Wisata Arkeologi, Melihat Kejayaan Masa Lampau






SH/ Bayu Dwi Mardana
Perawatan situs baru sebatas pada membersihkan sampah dan mencabuti rumput.


Jika ditangani secara sungguh-sungguh bukan tidak mungkin wisata arkeologi akan mendapat tempat di dunia pariwisata. Selama ini wisata arkeologi agaknya hanya bertumpu pada Candi Borobudur. Padahal sebenarnya peninggalan-peninggalan arkeologi di Indonesia sangat banyak jumlah dan ragamnya.

Tidak kurang terdapat 3.000 peninggalan arkeologi yang antara lain berupa bangunan, situs, dan permukiman. Situs adalah sebidang tanah yang (diduga) mengandung benda-benda arkeologi. Peninggalan seperti ini termasuk kategori peninggalan tak bergerak.



Ada lagi yang disebut peninggalan bergerak. Benda-bendanya antara lain alat kerja, alat rumah tangga, fosil, mata uang, keramik, senjata, area, prasasti, dan perhiasan. Biasanya pelestarian benda-benda tak bergerak dilakukan lewat pembangunan taman purbakala atau museum terbuka (museum lapangan). Sementara benda-benda bergerak disimpan di dalam museum.
Menurut Undang-undang Benda Cagar Budaya Nasional 1993, peninggalan arkeologi merupakan salah satu bagian dari monumen. Monumen sendiri terbagi atas tiga jenis. Pertama, benda-benda bergerak maupun tak bergerak yang dibuat oleh tangan manusia, bagian atau kelompok benda-benda dan juga sisa-sisanya yang pokoknya berusia 50 tahun atau memiliki masa langgam sedikit-dikitnya 50 tahun dan dianggap memiliki nilai penting bagi prasejarah, sejarah, dan kesenian. Kedua, benda-benda yang dianggap penting dipandang dari sudut paleo-antropologi. Ketiga, situs yang mempunyai petunjuk kuat bahwa di dalamnya terdapat benda-benda yang dimaksud pada butir pertama dan kedua.

Empat Era
Peninggalan arkeologi termasuk warisan budaya hasil proses sejarah bangsa sepanjang masa. Fungsi peninggalan arkeologi sebagai warisan budaya terbagi menjadi kegiatan ilmiah. Artinya warisan budaya merupakan bukti sejarah dan budaya, sumber sejarah dan budaya, serta objek ilmu pengetahuan sejarah dan budaya. Kemudian dari aspek sosial, ia merupakan cermin sejarah dan budaya untuk mengembangkan dan pembinaan nilai budaya, pendidikan budaya bangsa dan untuk memupuk kepribadian bangsa di bidang kebudayaan dan ketahanan nasional. Terakhir sebagai objek wisata budaya.
Wisata budaya merupakan manifestasi dari sumbangan arkeologi kepada pariwisata. Di Indonesia arkeologi terdiri atas empat bidang spesialisasi berdasarkan masa atau kurun waktu, yakni arkeologi prasejarah, arkeologi klasik, arkeologi Islam, dan arkeologi kolonial. Arkeologi prasejarah berkenaan dengan semua peninggalan prasejarah, yakni masa sebelum dikenalnya sumber tertulis, hingga awal dikenalnya tulisan tertua sekitar abad ke-5 Masehi.
Arkeologi klasik berkenaan dengan semua peninggalan masa kerajaan Hindu dan Budha berkuasa di Indonesia. Masa ini berlangsung dari abad ke-5 hingga akhir kejayaan kerajaan Majapahit sekitar abad ke-15. Arkeologi Islam berkenaan dengan semua peninggalan masa kerajaan/kesultanan Islam. Masa ini berlangsung dari abad ke-15 hingga abad ke-19, saat kemerosotan kerajaan/kesultanan bercorak Islam itu.
Arkeologi kolonial berkenaan dengan semua peninggalan masa kolonial.
Umumnya peninggalan yang tersisa berciri Belanda, Inggris, Portugis, dan Cina. Masa ini berlangsung dari abad ke-16 hingga masa kemerdekaan Indonesia.

Budaya
Di banyak negara popularitas wisata arkeologi sudah demikian tinggi. Di sejumlah negara maju kunjungan ke situs-situs arkeologi ibaratnya bukan lagi merupakan kebutuhan sekunder atau tertier, tetapi premier. Maka tujuan wisata ke negara-negara yang pernah mempunyai kebudayaan tinggi menjadi prioritas utama.
Banyak wisatawan mengunjungi Mesir karena ingin melihat piramida, bangunan raksasa yang spektakuler dan sudah berusia ribuan tahun. Banyak wisatawan berminat ke Amerika Selatan karena ingin menyaksikan peninggalan suku Indian kuno yang sangat fantastis.
Tidak jarang pula para wisatawan mancanegara mengunjungi Yunani dan Italia untuk mengagumi sisa-sisa kebudayaan Yunani purba dan kekaisaran Romawi. Di Asia sasaran utama adalah tembok besar di Cina, berbagai peninggalan purba di Irak, sejumlah bangunan kuno di India, Candi Angkor Wat di Kamboja, dan tentu saja Candi Borobudur.
Bahkan karena memiliki kesadaran sejarah tinggi, banyak negara maju selalu menyelenggarakan archaeological tours ke Asia dan Afrika. Indonesia pernah menjadi tujuan kunjungan mereka.
Objek-objek yang mereka datangi antara lain Candi Borobudur, situs Trowulan, situs Sangiran, situs Banten Lama, dan sejumlah kegiatan ekskavasi.
Kelangsungan wisata arkeologi tidak lepas dari berkembangnya wisata budaya sejak 1979. Dampaknya, arkeologi mulai berbenah diri. Berbagai ekskavasi (penggalian arkeologis), penelitian, dan pemugaran banyak dilakukan demi konsumsi wisatawan. Akibatnya sejumlah situs arkeologi mulai diperhatikan orang.
Ada beberapa hal yang pantas kita tiru dari kunjungan tersebut. Mereka sangat antusias menyaksikan kebudayaan bangsa Indonesia. Mereka pun banyak mengorek keterangan tentang situs-situs tersebut.
Wisata arkeologi bisa menjadi ”primadona” pariwisata di Indonesia asalkan ditangani secara profesional. Dalam pengembangannya wisata arkeologi harus dipadukan dengan jenis-jenis wisata lain, seperti wisata agama. Selama ini wisata agama atau wisata ziarah sudah berjalan lebih dulu.
Banyak wisatawan sering mengunjungi objek-objek arkeologi Islam di Cirebon dan Banten, kelenteng Sampokong di Semarang, dan Candi Mendut di Magelang untuk melaksanakan kegiatan ritual keagamaan.
Kerja sama wisata arkeologi dengan wisata alam, wisata remaja, dan wisata petualangan amat menjanjikan. ltu perlu diperhatikan mengingat objek-objek arkeologi di Gunung Penanggungan (Jawa Timur), Gunung Tampomas (Jawa Barat), dan dataran tinggi Dieng (Jawa Tengah) mulai mendapat tempat.
Adanya wisata arkeologi menguntungkan dua pihak. Pihak arkeologi akan terpacu untuk melakukan penelitian dan pemugaran sebaik mungkin. Sementara masyarakat akan memperoleh informasi sebanyak mungkin. Dengan melihat kejayaan masa lampaunya, maka upaya pelestarian warisan-warisan budaya akan berjalan lebih mudah.
(Djulianto Susantio)

/@cwi

selengkapnya...

Benteng-benteng Warisan Peninggalan Kerajaan Islam

Peradaban Islam di era kejayaan dikenal memiliki teknologi militer yang sangat tangguh. Salah satu peninggalan militer Muslim di masa kekhalifahan adalah benteng-benteng pertahanan. Kemegahan benteng-benteng peninggalan peradaban Islam di abad pertengahan itu ada yang masih berdiri kokoh serta ada pula yang telah musnah.

Berikut ini beberapa benteng peninggalan militer Muslim di zaman keemasan:


* Benteng Salahudin

Orang Barat biasa menyebutnya, The Citadel of Saladin. Menurut catatan sejarah, The Citadel dibangun oleh panglima perang Muslim terkemuka bernama Salahudin Al-Ayubi dari Dinasti Ayubiyah pada 1170 M. Benteng Salahudin dibangun di atas bukit Muqatam yang terletak di antara kota Kairo dan Fustat, Mesir.

Karena letaknya di atas bukit, setiap orang yang datang ke Citadel bisa menikmati keindahan pemandangan seluruh penjuru kota Kairo. Bahkan, Piramida dan Giza peninggalan raja-raja Mesir pun bisa terlihat dari Benteng Salahudin.

Salahudin membangun Citadel sebagai tempat latihan militer serta melindungi Mesir dari serangan Pasukan Salib. Kala itu, memang tengah berkobar Perang Salib. Salahudin pun berinisiatif untuk membangun benteng pertahanan untuk membendung serangan tentara Perang Salib yang berusaha menguasai kembali Yerusalem Tanah yang dijanjikan Tuhan dari kekuasaan orang-orang Muslim.

Perang Salib juga dipicu ambisi Kekaisaran Bizantium untuk melawan ekspansi Dinasti Seljuk yang beragama Islam ke Anatolia. Pada masa kekuasaan Kekhalifahan Turki Usmani, Citadel juga sempat menjadi tempat bermukim dan berlindung Raja Muda Turki. Dia juga membawa pasukannya untuk bertahan di benteng tersebut selama masa Perang Salib.

Benteng peninggalan Sang Panglima Perang Agung Salahudin al- Ayubi itu sempat dilupakan dan tidak terurus hingga pada masa kekuasaan Dinasti Mamluk. Namun pada abad ke-14 M, Citadel yang telah berjasa melindungi Mesir dari Pasukan Salib mulai diperhatikan dan dirawat.

Bahkan Sultan El-Nasser Mohamed mulai membangun sejumlah bangunan-bangunan lain di sekitar benteng tersebut seperti Masjid. Saat ini, Citadel juga menjadi tempat latihan militer Mesir .

* Benteng Ajyad

Benteng Ajyad merupakan benteng yang dibangun penguasa Turki Usmani di kota Mekkah pada 1775 M. Benteng tersebut dibangun untuk melindungi Ka'bah dan kota Mekkah dari serangan para pendatang.

Benteng tersebut meliputi 23 ribu meter persegi pegunungan Bulbul. Namun benteng tersebut sudah dimusnahkan pada tahun 2002 yang lalu untuk sebuah proyek pembangunan Abraj Al Bait Towers yang terdiri dari apartemen, hotel bintang lima, maupun pusat perbelanjaan.

Pemusnahan Benteng Ajyad yang memiliki nilai sejarah tinggi bagi umat Muslim diprotes keras oleh pemerintah Turki. Namun pemerintah Saudi Arabia tetap memperbolehkan kelanjutan proyek itu. Selain itu, meskipun benteng Ajyad memiliki nilai historis tetapi benteng tersebut tidak termasuk bangunan-bangunan bersejarah yang dilindungi oleh UNESCO.

* Benteng al-Ukhaider

Benteng al-Ukhaider terletak di padang pasir berjarak 48 km dari kota Karbala dan 150 km di selatan kota Baghdad, Irak. Benteng al-Ukhaider I merupakan salah satu benteng yang paling indah dari jejak-jejak peninggalan kekuasaan Muslim. Tembok luar dari benteng tersebut masih lengkap dan terawat dengan baik.

Benteng ini dibangun oleh salah seorang pemimpin dari Dinasti Abbasiyah yang pernah berkuasa di Irak yakni Isa ibn Musa pada 774 hingga 775 M. Di dalam benteng tersebut juga dibangun masjid dan tempat tinggal semacam aparteman. Arsitektur dari benteng tersebut sangat indah dan sangat menggambarkan arsitektur Islam.

Pada saat terjadinya perang Teluk yang terjadi antara Irak dan Kuwait pada 1991, benteng tersebut pernah diserang oleh dua pesawat terbang. Namun benteng peninggalan Dinasti Abbasiyah tersebut tetap berdiri dengan kokohnya tanpa ada kerusakan yang cukup berarti. Hal ini merupakan bukti kemampuan teknik bangunan yang tinggi dari arsiteknya.

Pada zaman dulu, benteng Al Ukhaider sering menghubungkan antara Irak dengan dunia luar. Selain itu, banyak para kafilah, pedagang dan orang-orang nomaden seperti Atshan dan Mujdah yang sering singgah di benteng tersebut. Selain untuk singgah, benteng tersebut juga berfungsi melindungi wilayah-wilayah di sekitarnya dari serangan orang asing.

* Benteng Alamut

Benteng Alamut dibangun pada 840 M di atas Gunung Alborz pada ketinggian 2.100 meter dari permukaan laut yang terletak di selatan Laut Kaspia dekat Provinsi Qazyin. Benteng tersebut terletak 100 km dari kota Teheran, Iran.

Alamut sendiri merupakan bahasa Persia yang artinya sarang burung Rajawali. Kemungkinan nama tersebut diberikan untuk menggambarkan betapa kokohnya benteng tersebut. Benteng Alamut memang dirancang didirikan di atas gunung untuk menyulitkan para penyerang datang menghancurkan benteng tersebut.

Untuk memasuki benteng tersebut, para penyerang harus melewati lereng-lereng yang terjal dan licin yang sangat berbahaya. Benteng yang panjangnya 400 meter tersebut juga memiliki sistem suplai air yang berbeda dari benteng-benteng lainnya. Sebenarnya, benteng Alamut memang didirikan untuk menahan serangan dari bangsa Seljuk.

Pada 1090 M, Hassan-i Sabbah seorang komandan dari Persia menguasai Benteng Alamut, bahkan dia juga membangun sejumlah taman dan perpustakaan di dalam benteng tersebut. Namun pada Desember 1256 M, pasukan Mongol di bawah kepemimpinan Hulagu Khan datang dan berusaha menghancurkan benteng tersebut. Tetapi benteng tersebut tetap tidak terkalahkan.

Benteng Alamut rusak parah akibat terjadinya gempa bumi di Iran pada 2004.. Dinding-dinding benteng tersebut runtuh. Untuk memperbaiki benteng yang menjadi salah satu peninggalan peradaban Islam tersebut membutuhkan waktu yang panjang, sekitar 10 tahun.

Hikayat Berdirinya Benteng di Tanah Arab

Sebelum datangnya Islam, peradaban Arb tak mengenal tradisi pembangunan benteng pertahanan. Menurut Ahmad Y al-Hassan dan Donald R Hill dalam bukunya bertajuk Islamic Technology: An Illustrated History, mengungkapkan, kota yang memiliki tembok-tembok penting pra-Islam hanyalah Thaif dan Hijaz.

Seiring berkembangnya agama Islam di Semenajung Arab, benteng pertahanan mulai dibangun di mana-mana. Hal ini terjadi karena adanya perkembangan militer di dunia Islam pada masa-masa penaklukan oleh para Kalifah. Selain itu, pada masa kekalifahan, banyaknya perang di berbagai wilayah mendorong terjadinya pertukaran gagasan antara dunia Islam dengan dunia Barat seperti Byzantium dalam strategi militer.

Ide-ide militer yang melintas antara dunia Islam dan Barat membuat para arsitektur militer dan para ahli strategi membuat berbagai macam teknik pertahanan, salah satunya dengan membangun benteng pertahanan.

Benteng memang perlu dibuat untuk mempertahankan diri dari serangan musuh guna mempertahankan wilayah kekuasaan. Selain itu, benteng juga dibentuk untuk mengawasi rumah-rumah pemimpin yang ada di sekitar lingkungan benteng dari berbagai macam ancaman.

Allah SWT berfirman dalam Alquran Surat Hasyr ayat 14, Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, orang-orang kafir tidak mungkin berani memerangi tentara Islam kecuali mereka berlindung di balik benteng-benteng. Kemudian mereka akan bertempur guna mempertahankan diri dalam keadaan terpaksa. Dari ayat tersebut, maka Allaah juga menggambarkan arti penting benteng guna perlindungan diri dari serangan lawan.

Pada masa itu, sebagian besar kota-kota di negara Islam memiliki benteng yang di luarnya memiliki parit. Parit tersebut memiliki fungsi sebagai pertahanan guna mencegah musuh menggali fondasi benteng untuk merontokkan benteng. Di kota-kota Islam yang lebih besar, benteng tidak hanya satu saja, namun terdiri dari beberapa lapis seperti di kota Hisn, Quhandiz, dan Qal'a.

Benteng memiliki bentuk yang bermacam-macam, bisa berupa menara sederhana yang disebut dengan burj, tetapi ada juga yang berbentuk kastil yang terbuat dari batu-batuan yang memiliki dinding sangat sangat besar dan tebal. Bangunan kastil ini biasanya mempunyai persediaan air dan gudang makanan yang melimpah ruah. Pasalnya kastil memang dibangun untuk melakukan pertahanan diri selama berbulan-bulan pada masa peperangan.

Tipe benteng pertahanan Muslim pada masa kekhalifahan adalah ribat yakni sebuah kastil yang ditinggali oleh para serdadu atau pasukan pilihan yang memiliki kemampuan militer luar biasa. Biasanya, ribat dibangun di sepanjang jalur perbatasan, jalan-jalan utama bahkan di garis pantai di wilayah kekuasaan.

Salah satu contohnya adalah Kastil Allepo di Suuriah yang dibangun pada abad ke-13. Sedangkan komunikasi militer antara Khalifah dengan panglima perangnya di medan perang biasanya disampaikan oleh kurir yang menunggani unta di sebuah barid berupa pelayanan pos reguler.(rpb) www.suaramedia.com /@cwi

selengkapnya...

Biografi Ringkas Imam Nawawi

Beliau adalah Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Ad-Dimasyqiy, Abu Zakaria. Beliau dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H di Nawa, sebuah kampung di daerah Dimasyq (Damascus) yang sekarang merupakan ibukota Suriah. Beliau dididik oleh ayah beliau yang terkenal dengan kesalehan dan ketakwaan. Beliau mulai belajar di katatib (tempat belajar baca tulis untuk anak-anak) dan hafal Al-Quran sebelum menginjak usia baligh.


Ketika berumur sepuluh tahun, Syaikh Yasin bin Yusuf Az-Zarkasyi melihatnya dipaksa bermain oleh teman-teman sebayanya, namun ia menghindar, menolak dan menangis karena paksaan tersebut. Syaikh ini berkata bahwa anak ini diharapkan akan menjadi orang paling pintar dan paling zuhud pada masanya dan bisa memberikan manfaat yang besar kepada umat Islam. Perhatian ayah dan guru beliaupun menjadi semakin besar.

An-Nawawi tinggal di Nawa hingga berusia 18 tahun. Kemudian pada tahun 649 H ia memulai rihlah thalabul ilmi-nya ke Dimasyq dengan menghadiri halaqah-halaqah ilmiah yang diadakan oleh para ulama kota tersebut. Ia tinggal di madrasah Ar-rawahiyyah di dekat Al-Jami’ Al-Umawiy. Jadilah thalabul ilmi sebagai kesibukannya yang utama. Disebutkan bahwa ia menghadiri dua belas halaqah dalam sehari. Ia rajin sekali dan menghafal banyak hal. Ia pun mengungguli teman-temannya yang lain. Ia berkata: “Dan aku menulis segala yang berhubungan dengannya, baik penjelasan kalimat yang sulit maupun pemberian harakat pada kata-kata. Dan Allah telah memberikan barakah dalam waktuku.” [Syadzaratudz Dzahab 5/355].

Diantara syaikh beliau: Abul Baqa’ An-Nablusiy, Abdul Aziz bin Muhammad Al-Ausiy, Abu Ishaq Al-Muradiy, Abul Faraj Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy, Ishaq bin Ahmad Al-Maghribiy dan Ibnul Firkah. Dan diantara murid beliau: Ibnul ‘Aththar Asy-Syafi’iy, Abul Hajjaj Al-Mizziy, Ibnun Naqib Asy-Syafi’iy, Abul ‘Abbas Al-Isybiliy dan Ibnu ‘Abdil Hadi.

Pada tahun 651 H ia menunaikan ibadah haji bersama ayahnya, kemudian ia pergi ke Madinah dan menetap disana selama satu setengah bulan lalu kembali ke Dimasyq. Pada tahun 665 H ia mengajar di Darul Hadits Al-Asyrafiyyah (Dimasyq) dan menolak untuk mengambil gaji.

Beliau digelari Muhyiddin (yang menghidupkan agama) dan membenci gelar ini karena tawadhu’ beliau. Disamping itu, agama islam adalah agama yang hidup dan kokoh, tidak memerlukan orang yang menghidupkannya sehingga menjadi hujjah atas orang-orang yang meremehkannya atau meninggalkannya. Diriwayatkan bahwa beliau berkata: “Aku tidak akan memaafkan orang yang menggelariku Muhyiddin.”


Imam An-Nawawi adalah seorang yang zuhud, wara’ dan bertaqwa. Beliau sederhana, qana’ah dan berwibawa. Beliau menggunakan banyak waktu beliau dalam ketaatan. Sering tidak tidur malam untuk ibadah atau menulis. Beliau juga menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, termasuk kepada para penguasa, dengan cara yang telah digariskan Islam. Beliau menulis surat berisi nasehat untuk pemerintah dengan bahasa yang halus sekali. Suatu ketika beliau dipanggil oleh raja Azh-Zhahir Bebris untuk menandatangani sebuah fatwa. Datanglah beliau yang bertubuh kurus dan berpakaian sangat sederhana. Raja pun meremehkannya dan berkata: “Tandatanganilah fatwa ini!!” Beliau membacanya dan menolak untuk membubuhkan tanda tangan. Raja marah dan berkata: “Kenapa !?” Beliau menjawab: “Karena berisi kedhaliman yang nyata.” Raja semakin marah dan berkata: “Pecat ia dari semua jabatannya!” Para pembantu raja berkata: “Ia tidak punya jabatan sama sekali.” Raja ingin membunuhnya tapi Allah menghalanginya. Raja ditanya: “Kenapa tidak engkau bunuh dia padahal sudah bersikap demikian kepada Tuan?” Raj apun menjawab: “Demi Allah, aku sangat segan padanya.”

Imam Nawawi meninggalkan banyak sekali karya ilmiah yang terkenal. Jumlahnya sekitar empat puluh kitab, diantaranya:

Dalam bidang hadits: Arba’in, Riyadhush Shalihin, Al-Minhaj (Syarah Shahih Muslim), At-Taqrib wat Taysir fi Ma’rifat Sunan Al-Basyirin Nadzir.
Dalam bidang fiqih: Minhajuth Thalibin, Raudhatuth Thalibin, Al-Majmu’.
Dalam bidang bahasa: Tahdzibul Asma’ wal Lughat.
Dalam bidang akhlak: At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an, Bustanul Arifin, Al-Adzkar.
Kitab-kitab ini dikenal secara luas termasuk oleh orang awam dan memberikan manfaat yang besar sekali untuk umat. Ini semua tidak lain karena taufik dari Allah Ta’ala, kemudian keikhlasan dan kesungguhan beliau dalam berjuang.

Secara umum beliau termasuk salafi dan berpegang teguh pada manhaj ahlul hadits, tidak terjerumus dalam filsafat dan berusaha meneladani generasi awal umat dan menulis bantahan untuk ahlul bid’ah yang menyelisihi mereka. Namun beliau tidak ma’shum (terlepas dari kesalahan) dan jatuh dalam kesalahan yang banyak terjadi pada uluma-ulama di zaman beliau yaitu kesalahan dalam masalah sifat-sifat Allah Subhanah. Beliau kadang men-ta’wil dan kadang-kadang tafwidh. Orang yang memperhatikan kitab-kitab beliau akan mendapatkan bahwa beliau bukanlah muhaqqiq dalam bab ini, tidak seperti dalam cabang ilmu yang lain. Dalam bab ini beliau banyak mendasarkan pendapat beliau pada nukilan-nukilan dari para ulama tanpa mengomentarinya.

Adapun memvonis Imam Nawawi sebagai Asy’ari, itu tidak benar karena beliau banyak menyelisihi mereka (orang-orang Asy’ari) dalam masalah-masalah aqidah yang lain seperti ziyadatul iman dan khalqu af’alil ‘ibad. Karya-karya beliau tetap dianjurkan untuk dibaca dan dipelajari, dengan berhati-hati terhadap kesalahan-kesalahan yang ada. Tidak boleh bersikap seperti kaum Haddadiyyun yang membakar kitab-kitab karya beliau karena adanya beberapa kesalahan di dalamnya.

Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa kerajaan Saudi ditanya tentang aqidah beliau dan menjawab: “Lahu aghlaath fish shifat” (Beliau memiliki beberapa kesalahan dalam bab sifat-sifat Allah).

Imam Nawawi meninggal pada 24 Rajab 676 H -rahimahullah wa ghafara lahu-.

Catatan: Lihat biografi beliau di Tadzkiratul Huffazh 4/1470, Thabaqat Asy-Syafi’iyyah Al-Kubra 8/395, dan Syadzaratudz Dzahab 5/354

***

Disusun Oleh: Ustadz Anas Burhanuddin, Lc.
Artikel www.muslim.or.id /@cwi

selengkapnya...

Gabung bersama kami

About Me

admin jg menerima pelayanan jasa

admin jg menerima pelayanan jasa
Jasa arsitek rumah; desain arsitek / desain rumah, gambar denah rumah, bangun rumah baru, renovasi rumah dan pembangunan mesjid, mushola, ruko, disaign taman, dll. klik gambar utk kontak personal.

Syiar Islam On Twitter

Site info

Kalkulator Zakat Fitrah

  © Syiar islam Intisari Muslim by Dede Suhaya (@putra_f4jar) 2015

Back to TOP  

Share |