Ramadhan & Sirah Nabawwiyah #2: Ramadhan, awal keteguhan dalam Iqamatuddin

Wahyu pertama telah disampaikan kepada Rasulullah SAW di gua Hira'. Namun perjumpaan pertama dengan malaikat Jibril yang di luar perkiraan tersebut telah menggetarkan Rasulullah SAW. Hati beliau diliputi rasa khawatir. Badan beliau gemetar dan berkeringat dingin. Beliau begitu takut, sehingga bergegas pulang menemui istrinya. "Selimutilah aku! Selimutilah aku!"pinta beliau. "Sungguh, aku khawatir atas diriku sendiri," ujar beliau kepada Khadijah. Beliau lantas menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya.Mendengar penuturan suami tercinta, Khadijah berkata dengan tegas namun lembut menyejukkan hati: كَلاَّ، أَبْشِرْ فَوَاللهِ لاَ يُخْزِيكَ اللهُ أَبَدًا؛ وَاللهِ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَصْدُقُ الْحَدِيثَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ تَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ. "Sekali-kali janganlah khawatir! Bergembiralah! Demi Allah, Allah selamanya tidak akan menghinakanmu. Demi Allah, engkau selama ini senantiasa menyambung tali kekerabatan, berkata jujur, menanggung beban orang yang lemah, memberi santunan orang yang tidak memiliki apa-apa, menjamu tamu, dan membantu orang-orang yang mengalami musibah." (HR. Bukhari: Kitab bad-il wahyi no. 3 dan Muslim: Kitab al-iman no. 160) Inilah kalimat-kalimat agung yang diucapkan oleh ummul mukminin, Khadijah, yang sanggup menentramkan hati Rasulullah SAW. Khadijah memerankan peran yang sangat fundamental dalam suasana pasca turunnya wahyu Allah yang pertama tersebut. Khadijah sebagai seorang istri yang shalihah telah meringankan kesempitan dada yang melanda diri Rasulullah SAW setelah perjumpaan hebat dengan malaikat Jibril tersebut. Khadijah meyakinkan beliau bahwa Allah SWT akan senantiasa melindungi dan membimbing beliau. Untuk itu, Khadijah menyebutkan berbagai sifat mulia yang selama ini dilakukan Rasulullah SAW di tengah masyarakat. Khadijah menjelaskan bahwa Allah SWT sekali-kali tidak mungkin menghinakan dan menelantarkan Nabi SAW, dengan satu alasan. Beliau selalu mengamalkan ibadah-ibadah sosial. Pasti Allah SWT tidak akan menghinakan orang yang senantiasa menyambung tali kekerabatan, berbicara jujur, menanggung beban hidup orang-orang yang lemah, memuliakan tamu, dan membantu orang-orang yang terkena musibah. Khadijah telah bertindak sebagai dokter jiwa, filosof ahli pikir, dan ahli hikmah yang memahami seluk beluk sunatullah terhadap diri hamba-Nya. Sesungguhnya pelaku kebaikan hanya akan memetik buah kebaikan, dan Allah tidak mungkin menzhalimi hamba-Nya. Kalimat-kalimat yang diucapkannya adalah nasehat-nasehat emas yang bahkan mendahului sabda Nabi SAW: صَنَائِعُ الْمَعْرُوفِ تَقِى مَصَارِعَ السُّوءِ وَاْلآفَاتِ وَالْهَلَكَاتِ... "Perbuatan-perbuatan baik akan mencegah terjadinya kematian yang buruk, musibah-musibah dan kebinasaan dari diri pelakunya..." (HR. Al-Hakim dari Anas bin Malik, dengan sanad shahih) صَنَائِعُ الْمَعْرُوفِ تَقِى مَصَارِعَ السُّوءِ وَصَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَصِلَةُ الرَّحِمِ تَزِيدُ فِى الْعُمْرِ "Perbuatan-perbuatan baik mencegah pelakunya dari musibah-musibah yang buruk, sedekah secara sembunyi-sembunyi bisa memadamkan murka Allah SWT, dan menyambung tali kekerabatan dapat memanjangkan usia." (HR. Ath-Thabrani dari Abu Umamah Al-Bahili, 8/261 no. 8014. Al-Haitsami dalam Majmauz Zawaid, 3/115, berkata: sanadnya hasan) Hati yang suci lagi menjadi sumber kebaikan bagi masyarakat luas, kaum papa, lemah, dan tertindas tersebut sekali-kali tidak akan ditelantarkan oleh Allah. Kesedihan dan gundah gulana tak akan menyapanya. Rasa takut kepada sesama manusia tak akan pernah menjamahnya. Hatinya akan senantiasa lapang, gembira, dan menoak jauh-jauh debu kesempitan hidup. Sekali-kali janganlah khawatir! Hatimu tidak akan sempit dan sedih, selama engkau membawa kebajikan kepada sesame manusia. Bergembiralah! Luka-luka akan mongering, rasa sakit akan hilang. Engkau akan menjalani kehidupan ini dengan hati yang baik, memancarkan limpahan cahaya kebajikan kepada umat manusia. Engkau akan membuka hati-hati yang terkunci, mata-mata yang terbutakan, dan telinga-telinga yang tersumbat dari kebenaran. Demi Allah, Allah selamanya tidak akan menghinakanmu. Engkau bukanlah tipe orang yang akan ditelantarkan dan dihinakan oleh Allah. Engkau adalah hamba-Nya yang senantiasa memuliakan sesama manusia, mengenyangkan orang-orang yang kelaparan, menghilangkan dahaga mereka, memberi pakaian orang-orang yang telanjang, dan memberi naungan bagi musafir yang tidak membutuhkan penginapan. Engkau adalah sosok seorang ayah, yang senantiasa mengelus lembut kepala anak-anak yatim. Engkau adalah seorang ibu, yang senantiasa memaafkan orang-oran yang berbuat buruk kepadamu. Demi Allah, engkau selama ini senantiasa menyambung tali kekerabatan Engkau menyambung tali kekerabatan dengan kerabatmu yang memutusnya. Engkau menguatkan kerabat dekat yang lemah. Engkau cukupi kebutuhan kerabat dekat yang papa. Engkau adalah tulang punggung keluarga dan kerabatmu. Bagi orang yang lebih tua, engkau adalah anak yang berbakti. Bagi orang yang sebaya, engkau adalah saudara yang baik hati. Dan bagi orang yang lebih muda, engkau adalah orang tua yang mengasihi. Apa yang mereka dengar dan lihat dari dirimu hanyalah kebaikan. Engkau senantiasa berkata jujur Engkau tidak pernah berbohong. Engkau tidak pernah menipu mereka. Engkau tidak pernah member kesaksian palsu. Engkau tidak pernah memanipulasi. Masyarakat tidak pernah mendapatimu berbohong, walau sekali dalam seumur hidupmu. Jiwa ragamu bersih dari kotoran kedustaan. Engkau selalu menanggung beban orang yang lemah Bukan hanya membantu orang yang lemah, engkau juga memikulnya! Bukan hanya memikul dirinya, engkau juga memikul bebannya! Tiada orang lemah yang bertandang kepadamu, melainkan engkau penuhi kebutuhannya, engkau gembirakan hatinya, dan engkau muliakan kehinaannya. Engkau selalu menjamu tamu Alangkah beruntungnya orang yang singgah di rumahmu! Alangkah sedapnya hidangan yang kau sajikan untuk tamumu! Engkau nyalakan tungku, engkau masakkan kuah berdaging dan adonan roti yang lembut, dan engkau penuhi kebutuhannya. Jika tamu bermalam di rumahmu, mereka menikmati tidur yang nyeyak dan aman. Jika tamu keluar dari rumahmu, mereka merasakan kebahagiaan dan penghormatan dari tuan rumah. Engkau selalu membantu orang-orang yang tertimpa musibah Musibah yang dialami manusia beragam. Kesulitan hidup yang mendera mereka bertumpuk-tumpuk. Jika mereka dating meminta bantuan, engkau ulurkan bantuanmu. Kala mereka memerlukan pinjaman tanpa bunga, engkau salurkan pinjamanmu. Saat krisis ekonomi menghantam mereka, engkau kucurkan kedermawananmu. Bagi kaum papa, yatim, janda, dan orang-orang yang mengalami kesusahan…pintu rumahmu selalu terbuka lebar-lebar. Engkau tempat yang selalu mereka rindukan. Saudaraku seislam dan seiman… Inilah akhlak sosial Muhammad bin Abdullah Al-Hasyimi Al-Qurasyi sebelum menerima wahyu. Ia adalah sumber kebajikan bagi segenap masyarakat. Jika dahulu ia dicintai oleh semua hati manusia…apakah kini ia akan ditelantarkan dan dihinakan oleh Sang Pencipta? Tidak, demi Allah, tidak akan pernah. Inilah akhlak sosial yang harus menjadi akhlak setiap muslim dan muslima di zaman ini. Terlebih bagi para ustadz, da'I, mubaligh, ulama, dan aktifis muslim yang berjuang demi iqamatud dien. Wahyu pertama di bulan Ramadhan dikaruniakan kepada manusia agung yang memiliki akhlak agung. Jiwa yang agung dan akhlak yang mulia adalah syarat mutlak bagi para pengemban risalah Islam, agar mereka mampu sabar, tegar, dan istiqamah di jalan Allah SWt sampai mereka menemui balasan yang telah dijanjikan Allah SWT. Di bulan yang penuh berkah ini, sudah seharusnya kita meniru akhlak sosial Rasulullah SAW …niscaya kita akan bahagia, dan Allah SWT tidak akan menelantarkan Anda. Wallahu a'lam bish-shawab. Ramadhan & Sirah Nabawwiyah #2 Oleh: Muhib al-Majdi http://arrahmah.com /@cwi

selengkapnya...

Ramadhan & Sirah Nabawwiyah #1: Ramadhan, tonggak perubahan sejarah dunia

Segalanya Berawal dari Ramadhan Ramadhan adalah bulan suci yang diberkahi. Banyak peristiwa agung yang terjadi di bulan ini. Peristiwa-peristiwa tersebut menandai babak baru sejarah Islam dalam menyebarkan rahmatnya ke seluruh dunia. Di bulan ini, kaum muslimin perlu memutar ulang slide episode demi episode peristiwa agung tersebut. Dengan begitu, nuansa ibadah semakin khusyu' karena menghayati latar belakang dan proses terjadinya peristiwa yang bersejarah tersebut.Peristiwa agung pertama yang mengawali rangkaian panjang dakwah Islam di muka bumi adalah peristiwa gua Hira'. Di bulan Ramadhan, saat Muhammad bin Abdillah Al-Hasyimi Al-Qurasyi sedang menyendiri dalam tafakur di gua Hira', Allah SWT mengutus malaikat Jibril kepadanya. Itulah saat wahyu pertama turun, surat Al-'Alaq 1-5. Ummul Mukminin Aisyah binti Abi Bakar Ash-Shidiq RA menuturkan: "أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ، فَكَانَ لا يَرَى رُؤْيَا إِلا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ.. ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلاءُ ، وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ؛ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ - وَهُوَ التَّعَبُّدُ - اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا ، حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ، فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ : اقْرَأْ ! قَالَ : "مَا أَنَا بِقَارِئٍ "، قَالَ : " فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي، حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ، ثُمَّ أَرْسَلَنِي، فَقَالَ: اقْرَأْ ! قُلْتُ : مَا أَنَا بِقَارِئٍ ! فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ، حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ، ثُمَّ أَرْسَلَنِي ، فَقَالَ : اقْرَأْ ! فَقُلْتُ: مَا أَنَا بِقَارِئٍ ، فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ، ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ : "Awal mula wahyu yang diberikan kepada Rasulullah SAW adalah mimpi yang benar. Setiap kali mengalami mimpi, mimpi itu datang dalam wujud seperti cahaya fajar yang merekah. Sejak itulah, beliau senang menyendiri. Beliau menyendiri di gua Hira' selama beberapa malam untuk bertahanuts, yaitu beribadah, sebelum beliau kembali kepada keluarganya untuk mengambil bekal. Beliau lalu kembali kepada istrinya, Khadijah, dan mengambil bekal. Beliau melakukan hal itu sampai datang kepadanya kebenaran di gua Hira'. Malaikat datang kepadanya dan berkata: "Bacalah!" Beliau menjawab, "Aku tidak bisa membaca."Beliau bercerita: "Ia menarikku, lalu merangkulku erat-erat, sehingga aku merasa sesak nafas. Ia lalu melepaskanku dan berkata: "Bacalah!" Aku menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Maka ia menarikku, lalu merangkulku erat-erat untuk kedua kalinya, sehingga aku merasa sesak nafas. Ia lalu melepaskanku dan berkata: "Bacalah!" Aku menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Maka ia kembali menarikku, lalu merangkulku erat-erat untuk ketiga kalinya, sehingga aku merasa sesak nafas. Ia lalu melepaskanku dan berkata: ( اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ… ) "Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah. Ramadhan & Sirah Nabawwiyah #1: Ramadhan, tonggak perubahan sejarah dunia Saif Al Battar Senin, 8 Agustus 2011 03:21:57 Segalanya Berawal dari Ramadhan Arrahmah.com - Ramadhan adalah bulan suci yang diberkahi. Banyak peristiwa agung yang terjadi di bulan ini. Peristiwa-peristiwa tersebut menandai babak baru sejarah Islam dalam menyebarkan rahmatnya ke seluruh dunia. Di bulan ini, kaum muslimin perlu memutar ulang slide episode demi episode peristiwa agung tersebut. Dengan begitu, nuansa ibadah semakin khusyu' karena menghayati latar belakang dan proses terjadinya peristiwa yang bersejarah tersebut.Peristiwa agung pertama yang mengawali rangkaian panjang dakwah Islam di muka bumi adalah peristiwa gua Hira'. Di bulan Ramadhan, saat Muhammad bin Abdillah Al-Hasyimi Al-Qurasyi sedang menyendiri dalam tafakur di gua Hira', Allah SWT mengutus malaikat Jibril kepadanya. Itulah saat wahyu pertama turun, surat Al-'Alaq 1-5. Ummul Mukminin Aisyah binti Abi Bakar Ash-Shidiq RA menuturkan: "أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ، فَكَانَ لا يَرَى رُؤْيَا إِلا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ.. ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلاءُ ، وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ؛ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ - وَهُوَ التَّعَبُّدُ - اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا ، حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ، فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ : اقْرَأْ ! قَالَ : "مَا أَنَا بِقَارِئٍ "، قَالَ : " فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي، حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ، ثُمَّ أَرْسَلَنِي، فَقَالَ: اقْرَأْ ! قُلْتُ : مَا أَنَا بِقَارِئٍ ! فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ، حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ، ثُمَّ أَرْسَلَنِي ، فَقَالَ : اقْرَأْ ! فَقُلْتُ: مَا أَنَا بِقَارِئٍ ، فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ، ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ : "Awal mula wahyu yang diberikan kepada Rasulullah SAW adalah mimpi yang benar. Setiap kali mengalami mimpi, mimpi itu datang dalam wujud seperti cahaya fajar yang merekah. Sejak itulah, beliau senang menyendiri. Beliau menyendiri di gua Hira' selama beberapa malam untuk bertahanuts, yaitu beribadah, sebelum beliau kembali kepada keluarganya untuk mengambil bekal. Beliau lalu kembali kepada istrinya, Khadijah, dan mengambil bekal. Beliau melakukan hal itu sampai datang kepadanya kebenaran di gua Hira'. Malaikat datang kepadanya dan berkata: "Bacalah!" Beliau menjawab, "Aku tidak bisa membaca."Beliau bercerita: "Ia menarikku, lalu merangkulku erat-erat, sehingga aku merasa sesak nafas. Ia lalu melepaskanku dan berkata: "Bacalah!" Aku menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Maka ia menarikku, lalu merangkulku erat-erat untuk kedua kalinya, sehingga aku merasa sesak nafas. Ia lalu melepaskanku dan berkata: "Bacalah!" Aku menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Maka ia kembali menarikku, lalu merangkulku erat-erat untuk ketiga kalinya, sehingga aku merasa sesak nafas. Ia lalu melepaskanku dan berkata: ( اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ… ) "Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-'Alaq (96): 1-5) (HR. Bukhari:Kitab bad-il wahyi, no. 3) Demikianlah, semuanya berawal dari tafakkur..merenungkan keadaan masyarakat yang sesat…merenungkan hakekat manusia dan tujuan hidupnya…merenungkan petunjuk hidup yang akan mengantarkan mereka kepada kebahagian hidup dan menyelamatkan mereka dari kesesatan. Lalu, pekerjaan pertama adalah ta'abbud…menyendiri di gua Hira', melalui siang dan malam dalam perenungan, penyerahan diri, dan pengabdian kepada Rabb, Sang Pencipta alam semesta. Beliau meninggalkan hiruk-pikuk aktivitas duniawi untuk mendekatkan diri kepara Rabb SWT, memohon petunjuk, dan berlindung kepada-Nya dari kesesatan masyarakat sekitarnya. Maka, kalimat wahyu yang pertama kali turun adalah Iqra'…bacalah! Bacalah ayat-ayat Allah SWT di alam semesta! Bacalah ayat-ayat Allah SWT yang berupa wahtu syariat-Nya! Bacalah dengan menyebut nama Rabb SWT…mintalah berkah dan pertolongan dengan menyebut nama-Nya semata! Dia-lah Yang telah menciptakan umat manusia dari segumpal darah yang menggantung di dinding rahim. Dia-lah Yang Maha Pemurah kepada seluruh hamba-Nya. Dengan kepemurahan-Nya, Dia memandaikan manusia lewat proses belajar; membaca dan menulis. Dalam 'dapur' tafakkur, ta'abbud, dan qira'ah; Allah SWT 'mengolah' para mushlihun (orang-orang shalih yang membina umat manusia menuju jalan Allah SWT). Allah SWT menggembleng mereka untuk menjadi tauladan kehidupan. Allah SWT membina mereka untuk sanggup mengemban beban dakwah, irsyad, dan jihad. Allah SWT mencetak mereka menjadi pelita yang mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Allah SWT menguatkan jiwa mereka dengan ta'abbud pada masjid… Allah SWT menyucikan fikiran mereka dengan khulwah, menyendiri di keheningan sepertiga malam terakhir untuk tafakkur… Allah SWT meningkatkan ilmu dan wawasan mereka lewat halaqah-halaqah qira'ah… Setiap muslim membutuhkan tiga waktu khusus dalam kehidupan hariannya: * Satu waktu untuk menyendiri dengan Rabbnya dalam tafakkur, muhasabah, istighfar, dan taubat. * Satu waktu untuk beribadah kepada-Nya dengan shalat wajib, qiyamul lail, shiyam Ramadhan, dst… * Satu waktu untuk meningkatkan ilmu dan wawasannya dengan menghadiri majlis ilmu atau menelaah buku…membaca, menulis, meringkas, dst… Tafakkur akan menjernihkan pikiran, ibadah akan mensucikan jiwa, dan belajar akan meningkatkan peran akal. Semua aktifitas tersebut merupakan unsur yang sangat urgen bagi kemajuan hidup manusia…bekal seorang muslim dalam mengemban tugas hidupnya…dan pemicu semangat seorang dai dalam menyebarkan rahmat Islam ke seluruh penjuru dunia. Setiap kali bekal makanan habis, Rasulullah SAW pulang ke rumah Khadijah. Beliau lalu kembali dengan bekal yang cukup. Beliau berjalan sendirian ke gua Hira', mendaki gunung yang terjal berbatu tajam, merasakan teriknya panas siang hari dan bekunya hawa dingin malam hari. Beliau bertahan beberapa hari dalam kesunyian gua yang mencekam. Untuk apa beliau bersusah payah melakukan semua itu? Untuk tafakkur…ta'abbud…dan qira'ah Jadi, ketiga aktifitas ini tidak bisa dilakukan kecuali dengan mengerahkan segala usaha dan kemampuan terbaik. Maha Benar Allah Yang berfirman, وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَ إِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ "Dan orang-orang yang berjihad (beramal bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Ankabut (29): 69) Saudaraku seislam dan seiman…Pertanyaannya kini adalah, sudahkah kita mengkhususkan tiga waktu khusus untuk tiga aktifitas ini dalam bulan yang penuh berkah ini? Jika sudah, maka pujilah Allah SWT. Jika belum, segeralah memperbaiki diri dan mempergunakan kesempatan selagi ada. Wallahu a'lam bish-shawab. Serial Risalah Ramadhan / Ramadhan & Sirah Nabawwiyah #1 Oleh: Muhib al-Majdi http://arrahmah.com /@cwi

selengkapnya...

Mutiara hikmah dari panggung sejarah Islam #2: Tiada bagian dalam Islam bagi orang yang tidak shalat

Dalam hal penyebaran Islam ke seluruh dunia, tidak ada khalifah Rasyidah yang lebih sukses daripada Umar bin Khathab radiyallahu 'anhu. Selama sepuluh tahun masa pemerintahannya, kaum muslimin telah meruntuhkan kekuasaan imperium Persia di Irak dan Iran, dan meruntuhkan kekuasaan imperium Romawi Timur di Syam dan Mesir. Pada masa tersebut, para ulama dan juru dakwah Islam mengajarkan Islam ke seantero wilayah khilafah rasyidah. Jutaan orang Mesir, Syam, Irak dan Iran memeluk Islam pada masa dakwah tersebut. Setelah selesai menunaikan ibadah haji tahun 23 H, Umar bin Khathab pulang ke Madinah. Dalam perjalanan pulang tersebut, ia singgah di Abthah. Di tempat itu Umar mengadu dan berdoa kepada Allah. Ia merasa telah tua, kekuatan fisiknya telah melemah, sementara wilayah kekuasaannya semakin luas dan rakyatnya bertambah sangat banyak. Ia khawatir tidak mampu memimpin dan melayani seluruh rakyatnya dengan baik. Di sinilah ia berdoa agar segera diwafatkan oleh Allah sebagai seorang yang syahid. Bukan sembarang gugur di medan perang, melainkan gugur di negeri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam. Dari Hafshah binti Umar bin Khathab radiyallahu 'anha berkata, "Saya mendengar Umar bin Khathab berdoa: «اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي شَهَادَةً فِي سَبِيلِكَ، وَاجْعَلْ مَوْتِي فِي بَلَدِ رَسُولِكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ» "Ya Allah, karuniakanlah kepadaku mati syahid di jalan-Mu dan jadikanlah kematianku di negeri Rasul-Mu Shallallahu 'alaihi wa salam." (HR. Bukhari no. 1890) Doa itu sempat menjadi pertanyaan sebagian sahabat. Bagaimana mungkin khalifah bisa gugur sebagai seorang syahid di jantung kekhilafahan, sementara pasukan Islam sendiri sukses menaklukkan pusat kekuasaan musuh Islam di Irak, Iran, Syam dan Mesir? Namun Allah mengabulkan doanya dengan cara yang sulit dibayangkan oleh kebanyakan manusia. Pagi itu, hari Rabu tanggal 26 Dzulhijah 23 H, kaum muslimin telah selesai menunaikan shalat sunah dua raka'at sebelum Subuh. Khalifah Umar bin Khathab lalu maju ke mihrab untuk mengimami shalat di masjid nabawi, sebagaimana kebiasaan yang telah dilakukannya selama sepuluh tahun menjadi khalifah. Umar bertakbir diikuti jama'ah shalat yang memenuhi masjid. Setelah membaca doa iftitah dan surat Al-Fatihah yang diaminkan oleh seluruh jama'ah, Umar membaca surat. Dalam shalat Subuh, Umar biasa membaca surat yang panjang, paling sering adalah surat Yusuf atau surat An-Nahl. Baru beberapa ayat Umar membaca surat, tiba-tiba seorang laki-laki yang berada di shaf pertama melompat ke mihrab, mendekati Umar bin Khathab kemudian mencabut sebuah khanjar (semacam belati yang kedua sisinya tajam) dan menghunjamkannya ke perut dan pinggang Umar bin Khathab. Tidak tanggung-tanggung, tiga sampai enam tusukan ia hunjamkan kepada khalifah. Salah satu tusukan itu mengenai bagian di bawah pusar khalifah. Mendapat serangan mendadak secara keji dan bertubi-tubi tersebut, khalifah terjatuh. Suara bacaan imam terputus. Para jama'ah yang berada di shaf pertama begitu terkejut oleh peristiwa yang terjadi sangat cepat tersebut. Mereka langsung menghambur ke arah si penyerang, untuk meringkusnya. Sayang sekali, khanjar beracun di tangan si penyerang membabat dan menusuk ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke belakang, melukai setiap orang yang mendekat dan mencoba meringkusnya. Si penyerang berusaha keras menerobos barisan shalat dan meloloskan dirinya. Tiga belas orang telah ia robohkan dengan tikaman dan sabetan khanjar, enam orang di antaranya bahkan syahid akibat racun ganas di bilah khanjar itu. Pada akhirnya, Abdurrahman bin Auf berhasil menjerat si penyerang dengan kain sarungnya. Orang-orang segera mengerubuti si penyerang untuk meringkusnya. Melihat gelagat dirinya tidak mungkin lagi meloloskan diri, si penyerang memilih bunuh diri dengan menghunjamkan khanjar ke perutnya sendiri. Lantai masjid berlumuran darah. Belasan jama'ah terkapar bersama di penyerang yang bunuh diri itu. Sebelum pingsan akibat luka-luka serius yang dialaminya, Umar sempat melambaikan tangannya ke arah Abdurrahman bin Auf. Sahabat senior yang selama sepuluh tahun menjadi penasehat khalifah itu pun maju ke mihrab dan meneruskan shalat kaum muslimin. Ia membaca surat pendek dan mempercepat shalat. Di shaf-shaf bagian belakang, jama'ah shalat sempat kebingungan karena suara bacaan imam terhenti beberapa saat lamanya. Mereka tidak mengetahui peristiwa yang baru saja terjadi di mihrab dan shaf awal. Selesai shalat, jama'ah membawa khalifah Umar bin Khathab ke rumahnya. Luka bekas tusukan di perut dan pinggangnya masih mengalirkan darah. Ia sempat sadar, namun kemudian pingsan kembali. Jama'ah kebingungan untuk menyadarkan kembali Umar. Ibnu Abbas lantas mengumandangkan adzan di dekat telinga Umar. Suara adzan itulah yang membangunkan kembali khalifah dari pingsannya. Kalimat pertama yang keluar dari mulut khalifah ternyata adalah, "Apakah orang-orang sudah melakukan shalat?" "Sudah, wahai amirul mukminin. Tinggal Anda yang belum selesai shalat." jawab Mendengar hal itu, Umar berkata: نَعَمْ، وَلَا حَظَّ فِي الْإِسْلَامِ لِمَنْ تَرَكَهَا "Ya, tidak ada bagian sedikit pun dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat." Umar melaksanakan shalat Subuh dengan kondisi darah yang masih mengucur. Selesai shalat, ia bertanya kepada jama'ah, "Siapakah orang yang menusukku tadi?" "Abu Lu'luah, budak milik Mughirah bin Syu'bah." Mengetahui penyerangnya adalah Abu Lu'luah Fairuz Al-Majusi, seorang Persia beragama Majusi yang menjadi tawanan kaum muslimin dan kemudian menjadi budak bagi sahabat Mughirah bin Syu'bah, Umar bersyukur kepada Allah. Umar berkata, الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَجْعَلْ مَنِيَّتِي عَلَى يَدَيْ رَجُلٍ يَدَّعِي الْإِيمَانَ، وَلَمْ يَسْجُدْ لِلَّهِ سَجْدَةً "Segala puji bagi Allah Yang tidak menjadikan kematianku melalui tangan seorang laki-laki yang mengaku beriman dan belum pernah bersujud kepada Allah walau sekali saja." Abu Lu'luah Fairuz Al-Majusi ditawan oleh kaum muslimin dalam jihad di Irak. Saat para tawanan dibagikan kepada para mujahidin Islam, Mughirah bin Syu'bah yang kemudian menjadi gubernur Kufah mendapat bagian Abu Lu'luah Al-Majuzi. Berhubung Abu Lu'luah Al-Majuzi adalah seorang tukang kayu, tukang besi dan tukang pahat, ia dibawa ke Madinah untuk dipekerjakan dalam beberapa pekerjaan kaum muslimin. Berada di jantung ibukota pemerintahan Islam dan melihat Umar tidak pernah dikawal seorang prajurit pun, Abu Lu'luah Al-Majusi merencanakan dengan detail pembunuhan terhadap khalifah Umar. Ia menaruh dendam dan kebencian yang sangat kepada khalifah, karena pada masa pemerintahannyalah imperium Persia dan agama Majusi yang ia anut dikalahkan oleh kaum muslimin. Khalifah Umar sendiri wafat tiga hari setelah peristiwa penusukan tersebut akibat luka-luka dalam yang tidak bisa diobati lagi. Beliau dimakamkan pada Ahad pagi, tanggal 1 Muharram 24 H dalam usia 63 tahun. Jenazahnya dimakamkan di kamar ibunda Aisyah radhiyallahu 'anha, disamping makam Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam dan Abu Bakar ash-Shidiq radhiyallahu 'anhu. Beliau memerintah selama 10 tahun 5 bulan 21 hari. Saudaraku seiman dan seislam… Saat mendapati khalifah Umar bin Khathab kembali pingsan, para sahabat memikirkan khalifah belum melaksanakan shalat Subuh. Saat hendak menyadarkan khalifah dari pingsannya, adzanlah yang mereka kumandangkan. Dan saat siuman dari pingsannya, hal pertama yang dipikirkan khalifah juga masalah shalat. Begitulah perhatian besar kaum muslimin generasi awal Islam terhadap shalat. Dalam suasana paling genting sekalipun, hal pertama yang mereka ingat adalah shalat. Shalat tidak pernah mereka lalaikan, baik dalam suasana damai maupun perang, suasana aman maupun ketakutan, sehat maupun sakit. Selama ia masih muslim, maka ia melaksanakan shalat. Shalat adalah rukun pokok dan tiang agama Islam. Siapa meninggalkan shalat, maka keislamannya dipertanyakan. Sebagaimana dikatakan oleh khalifah Umar, "Ya, tidak ada bagian sedikit pun dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat." Allah Ta'ala menegaskan dalam firman-Nya, فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا "Maka datanglah setelah mereka generasi penerus yang menelantarkan shalat dan memperturutkan nafsu syahwat, maka mereka pasti akan mendapatkan kesesatan." (QS. Maryam [19]: 59) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam sendiri telah bersabda: الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ "Perjanjian (batas) antara kami dan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat, maka barangsiapa meninggalkan shalat niscaya ia telah kafir." (HR. Tirmidzi no. 2621, An-Nasai no. 463, Ibnu Majah no. 1079, Ahmad no. 22937, Ibnu Abi Syaibah no. 30396, Ibnu Hibban no. 1454, Al-Hakim no. 11 dan Al-Baihaqi no. 6499. Hadits ini dishahihkan oleh Tirmidzi, Ahmad, Al-Hakim, Adz-Dzahabi dan lain-lain) Maka marilah bulan suci Ramadhan ini menjadi pemacu bagi kita semua untuk senantiasa menjaga shalat wajib lima waktu secara istiqamah. Tentu akan sangat baik apabila dikerjakan secara berjama'ah di awal waktu bersama kaum muslimin lainnya di masjid atau mushala terdekat. Wallahu a'lam bish-shawab Sumber: Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Al-Bidayah wan Nihayah, 10/188-191, Kairo: Dar Hajar, cet. 1, 1418 H. (muhib almajdi/arrahmah.com) /@cwi

selengkapnya...

Gabung bersama kami

About Me

admin jg menerima pelayanan jasa

admin jg menerima pelayanan jasa
Jasa arsitek rumah; desain arsitek / desain rumah, gambar denah rumah, bangun rumah baru, renovasi rumah dan pembangunan mesjid, mushola, ruko, disaign taman, dll. klik gambar utk kontak personal.

Syiar Islam On Twitter

Site info

Kalkulator Zakat Fitrah

  © Syiar islam Intisari Muslim by Dede Suhaya (@putra_f4jar) 2015

Back to TOP  

Share |