. Kemudian, dikeluarkan sebuah bithaqah (karcis) yang bertuliskan: Asyhadu alla ilaaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu warasuluhu (Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah adalah hambaNya dan Rasul-Nya. Allah berfirman, “Datangkanlah timbanganmu.” Hamba tadi berkata, “Wahai Rabb-ku, apa (pengaruh) karcis ini terhadap lembaran-lembaran ini.” Maka, Allah berfirman, “Sesungguhnya engkau tidak akan dizhalimi.” Rasulullah bersabda, “Maka, lembaran-lembaran itu diletakkan di atas satu daun timbangan, dan satu karcis tersebut diletakkan di atas satu daun timbangan yang lain. Maka, ringanlah lembaran-lembaran itu, dan beratlah karcis tersebut. Maka, sesuatupun tidak berat ditimbang dengan nama Alah.” (H.R. Ahmad, II/213; Tirmidzi, no:2639; Ibnu Majah, no. 4300; dari Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani). Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh (wafat th 1285 H) –rahimahullah- berkata di dalam kitabnya Fathul Majid: “Barangsiapa mengatakan Laa ilaaha illa Allah dengan sempurna, yang mencegahnya dari syirik besar dan syirik kecil, maka orang ini tidak akan terus-menerus melakukan suatu dosa, sehingga dosa-dosanya diampuni dan diharamkan dari neraka. Dan jika dia mengatakannya dengan sifat yang mencegahnya dari syirik besar, tanpa syirik kecil, dan setelah itu dia tidak melakukan perkara yang membatalkannya, maka hal itu merupakan kebaikan yang tidak bisa ditandingi oleh kejelekan apapun juga. Sehingga timbangan kebaikannya menjadi berat dengan hal itu, sebagaimana tersebut di dalam hadits bithaqah, sehingga dia diharamkan dari neraka, tetapi derajatnya di surga berkurang sekadar dosa-dosanya.” (Fathul Majid I/139-140, tahqiq Dr. Al-Walid bin Abdurrahman bin Muhammad Aalu Furrayyan, penerbit: Majlis Islam Al-Asiawi). Setelah kita mengetahui hal ini, maka hendaklah kita memperhatikan tauhid dengan sebenar-benarnya, memahaminya, dan mengamalkannya, sehingga kita meraih keutamaannya. Hanya Allah tempat memohon pertolongan. Penulis: Ustadz Abu Isma’il Muslim Atsari (Anggotad Dewan Redaksi Majalah As-Sunnah, Pengasuh Ma’had Ibnu Abbas As-Salafy, Masaran, Sragen, Jawa Tengah) Artikel www.muslim.or.id /@cwi

selengkapnya...

Gabung bersama kami

About Me

admin jg menerima pelayanan jasa

admin jg menerima pelayanan jasa
Jasa arsitek rumah; desain arsitek / desain rumah, gambar denah rumah, bangun rumah baru, renovasi rumah dan pembangunan mesjid, mushola, ruko, disaign taman, dll. klik gambar utk kontak personal.

Syiar Islam On Twitter

Site info

Kalkulator Zakat Fitrah

  © Syiar islam Intisari Muslim by Dede Suhaya (@putra_f4jar) 2015

Back to TOP  

Share |