Maafkan Aku, Sahabat

Oleh M .jono AG
Sahabatku, mohon maaf kalau panggilanmu lewat HP semalam tak kujawab. Bukan aku mengabaikanmu, apalagi tidak menghargaimu. Sekali lagi tidak. Insya Allah aku akan tetap menjawabmu pada waktu dan situasi yang berbeda. Hanya karena aku malu kepada Allah saat itu karena aku sedang ingin menambah pemahamanku terhadap agamaku.

Aku sangat malu kalau ustadz yang berdiri di depanku dan di depan semua jamaah sedang semangat-semangatnya menyampaikan beratnya hijrah Rasulullah tiba-tiba aku yang berada disampingnya keluar hanya untuk menerima telpon. Sungguh aku malu kepada Allah, saat ini aku baru bisa ikut ta’lim sebulan dua kali setiap jum’at minggu pertama dan minggu ketiga di musholla dekat rumahku. Padahal usiaku sudah diatas empat puluh, sementara setiap saat dosa- dosaku kian bertambah tanpa terbendung. Kadang aku merenung, kenapa tidak segera memperbaiki diri.

Sahabatku, mohon maaf kalau panggilanmu lewat HP kemarin siang dan waktu-waktu siang sebelumnya tidak kujawab. Jujur saja bukan lagi aku tak mau jawab, tapi justru kumatikan begitu terdengar adzan. Karena saat itu aku kepingin bersama teman ikut jamaah sholat dhuhur di musholla kecil di kantor kita.


Aku bersyukur setiap waktu sholat diseluruh ruangan dikantor kita dikumandangkan adzan dan himbauan kepada seluruh umat muslim untuk meninggalkan pekerjaan sejenak dan segera melaksanakan sholat. Aku ingin menjadikan saat itu istimewa. Karena saat itu yang memanggilku bukan lagi atasanku tetapi sang Pemilik diriku. Aku sadar sebagai karyawan yang mengelola operasional otomatis ada tuntutan bahwa setiap saat harus bisa dihubungi.

Tetapi aku juga ingin waktu sholat justru menjadi panggilan terindah hari itu untukku. Mumpung Allah masih menitipkan nafas di tubuhku.

Ada yang perlu diluruskan sepertinya. Istilah handphone tentu bukan barang yang asing bagi kita saat ini. Ada yang memaknai sebagai telpon genggam yang berarti setiap saat ada di genggaman kita. Ada lagi yang memaknai sebagai telepon bergerak sehingga kemanapun pergerakan kita tetap bisa dihubungi, sebuah lompatan teknologi yang cukup besar sehingga kemungkinan informasi hilang semakin kecil karena mobilitas yang dimiliki.

Sebuah teknologi, tentu memilki sisi positif dan negative tergantung kita sebagai pemakainya.Kita lihat saja saat ini hampir di semua masjid ataupun musholla terdapat tulisan "UNTUK MENJAGA KEKUSYUKAN SHOLAT HARAP MATIKAN HP ANDA". Belum lagi tambahan dari pak Imam yang dengan 'terpaksa' menambah aba-aba "Tsau sufuufakum, mari rapatkan dan luruskan shaf, dan tolong yang membawa HP harap dimatikan atau di silent!". Astaghfirullah. Inilah fenomena saat ini yang sering kita jumpai di masyarakat kita.Seakan kita sangat takut kalau tidak ditemani HP.

Dulu pada saat belum teknologi seluler belum berkembang di masyarakat pada saat menelpon dan kebetulan tidak diangkat kita hanya berfikir bahwa yang kita hubungi sedang tidak ada di rumah. Coba sekarang, begitu HP tidak diangkat, orang sudah berfikiran macam-macam. Mulai dari sengaja nggak ngangkat, nggak gaul karena udah jelas-jelas panggilan itu ditujukan kepadanya kok nggak diangkat, atau bahkan ada yang mengumpat kalau beberapa kali ngebel nggak juga diangkat.

Tanpa mengurangi pengharagaanku terhadap teknologi yang semakin memudahkan kita, harusnya ada batasan-batasan agar kemajuan teknologi tetap saja bermanfaat untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan malah menjauhkan atau sedikitnya menghalangi orang lain yang ingin mendekatkan diri kepada Allah. Kita mungkin tidak menyadari pada saat sholat jamaah, tiba-tiba ada HP yang bunyi, tentu bukan saja jamaah di sekitarnya saja yang terganggu, bisa jadi sang imam juga terganggu konsentrasinya.

Pernahkan anda membayangkan pada saat hening seperti itu tiba-tiba ada lagu rock, dangdut, atau bahkan lagu barat mengalun diantara lantunan ayat-ayat Qur’an yang sedang dibaca imam? Tentu dalam waktu sekejap konsentrasi kita akan buyar. Minimal kita mengumpat dalam hati "kenapa ini orang nggak tinggalkan saja HP nya dirumah?" Masih khusyukkah kita pada saat terlintas dihati kita umpatan kepada orang lain?

Ada lagi yang berfikiran kenapa nggak di-silent saja. Padahal sama saja bagi pemakainya kalau itu dilakukan pada saat sholat. Pada saat HP bergetar, tentu perhatian kita akan terpikir "Siapa lagi ini, waktunya sholat kok ngebel ?" Memang yang terganggu hanya kita. Kenapa tidak sekalian saja di matikan atau ditinggal di rumah?

Sahabatku, maafkan aku dan istriku kalau beberapa kali menghubungiku ketika magrib tiba justru istriku lah kadang-kadang yang mengangkatnya. Memang aku sering berpesan kepada istriku kalau lagi dapat dispensasi dari Allah untuk tidak sholat dan kebetulan ada yang ngebel di HP ku dan aku sedang ikut jamaah sholat magrib di musholla sepulang kerja untuk dijawab bahwa aku sedang jamaah.

Bukan maksudku tidak respon terhadap panggilan padahal itu menyangkut pekerjaan dan tanggung jawabku. Insya Allah aku akan telpon balik sesudah sholat, meskipun kadang- kadang terbersit keinginan untuk melepaskan beban kerja setelah sampai rumah. Tapi rupanya Allah menghendaki, sejak awal aku harus menempati posisi operasional yang kadang-kadang tidak kenal waktu.

Itupun sangat saya sadari bersama keluarga.Sehingga sering kali pada saat libur atau sedang jalan-jalan bersama keluarga harus belok dulu ke kantor untuk menyelesaikan gangguan atau balik kerumah, tergantung mana yang lebih dekat untuk segera bisa menyelesaiakan gangguannya. Di situlah seninya.

Jadi kalau sering kali pada saat sholat aku tidak bisa sambil membawa HP, hanya karena aku memang belum bisa khusyuk seperti mereka yang sudah mencapai tingkatan khosyi’un. Aku masih sangat awam, masih perlu banyak berlajar dan berlatih khusyuk. Sekali lagi, aku hanya ingin menjadikan waktu sholatku adalah waktu yang sangat istimewa, karena aku yang hina ini dipanggil menghadap Rabbku.

Aku hanya ingin waktu perjumpaanku itu tidak lagi dicampuri dengan urusan yang lain, termasuk pekerjaan yang aku yakin asal Allah masih menitipkan nafas di tenggorokanku berarti aku harus tetap bekerja sebagai ibadah kepadanya. Pasti itu.

Satu hal yang aku tidak pernah tahu pada saat Allah memanggilku untuk menghadap kepada-Nya disela-sela pekerjaanku yang hanya 5 x sehari semalam dan paling lama hanya sekitar 10-15 menit itu, aku tidak tahu apakah sesudah aku sholat itu masih diberi-Nya aku kesempatan untuk kembali mi’raj kehadirat-Nya atau justru itu adalah sholatku yang terakhir. Wallahu a’lam.

M. Jono AG
masjono@telkom.co.id
/@cwi

selengkapnya...

Kau yang Tercantik, Istriku

Oleh M. Arif As-Salman
Aku perhatikan sejak tadi temanku, Haris, tampak gelisah. Ada guratan cemas dan takut yang kubaca pada raut mukanya. Perjalanan yang akan kami tempuh masih lumayan cukup jauh. Bis yang kami tumpangi melaju dengan kecepatan sedang. Sesekali berhenti di halte untuk menurunkan penumpang dan menaikkan penumpang.

Aku masih tertegun dengan ucapan seorang anak muda dari Palestina yang ku ajak ngobrol sebelum ia turun. Kata-katanya laksana aliran listrik yang menyengat hatiku. Aku terpaku dan berdecak kagum. Usianya masih muda, tapi semangatnya begitu membara, pengelanaannya dalam hidup ini ku rasakan sudah cukup jauh.

"Ris, kamu kenapa?" sapaku pada Haris.

"Gak tahu Jir, kok aku tiba-tiba jadi gak enak ya," jawab Haris padaku.

"Gak enak kenapa? Kamu lagi kurang sehat atau ada yang terasa sakit?" selidik ku bertanya.

"Gak tahulah, mau bilang apa."

"Sebenarnya apa yang kamu rasakan?"

"Aku gak tenang aja, sejak gadis Mesir itu naik bis tadi."

"Emang kenapa dengan gadis itu?"

"Masak kamu gak perhatian, tuh pakaiannya buat darahku mendidih dan otakku meregang."

"Ooo," jawabku dengan senyum.

"Kok ooo sih, emangnya kamu gak merasakan apa-apa ya?"

"Saya gak ada rasa apa-apa, biasa saja, gak ada yang membuat saya tertarik untuk melihat?"

"Lho, kenapa?"

"Ya, apalagi yang mau dilihat, yang halal telah Allah berikan untuk direguk kenikmatannya. Sedangkan itu adalah sesuatu yang haram, melihat dan menyentuhnya dosa dan bawa celaka, dapat merusak hati dan pikiran."

"Tapi, kan ada juga orang yang sudah nikah masih gak kuat lihat cewek cakep."

"Yaaa... Mungkin."

"Bagaimana cara kamu menghadapi keadaan seperti itu, Jir?"

"Aku selalu tanamkan dalam hatiku, bahwa dimanapun aku berada Allah selalu melihatku, mengetahui kemana lirikan mataku, dan setiap bisikan hatiku. Aku malu bermaksiat pada Allah, sedangkan setiap hari aku memakan rizki yang Ia beri, sedangkan setiap hari aku diberi-Nya kesehatan. Aku takut jika saat bermaksiat pada Allah nyawaku dicabut. Apa yang akan ku jawab di akhirat kelak, saat amal-amalku dimintai pertanggung jawabannya?"

"Terus, selain itu, apa rahasia yang lain?"

"Aku selalu tanamkan dalam hatiku, bahwa hanya istriku yang tercantik di dunia ini, tidak ada wanita lain di muka bumi ini yang melebihi kecantikan istriku sesudah ibuku. Bagiku, selain istriku semuanya jelek! Sehingga dengan menanamkan keyakinan ini, aku tak terpaku dengan fatamorgana yang berkeliaran di sekitarku."

"Ya, bagiku wanita yang lain jelek semua!! Nah, dengan cara demikian, aku tak sedikitpun tertarik untuk melihat, memperhatikan dan melirik pada wanita lain, walau cantik sekalipun ia, walau ia pemenang Miss Universe sekalipun."

"Dan terakhir, bahwa menjaga pandangan mata dari yang haram lebih mudah dari pada saat mata itu telah melihat, karena saat itu hati akan merasakan derita dan kepedihan rindu yang tak tertahankan yang berbalut nafsu, yang sering membuat laki-laki kehilangan kelezatan beribadah."

"Itulah penjelasanku. Bagaimana menurutmu, kawan?"

"Ternyata pernihakan itu betul-betul mampu memelihara diri dari perbuatan dosa dan nista, ya?"

"Betul, tentunya harus didasari niat yang tulus dan benar, bukan semata pelampiasan syahwat belaka."

"Kalau kamu udah tahu, kapan menikahnya?" tanyaku pada Haris.

"Itulah akhi, sampai saat ini jodoh belum datang.."

"Hehe.. carilah jodoh itu!! Berusahalah, temukanlah dan banyaklah berdoa pada Allah. Jangan putus asa, jangan pesimis, berbesar hatilah dan yakinlah akan janji Allah. Kelak kamu juga akan mengatakan pada wanita yang Allah pilihkan untukmu, "Duhai bidadariku, hanya engkau tercantik di hatiku."

Menikahlah, agar hilang keluh hatimu, lenyap kesah jiwamu, dan agar redup juga gelora yang tak menentu itu, kawan!!

Salam,

marif_assalman@yahoo.com
/@cwi

selengkapnya...

Islam... Engkau Sungguh Sempurna

Oleh Silvani
Shock,kaget, tak percaya saat saya melihat seorang muslimah asal Iran memakan daging babi di suatu acara pesta ulang tahun tetangga dekat. Tadinya saya pikir ia tidak tahu, namun ketika saya beri tahu ia menjawab kalo dia biasa makan daging babi dan juga minum minuman keras. Di negerinya orang-orang biasa mengkonsumsi babi dan miras.

Duh benarkah apa yang dikatakannya? Bahkan menurutnya larangan makan babi dan minum miras sungguh tak masuk akal, dan mengapa hanya agama Islam yang melarangnya? Astaghfirullah… shock,kaget dan tak percaya saya dibuatnya…

Tadinya saya ingin berdebat dengannya, bukankah sebagai muslim kita wajib berpegang teguh pada kitab Allah yang di dalamya jelas mengatur makanan dan minuman yang halal dan haram? Tapi saya urung bedebat, saya memilih pulang cepat ke rumah.

Tinggal di negeri orang dengan mayoritas penduduk non muslim membuat saya ekstra hati-hati, terutama dalam hal memilih makanan. Saat berbelanja saya pastikan daging dan ayam yang saya beli berlabel halal.

Begitu juga dalam memilih snack untuk anak-anak, dengan teliti saya baca komposisi bahan pembuatnya, Alhamdulillah produk halal tidak sulit didapat. Kami sekeluarga pun tidak mau sembarangan jajan, kami pasti selalu ke warung muslim yang dijamin kehalalannya.

Dan memakai jilbab ternyata membawa keuntungan tersendirisaat berbelanja. Pernah saya hendak membeli donat coklat di suatu swalayan, ketika melihat saya mengambil donat tsb, penjual donat melarang, donat tsb mengandung pengemulsi yang tidak halal katanya. Subhanallah... Allah masih melindungi saya.

Halal dan haram begitu penting buat saya, tapi rupanya tidak bagi semua muslim. Hati ini sungguh berduka dan penuh tanya.. duhai Saudaraku, sebegitu mudahnyakah engkau melanggar apa yg telah jelas-jelas diharamkan oleh Allah?

Engkau katakan mengapa hanya Islam yang melarang babi dan miras… Itu karena Islam adalah agama yang sungguh sempurna Saudaraku, semua hal diatur dalam Islam termasuk soal makanan dan minuman.

Subhnallah, apa yang masuk ke dalam tubuh kita pun diatur oleh Islam.…tidak boleh sembarangan… Sungguh saya sangat bersyukur karenanya.

Sejak peristiwa itu tak lepas kupanjatkan doa seusai shalat “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi karunia. “
/@cwi

selengkapnya...

Gabung bersama kami

About Me

admin jg menerima pelayanan jasa

admin jg menerima pelayanan jasa
Jasa arsitek rumah; desain arsitek / desain rumah, gambar denah rumah, bangun rumah baru, renovasi rumah dan pembangunan mesjid, mushola, ruko, disaign taman, dll. klik gambar utk kontak personal.

Syiar Islam On Twitter

Site info

Kalkulator Zakat Fitrah

  © Syiar islam Intisari Muslim by Dede Suhaya (@putra_f4jar) 2015

Back to TOP  

Share |