Ramadhan di Negeri Hitler… Sebuah Dialog yang Berkesan

Seperti biasa, hari ini (24/07) aku
bekerja di laboratorium pada sebuah
Universitas ternama di Jerman untuk
menyelesaikan riset PhD ku. Hal yang
sedikit berbeda adalah cuaca hari ini
cukup panas dan terik di musim summer dan aku dalam keadaan
berpuasa di bulan suci Ramadhan.
Tanpa sengaja aku mencurigai
seorang teman asal Jerman yang
sehari-hari bekerja bersama di
laboratorium itu seperti mengamati gerak-gerikku sejak tadi. Seolah
melihat orang asing, dia mengamatiku
yang sedang bekerja seperti layaknya
anggota inteligen atau anggota telik
sandi yang sedang bertugas memata-
mataiku. Karena sedang asyik dengan pekerjaanku, hal itu aku biarkan saja.
Akhirnya si bule Jerman ini pun datang
menghampiriku dan terjadilah dialog
yang berkesan itu; Jerman: Ichsan, saya dengar kamu sedang Ramadhan ya? Aku: Iya, sahutku sambil terus bekerja Jerman: Dan kamu berpuasa hari ini? Aku: Iya tentu saja, jawabku Jerman: Tidak boleh makan dan tidak boleh minum di musim panas seperti
ini?
Aku: Betul, dan kami melakukannya sejak pukul 03.00 malam hingga 21.30
selama sebulan penuh. Jerman: Oh… tidak, jadi kamu tidak makan dan minum selama 18 jam?
Tidak makan oke lah tapi kalau tidak
minum selama itu tidaklah mungkin,
dalam cuaca panas seperti ini tanpa
minum 18 jam?? Ayolah Ichsan, itu
tidak masuk akal! Aku: Iya aku setuju, bagi kamu tentu tidak masuk akal karena kamu tidak
beriman kepada Allah Tuhan kami,
kamu tidak meyakininya. Saya yakin
kalau kamu yang melakukannya hari
ini, dalam cuaca panas seperti ini,
mungkin kamu sudah pingsan, hehe. Tapi bagi kami tidak, kami
meyakininya. Lebih jauh lagi kami
mengimaninya dengan sangat kuat
sebagai satu perintah dari Tuhan kami
sehingga kami tidak merasa berat
untuk melaksanakannya. Kamu percaya tidak? kami malah
merasa senang ketika Ramadhan tiba,
bahkan sebagian kami menyambutnya
dengan perayaan kecil di rumah
masing-masing bersama keluarga
mereka. Jerman: Gembira karena akan lapar dan haus? 18 jam?? Itu tidak masuk
akal Ichsan. Aku: Iya, tidak masuk akal bagi kamu. Tapi bagi kami puasa di bulan
Ramadhan itu adalah kebutuhan. Kami
merindukan kehadirannya setiap
tahun. Jerman: Kebutuhan?? Kamu jangan bercanda, kebutuhan manusia itu
makan dan minum, bukan lapar dan
haus, itu tidak terbantahkan. Aku: Justru di situlah letak kesempurnaan agama kami, Islam
tidak hanya mengajarkan pemenuhan
kebutuhan fisik seperti makan dan
minum saja tapi juga pemenuhan
kebutuhan jiwa, kebutuhan spiritual
dan semua sepakat bahwa pemenuhan kebutuhan jiwa itu sangatlah penting.
Ini yang tidak terbantahkan, bukan
begitu?? Jerman: Iya kamu benar, tapi tidak menyiksa diri di musim panas yang
siangnya sangat lama seperti ini. Aku: Allah Tuhan kami tidak hanya memerintahkan puasa tapi juga
memerintahkan kami makan dan
minum yang cukup. Kamu lihat, dalam
setahun ada 12 bulan dan kami hanya
diperintahkan berpuasa satu bulan
saja sementara yang 11 bulan lagi kami boleh makan dan minum. Kami
tidak diperintahkan puasa sepanjang
tahun, iya kan? Atau 6 bulan puasa dan
6 bulan tidak puasa. Tidak, hanya satu
bulan saja dan itu hanya di siang hari
saja. Jadi kamu lihat betapa sayangnya Tuhan kami kepada kami
dan lagipula Ramadhan itu adalah
sebuah hadiah untuk kami sebagai
wujud cinta antara kami dan Tuhan
kami. Jerman: Aku tidak mengerti Ichsan Aku: Tentu saja, itu karena kamu tidak beriman kepada Tuhan kami, kamu
tahu bahwa aku bisa saja diam-diam
makan atau minum kapan saja tanpa
ada orang yang melihat? Apalagi di
Jerman seperti ini di mana orang
semua makan dan minum leluasa di depanku saat siang hari. Tapi aku tidak
akan pernah melakukannya, kamu
tahu kenapa? Karena keimanan dan
keyakinanku pada Tuhanku. Jerman: Bagaimana dengan anak- anak? Apa anak-anakmu juga
berpuasa? Aku: Anak-anak tentu mendapatkan keringanan, anakku yang pertama
berumur 7 tahun, dia sudah kami latih
untuk berpuasa. Dia tidak kami paksa
untuk tidak makan dan minum tapi
kami latih dan beri pemahaman
bahwa puasa itu adalah perintah dari Tuhan kami dan puasa itu baik dan
sehat untuknya. Kami punya waktu
untuk melatih dan mengajari mereka
untuk berpuasa mulai umur 7 hingga 10
tahun. Dan itu adalah waktu yang cukup
bila digunakan dengan baik oleh kedua orang tuannya. Nanti ketika sudah
berumur 10 tahun mereka sendiri yang
akan meminta untuk berpuasa, shalat
ataupun ibadah yang lain. Jadi tidak
perlu disuruh lagi. Jerman: Begitu cara kalian mendidik mereka, apakah itu berhasil? Aku: Terus terang dalam hal ini tidak semua orang tua berhasil, tapi kami
selalu berusaha kearah sana. Aku: Sebagai contoh, hari ini dalam cuaca yang panas ini aku berpuasa
sejak jam 3 malam tadi, tapi apakah
kamu melihat aku seperti orang yang
kehausan atau lapar?? Jerman: Itu dia, dari tadi aku mengamati kamu bekerja, tapi aku
heran kamu tampak seperti biasa,
tidak tampak kehausan, tidak
kelihatan lemas atau lesu sedikit pun,
makanya tadi aku bertanya apakah
kamu berpuasa. Aku: Iya, itulah arti penjelasanku tadi, saat hari pertama dan kedua
Ramadhan memang agak sedikit
terasa karena kalau di Indonesia kami
hanya berpuasa 13 jam jadi butuh
penyesuaian tapi kemudian sudah
terbiasa. Inilah yang aku sebut tadi dengan keimanan. Ini sudah jam 4
sore tapi aku tidak merasa haus atau
lapar sedikit pun karena setiap malam
sebelum berpuasa kami berniat untuk
berpuasa karena Allah Tuhan kami,
jadi itulah yang membuat kami kuat. Dan dia pun berlalu melanjutkan
kerjanya, entah dia mengerti atau
tidak penjelasanku tapi yang jelas aku
sudah menyampaikan apa yang aku
pahami tentang hal yang ditanyakan
itu. Siapa tahu suatu hari nanti Allah SWT memberinya hidayah lalu dia
beriman kepada Allah, maka tentu dia
akan dengan mudah memahami dan
mengerti penjelasanku yang kuberikan
tadi. Wallahu’alam



dr. Ichsan, MSc. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas
Syiah Kuala Banda Aceh, Master lulusan
Georg-August-University Goettingen



©dakwatuna.com

/@cwi

selengkapnya...

Ikatan Yang Ternoda

Malem sob, langsung aja kali ini aa akan sedikit share bagaimana petualangan pribadi aa. Mengingat penomena perjodohan dari org tua akhir² ini begitu marak menimpa pd orang² yg sdh produktif utk menikah namun mengalami masalah dalam menentukan pilihan calon pendamping hidupnya. Baik itu datang dari pihak ortu, kriteria dan selera masing² yg tak kunjung jg ia temukan.

Baiklah tanpa ba bi bu lg, aa mulai dari petualangan aa sendiri. Itung² menyimpan data harian bwt kisah klasik masa depan he he he

Jujur, mungkin klo bkn karena Iman, aa sdh jatuh kedalam jurang lumpur yg dalam nan kotor. Tp beruntunglah Allah swr masing menyayangi umatNya yg hina dina ini. Knp?

begini, aa prnh mengalami kegagalan berumah tangga. Itu mpk pukulan telak yg sempet membuat hidup aa menjadi redup, patah semangat hingga boleh dikatakan depresi istilah sikolog nya mah. Bgmn tidak, aa yakin setiap orang yg memandang pernikahan itu mpk utk melengkapi agamanya tentu sudah menyiapkan ancang-ancang serta planing, visi dan misi nya kelak klo sudah berumah tangga. Begitupun halnya dg aa, segala amunisi rencana sdh di planing sedemikaian rupa. Namun apa daya, manusia punya rencana, Allah jualah yg menentukan.
Rumah tangga berantakan hanya dlm hitungan bulan. Prustasi, patah arang sudah pasti. Tp Alhamdulillah, dg dukungan keluarga, sodara, sobat² terdekat dan pondasi keimanan yg cukup, msk dg susah payah aa terus berusaha bangkit hingga detik ini. Mmg, aa blm menemukan perpoma permainan hidup dan karakter aa yg sesungguhnya lg. Tp aa rasa aa dlm tracknya menuju ke sana.

Selanjutnya, apa yg menyebabkan kehancuran rumah tangga ini. Maaf, bknnya aa mo buka aib sendiri, tp lebih kepada pembelajaran dan muhasabah bagi kita² semua untk meminimalisir segala kemungkinan terburuk sekalipun. Karena sudah tentu setiap orang ingin pernikahannya hanya terjadi sekali dlm seumur hidupnya.

Bisa d bilang, kami d jodohkan orang tua kami. Msk saat itu aa sendiri sdh punya incaran namun ada indikasi ortu tak merestuinya dan akhirnya memperkenalkan pd akhwat yg aa pikir mungkin inilah jodoh terbaik yg di berikan Allah thp aa.

Tahap perkenalanpun berjalan, namun cukup singkat saja karena d samping ortunya pengen di 'segerakan, aa jg gak mau ada istilah pacaran trll lama. Satu hal yg pertama kali aa tanyakan sama dia, sholat! Dan jawabannya cukup memuaskan. Setelah itu aa tanyakan jg komitmennya utk menikah mengingat usianya masih yerbilang sangat muda, dan jawabannyapun cukup melegakan. Mala jadilah kami menikah.

awal² setelah walimahan berjalan lancar layaknya penganten baru. hingga menjelang bbrp bulan sthlhnya mulai ada indikasi yg tdk benar.

dg diawali laporan dari sodara² dan beberapa tetangga. (o yak, aa meninggalkan dia d kampung sementara aa mencari nafkah di jakarta) yg mulanya merasa heran dg tingkah lakunya yg tak bisa lepas dari telpon celuller. Entah itu sms an atau telponan entah dg siapa yg jelas bukan dg aa.

Dari masukan itulah aa berusaha meminta HP nya, namun sering ia tolak. Bkn hanya itu, peringai anehnya mulai tampak, seolah dia tdk nganggap aa itu suaminya. Namun aa sikapi dg positif think aja karena tak mau mengundang keributan. Hingga suatu malam...

Aa rebut paksa HP nya, dan ketika d baca dr inbox nya, Astghfirllah...

Aa remove semua pesan masuk. Begitupula dg no kontaknya. A reset ulang HP nya.

Karena tak ingin menimbulkan kegaduhan, a tak menceritakan kejadian ini pd siapapun, termasuk ortu kami. A simpan rapi d relung hati msk sangat nyesek.

Tp kejadian itu terulang lg utk kedua kalinya. yg ternyata dia punya salinan semua kontaknya itu dlm buku. Dan Akhirnya pecahlah perang.

Sekuat tenaga a ingin pertahankan ikatan suci ini, msk secara nyata² ia minta cerai, tp a berusaha utk trz menyadarkannya dari kesesatan ini. Karena a menganggap ini bisa jd ladang amal bg a.

Namun semua percuma. Rupanya tekadnya sdh bulat, ingin bercerai!

Usaha terakhir, a biarkan ia tenang. A kembalikan sm ortunya dg harapan bs merobah keputusannya.

Namun..... Ia terlalu angkuh utk merobahnya. Dan aa pikir bwt apa jg mempertahankannya jika memang karakternya demikian. Dan terjadilah talak itu :)

Sungguh a tak menyesali dg keputusan itu msk mmg a akui sbg 'cowok rasanya sgt tdk pantas dpt perlakuan begini. Namun apa daya, KuasaNya begitu tampak d mata aa. Dan a msh bersyukur dpt ujian yg aa rasa cukup dahsyat spt ini.

Sobat, banyak pelajaran dan hikmah yg ingin a bagi pd sobat² semua atas musibah ini. Tp silahkan, sobat semua mungkin lbh bijak dr a utk mengambil kesimpulannya sendiri. Yg jelas a gak ingin hal² spt ini menimpa pada kalian semua. Kalo bisa mah, biar aa org terakhir yg merasakan sakitnya di perlakukan spt ini. Semoga, amin....


Wallahalam bi sowab /@cwi

selengkapnya...

Mutiara hikmah dari panggung sejarah Islam #3: Mereka yang selalu merindukan masjid

Orang-orang shalih sejak zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa salam, sahabat radhiyallahu 'anhum, tabi'in, tabi'it tabi'in dan generasi setelah mereka sampai akhir zaman nanti dikenaI sebagai orang-orang yang hatinya "bergantung" dengan masjid. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa memakmurkan masjid dan menjaga pelaksanaan shalat wajib berjama'ah di masjid di awal waktu. Inilah kisah ketauladanan seorang penghulu ulama tabi'in, ulama senior Madinah dan menantu sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu yang bernama imam Sa'id bin Musayyib bin Hazn Al-Makhzumi Al-Qurasyi Abu Abdillah. Kedalaman ilmunya dan keshalihan amalnya membuatnya dijuluki sebagai sayyidut tabi'in (pemimpin generasi tabi'in), faqihul fuqaha' (pemimpin seluruh ulama fiqih) dan 'alimul 'ulama' (gurunya seluruh ulama). Imam Sa'id bin Musayib begitu antusias dalam menjaga shalat berjama'ah di masjid di awal waktu, sampai-sampai selama empat puluh tahun penuh ia telah memasuki masjid sebelum muadzin mengumandangkan adzan. Bard maula Sa'id bin Musayib berkata, "Tidaklah dikumandangkan panggilan untuk shalat selama empat puluh tahun, kecuali Sa'id bin Musayyib telah berada di masjid." Abu Harmalah meriwayatkan dari Said bin Musayib bahwa ia berkata, "Aku tidak pernah ketinggalan shalat berjama'ah selama empat puluh tahun." Utsman bin Hakim meriwayatkan dari Said bin Musayib bahwa ia berkata, "Tidaklah seorang muadzin mengumandangkan adzan selama tiga puluh tahun, melainkan aku telah berada di dalam masjid." (Siyar A'lam An-Nubala', 4/221) Inilah kisah ketauladanan dari seorang ulama tabi'in dan ahli ibadah dari Damaskus yang gugur di medan jihad di Afrika, imam Rabi'ah bin Yazid Abu Syu'aib Al-Iyadi Ad-Dimasyqi yang terkenal dengan julukan Al-Qashir. Abdurrahman bin Amir berkata: "Aku telah mendengar Rabi'ah bin Yazid berkata: "Tidaklah muadzin mengumandangkan adzan shalat Zhuhur sejak empat puluh tahun yang lalu, melainkan aku sudah berada dalam masjid, kecuali saat aku sakit atau bepergian jauh." (Siyar A'lam An-Nubala', 5/240) Tidak heran apabila Allah Azza wa Jalla memuliakan sang imam semasa hidup maupun sesudah meninggalnya. Imam yang shalih ini gugur dalam jihad di Afrika, saat pasukan Islam yang dikomandani oleh Kultsum bin Iyadh berperang melawan kaum musyrik Barbar pada tahun 123 H. Inilah kisah ketauladanan seorang ulama besar hadits dan pakar ilmu al-jarh wat ta'dil yang kesohor, imam Yahya bin Sa'id Al-Qathan Abu Sa'id At-Tamimi Al-Bashri. Ia seorang ulama besar hadits pada abad dua hijriyah, yang digelari oleh para sejarawan dan ulama hadits sebagai al-imam al-kabir (ulama besar) dan amirul mu'minin fil hadits (khalifah kaum muslimin di bidang hadits). Yahya bin Sa'id Al-Qathan dikenal sebagai ulama yang ahli ibadah. Seorang muridnya yang juga ulama hadits, Bundar bercerita: "Saya telah belajar kepada Sa'id bin Yahya selama lebih dari dua puluh tahun. Selama itu, aku tidak pernah melihatnya berbuat maksiat walau hanya sekali." Ulama besar di bidang hadits yang juga pakar di bidang jarh wat ta'dil, imam Yahya bin Ma'in berkata: "Selama dua puluh tahun, Yahya bin Sa'id selalu mengkhatamkan Al-Qur'an setiap malam." Adapun kesungguhannya dalam menjaga shalat berjama'ah di masjid, imam Yahya bin Ma'in menuturkan, "Sesungguhnya Yahya bin Ma'in tidak pernah luput dari tergelincirnya matahari (shalat Zhuhur berjama'ah) di masjid selama empat puluh tahun." (Siyar A'lam An-Nubala', 9/181) Subhanallah. Seorang ulama yang begitu menjaga shalat berjama'ah di masjid selama hidupnya. Dan tahukah Anda, bagaimana kisah meninggalnya sang imam? Sungguh Allah Azza wa Jalla telah memuliakannya saat ia hidup dan ia meninggal. Inilah saksi hidup peristiwa mulia tersebut, Ali bin Abdullah yang menuturkannya sendiri. Katanya, "Kami sedang bersama dengan Yahya bin Sa'id Al-Qathan di dalam masjid. Ketika ia keluar dari masjid, kami pun ikut keluar bersamanya. Ketika telah sampai di pintu rumahnya, Yahya bin Sa'id berhenti. Kami pun ikut berhenti. Tiba-tiba ada seorang pengemis datang kepadanya. Melihat kehadiran pengemis itu, Yahya berkata kepada kami, "Masuklah kalian ke dalam rumah!" "Kami pun masuk ke dalam rumahnya. Kepada pengemis itu, Yahya berkata: 'Bacalah!" Maka pengemis itu mulai membaca ayat-ayat Al-Qur'an. Aku lihat wajah Yahya berubah khusyu' oleh bacaan si pengemis. Tatkala bacaan pengemis itu sampai pada ayat: {إِنَّ يَوْمَ الفَصْلِ مِيْقَاتُهُم أَجْمَعِيْنَ} "Sesungguhnya hari keputusan (hari kiamat) adalah hari yang dijanjikan bagi mereka semua." (QS. Ad-Dukhan [44]: 40) Yahya menjerit keras, terjatuh dan tak sadarkan diri. Saat itu Yahya terjatuh ke dekat pintu. Tiba-tiba pintu yang rapuh itu ikuut terjatuh dan menimpa punggung Yahya hingga berdarah. Kaum wanita dalam rumahnya menjerit melihat hal itu. Kami pun segera keluar rumah dan mendapati keadaan Yahya yang pingsan dengan punggung berdarah. Setelah disadarkan beberapa saat lamanya, Yahya akhirnya siuman. Ia segera diangkat ke atas ranjang. Kami kembali masuk ke dalam rumah untuk menengoknya. Dalam keadaan tertidur di atas ranjang, mulutnya masih mengulang-ulang ayat: {إِنَّ يَوْمَ الفَصْلِ مِيْقَاتُهُم أَجْمَعِيْنَ} "Sesungguhnya hari keputusan (hari kiamat) adalah hari yang dijanjikan bagi mereka semua." (QS. Ad-Dukhan [44]: 40) Ia terus mengulang-ulang ayat itu sampai menghembuskan nafas yang terakhir. Semoga Allah merahmatinya." Kesungguhan orang-orang shalih untuk menghadiri shalat jama'ah di masjid tidak terbatas saat mereka dalam kondisi sehat dan lapang semata. Mereka bahkan tetap memaksakan diri untuk menghadiri shalat jama'ah di masjid meskipun mereka mengalami sakit keras. Inilah kisah ketauladanan dari seorang ulama tabi'in yang ahli ibadah, imam Amir bin Abdullah bin Zubair bin Awwam Al-Asadi. Beliau adalah seorang ulama rabbani dan ahli ibadah di kota Madinah. Bapaknya adalah Abdullah bin Zubair radhiyallahu 'anhu, seorang khalifah dan ulama dari kalangan sahabat junior. Kakeknya adalah Zubair bin Awwam radhiyallahu 'anhu, paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam dari jalur ibu dan sekaligus seorang sahabat yang dijamin masuk surge. Ulama rabbani yang lahir dari keturunan sahabat yang mulia ini sangat tekun menjaga shalat berjama'ah di masjid. Pada saat ia sakit keras yang menyebabkannya meninggal, ia masih sempat mendengar kumandang adzan Magrib dari masjid nabawi. Ia pun memerintahkan kepada keluarganya untuk memapahnya ke masjid. "Bawalah aku ke masjid!" "Engkau sedang sakit keras." jawab keluarganya. "Bagaimana aku mendengar panggilan Allah lalu aku tidak mendatanginya?" tukas Amir bin Abdullah. Dengan terpaksa keluarganya memapahnya ke masjid. Ia memaksakan berdiri di tengah shaf bersama jama'ah lainnya. Ia masih mampu mengikuti bacaan dan gerakan imam sampai raka'at pertama. Tatkala imam dan seluruh ma'mum lainnya bangkit untuk raka'at kedua, Amir bin Abdullah tidak mampu bangkit lagi. Allah telah memanggil ruhnya untuk selamanya. Ia meninggal dalam keadaan sujud kepada Allah di tengah shaf, di masjid nabawi yang diberkahi. Subhanallah! (Siyar A'lam An-Nubala', 5/220) Dan inilah kisah ketauladanan dari seorang ulama tabi'in senior, Rabi' bin Khutsaim bi bin A'idz Abu Yazid Ats-Tsauri. Ia seorang ulama dan ahli ibadah di kota Kufah. Keshalihan, ketekunan ibadah dan kedalaman ilmunya diakui oleh ulama senior sahabat. Sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu berkata kepadanya, "Wahai Abu Yazid, sekiranya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam melihatmu, pasti beliau akan mencintaimu. Tidaklah aku melihatmu, melainkan aku teringat akan orang-orang yang tekun beribadah." Pada masa tuanya, Rabi' bin Khutsaim mengalami lumpuh separoh badannya. Meski demikian ia tetap memaksakan diri untuk menghadiri shalat berjama'ah di masjid. Ia meminta keluarganya untuk memapah dirinya ke masjid. Orang-orang berkata, "Wahai Abu Yazid, shalatlah di rumah saja! Anda telah mendapatkan keringanan untuk shalat di rumah." "Benar, aku memang mendapatkan keringanan untuk shalat di rumah. Tapi aku masih bisa mendengar seruan muadzin hayya 'alash shalah..hayya 'alal falah (marilah menuju shalat…marilah menuju keberuntungan). Jika kalian masih bisa mendatangi seruan hayya 'alash shalah..hayya 'alal falah, maka datangilah meski dengan merangkak!" (Siyar A'lam An-Nubala', 4/260) Saudaraku seislam dan seiman… Orang-orang shalih terdahulu telah memberikan ketauladanan nyata kepada kita bagaimana mengamalkan firman Allah Azza wa Jalla: إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang pasti termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. At-Taubah [9]: 18) Mereka juga telah memberikan ketauladanan nyata kepada kita bagaimana menjadi orang-orang yang hatinya selalu bergantung dengan masjid, merindukan masjid dan shalat jama'ah serta amal-amal kebaikan yang memakmurkan masjid. سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: ...وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي المَسَاجِدِ، "Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya: "…dan orang yang hatinya selalu bergantung dengan masjid." (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031) عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟» قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ» Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam bersabda, "Maukah aku tunjukkan kepada kalian perbuatan yang dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan dan meninggikan derajat-derajat?" Para sahabat menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau menjawab, "Yaitu menyempurnakan wudhu atas bagian-bagian yang tidak disukai jika terkena air (karena air yang sangat dingin atau anggota badan yang sakit), banyak berjalan ke masjid, dan menunggu dari satu shalat ke shalat berikutnya di masjid. Itulah ribath (berjaga-jaga), itulah ribath (berjaga-jaga)." (HR. Muslim no. 251, Ibnu Majah no. 427 dan Ahmad no. 8021) Saudaraku seislam dan seiman…. Mari kita jadikan bulan suci Ramadhan ini sebagai titik start perbaikan diri kita dalam menjaga shalat lima waktu secara berjama'ah di masjid. Wallahu a'lam bish-shawab. (muhib almajdi/arrahmah.com) /@cwi

selengkapnya...

Gabung bersama kami

About Me

admin jg menerima pelayanan jasa

admin jg menerima pelayanan jasa
Jasa arsitek rumah; desain arsitek / desain rumah, gambar denah rumah, bangun rumah baru, renovasi rumah dan pembangunan mesjid, mushola, ruko, disaign taman, dll. klik gambar utk kontak personal.

Syiar Islam On Twitter

Site info

Kalkulator Zakat Fitrah

  © Syiar islam Intisari Muslim by Dede Suhaya (@putra_f4jar) 2015

Back to TOP  

Share |