Ramadhan Terindah di Bumi Sakura

Hari hari Ramadhan di negeri Sakura biasa kulalui sendiri. Bangun di penghujung malam saat suami sedang tertidur pulas, menyeruput teh hangat dan menyantap hidangan dalam kesendirian adalah hal yang tak pernah ku terbiasa dengannya. Walau bertahun-tahun mengalami hal yang sama, tak pernah ku terbiasa dengan keadaan itu. Selalu hadir rasa sepi, rasa sedih, rasa khawatir tentang bagaimana dengan suamiku? Bagaimana nasibnya di akhirat kelak, aku tak ingin bersama hanya di dunia, aku ingin cinta ini sampai ke surga. Walau bertahun-tahun ku alami rasa sepi tak terkira setiap Ramadhan, berpuasa sendiri, tidak, tak pernah aku terbiasa tanpanya. Dan aku tak mau terbiasa dengan keadaan ini. Karena jika ku tak sedih, tak merasa sepi, terbiasa berpuasa tanpanya, berarti hatiku telah mati. Mati untuk mencintai suamiku dengan cinta yang sebenarnya. Yaitu mencinta dengan cinta yang dicintaiNya. Merenung kembali, seakan menahkodai kapal besar nan berat. Tidak ada jalan lain, kecuali aku nahkodanya. Tidak ada jalan lain, kecuali aku harus kuat. Agar kapal ini sampai di tujuannya. Istana abadi, dimana kita sekeluarga bertelekan di atas dipan-dipannya.
Suamiku puasa hanya saat libur, seminggu dua kali. Seperti karakter orang Jepang pada umumnya yang workaholic, dan empat belas jam kerja menjadi unsur sebab akibat untuk tidak berpuasa. Tidak pernah ku memaksa melainkan mencoba memahami dan memahami lagi, walaupun hati ini menjerit,” Harus tunggu sampai kapan, aku takut maut menjemputmu sebelum kau sadar. Bukankah sudah sepuluh tahun…, kau dalam pelukan Islam.” Satu yang menghiburku adalah saat sang buah hati semangat berpuasa. Walau masih berumur lima tahun, putri kecilku satu-satunya semangat ikut sahur dan berbuka. Saat berumur enam tahun, ia marah saat dilarang berpuasa sampai Maghrib. Sakit demam berdarah saat liburan musim panas di Jakarta memaksanya untuk berpuasa sampai tengah hari saja. Alhamdulillah beranjak tujuh tahun, hampir sebulan penuh si putri kecil bisa berpuasa sampai Maghrib di tengah terik matahari musim panas, di tengah teman-teman sekolah yang tidak berpuasa, yang saat itu lamanya waktu puasa adalah kurang lebih enam belas jam ! Adakah yang bisa membayangkan, bagaimana sedihnya hatiku saat aku dan putriku bangun jam dua malam untuk sahur sedangkan ayahnya masih tertidur lelap? Adakah yang bisa meraba keping hati ini saat aku dan putriku dengan sukacita berbuka dan suamiku sibuk di kantornya tanpa puasa? Hari libur suami menjadi hari yang ku tunggu-tunggu untuk berpuasa sekeluarga tanpa seorang pun tertinggal. Alhamdulillah, walau suamiku berpuasa hanya saat libur, namun sepertinya keharmonisan Ramadhan antara aku dan putriku memercikkan sedikit demi sedikit atmosfirnya pada jiwa suami. Tahun berikutnya, tahun kesebelas pernikahan kami. Sinar-sinar hidayah makin banyak menembus ruang hati suamiku. Ketegaran dan ketegasan putri kesayangannya akan penerapan nilai-nilai Islam menundukkan hatinya perlahan. Beberapa hari memasuki Ramadhan 2011, putriku beranjak 8 tahun. Tahun itu ada yang berbeda, suamiku sibuk memikirkan hiasan dekorasi Ramadhan yang cocok bersama buah hatinya. Mereka menggunting, menempel, menggantung hiasan-hiasan Ramadhan yang mereka bikin bersama. “Papa nanti puasa, khan?“ tanya si kecil sambil mengoper hiasan Ramadhan ke papanya yang berdiri di atas kursi untuk menggantungkannya di dinding. “Ya, Papa akan berusaha puasa saat libur,” jawab suamiku. Mm… hanya hari libur? Baiklah, untuk ikut heboh menghias rumah menyambut Ramadhan saja sudah suatu kemajuan luar biasa. Aku hanya bisa berharap dan berdoa agar suamiku bisa berpuasa lebih dari hari liburnya. Tiba saat malam sebelum hari pertama Ramadhan. Saat kami makan malam, aku sampaikan pada anakku bahwa ia terpaksa harus sahur sendiri dan puasa sendiri besok, karena aku berhalangan. “Jadi Mama cuma nemenin sahur ya, Sayang,” kataku. Ternyata anakku itu sama sekali tidak peduli walau ia harus puasa sendiri. Semangat Ramadhannya terlalu berkobar untuk dapat dipadamkan. Tapi, terlihat perubahan air muka suamiku saat mengetahui putri kesayangannya ternyata harus puasa sendiri besok. Dengan terbata-bata dia berkata, “Ja… jadi, di …di rumah ini hanya Azu yang puasa…?” Suamiku gelisah. “Besok Papa ikut sahur dan puasa, deh. Nemenin Azu. Kasihan kalau puasa sendiri,” katanya. “Oke,” kataku yang masih berkeyakinan bahwa itu hanya kemauan yang temporal dari suami. Keesokan harinya, mereka berdua bangun, sahur, puasa sampai Maghrib. Sampai tiba saat masa halangan puasaku habis, aku kira suamiku hanya akan berhenti sampai di sini. Ternyata tidak, dia terlalu menikmati waktu-waktu sahur sebagi waktu extra dimana dia dapat bercanda bersama keluarga dalam kehangatan yang istimewa, waktu yang tak bisa ia dapatkan selain bulan Ramadhan. Ia menikmati berpuasa walau hari itu hari kerja, dan ia benar-benar berusaha berpuasa setiap hari. Ia menikmati malam Ramadhan dimana pengalaman lapar dan dahaga di hari itu menjelma sebagai suatu kepuasan yang kita rasakan bersama. Ya Allah, nikmat apa lagi yang dapat kudustakan? Satu bulan berlalu, tibalah saat perpisahan dengan tamu agung itu. Rasa haru melepas Ramadhan yang biasa kurasakan hanya berdua dengan putri kecilku ternyata kini dirasakan juga oleh suami tercinta. Beberapa hari setelah Ramadhan, suamiku berucap,” Andai setiap bulan adalah bulan Ramadhan, andai sepanjang tahun adalah Ramadhan. Sungguh, aku merasa saat Ramadhan adalah saat-saat paling sehat, segar dan fit. Semua keluhan kesehatanku hilang saat aku berpuasa. Dan itu bulan yang paling menyenangkan ya untuk kita sekeluarga.” Allahu Akbar! Allahu Akbar! Bergema takbir di hatiku saat mendengarnya. Ramadhan kesebelas di pernikahan kita, insya Allah adalah awal Ramadhan terindah dari Ramadhan-Ramadhan indah lainnya yang akan kita lalui bersama. Ramadhan yang aku akan terbiasa dengannya. — Tokyo, akhir Juni. Menghitung hari-hari menjelang Ramadhan… Nuniek Nuriani Nuriman icon_facebook icon_twitter icon_google+ icon_email Seorang Muslimah Indonesia yang menikah dengan warga negara Jepang mualaf dan menetap di Tokyo. Senang sharing tentang perjuangan para muslimah... Lanjut... Situs web: http://zusa14.multiply.com Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/07/21403/ramadhan-terindah-di-bumi-sakura/#ixzz21Du8IzeZ /@cwi

selengkapnya...

Ramadhan, Masihkah Wisata Kuliner?

Tahukah Anda, selama hidupnya seorang manusia rata-rata mengkonsumsi makanan sebanyak 100.000 pond, setara dengan berat 6 ekor gajah dewasa! Saya tertegun membacanya. Masya Allah… Sebanyak itukah kita makan selama hidup? Begitu banyak limpahan nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita. Itu baru nikmat berupa makanan. Sungguh kita tak akan sanggup menghitung banyaknya nikmat yang Allah limpahkan kepada kita. Subhanallah… Makanan memang salah satu kenikmatan dunia. Manusia hidup butuh makanan, sebagai sumber energi sehingga kita dapat beraktivitas. Makanan juga erat hubungannya dengan nafsu. Ada yang mengkonsumsi makanan secara berlebihan. Ada juga yang selalu ingin makanan enak (tinggi lemak) padahal tahu makanan itu tidak baik untuk kesehatan. Tapi karena nafsu, kita tetap menyantapnya. Ya, nafsu seringkali menguasai kita, mengalahkan akal sehat kita. Kini makan bukan lagi sekadar sumber energi dan penghilang rasa lapar. Makan telah menjadi gaya hidup! Lihatlah, kafe-kafe ramai dikunjungi sebagai bagian dari gaya hidup. Foto-foto makanan lezat seringkali di post di wall Facebook, wisata kuliner begitu happening di negeri ini. Makanan enak di manapun selalu diburu oleh para pecinta kuliner. Bahkan untuk acara pesta di rumah sampai mengundang chef kondang! Tentang wisata kuliner, dalam tausiyahnya seorang ustadz pernah bertanya, apa yang kita lakukan bila tiba di tempat yang baru? Mungkin jawaban kita adalah wisata kuliner!
Ternyata yang ustadz tadi lakukan pertama kali bila ia tiba di tempat baru ternyata bukanlah wisata kuliner. Apa yang beliau lakukan? Ternyata beliau mencari orang yang paling berilmu! Subhanallah. Jika ditanya penting mana mencari ilmu atau wisata kuliner? Tentu jawabannya mencari ilmu. Kita semua tahu betapa tingginya kedudukan ilmu dalam Islam. “Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” (Q. Al- Mujaadilah: 11) “Menuntut ilmu itu wajib atas tiap muslim.” (H.R Ibnu Majjah) “Barang siapa yang meniti suatu jalan mencari ilmu, maka Allah memudahkan jalan baginya ke surga.” (H.R Muslim). “Keutamaan seorang ‘alim dengan atas ahli ibadah orang seperti keutamaan bulan purnama daripada seluruh bintang-bintang.” (H.R Abu Dawud) Seorang ulama bahkan berkata, “Saya lebih bahagia melihat dua hadits daripada melihat dua dinar.” Ya, Ilmu jauh lebih berharga daripada harta. Sungguh harta yang kita keluarkan untuk mencari ilmu tak akan sebanding dengan manfaat ilmu yang kita raih. Pertanyaan ini pun menggelitik saya, di usia kita yang tak lagi muda, berapa banyakkah ilmu agama yang kita miliki? Adakah setara dengan berat enam ekor gajah? Atau mungkin separuhnya? Atau mungkin ‘hanya’ seberat seekor gajah? Alhamdulillah… Bulan Ramadhan, bulan penuh kemuliaan telah datang. Sebulan penuh kita umat Islam diwajibkan berpuasa, mengendalikan segala hawa nafsu. Momen Ramadhan adalah saat yang tepat bagi kita untuk memperdalam ilmu agama dengan lebih banyak membaca Al Qur’an dan Hadits, tadabbur Al-Qur’an, membaca kitab-kitab yang bermanfaat, duduk dalam majelis-majelis ilmu … Saudaraku, Jangan sia-siakan Ramadhan… Tak perlu berwisata kuliner, memuaskan nafsu saat berbuka puasa. Di bulan Ramadhan ini mari kita raih pahala berlipat-lipat ganda dari Allah Swt, dengan semakin meningkatkan amal shalih berlandaskan ilmu. Satu tujuan kita menjadi manusia bertaqwa. Marhaban Ya Ramadhan, semangat mencari ilmu! Wallahu a’lam bishshawaab. Silvani Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/07/21710/ramadhan-masihkah-wisata-kuliner/#ixzz21DsIuRZ6 /@cwi

selengkapnya...

Gelombang Penolakan Irshad Manji: Ditolak Hotel Hingga Qunut Nazilah!

Apes betul nasib tokoh Feminis Irshad Manji,atau lebih tepatnya tokoh Lesbi yang satu ini. Sejak beredar kabar kedatangannya ke Indonesia, sebagian besar umat Islam, khususnya ormas Islam, menolak kehadirannya untuk menjadi narasumber di berbagai event. Bukan hanya itu, hotel di Jakarta pun menolak menerima Manji untuk menginap meski hanya semalam. Seperti disampaikan oleh Kepala Kepolisian Resor Jakarta Selatan, Komisaris Besar Polisi Imam Sugiono kepada pers, feminis asal Kanada, Irshad Manji sempat ditolak untuk menginap di dua hotel ternama di Jakarta. Ini terjadi ketika polisi mencoba mengantar Irshad usai penolakan diskusi bukunya di Salihara, Jakarta Selatan, Jumat, 4 Mei 2012. "Kedua hotel yang menolak itu adalah Hotel Ritz Carlton dan Hotel Kartika Chandra," kata Kombespol Imam Sugiono di Markas Besar Polri, belum lama ini (7/5). Imam menyatakan, Irshad akhirnya dapat menginap di Hotel Ritz Carlton SCBD. Dua hotel ternama yang menolak, menurut dia, beralasan bahwa penulis buku Allah, Liberty, and Love ini adalah orang kontroversial. Hal ini juga, yang menurut Imam, menjadi alasan massa berkumpul dan meminta Irshad menghentikan diskusi di Salihara. Imam menyatakan, alasan Polisi membubarkan diskusi tersebut karena Salihara tidak menyampaikan pemberitahuan atas pelaksanaan diskusi kontroversial ini. Gelombang penolakan Irshad Manji juga “disambut” oleh Para santri di Pondok Pesantren Mahasiswa dan Sarjana (PPMS) Ulil Albab Bogor dengan menggelar doa Qunut Nazilah, Selasa (08/05/2012) malam. Qunut Nazilah dipimpin oleh Imam Masjid al- Hijri Universitas Ibn Khaldun Bogor, KH Dr. Ahmad Alim, MA. Usai shalat Maghrib dan pembacaan Qunut Nazilah, Ahmad Alim menjelaskan sejumlah musibah dan fitnah yang menimpa umat Islam Indonesia, seperti usaha legalisasi paham Kesetaraan Gender di DPR, dan juga didatangkannya tokoh lesbi Irshad Manji yang mendukung aktivitas Salman Rushdie, penulis novel “The Satanic Verses” yang menghujat Nabi Muhammad Saw. Dr. Ahmad Alim menjelaskan, “Qunut” secara bahasa adalah suatu doa di dalam shalat pada tempat yang khusus dalam keadaan berdiri. Sedangkan Nazilah artinya malapetaka atau musibah yang turun menimpa kaum muslimin dalam bentuk gempa, banjir, peperangan, penganiayaan, fitnah perusakan aqidah dan sebagainya. Jadi Qunut Nazilah adalah qunut yang dipanjatkan pada saat terjadi musibah. Musibah di sini mencakup segala bentuk musibah yang menimpa kaum Muslimin baik musibah fisik maupun non fisik seperti musibah berupa tersebaranya pemikiran menyimpang yang merusak umat. Gelombang Penolakan Membesar Di Solo, Umat Islam yang tergabung dalam Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) Kamis, 3 Mei 2012, juga menolak kedatangan Irshad Manji yang rencananya akan menjadi narasumber dalam sebuah acara diskusi buku yang ditulisnya. Pihak pengelola Balai Soejatmoko Gramedia Solo menyatakan telah membatalkan acara tersebut. Sebelumnya, Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga membatalkan pertemuan dialog dengan Manji pada pada tanggal 4 Mei 2012 di gedung PP Muhammadiyah, jalan Menteng Raya No. 62, Jakarta. Pembatalan itu ditandai dengan dikeluarkan surat resminya tertanggal 1 Mei 2012. Secara tegas, Pimpinan Pusat Muhammadiyah memutuskan pembatalan dialog tersebut. “Sesuai perjanjian dari penerbit Renebook, acara dialog dan pertemuan dengan Miss Irshad Manji, yang rencana dilaksanakan pada 4 Mei 2012 di gedung PP Muhammadiyah, jalan Menteng Raya No. 62, Jakarta; Dibatalkan”. Demikian surat yang ditandatangani oleh Sekretaris PP Muhammadiyah Dr.Abdul Mu’ti M’ed. Surat tersebut ditujukan kepada beberapa pihak diantaranya, anggota PP Muhammadiyah, Majelis dan lembaga PP Muhammadiyah, Ketua organisasi otonom Muhammadiyah tingkat pusat, Rektor Uhamka Jakarta, UM Tangerang, Ketua STIE Muhammadiyah, STIE Ahmad Dahlan, dan STIMIK Muhammadiyah Jakarta serta di tembuskan kepada kantor PP Muhamadiyah di Yogyakarta. Yang pasti, buka kali pertama Manji dihadapkan oleh gelombang penolakan. Di negerinya sendiri, bahkan di Belanda, pun mengalami hal yang sama. Dan sepertinya gelombang penolakan akan terus bertambah, dan kian membesar. Oh…Manji, Siapa Suruh Datang Jakarta.

selengkapnya...

Gabung bersama kami

About Me

admin jg menerima pelayanan jasa

admin jg menerima pelayanan jasa
Jasa arsitek rumah; desain arsitek / desain rumah, gambar denah rumah, bangun rumah baru, renovasi rumah dan pembangunan mesjid, mushola, ruko, disaign taman, dll. klik gambar utk kontak personal.

Syiar Islam On Twitter

Site info

Kalkulator Zakat Fitrah

  © Syiar islam Intisari Muslim by Dede Suhaya (@putra_f4jar) 2015

Back to TOP  

Share |