90 Langkah Menuju Mushalla

 istimewa itu bernama Didi. Aku biasa memanggilnya Pak Didi. Usianya kini sudah berkepala enam. Aku mengenal beliau sudah sekitar tiga tahun, semenjak aktif menjadi jamaah di mushalla Baiturrohim. Beliau tinggal bersama keluarganya di RT 04 tak jauh dari mushalla, sedang aku tinggal di RT 02. Secara pribadi, aku memang tidak tahu banyak tentang beliau, namun di mataku beliau adalah sosok yang luar biasa. Salah satu ‘keistimewaan’nya telah memberiku semangat sekaligus menyadarkanku akan besarnya nikmat yang telah Allah berikan. Pertama, beliau ini aktif shalat berjamaah di mushalla Baiturrohiim. Beliau selalu menempati tempat yang tetap, di shaft pertama ujung sebelah kiri. Kedua, beliau selalu menjadi jamaah yang pertama hadir untuk shalat Subuh. Suara merdunyalah yang pertama kali terdengar melantunkan shalawat dari pengeras suara mushalla yang terletak di sisi jalan yang memisahkan RT 02 dan RT 04 ini. Dan beliaulah yang lebih sering mengumandangkan azan subuh, baru kemudian yang lain datang, termasuk aku. Hanya itu? Tidak! Pak Didi terasa lebih istimewa, karena beliau kini hanya memiliki empat indera. Kecelakaan kerja beberapa tahun silam telah membuat indera penglihatan pak Didi tidak berfungsi lagi. Secara fisik, mata beliau tidak mengalami cacat, hanya saja keduanya kini sudah tidak bisa melihat sama sekali. Jika pak Didi selalu menempati tempat favoritnya di shaft pertama sebelah kiri, ini wajar sebab beliau selalu datang dari pintu sebelah kiri, kemudian menyusuri tembok dan akan berhenti ketika tangannya sudah menyentuh tembok depan. Semua jamaah mushalla sudah tahu akan hal itu, dan tak pernah ada yang mencoba menempati tempat ‘eksklusif’ Pak Didi. Saat datang untuk shalat Maghrib, aku sering melihat Pak Didi diantar oleh cucu laki-laki dan sesekali oleh cucu perempuannya yang baru berusia belasan tahun. Usai shalat Maghrib, pak Didi lebih sering tetap berada di tempatnya, berdzikir dan mendengarkan jamaah lain mengaji. Usai shalat Isya, biasanya sang istri sudah menunggu di depan pintu mushalla. Lalu, bagaimana cara beliau mendatangi mushalla untuk shalat subuh ketika belum satu pun jamaah lainnya hadir di mushalla ini? Aku tak pernah tahu. Setiap aku tiba di mushalla, beliau sudah datang lebih dulu. Justru, seringnya lantunan shalawat beliaulah yang membangunkanku. Setiap kali aku mencoba untuk datang lebih awal, selalu saja beliau sudah lebih dulu berada di dalam mushalla. Aku makin penasaran. Sampai akhirnya, suatu saat aku mendapatkan kesempatan untuk bertanya kepada beliau, siapa yang mengantarnya ke mushalla, membangunkan warga sekitar untuk shalat subuh berjamaah. Diantar cucunya yang masih kecil itukah, atau diantar istrinya yang setia? Aku terkejut mendengar jawaban pak Didi. “Selama ini, untuk shalat subuh saya lebih sering datang ke mushalla sendiri, tanpa diantar cucu atau istri. Bukannya mereka tidak mau, tapi memang mau saya begitu. Sebelum subuh, jalanan masih sepi, jadi saya tidak khawatir berpapasan dengan orang-orang yang lalu lalang” “Pak Didi tidak takut nabrak, terpeleset atau……..maaf, nyasar misalnya?” dengan hati-hati aku bertanya, takut beliau tersinggung. “Insya Allah tidak. Saya sudah mempunyai hitungan sendiri “ beliau menjawab dengan tenang, tanpa menunjukkan rasa tersinggung sedikit pun atas pertanyaanku. “ Maksudnya, hitungan bagaimana Pak?” aku makin penasaran. Kemudian dengan gamblang beliau menjelaskan ‘rumus’ yang dimilikinya untuk bisa sampai ke mushalla ini tanpa nabrak ataupun khawatir terpeleset ke dalam selokan yang berada di sisi jalan. Dengan bantuan tongkat kecilnya, beliau berangkat dari rumah sendiri ketika orang-orang ( termasuk aku ) masih lelap dalam tidur. Beliau berjalan dengan mengandalkan ingatan mengenai jalan menuju mushalla. ( Kebutaan yang dialami pak Didi memang bukan sejak lahir, tapi karena kecelakaan, jadi beliau masih memiliki gambaran tentang jalan dan juga rumah-rumah yang ada di sepanjang jalan menuju mushalla.). Pertama, beliau keluar rumah dan berjalan lurus kurang lebih 10 langkah. Sampai di jalan kecil ber-konblok, beliau belok kiri dan melangkah sekitar 15 langkah. Dengan bantuan tongkatnya, beliau akan memastikan tembok rumah tetangganya, dimana dia harus belok kanan dan melangkah lagi sekitar 10 langkah. Saat berada di jalan ini, tangan kiri beliau akan meraba tembok rumah tersebut, hingga sampai di ujung. Kemudian beliau akan belok kiri dan berjalan lurus kurang lebih 28 langkah. Setelah itu beliau akan berbelok kearah kanan, maju 10 langkah dan mencoba memastikan keberadaan tembok mushalla dengan tongkat kecilnya. Setelah berhasil menemukan tembok mushalla, beliau kemudian akan terus maju hingga kurang lebih 17 langkah sampai beliau bisa menyentuh pintu mushalla. Begitulah, setiap pagi di saat orang-orang masih banyak yang terlelap, pak Didi sudah lebih dulu datang ke mushalla dengan ‘meraba’ jalanan yang gelap. Gelap, benar-benar gelap, bukan karena tak ada lampu tapi karena beliau sudah tak bisa menangkap apapun dengan indera penglihatannya. Aku sering mendapati buktinya. Ketika tiba di mushalla, keadaan masih gelap, tak ada lampu yang menyala, padahal pak Didi sudah berada di dalamnya melantunkan shalawat atau mengumandangkan adzan. Dan jika ia mampu menggunakan pengeras suara untuk membangunkan warga dengan shalawat dan azan, itu juga ia lakukan dengan cara meraba. Subhanallah! Aku tertegun mendengar cerita Pak Didi. Aku merasa malu, malu dengan diriku sendiri,. Allah telah memberiku anugerah yang sangat besar. Kelima inderaku semua berfungsi dengan sempurna, namun sering kuanggap biasa-biasa saja. Syukur itu seringkali hanya menjadi ucapan bibir semata. Sementara pak Didi, istiqamah mendatangi jamaah shalat subuh dengan susah payah, bahkan selalu hadir lebih awal, dalam kegelapan yang sebenarnya. Pak Didi mampu mewujudkan syukur itu dalam tindakan nyata. Kebutaan, kegelapan yang kini beliau rasakan, mampu beliau terima sebagai sebuah kenikmatan. Terima kasih pak Didi. Kisahmu membukakan pintu hidayah bagiku. Ceritamu memberikan semangat untuk selalu datang ke mushalla, shalat berjamaah meskipun aku belum bisa mengalahkanmu, karena engkau selalu datang lebih dulu. Oleh: Abi Sabila Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/10/15677/90-langkah-menuju-mushalla/#ixzz1eR9uNjmR /@cwi

selengkapnya...

Upaya Organisasi Zionis Untuk Meyahudian Perkampungan Arab di Palestina Jajahan

Upaya Organisasi Zionis Untuk Meyahudian Perkampungan Arab di Palestina Jajahan diwarnai bentrokan dakhsyat antara kepolisian Israel dengan warga Palestina di Baqiah Jalil terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Bentrokan ini dipicu oleh upaya kelompok permukiman ultra kanan Yahudi untuk meyahudikan wilayah Arab yang tentu membangkitkan semangat perlawanan dan mengancam terjadinya pergolakan yang lebih dkhsyat dari sebelumnya.

Sementara itu, harian Haaretz menyebutkan, kelompok Yahudi radikal melakukan pembelian terhadap rumah-rumah warga Arab dengan harga yang tinggi dari nilai rumah tersebut. tujuan mereka jelas untuk yahudisasi. Mayoritas rumah tersebut terletak di tengah wilayah Arab yang mengelilingi sinagog yahudi yang dibangun pada abad ke 19.


Haaretz menyebutkan, inilah pertama kali mereka yang terungkap tentang kegiatan permukiman yang mirip dengan aktivitas Yahudi radikal lainya di dua distrik sebelumnya, Hebron dan Al-Quds. Dimana mereka membeli rumah-rumah tersebut dengan harga tinggi yang kemudian ditinggali oleh mereka.

Perlu disebutkan di sini, bahwa wilayah Baqiah, dihuni oleh sebagian kecil warga Nashrani dan beberapa keluarga Yahudi. Sejumlah pemimpin Durziyah bahkan mengetahui adanya kegiatan organisasi Yahudi sebelum peristiwa ini terjadi.

Di sisi lain, organisasi situs purbakala Yahudi aktiv membelia sejumlah tanah di Baqi dengan harga lima kali lipat dari harga biasa. Salah seorang pegiat organisasi ini, rahib Avib Zeglaman dari Nablus, Tepi Barat. Ia termasuk orang dekatnya kelompok ultra kanan di Partai Likud pimpinan Museh Veiglin. Ia juga bekerja pada proyek lainya, yaitu Al-Baqi’ah lil Abad. Haaretz menyebutkan, organisasi ini bekerja untuk memperkuat ikatan yahudi dengan Baqi’ah.

Berdasarkan penuturan salah seorang pejabat di organisasi ini, Shimon Prulight yang tinggal di permukiman Kedumim, Tepi Barat mengatakan, walaupun saya hanya mempunyai beberapa petak rumah, tetapi aku mampu menghadirkan ribuan Yahudi segera, karena ada tekanan yang kuat untuk datang ke wilayah Baqi’ah.

Berdasarkan laporan Haaretz, mayoritas warga Baqi’ah yang menjual tanahnya adalah dari kalangan Kristen yang tentu meningkatkan suhu ketegangan di kawasan. Terakhir penjualan mereka terhadap satu rumah di Baqi’ah kepada warga pemukim Yahudi, dua bulan yang lalu. Setelah transaksi ini, maka jelaslah bahwa organisasi Zionis radikal berada dibalik semua kegiatan permukiman di Baqi’ah.

Sementara itu di pihak lain, ketua dewan local di Baqi’ah, Muhammad Khair mengatakan, kami tidak mempunyai kekuatan ekonomi untuk membendung demonstrasi. Maka organisasi ini dipersiapkan untuk membayar dengan berlipat-lipat harga rumah lama. Ia menambahkan, bukanlah sikap kami yang memusuhi musuh Yahudi. Ketika ada sejumlah keluarga Yahudi yang tinggal di wilayah tersebut dan hidup menyendiri. Di lain pihak ada sekelompok Yahudi radikal yang berupaya menguasai wilayah dengan mengatas namakan ikatan sejarah Yahudi.

Kalaulah urusannya begini. Maka kembalikanlan kampong kami yang telah hilang bersama berlalunya waktu.
Haaretz meneruskan, riwayat permukin Yahudi di Baqi’ah, Gaza, tidak dimulai kelompok-kelompok permukiman Yahudi. Namun permukiman ini bisa tumbuh dan berkembang melalui dompett dana untuk Israel. Sebelumnya perwakilan Yahudi, Keryat Kemit membelikan 12 unit rumah, beberapa tahun yang lalu untuk keperluan perluasan permukimana. (asy)



/@cwi

selengkapnya...

Tak Ingin Menggugat Allah

Oleh: kiptiah hasan

Ilustrasi (Facebook) 
- Kawan, kita ini adalah hamba Allah yang tercipta dengan sebaik-baik bentuk. Sebaik-baik takdir yang Allah tetapkan dalam kitab Lauh Mahfuzh. Bilamana kini kita dalam kondisi tak mengenakkan – menurut kita – dan kita telah jatuh bangun dalam usaha memperbaikinya kemudian belum ada tanda-tanda Allah untuk memberikan setitik bantuanNya. Apakah kemudian kita akan menggugat Allah? Mungkin kita akan teringat akan firman Allah yang akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut berusaha untuk mengubahnya terlebih dahulu. Belajar berprasangka baik kepada Allah. Ayat tersebut adalah motivasi untuk kita terus berusaha memperbaiki keadaan dalam diri dan lingkungan. Berusaha menuju arah yang lebih baik. Karena Allah adalah sebaik-baik pemberi janji dan tak pernah ingkar janji. Jika keadaan kita belum berubah, mungkin memang takdir Allah untuk memberikan kita jalan seperti itu. Jalani saja, karena bisa jadi takdir itu adalah rencana Allah untuk membuka takdir-takdir berikutnya dari arah yang tak pernah kita sangka. Takdir yang membawa kita pada cahaya kebenaran. Yang terpenting, jika jasad kita terlumuri dosa maka jangan sampai hati kita tertutupi hijab yang tebal dengan Allah. Sungguh, Allah hanya menilai isi hati hamba-hambaNya. Seorang penjahat kelas kakap yang hatinya masih terus mengingat Allah sedang raganya mengharuskannya untuk berbuat sesuatu yang hatinya tak ingini, bisa lebih mulia di hadapan Allah. Ia memiliki hati yang tak tertutupi hijab antara dirinya dan Allah, dan cahaya keimanan akan mudah merasuki hatinya. Kemudian ia masih berbuat kejahatan, apakah bisa kita menilainya termasuk golongan penghuni neraka? Hanya Allah yang bisa menilai setiap perbuatan hambaNya. Kadang Allah menjadikan kemaksiatan sebagai caraNya untuk lebih mendekatkan Dia dan hambaNya. Tinggal hamba itu menunggu suatu episode hidup berikutnya. Tapi jangan sampai kita mencoba untuk mencicipi kemaksiatan guna mendekatkan diri kepada Allah. Karena yang berkata itu adalah hawa nafsu dan bukan takdir. Hawa nafsu akan menjatuhkan kita pada jurang kebinasaan terdalam. Jadikan segala cobaan yang sedang kita hadapi sebagai bekal untuk mendekatkan diri kepada Allah bukan yang lain. Apapun keadaan kita kini, terimalah. Robekkan tirai penghalang interaksi hati kita dan Allah. Dengan berjalannya waktu kita akan merasakan perubahan dalam diri. Meskipun dalam keadaan yang sama. Perubahan helaan nafas yang kian dekat dengan Allah. Lantunan istighfar yang senantiasa menjadi irama hati. Hal tersebut adalah semanis-manisnya iman. Karena Allah Maha Tahu yang terbaik untuk hambaNya. Mungkin bukan dengan jalan kelapangan, bukan dengan jalan kemudahan, bukan dengan jalan kemewahan, Allah mendekati kita. Biarkan Allah berbuat sekehendakNya, Allah Maha berkuasa dan sebagai makhluk kita hanya bisa menuruti. Menjalankan takdir sebaik-baiknya. Karena kemudahan pun bisa jadi menjadi tabir antara kita dan Allah. Tapi keadaan apapun tak akan berpengaruh jika hanya Allah yang ada di dalam hati. Semuanya akan terasa indah dan mudah. Kawan, mari kita selalu berusaha menikmati takdirNya. Berusaha mengecap kepahitan semanis madu. Berusaha menikmati manisnya madu secukupnya. Hingga kelak Allah memutar roda takdirnya, kita akan terbiasa. Kawan, mari kita berusaha untuk meramaikan kesunyian hati dengan dzikir mengingatNya. Berdzikir dalam keheningan dan keramaian. Merasakan Allah hadir dalam helaan nafas. Kawan, kita ini adalah hamba terpilih. Terpilih untuk menikmati proses degradasi moral dan proses penyucian kembali jiwa yang lama melanglang. Itulah realita takdir. Allah Yang Maha Mensucikan jiwa hamba-hambaNya yang merangkak pada cahayaNya. Allah Yang Maha Menghinakan hamba-hambaNya yang menghalau cahayaNya dengan berbagai alasan. Allahua’lam. Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/17374/tak-ingin-menggugat-allah/#ixzz1iaVyzz00 /@cwi

selengkapnya...

Gabung bersama kami

About Me

admin jg menerima pelayanan jasa

admin jg menerima pelayanan jasa
Jasa arsitek rumah; desain arsitek / desain rumah, gambar denah rumah, bangun rumah baru, renovasi rumah dan pembangunan mesjid, mushola, ruko, disaign taman, dll. klik gambar utk kontak personal.

Syiar Islam On Twitter

Site info

Kalkulator Zakat Fitrah

  © Syiar islam Intisari Muslim by Dede Suhaya (@putra_f4jar) 2015

Back to TOP  

Share |