Kemenangan Bizantium dlm Quran

Penggalan berita lain yang disampaikan Al Qur'an tentang peristiwa masa depan ditemukan dalam ayat pertama Surat Ar Ruum, yang merujuk pada Kekaisaran Bizantium, wilayah timur Kekaisaran Romawi. Dalam ayat-ayat ini, disebutkan bahwa Kekaisaran Bizantium telah mengalami kekalahan besar, tetapi akan segera memperoleh kemenangan. "Alif, Lam, Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang)." (Al Qur'an, 30:1-4) Ayat-ayat ini diturunkan kira-kira pada tahun 620 Masehi, hampir tujuh tahun setelah kekalahan hebat Bizantium Kristen di tangan bangsa Persia, ketika Bizantium kehilangan Yerusalem. Kemudian diriwayatkan dalam ayat ini bahwa Bizantium dalam waktu dekat menang. Padahal, Bizantium waktu itu telah menderita kekalahan sedemikian hebat hingga nampaknya mustahil baginya untuk mempertahankan keberadaannya sekalipun, apalagi merebut kemenangan kembali. Tidak hanya bangsa Persia, tapi juga bangsa Avar, Slavia, dan Lombard menjadi ancaman serius bagi Kekaisaran Bizantium. Bangsa Avar telah datang hingga mencapai dinding batas Konstantinopel. Kaisar Bizantium, Heraklius, telah memerintahkan agar emas dan perak yang ada di dalam gereja dilebur dan dijadikan uang untuk membiayai pasukan perang. Banyak gubernur memberontak melawan Kaisar Heraklius dan dan Kekaisaran tersebut berada pada titik keruntuhan. Mesopotamia, Cilicia, Syria, Palestina, Mesir dan Armenia, yang semula dikuasai oleh Bizantium, diserbu oleh bangsa Persia. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.) Pendek kata, setiap orang menyangka Kekaisaran Bizantium akan runtuh. Tetapi tepat di saat seperti itu, ayat pertama Surat Ar Ruum diturunkan dan mengumumkan bahwa Bizantium akan mendapatkan kemenangan dalam beberapa+tahun lagi. Kemenangan ini tampak sedemikian mustahil sehingga kaum musyrikin Arab menjadikan ayat ini sebagai bahan cemoohan. Mereka berkeyakinan bahwa kemenangan yang diberitakan Al Qur'an takkan pernah menjadi kenyataan. Sekitar tujuh tahun setelah diturunkannya ayat pertama Surat Ar Ruum tersebut, pada Desember 627 Masehi, perang penentu antara Kekaisaran Bizantium dan Persia terjadi di Nineveh. Dan kali ini, pasukan Bizantium secara mengejutkan mengalahkan pasukan Persia. Beberapa bulan kemudian, bangsa Persia harus membuat perjanjian dengan Bizantium, yang mewajibkan mereka untuk mengembalikan wilayah yang mereka ambil dari Bizantium. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.) Akhirnya, "kemenangan bangsa Romawi" yang diumumkan oleh Allah dalam Al Qur'an, secara ajaib menjadi kenyataan. Keajaiban lain yang diungkapkan dalam ayat ini adalah pengumuman tentang fakta geografis yang tak dapat ditemukan oleh seorangpun di masa itu.
Dalam ayat ketiga Surat Ar Ruum, diberitakan bahwa Romawi telah dikalahkan di daerah paling rendah di bumi ini. Ungkapan "Adnal Ardli" dalam bahasa Arab, diartikan sebagai "tempat yang dekat" dalam banyak terjemahan. Namun ini bukanlah makna harfiah dari kalimat tersebut, tetapi lebih berupa penafsiran atasnya. Kata "Adna" dalam bahasa Arab diambil dari kata "Dani", yang berarti "rendah" dan "Ardl" yang berarti "bumi". Karena itu, ungkapan "Adnal Ardli" berarti "tempat paling rendah di bumi". Yang paling menarik, tahap-tahap penting dalam peperangan antara Kekaisaran Bizantium dan Persia, ketika Bizantium dikalahkan dan kehilangan Jerusalem, benar-benar terjadi di titik paling rendah di bumi. Wilayah yang dimaksudkan ini adalah cekungan Laut Mati, yang terletak di titik pertemuan wilayah yang dimiliki oleh Syria, Palestina, dan Jordania. "Laut Mati", terletak 395 meter di bawah permukaan laut, adalah daerah paling rendah di bumi. Ini berarti bahwa Bizantium dikalahkan di bagian paling rendah di bumi, persis seperti dikemukakan dalam ayat ini. Hal paling menarik dalam fakta ini adalah bahwa ketinggian Laut Mati hanya mampu diukur dengan teknik pengukuran modern. Sebelumnya, mustahil bagi siapapun untuk mengetahui bahwasannya ini adalah wilayah terendah di permukaan bumi. Namun, dalam Al Qur'an, daerah ini dinyatakan sebagai titik paling rendah di atas bumi. Demikianlah, ini memberikan bukti lagi bahwa Al Qur'an adalah wahyu Ilahi. /@cwi

selengkapnya...

Amal-Amal yang Beterbangan Bagai Bulu Unggas

Ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Muhammad saw banyak yang menegaskan tidak adanya pahala bagi orang kafir, musyrik, munafiq, tidak beriman, dan bahkan orang Islam yang berbuat baiknya bukan karena Allah swt tetapi karena riya’, yaitu pamer kebaikan untuk dilihat orang lain Bukan ikhlas karena Allah swt. Sehingga dari ayat-ayat dan hadits Nabi saw telah jelas bahwa orang kafir, baik mereka itu dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang tidak masuk Islam, maupun orang-orang kafir musyrik (bukan Ahli Kitab, beragama apapun) maka tidak ada pahala bagi mereka, dan kelak di akherat kekal di neraka. Itu jelas dalam Al-Qur’an Surat Al-Bayyinah ayat 6. Selain orang kafir, orang yang mengaku Islam tetapi sebenarnya kafir (yaitu munafiq), mereka juga tidak ada pahala apa-apa di akherat. Orang kafir dan munafiq (menampakkan dirinya Islam tetapi hatinya kafir) itu agamanya sama, yaitu agama kekafiran. Orang kafir itu sendiri agamanya berbeda-beda, hanya saja di dalam istilah Islam sudah dikategorikan bahwa al-kufru millah waahidah, kekafiran itu adalah agama yang satu. Berbeda-beda agamanya (yakni selain Islam) tetapi sama kafirnya. Itu semua mereka tidak berpahala, dan di akherat kelak tempatnya di neraka selama-lamanya. Itu jelas dalam Al-Qur’an: Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS Al-Bayyinah/ 98: 6). Ayat-ayat tentang hapusnya amal Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi. (QS Al-Maaidah/ 5 : 5). Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (QS Al-An’aam/ 6: 88). Mereka bakhil terhadapmu apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS Al-Ahzab/ 33: 19). Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Qur'an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka. (QS Muhammad/ 47: 9). Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka. (QS Muhammad/ 47: 28). Sesungguhnya orang-orang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah serta memusuhi rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka. (QS Muhammad/ 47: 32). Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka (katakanlah olehmu): "Ketahuilah, sesungguhnya Al Qur'an itu diturunkan dengan ilmu Allah dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?" Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (QS Hud/ 11 : 14, 15, 16). Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata: "Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)". Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)". Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan. (QS Al-A’raaf/ 7 : 138, 139). Hadits dan tafsir tentang batalnya amal hingga tak berpahala Riwayat dari Abi Waqid Al Laitsi, ia berkata: “Kami keluar kota Madinah bersama Rasulullah menuju perang Hunain, maka kami melalui sebatang pohon, aku berkata: “Ya Rasulullah jadikanlah bagi kami pohon “dzatu anwaath” (pohon yang dianggap keramat) sebagaimana orang kafir mempunyai “dzatu anwaath”. Dan adalah orang-orang kafir menggantungkan senjata mereka di pohon dan beri’tikaf di sekitarnya. Maka Rasulullah menjawab: “Allah Maha Besar, permintaanmu ini seperti permintaan Bani Israil kepada Nabi Musa: (`Jadikanlah bagi kami suatu sembahan, sebagaimana mereka mempunyainya`), sesungguhnya kamu mengikuti kepercayaan orang sebelum kamu.” (HR Ahmad dan Al-Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, hadits no 267). Tafsir Al-Qur’an keluaran Departemen Agama RI mengulas sebagai berikut: Kenyataan tentang adanya kepercayaan itu diisyaratkan hadits di atas pada masa dahulu dan masa sekarang hendaknya merupakan peringatan bagi kaum muslimin agar berusaha sekuat tenaga untuk memberi pengertian dan penerangan, sehingga seluruh kaum muslimin mempunyai akidah dan kepercayaan sesuai dengan yang diajarkan agama Islam. Masih banyak di antara kaum muslimin yang masih memuja kuburan, mempercayai adanya kekuatan gaib pada batu-batu, pohon-pohon, gua-gua, dan sebagainya. Karena itu mereka memuja dan menyembahnya dengan ketundukan dan kekhusyukan, yang kadang-kadang melebihi ketundukan dan kekhusyukan menyembah Allah sendiri. Banyak juga di antara kaum muslimin yang menggunakan perantara (wasilah) dalam beribadah, seakan-akan mereka tidak percaya bahwa Allah Maha Dekat kepada hamba-Nya dan bahwa ibadah yang ditujukan kepada-Nya itu akan sampai tanpa perantara. Kepercayaan seperti ini tidak berbeda dengan kepercayaan syirik yang dianut oleh orang-orang Arab Jahiliyyah dahulu, kemungkinan yang berbeda hanyalah namanya saja. (Al-Qur’an dan Tafsirnya, Departemen Agama RI, Jakarta, 1985/ 1986, jilid 3, halaman 573-574). Imam Al-Baghowi menjelaskan dalam tafsirnya: Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (QS Hud/ 11 : 16) Para ulama berbeda pendapat dalam makna ayat ini. Mujahid berkata: Mereka itu adalah ahli riya’ (pemilik sikap riya’, sombong, pamer). Kami telah meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya yang paling saya khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil”. Mereka (para sahabat) bertanya: “Ya Rasulallah, apakah syirik kecil itu?” Beliau menjawab: “Riya’” (sombong, pamer). Allah berfirman di hari qiyamat ketika membalas manusia dengan perbuatan-perbuatan mereka: “Pergilah kalian ke orang-orang yang kalian pameri di dunia, maka lihatlah apakah kalian dapati balasan (pahala) di sisi mereka?” (HR Ahmad). (Pendapat lain) dikatakan: (Makna ayat) ini mengenai orang kafir. Adapun orang mukmin, maka menginginkan dunia dan akherat, sedang keinginannya untuk akherat itu dominan, maka dibalas kebaikan-kebaikannya di dunia, dan diberi pahala atas kebaikan-kebaikannya itu di akherat. Kami telah meriwayatkan dari Anas ra bahwa Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak mendhalimi orang mukmin satu kebaikan pun, maka orang mukmin itu diberi atas perbuatan baiknya (berupa) rizki di dunia, dan diganjar kebaikan-kebaikannya itu di akherat. Adapun orang kafir maka diberi (balasan) kebaikan-kebaikannya di dunia sehingga begitu habis (kebaikannya) lalu ke akherat tidak ada kebaikan lagi baginya yang akan diberikan sebagai (balasan) kebaikan. (HR Muslim dan Ahmad). (Al-Baghowi, Tafsir Al-Baghowi/ Ma’alimut Tanzil, Daru Thibah, Riyad, cetakan 4, 1417H/ 1997M, juz 4 halaman 166). Penulis: Ustadz Hartono Ahmad Jaiz sumber; http://khalifah.co.id/keislaman/aqidah/2337-amal-amal-yang-beterbangan-bagai-bulu-unggas /@cwi

selengkapnya...

Islam dan “Bencana” Valentine’s Day

SEPERTI tahun-tahun sebelumnya, peringatan Valentine`s Day (V-Day)
akan kembali banyak dirayakan oleh banyak
remaja. Mall-mall dan pusat perbelanjaan tidak
mau kalah start, turut bersolek menampilkan
atribut dan dekorasi yang menandai datangnya
“hari cinta” dengan menghadirkan aksesoris seperti bunga mawar merah, lambang love,
bahkan memberikan potongan harga besar-
besaran demi menyambutnya. Dalam banyak catatan sejarah, V-Day merupakan
warisan paganisme (Dewa-Dewi) zaman Romawi
kuno. Mereka meyakini pertengahan bulan
Februari merupakan bulan cinta dan kesuburan.
Kepercayaan ini kemudian diwarnai oleh kaum
Kristen Katolik Roma dengan nuansa Kristiani. Salah satu bentuk ‘akuisisi’ atas mitos paganisme ini
adalah dengan mengganti nama anak-anak gadis
mereka dengan nama Paus atau Pastor dan
mendapat dukungan Kaisar Konstantine dan Paus
Gregory I. Seiring berjalannya waktu, ketika Kaum Barat
berhasil melakukan simbolisasi terhadap tokoh
Valentino, ditunjang pula dengan penguasaan media
dan informasi, sejak saat itu V-Day menyebar ke
seluruh penjuru dunia. Ia menjadi ajang menyatakan
“cinta dan kasih sayang” kepada pasangan. Kekuatan media dimanfaatkan betul untuk
memborbardir massa tentang personalisasi Valentino
sebagai tokoh yang layak dikenang sepanjang masa
oleh siapa saja yang berjuang demi “cinta.” Betulkah propaganda mereka tentang cinta itu? Tidak

usah jauh-jauh, lihatlah ke sebelah Timur. Iraq porak-
poranda akibat gempuran tentara Salibis, Muslimah-
nya diperkosa oleh tentara-tentara hidung belang,
orangtua dan anak-anak menjadi korban pembantain,
ribuan lainnya terpaksa menjadi pengungsi di negeri sendiri. Betulkah cinta yang mereka ekspor ke generasi ini?
Lihatlah, angka perceraian yang tinggi, anak-anak
menjadi rusak karena keluarga broken home,
prostitusi yang merajelela bahkan dilegalkan oleh
negara, aborsi, orangtua dititipkan dip anti jompo.
Inikah cinta yang mereka pekikkan? Bandingkan dengan titian cinta nabi kepada kita,
umatnya. Di kala Thaif dan Uhud menjadi hari-hari
terberat sang Nabi. Pengorbanannya bagi umat tiada
berbanding. Teguh terhadap dakwah mewarnai hari-
hari Rasul akhir zaman ini. Kecemasannya pada nasib
umat selalu mengemuka. Ia adalah Rasul yang penuh cinta kepada umatnya. Cinta itu berbalas, generasi
sahabat (generasi pertama) adalah generasi yang
juga sangat mencintainya. Sesungguhnya, V-Day tidak lain merupakan wajah
buruk budaya Barat. Di satu sisi, mereka memasihkan
kata cinta dengan bunga di tangan sebelah, tangan
satunya menikam dan menjerumuskan ke dalam
jurang kerusakan moral. Betul, tidak semua hal yang bersumber dari Barat
berakibat buruk. Namun, dalam hal perayaan hari
Valentine’s ini jelas-jelas buruk dan merusak
generasi muda. Ada dua hal yang menandai keburukan hari ini. Pertama, kaburnya sumber perayaan itu sehingga tidak laik umat Islam untuk ikut merayakannya. Kedua, umumnya, perayaan Valentine’s dilakukan dengan pasangan alias kekasih atau pacar yang jelas
ditentang dalam agama kita. Ketika telah
bersinggungan dengan pacaran, tak pelak akan
menyeret pada perbuatan yang tidak semestinya,
gaul bebas, hubungan intim, dan sebagainya. Setahun silam, berita memiriskan datang dari Kediri,
Jawa Timur tahun lalu. Di kota tersebut dan mungkin
di kota-kota lainnya, penjualan kondom mengalami
peningkatan tajam menjelang tanggal 14 Februari.
Kondom tersebut didistribusikan ke hotel-hotel sekitar
untuk melayani permintaan dari penyewa kamar hotel. Bagaimana dengan tahun sekarang ini? Terjadinya kasus seperti di atas tak lain karena
pemahaman remaja yang menyimpang dalam
mengartikan hari kasih sayang. Anggapan sementara
sebagian para remaja, hari kasih sayang adalah hari
bercinta, bercumbu, memberikan seluruh raga
kepada sang kekasih, meskipun belum ada ikatan suci yaitu pernikahan. Ketika hari Valentine’s tiba, mereka meninggalkan
orangtua mereka dengan pacar-pacar mereka, pergi
ke tempat wisata atau sekedar pergi ke hotel-hotel
kelas melati. Parahnya lagi, hotel pun sudah siap
memfasilitasi perbuatan-perbuatan mesum mereka
dengan menyediakan stok kondom yang mencukupi. Sayangnya banyak para remaja kita yang justru
mengimitasinya. Keikutsertaan ini tidak dibersamai
tindakan reflektif yang mencerminkan akibat dan
dampak dari apa yang mereka lakukan. Seakan,
membuktikan cinta itu hanya ada di hari yang satu ini,
bahwa ia mencintai setulus hati, dengan beragam tanda-tanda yang menyertainya sebagai penguat
ungkapan cintanya. Tidak sedikit di antaranya, dari
kata-kata menuju “tindakan” yang seharusnya
baru dilakukan oleh pasangan yang telah sah menjadi
suami-istri. Padahal, Allah telah menjelaskan dalam al-Qur`an
perihal para “pembebek” suatu perbuatan tanpa
dasar ilmu. َّﻥِﺇ ٌﻢْﻠِﻋ ِﻪِﺑ َﻚَﻟ َﺲْﻴَﻟ ﺎَﻣ ُﻒْﻘَﺗ َﻻَﻭ
ُّﻞُﻛ َﺩﺍَﺆُﻔْﻟﺍَﻭ َﺮَﺼَﺒْﻟﺍَﻭ َﻊْﻤَّﺴﻟﺍ
ﻝﻭُﺆْﺴَﻣ ُﻪْﻨَﻋ َﻥﺎَﻛ َﻚِﺌـﻟﻭُﺃ “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu
tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati,
semuanya itu akan diminta pertanggungan
jawabnya.” (QS. Al-Israa [17]: 36). Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ) bersabda: “Kamu telah mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu
sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta,
sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang
biawak, kamu tetap mengikuti mereka.” Kami
bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah yang engkau
maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang- orang Nasrani?” Baginda bersabda: “Kalau bukan
mereka, siapa lagi? (HR. Bukhari Muslim). Lewat sabdanya, Nabi menunjukkan kekhawatiran
yang sangat atas nasib generasi sepeninggalnya yang
melepaskan atribut dan identitas keislamannya
dengan mengikuti tradisi dan budaya yang
bertentangan dengan Islam itu sendiri. Kebodohan
menjadi penyebab utama di balik sikap mengekor budaya ‘orang lain’ tanpa menimbang
dampaknya. Tiga Dampak V-Day Dalam Islam, konsep cinta telah diletakkan pada
tempat yang semestinya, tidak menyimpang dari
naluri manusia itu sendiri, juga selaras dengan titian
ilahi sebagai nilai-nilai moralnya. Menjadi seorang
muslim itu berbeda. Kita tidak butuh cinta semu
berbalut nafsu atas nama maksiat. Kita butuh bukti bukan janji. Kita tidak butuh slogan-slogan cinta bila
faktanya tak ada. Cinta dan kasih sayang yang diobral, ibarat baju yang
diobral seribu tiga. Cinta dan kasih sayang itu jadi
murahan dan kehilangan nilai serta rasanya. Cinta
dalam Islam diperlakukan dengan agung. Cara
memperoleh pasangan juga sudah diatur sedemikian
rupa agar tidak melanggar harkat dan martabat manusia sebagai manusia. Harga diri masing-masing
individu juga dijaga, bukan untuk diobral yang dapat
menimbulkan fitnah. Sementara, Valentine`s Day akan memunculkan dan
membentuk pola perilaku tercela.
Pertama, munculnya akhlak tasyabbuh yaitu akhlak
yang meniru orang lain tanpa mengetahui ihwal
dilakukannya hari V-Day tersebut. Dengan meniru dan
merayakan praktek kasih sayang yang tidak benar itu, membuat keluhuran kasih sayang dalam Islam,
perlahan tapi pasti, menjadi pudar, tak lagi populer,
dan pada akhirnya dapat punah ditelan masa. Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ) telah memagari umat dengan sabdanya, “Barangsiapa meniru suatu
kaum, maka ia termasuk kaum tersebut.” (HR.
Tirmidzi). Kedua, dengan meniru orang lain menunjukkan
ketidakberdayaan umat Islam yang pada gilirannya
akan meninggalkan ciri-ciri ketinggian nilai Islam,
menanggalkan identitas keislaman. Pada akhirnya,
membuat umat Islam berperilaku mengikuti trend
yang sedang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Dengan mengikuti V-Day, bukan saja mengikuti pesta
untuk menyatakan kasih sayang namun juga
mengikutsertakan seks bebas, fashion, pakaian
minim, dansa dansi, dan mengumbar nafsu lainnya. Ketiga, V-Day secara tidak langsung memberi
keuntungan kepada pihak kapitalis dan menjadikan
umat Islam sebagai konsumennya. Mereka yang
membuat, memproduksi barang untuk kepentingan
perayaan, sementara pembelinya adalah umat Islam. Karenanya, sikap kita mestilah berbanding lurus
dengan sikap yang mencerminkan jati diri seorang
muslim. Perayaan hari kasih sayang atau V-Day tidak
lebih sekedar upaya peringatan kematian seorang
pendeta yang dipandang sebagai ‘martir’ cinta.
Berbicara tentang cinta dan kasih sayang, Islam tidak kehabisan bahan untuk itu. Terlebih salah satu
pondasi berdiri tegaknya ajaran Islam karena
Rahmatan lil Alamin yang salah satunya
memprioritaskan hak (cinta) kepada Allah dari yang
lain. Hanya saja, alih-alih menjajal cinta kepada Allah
justru cinta kepada sesama manusia sering
disalahtafsirkan dengan berpacaran, ber-kholwah
(berdua-duaan) di tempat-tempat ramai atau sepi,
melakukan hubungan biologis pra-nikah. Akibat dari
peringatan V-Day ini lahirlah anak-anak tanpa bapak disertai merajalelanya aborsi. V-Day adalah bencana budaya buat kita semua.
Peringatan V-Day sudah waktunya kita eliminasi lalu
kita jadikan sebagai monumen kecelakaan sejarah
yang tidak perlu ditangisi apalagi diikuti. Peringatan
ini, sekaligus untuk para orangtua yang memiliki anak
remaja.* Penulis adalah Staf Pengajar di Ponpes. Darut Tauhid,
Malang-Jawa Timur

sumber: hidayatullah /@cwi

selengkapnya...

Gabung bersama kami

About Me

admin jg menerima pelayanan jasa

admin jg menerima pelayanan jasa
Jasa arsitek rumah; desain arsitek / desain rumah, gambar denah rumah, bangun rumah baru, renovasi rumah dan pembangunan mesjid, mushola, ruko, disaign taman, dll. klik gambar utk kontak personal.

Syiar Islam On Twitter

Site info

Kalkulator Zakat Fitrah

  © Syiar islam Intisari Muslim by Dede Suhaya (@putra_f4jar) 2015

Back to TOP  

Share |