Islam dan “Bencana” Valentine’s Day

SEPERTI tahun-tahun sebelumnya, peringatan Valentine`s Day (V-Day)
akan kembali banyak dirayakan oleh banyak
remaja. Mall-mall dan pusat perbelanjaan tidak
mau kalah start, turut bersolek menampilkan
atribut dan dekorasi yang menandai datangnya
“hari cinta” dengan menghadirkan aksesoris seperti bunga mawar merah, lambang love,
bahkan memberikan potongan harga besar-
besaran demi menyambutnya. Dalam banyak catatan sejarah, V-Day merupakan
warisan paganisme (Dewa-Dewi) zaman Romawi
kuno. Mereka meyakini pertengahan bulan
Februari merupakan bulan cinta dan kesuburan.
Kepercayaan ini kemudian diwarnai oleh kaum
Kristen Katolik Roma dengan nuansa Kristiani. Salah satu bentuk ‘akuisisi’ atas mitos paganisme ini
adalah dengan mengganti nama anak-anak gadis
mereka dengan nama Paus atau Pastor dan
mendapat dukungan Kaisar Konstantine dan Paus
Gregory I. Seiring berjalannya waktu, ketika Kaum Barat
berhasil melakukan simbolisasi terhadap tokoh
Valentino, ditunjang pula dengan penguasaan media
dan informasi, sejak saat itu V-Day menyebar ke
seluruh penjuru dunia. Ia menjadi ajang menyatakan
“cinta dan kasih sayang” kepada pasangan. Kekuatan media dimanfaatkan betul untuk
memborbardir massa tentang personalisasi Valentino
sebagai tokoh yang layak dikenang sepanjang masa
oleh siapa saja yang berjuang demi “cinta.” Betulkah propaganda mereka tentang cinta itu? Tidak

usah jauh-jauh, lihatlah ke sebelah Timur. Iraq porak-
poranda akibat gempuran tentara Salibis, Muslimah-
nya diperkosa oleh tentara-tentara hidung belang,
orangtua dan anak-anak menjadi korban pembantain,
ribuan lainnya terpaksa menjadi pengungsi di negeri sendiri. Betulkah cinta yang mereka ekspor ke generasi ini?
Lihatlah, angka perceraian yang tinggi, anak-anak
menjadi rusak karena keluarga broken home,
prostitusi yang merajelela bahkan dilegalkan oleh
negara, aborsi, orangtua dititipkan dip anti jompo.
Inikah cinta yang mereka pekikkan? Bandingkan dengan titian cinta nabi kepada kita,
umatnya. Di kala Thaif dan Uhud menjadi hari-hari
terberat sang Nabi. Pengorbanannya bagi umat tiada
berbanding. Teguh terhadap dakwah mewarnai hari-
hari Rasul akhir zaman ini. Kecemasannya pada nasib
umat selalu mengemuka. Ia adalah Rasul yang penuh cinta kepada umatnya. Cinta itu berbalas, generasi
sahabat (generasi pertama) adalah generasi yang
juga sangat mencintainya. Sesungguhnya, V-Day tidak lain merupakan wajah
buruk budaya Barat. Di satu sisi, mereka memasihkan
kata cinta dengan bunga di tangan sebelah, tangan
satunya menikam dan menjerumuskan ke dalam
jurang kerusakan moral. Betul, tidak semua hal yang bersumber dari Barat
berakibat buruk. Namun, dalam hal perayaan hari
Valentine’s ini jelas-jelas buruk dan merusak
generasi muda. Ada dua hal yang menandai keburukan hari ini. Pertama, kaburnya sumber perayaan itu sehingga tidak laik umat Islam untuk ikut merayakannya. Kedua, umumnya, perayaan Valentine’s dilakukan dengan pasangan alias kekasih atau pacar yang jelas
ditentang dalam agama kita. Ketika telah
bersinggungan dengan pacaran, tak pelak akan
menyeret pada perbuatan yang tidak semestinya,
gaul bebas, hubungan intim, dan sebagainya. Setahun silam, berita memiriskan datang dari Kediri,
Jawa Timur tahun lalu. Di kota tersebut dan mungkin
di kota-kota lainnya, penjualan kondom mengalami
peningkatan tajam menjelang tanggal 14 Februari.
Kondom tersebut didistribusikan ke hotel-hotel sekitar
untuk melayani permintaan dari penyewa kamar hotel. Bagaimana dengan tahun sekarang ini? Terjadinya kasus seperti di atas tak lain karena
pemahaman remaja yang menyimpang dalam
mengartikan hari kasih sayang. Anggapan sementara
sebagian para remaja, hari kasih sayang adalah hari
bercinta, bercumbu, memberikan seluruh raga
kepada sang kekasih, meskipun belum ada ikatan suci yaitu pernikahan. Ketika hari Valentine’s tiba, mereka meninggalkan
orangtua mereka dengan pacar-pacar mereka, pergi
ke tempat wisata atau sekedar pergi ke hotel-hotel
kelas melati. Parahnya lagi, hotel pun sudah siap
memfasilitasi perbuatan-perbuatan mesum mereka
dengan menyediakan stok kondom yang mencukupi. Sayangnya banyak para remaja kita yang justru
mengimitasinya. Keikutsertaan ini tidak dibersamai
tindakan reflektif yang mencerminkan akibat dan
dampak dari apa yang mereka lakukan. Seakan,
membuktikan cinta itu hanya ada di hari yang satu ini,
bahwa ia mencintai setulus hati, dengan beragam tanda-tanda yang menyertainya sebagai penguat
ungkapan cintanya. Tidak sedikit di antaranya, dari
kata-kata menuju “tindakan” yang seharusnya
baru dilakukan oleh pasangan yang telah sah menjadi
suami-istri. Padahal, Allah telah menjelaskan dalam al-Qur`an
perihal para “pembebek” suatu perbuatan tanpa
dasar ilmu. َّﻥِﺇ ٌﻢْﻠِﻋ ِﻪِﺑ َﻚَﻟ َﺲْﻴَﻟ ﺎَﻣ ُﻒْﻘَﺗ َﻻَﻭ
ُّﻞُﻛ َﺩﺍَﺆُﻔْﻟﺍَﻭ َﺮَﺼَﺒْﻟﺍَﻭ َﻊْﻤَّﺴﻟﺍ
ﻝﻭُﺆْﺴَﻣ ُﻪْﻨَﻋ َﻥﺎَﻛ َﻚِﺌـﻟﻭُﺃ “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu
tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati,
semuanya itu akan diminta pertanggungan
jawabnya.” (QS. Al-Israa [17]: 36). Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ) bersabda: “Kamu telah mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu
sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta,
sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang
biawak, kamu tetap mengikuti mereka.” Kami
bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah yang engkau
maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang- orang Nasrani?” Baginda bersabda: “Kalau bukan
mereka, siapa lagi? (HR. Bukhari Muslim). Lewat sabdanya, Nabi menunjukkan kekhawatiran
yang sangat atas nasib generasi sepeninggalnya yang
melepaskan atribut dan identitas keislamannya
dengan mengikuti tradisi dan budaya yang
bertentangan dengan Islam itu sendiri. Kebodohan
menjadi penyebab utama di balik sikap mengekor budaya ‘orang lain’ tanpa menimbang
dampaknya. Tiga Dampak V-Day Dalam Islam, konsep cinta telah diletakkan pada
tempat yang semestinya, tidak menyimpang dari
naluri manusia itu sendiri, juga selaras dengan titian
ilahi sebagai nilai-nilai moralnya. Menjadi seorang
muslim itu berbeda. Kita tidak butuh cinta semu
berbalut nafsu atas nama maksiat. Kita butuh bukti bukan janji. Kita tidak butuh slogan-slogan cinta bila
faktanya tak ada. Cinta dan kasih sayang yang diobral, ibarat baju yang
diobral seribu tiga. Cinta dan kasih sayang itu jadi
murahan dan kehilangan nilai serta rasanya. Cinta
dalam Islam diperlakukan dengan agung. Cara
memperoleh pasangan juga sudah diatur sedemikian
rupa agar tidak melanggar harkat dan martabat manusia sebagai manusia. Harga diri masing-masing
individu juga dijaga, bukan untuk diobral yang dapat
menimbulkan fitnah. Sementara, Valentine`s Day akan memunculkan dan
membentuk pola perilaku tercela.
Pertama, munculnya akhlak tasyabbuh yaitu akhlak
yang meniru orang lain tanpa mengetahui ihwal
dilakukannya hari V-Day tersebut. Dengan meniru dan
merayakan praktek kasih sayang yang tidak benar itu, membuat keluhuran kasih sayang dalam Islam,
perlahan tapi pasti, menjadi pudar, tak lagi populer,
dan pada akhirnya dapat punah ditelan masa. Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ) telah memagari umat dengan sabdanya, “Barangsiapa meniru suatu
kaum, maka ia termasuk kaum tersebut.” (HR.
Tirmidzi). Kedua, dengan meniru orang lain menunjukkan
ketidakberdayaan umat Islam yang pada gilirannya
akan meninggalkan ciri-ciri ketinggian nilai Islam,
menanggalkan identitas keislaman. Pada akhirnya,
membuat umat Islam berperilaku mengikuti trend
yang sedang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Dengan mengikuti V-Day, bukan saja mengikuti pesta
untuk menyatakan kasih sayang namun juga
mengikutsertakan seks bebas, fashion, pakaian
minim, dansa dansi, dan mengumbar nafsu lainnya. Ketiga, V-Day secara tidak langsung memberi
keuntungan kepada pihak kapitalis dan menjadikan
umat Islam sebagai konsumennya. Mereka yang
membuat, memproduksi barang untuk kepentingan
perayaan, sementara pembelinya adalah umat Islam. Karenanya, sikap kita mestilah berbanding lurus
dengan sikap yang mencerminkan jati diri seorang
muslim. Perayaan hari kasih sayang atau V-Day tidak
lebih sekedar upaya peringatan kematian seorang
pendeta yang dipandang sebagai ‘martir’ cinta.
Berbicara tentang cinta dan kasih sayang, Islam tidak kehabisan bahan untuk itu. Terlebih salah satu
pondasi berdiri tegaknya ajaran Islam karena
Rahmatan lil Alamin yang salah satunya
memprioritaskan hak (cinta) kepada Allah dari yang
lain. Hanya saja, alih-alih menjajal cinta kepada Allah
justru cinta kepada sesama manusia sering
disalahtafsirkan dengan berpacaran, ber-kholwah
(berdua-duaan) di tempat-tempat ramai atau sepi,
melakukan hubungan biologis pra-nikah. Akibat dari
peringatan V-Day ini lahirlah anak-anak tanpa bapak disertai merajalelanya aborsi. V-Day adalah bencana budaya buat kita semua.
Peringatan V-Day sudah waktunya kita eliminasi lalu
kita jadikan sebagai monumen kecelakaan sejarah
yang tidak perlu ditangisi apalagi diikuti. Peringatan
ini, sekaligus untuk para orangtua yang memiliki anak
remaja.* Penulis adalah Staf Pengajar di Ponpes. Darut Tauhid,
Malang-Jawa Timur

sumber: hidayatullah /@cwi

selengkapnya...

Wanita Dulu Dan Sekarang

– Allah SWT menciptakan makhuknya berpasang-pasangan. Di antara
makhluknya yang paling indah dan sempurna adalah
manusia. Allah SWT juga telah menurunkan
petunjuknya yang paling sempurna. Sehingga, bila
manusia menerima dan mengamalkan petunjuk itu,
betapa indahnya manusia itu. Sebaliknya, bila ia menolaknya, betapa rendah dan jeleknya manusia itu,
bahkan Al-Qur’an menyebutnya lebih hina dari
binatang. Allah SWT menjadikan keindahan ada dalam wanita
meskipun pada hakikatnya antara pria dan wanita
sama di hadapan Allah SWT. Hanya saja, Allah
menjadikan keindahan itu ada pada wanita karena
kelembutan, kasih sayang, dan emosinya yang lebih
daripada kaum pria. Betapa indahnya sang wanita jika dihiasi dengan syariat Allah. Ia menjadi anak
yang taat kepada Allah dan kedua orang tuanya. Jika
ia menikah, ia menjadi penyayang bagi suaminya. Jika
ia menjadi ibu, ia menyayangi dan mendidik anak-
anaknya dengan sebaik mungkin. Dari wanita
shalehah seperti inilah lahir pejuang-pejuang yang tangguh dan pemimpin yang bijaksana. Perhatikan
keadaan wanita pada masa Rasulullah saw. dengan
generasi salafus saleh sesudahnya. Mereka, kaum
wanita itu, ada di balik segala keberhasilan dan
kecemerlangan peradaban Islam. Apakah wanita
dewasa ini bisa mengikuti jejak para pendahulunya? Marilah kita lihat kenyataannya. Wanita dalam Al-Qur’an Di dalam Al-Qur’an terdapat 114 surah. Di dalamnya
tidak ada satu pun surah tentang pria (ar-rijal), tapi
menariknya ada surah tentang wanita (An-Nisaa’),
bahkan lebih spesifik ada surah Maryam, meskipun
dia bukan nabi. Umar ra. memerintahkan kepada
wanita untuk mempelajari surah An-Nuur (cahaya) karena di dalamnya mengandung pelajaran bagi
kaum wanita agar lebih bercahaya. Keberadaan
kaum wanita sama dengan kaum pria di hadapan
Allah. Allah SWT berfirman (yang artinya), “Maka, Rabb
mereka memperkenankan permohonannya (dengan
berfirman): ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-
nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara
kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena)
sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain …’.” (Ali Imran, 3: 195). “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik
laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan
beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan
kepadanya kehidupan yang baik …” (An-Nahl: 97). Keberadaan wanita sebagaimana pria dalam
kehidupan ini mengalami ujian yang bermacam-
macam. Namun, mereka harus tetap tegar dan
shalehah seperti yang dicontohkan Al-Qur’an
dengan Asiyah, istri Fira’un yang sabar dalam
menghadapi ujian dari suaminya, atau seperti Maryam yang tabah menghadapi ujian hidup tanpa
suami. (Lihat At-Tahrim 11-12). Sebaliknya, jangan
seperti istri Nabi Nuh a.s. dan Nabi Luth a.s. yang
berkhianat terhadap suaminya dan tidak taat kepada
Allah. (At-Tahriim: 10). Wanita pada Masa Rasulullah Rata-rata kaum wanita pada masa Rasulullah saw.
tidak ketinggalan ikut berlomba meraih kebaikan,
meskipun mereka juga sibuk sebagai ibu rumah
tangga. Mereka ikut belajar dan bertanya kepada
Rasulullah saw. Wanita yang paling setia kepada Rasulullah adalah
Khadijah yang telah berkorban dengan jiwa dan
hartanya. Kemudian Aisyah, yang banyak belajar dari
Rasulullah kemudian mengajarkannya kepada kaum
wanita dan pria. Bahkan, ada pendapat ulama yang
mengatakan, seandainya ilmu seluruh wanita dikumpulkan dibanding ilmu Aisyah, maka ilmu
Aisyah akan lebih banyak. Begitulah Rasulullah saw.
memuji Aisyah. Ada seorang wanita bernama Asma binti Sakan. Dia
suka hadir dalam pengajian Rasulullah saw. Pada
suatu hari dia bertanya kepada Rasulullah,”Ya
Rasulullah saw., engkau diutus Allah kepada kaum
pria dan wanita, tapi mengapa banyak ajaran syariat
lebih banyak untuk kaum pria? Kami pun ingin seperti mereka. Kaum pria diwajibkan shalat Jum’at,
sedangkan kami tidak; mereka mengantar jenazah,
sementara kami tidak; mereka diwajibkan berjihad,
sedangkan kami tidak. Bahkan, kami mengurusi
rumah, harta, dan anak mereka. Kami ingin seperti
mereka. Maka, Rasulullah saw. menoleh kepada sahabatnya sambil berkata, “Tidak pernah aku
mendapat pertanyaan sebaik pertanyaan wanita ini.
Wahai Asma, sampaikan kepada seluruh wanita di
belakangmu, jika kalian berbakti kepada suami kalian
dan bertanggung jawab dalam keluarga kalian, maka
kalian akan mendapatkan pahala yang diperoleh kaum pria tadi.” (HR Ibnu Abdil Bar). Dalam riwayat Imam Ahmad, Asma meriwayatkan bahwa suatu kali dia berada dekat Rasulullah saw. Di
sekitar Rasulullah berkumpullah kaum pria dan juga
kaum wanita. Maka beliau bersabda, “Bisa jadi ada
orang laki-laki bertanya tentang hubungan seseorang
dengan istrinya atau seorang wanita menceritakan
hubungannya dengan sumianya.” Maka tak seorang pun yang berani bicara, maka saya angkat suara.
“Benar ya Rasulullah, ada pria atau wanita yang
suka menceritakan hal pribadi itu.” Rasulullah
menimpali, “Jangan kalian lakukan itu, karena itu
jebakan syaitan seakan syaitan pria bertemu dengan
syaitan wanita, kemudian berselingkuh dan manusia pada melihatnya.” Ada juga wanita yang tabah dalam kehidupan rumah
tangga yang serba pas-pasan tapi tidak pernah
mengeluh seperti Asma’ binti Abi Bakar dan
Fatimah. Kutub Tarajim membenarkan cerita tentang
Fatimah. “Suatu saat dia tidak makan berhari-hari
karena nggak ada makanan, sehingga suaminya, Ali bin Abi Thalib, melihat mukanya pucat dan
bertanya,”Mengapa engkau ini, wahai Fatimah, kok
kelihatan pucat?” Dia menjawab,”Saya sudah tiga hari belum makan,
karena tidak ada makanan di rumah.” Ali menimpali,”Mengapa engkau tidak bilang
kepadaku?” Dia menjawab,”Ayahku, Rasulullah saw.,
menasehatiku di malam pengantin, jika Ali membawa
makanan, maka makanlah. Bila tidak, maka kamu
jangan meminta.” Luar biasa bukan? Ada juga wanita yang diuji dengan penyakit, sehingga
dia datang kepada Rasulullah saw. meminta untuk
didoakan. Atha’ bin Abi Rabah bercerita bahwa Ibnu
Abbas r.a. berkata kepadaku,”Maukah aku
tunjukkan kepadamu wanita surga?” Aku menjawab,”Ya.” Dia melanjutkan,”Ini wanita hitam yang datang ke
Rasulullah saw. mengadu, ‘Saya terserang epilepsi
dan auratku terbuka, maka doakanlah saya.’
Rasulullah saw. bersabda, “Jika kamu sabar, itu lebih
baik, kamu dapat surga. Atau, kalau kamu mau, saya
berdoa kepada Allah agar kamu sembuh.” Wanita itu berkata,”Kalau begitu saya sabar, hanya
saja auratku suka tersingkap. Doakan supaya tidak
tersingkap auratku.” Maka, Rasulullah saw. mendoakannya. Ada juga wanita yang ikut berperang seperti Nasibah
binti Kaab yang dikenal dengan Ummu Imarah. Dia
becerita,”Pada Perang Uhud, sambil membawa air
aku keluar agak siang dan melihat para mujahidin,
sampai aku menemukan Rasulullah saw. Sementara,
aku melihat pasukan Islam kocar-kacir. Maka, aku mendekati Rasulullah sambil ikut berperang
membentengi beliau dengan pedang dan terkadang
aku memanah. Aku pun terluka, tapi manakala
Rasulullah saw. terpojok dan Ibnu Qamiah ingin
membunuhnya, aku membentengi beliau bersama
Mush’ab bin Umair. Aku berusaha memukul dia dengan pedangku, tapi dia memakai pelindung besi
dan dia dapat memukul pundakku sampai terluka.
Rasulullah saw. bercerita,”Setiap kali aku melihat
kanan kiriku, kudapati Ummu Imarah membentengiku
pada Perang Uhud.” Begitu tangguhnya Ummu
Imarah. Ada juga Khansa yang merelakan empat anaknya
mati syahid. Ia berkata,”Alhamdulillah yang telah
menjadikan anak-anakku mati syahid.” Begitulah peranan wanita pada masa Rasulullah saw.
Mereka berpikir untuk akhiratnya, sedang wanita
sekarang yang lebih banyak memikirkan dunia,
rumah tinggal, makanan, minuman, kendaraan, dan
lain-lain. Kaum Wanita paa Masa Berikutnya Ketika Utsman bin Affan mengerahkan pasukan
melawan manuver-manuver Romawi, komandan
diserahkan kepada Hubaib bin Maslamah al-Fikir. Istri
Hubaib termasuk pasukan yang akan berangkat
perang. Sebelum perang dimulai, Hubaib memeriksa
kesiapan pasukan. Tiba-tiba istrinya bertanya,”Di mana saya
menjumpai Anda ketika perang sedang
berkecamuk?” Dia menjawab,”Di kemah komandan Romawi atau di
surga.” Ketika perang sedang berkecamuk, Hubaib berperang
dengan penuh keberanian sampai mendapatkan
kemenangan. Segera dia menuju ke kemah
komandan Romawi menunggui istrinya. Yang
menakjubkan, saat Hubaib sampai ke tenda itu, dia
mendapatkan istrinya sudah mendahuluinya. Allahu Akbar. Pada masa Dinasti Abbasiyah yang dipimipin oleh
Harun al-Rasyid, ada seorang Muslimah disandera
oleh tentara Romawi. Maka, seorang ulama bernama
Al-Manshur bin Ammar mendorong umat Islam untuk
berjihad di dekat istana Harun al-Rasyid dan dia pun
menyaksikan ceramahnya. Tiba-tiba ada kiriman bungkusan disertai dengan surat. Surat itu lalu dibuka
dan dibaca oleh ulama tadi dan ternyata berasal dari
seorang perempuan dan berbunyi,”Aku mendengar
tentara Romawi melecehkan wanita Muslimah dan
engkau mendorong umat Islam untuk berjihad, maka
aku persembahkan yang paling berharga dalam diriku. Yaitu, seuntai rambutku yang aku kirimkan
dalam bungkusan itu. Dan, aku memohon agar rambut
itu dijadikan tali penarik kuda di jalan Allah agar aku
dapat nantinya dilihat Allah dan mendapatkan
rahmatnya.” Maka, ulama itu menangis dan seluruh
hadirin ikut menangis. Harun al-Rasyid kemudian memutuskan mengirim pasukan untuk membebaskan
wanita Muslimah yang disandera itu. Seorang istri Shaleh bin Yahya ditinggal suaminya dan
hidup bersama dua anaknya. Ia mendidik anak-
anaknya dengan ibadah dan qiyamul lail (shalat
malam). Ketika anak-anaknya semakin besar, dia
berkata,”Anak-anakku, mulai malam ini tidak boleh
satu malam pun yang terlewat di rumah ini tanpa ada yang shalat qiyamullail.” “Apa maksud ibu?” tanya mereka. Ibu menjawab,”Begini, kita bagi malam menjadi tiga
dan kita masing-masing mendapat bagian sepertiga.
Kalian berdua, dua pertiga, dan saya sepertiga yang
terakhir. Ketika waktu sudah mendekati subuh, saya
akan bangunkan kalian.” Ternyata kebiasan ini berlanjut sampai ibu mereka
meninggal. Dan amalan itu tetap dilanjutkan oleh dua
anak itu karena mereka sudah merasakan nikmatnya
qiyamullalil. Wanita Dewasa Ini Kalau kita perhatikan perkembangan wanita dewasa
ini, memang cukup mengkhawatirkan, meskipun di
lain pihak masih banyak kaum wanita berjilbab yang
semarak. Bahkan, pengajian-pengajian justru dipenuhi
oleh kaum wanita. Tapi, melihat berbagai upaya
musuh Islam untuk menghancurkan kaum hawa dengan berbagai cara melalui media massa
yangdestruktif (merusak), maka tantangannya
semakin berat. Kalau tidak berbekal ilmu agama yang
cukup dan disertai semangat juang yang tinggi,
niscaya wanita pada zaman sekarang sulit untuk
selamat. Bayangkan, kehidupan masyarakat di sekeliling kita sampai pergaulan di tingkat nasional
dan internasional sudah sangat bejat. Kebejatan itu
diliput dan disampaikan ke rumah-rumah kita melalui
saluran-saluran TV. Dan, yang tidak puas ditambah
dengan VCD dan internet. Sehingga, waktu untuk
beribadah kepada Allah semakin terpinggirkan atau tergeser oleh otak yang merekam semua adegan itu. Sementara, penangkalnya relatif kecil, dengan cara
tradisional melalui pengajian minimal seminggu
sekali. Maka, kita perlu kunci-kunci keselamatan.

sumber: Muslimahzone.com /@cwi

selengkapnya...

Pengorbanan Cinta Salman Al-Farisi radhiallahu ‘anhu


Muslimahzone.com – Alangkah bahagianya bila kita dapat menikahi seseorang yang kita cintai.
Namun, bagaimana bila seseorang yang kita cintai
pada takdir yang ditetapkan-Nya harus menikah
dengan orang lain atau bahkan sahabat kita sendiri.
Hal ini bukan cerita dongeng, pengorbanan demikian
pernah dialami oleh salah seorang sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, ia adalah Salman Al-
Farisi radhiallahu ‘anhu. Cintanya harus dikorbankan
untuk saudaranya yang ia cintai karena Allah. *** Salman al-Farisi pada awal hidupnya adalah seorang
bangsawan dari Persia, sebagai seorang Persia ia
menganut agama Majusi, tapi ia tidak merasa nyaman
dengan agamanya. Kemudian ia mengalami
pergolakan batin untuk mencari agama yang dapat
menentramkan hatinya. Pencarian agamanya membawa hingga ke jazirah Arab dan akhirnya
memeluk agama Islam. Ia menjadi pahlawan dengan ide membuat parit
dalam upaya melindungi kota Madinah dalam
pertempuran khandaq.
Setelah meninggalnya Nabi
Muhammad, ia dikirim untuk menjadi gubernur di
daerah kelahirannya, hingga ia wafat. Salman
termasuk sahabat nabi yang dekat bahkan ada sebuah riwayat Rasulullah saw menyatakan,
“Salman termasuk keluraga bagi kami.” Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah.
Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai
wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil
tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih.
Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa
tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci. Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah
bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah
tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat,
rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu
dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis
pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab
dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam
khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu
kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan
dengannya, Abud Darda’. ”Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud
Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia
dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa
cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju
sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah.
Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa. ”Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara
saya Salman seorang Persia. Allah telah
memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah
memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia
memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah
Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya
datang untuk mewakili saudara saya ini melamar
putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud
Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling
murni. ”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah,
”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang
mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini
bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang
utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya
serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri
menanti dengan segala debar hati. ”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata
suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara
mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua
yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah
saya menjawab bahwa puteri kami menolak
pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka
puteri kami telah menyiapkan jawaban
mengiyakan.” Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan,
ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik
kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu
mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan
indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan
sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan
sebentuk malu yang membuncah dan bertemu
dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang
belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya.
Mari kita dengar ia bicara. ”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan
nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan
pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi
pernikahan kalian!” teman baik ku dunia akhirat.
Dan aku akan menjadi saksi pernikahan bersejarah
kalian!” air mata kasih dan syukur membening suasana redup di suatu petang itu. /@cwi

selengkapnya...

Gabung bersama kami

About Me

admin jg menerima pelayanan jasa

admin jg menerima pelayanan jasa
Jasa arsitek rumah; desain arsitek / desain rumah, gambar denah rumah, bangun rumah baru, renovasi rumah dan pembangunan mesjid, mushola, ruko, disaign taman, dll. klik gambar utk kontak personal.

Syiar Islam On Twitter

Site info

Kalkulator Zakat Fitrah

  © Syiar islam Intisari Muslim by Dede Suhaya (@putra_f4jar) 2015

Back to TOP  

Share |