Doa Tidak Dikabulkan Mungkin Ini Sebabnya

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد : Allah telah menjanjikan bahwa Dia selalu akan mengkabulkan doa seorang mukmin yang berdoa kepada-Nya dan menetapkan beberapa syarat agar doa tersebut dikabulkan. selain syarat-syarat yang harus dipenuhi, Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- juga telah memeringatkan ummatnya akan hal-hal yang dapat menahan doa kita dan menjadikannya tidak diterima dan tidak pula dikabulkan. Adapun hal-hal yang dapat menahan doa kita dan menjadikannya tidak dikabulkan adalah sebagai berikut : 1. Kurangnya adab dalam berdoa kepada Allah. maksudnya berdoa kepada Allah akan hal-hal yang sebenarnya Allah membencinya, seperti berdoa untuk memutus tali silaturahmi, atau perkara yang dilarang. Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda : لا يزال يستجاب للعبد ما لم يدع بإثم أو قطيعة رحم Artinya : "Doa seorang hamba akan selalu dikabulkan selama tidak berdoa untuk suatu yang berdosa atau untuk memutus tali silaturahmi." (HR Muslim) 2. Berdoa dengan berteriak keras-keras, dan dengan kata-kata yang kurang layak diucapkan kepada Allah. menangis ketika berdoa adalah diperbolehkan, akan tetapi berlebihan dalam menangis tidaklah baik. Allah berfirman : ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ Artinya : "Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS Al-A'raaf : 55) 3. Masuknya barang-barang yang haram kedalam rumah kita. seperti harta yang berasal dari pekerjaan haram, makanan dan minuman yang haram, atau barang-barang yang dibeli dengan uang haram. rumah, pakaian yang haram. dan juga pekerjaan yang haram. 4. Memakan makanan yang haram, meminum minuman yang haram, memakai pakaian yang haram, memakan harta haram bukan berarti menggunakan harta haram untuk makan saja, akan tetapi menggunakan untuk membeli barang-barang yang digunakan adalah termasuk memakan harta yang haram. Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda : إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ الطَّيِّبَ وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ قَالَ (يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ ، وَقَدْ غُذِّىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ Artinya : "Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. dan Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman sebagaimana yang diperintahkan kepada para rosul. beliau membaca, "Wahai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." dan membaca, "Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu." kemudian beliau menyebutkan seseorang yang bepergian jauh, kucel dan acak-acakan, mengetadahkan kedua tangannya ke langit dan berkata, "Ya Robb, ya Robb." sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan memakan barang yang haram, bagaimana mungkin akan dikabulkan?!" (HR Muslim) 5. Buru-buru agar doanya cepat dikabulkan. ini juga tidak baik, malahan ini termasuk yang menahan doa dan menyebabkan tidak dikabulkan. biasanya orang mengatakan, "saya sudah sering berdoa, tapi tidak dikabulkan juga." kata-kata inilah yang dimaksud buru-buru dalam doa. Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda : يستجاب لأحدكم ما لم يعجل ، يقول دعوت فلم يستجب لي Artinya : "Akan dikabulkan doa seseorang jika tidak buru-buru, berkata : saya telah berdoa tapi belum dikabulkan juga." (HR Bukhori dan Muslim) 6. Menggantungkan dalam berdoa, seperti perkataan, "Ya Allah, ampunilah hamba jika Engkau berkehendak." atau "rahmatilah hamba jika Engkau mau." karena doa adalah pengharapan, permintaan yang ingin dikabulkan. jadi harus dengan kata-kata yang menunjukkan keyakinan tersebut. Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda : لا يقولن أحدكم اللهم اغفر لي إن شئت اللهم ارحمني إن شئت ، ليعزم المسألة فإنه لا مستكره له Artinya : "Jangan salah seorang diantara kalian mengatakan (dalam doanya) : Ya Allah, ampunilah hamba jika Engkau mau. ya Allah, rahmatilah hamba jika Engkau mau. agar menunjukkan keyakinan dalam doanya karena tidak ada yang memaksanya (untuk berdoa)." (HR Bukhori dan Muslim) Tidak harus seseorang melakukan semua hal ini dan menyebabkan doanya tidak dikabulkan, akan tetapi cukup melakukan satu saja diantara 6 hal diatas, maka doanya tidak akan dikabulkan. Sudahkah kita mengoreksi diri akan cara kita berdoa? bagaimana kita berdoa? kata-kata apa yang kita ucapkan? dan yang paling penting, keyakinan apa yang kita yakinin akan doa kita? kita harus luruskan kembali hal-hal yang masih bengkok dalam diri kita agar termasuk orang-orang dicintai Allah dan dikabulkan doanya. Read more: http://www.artikelislami.com/2011/07/doa-tidak-dikabulkan-mungkin-ini.html#ixzz1iabxZOsU /@cwi

selengkapnya...

Tawakal Saja Biar Allah yang Menyegerakannya

Oleh: Shita Ismaida
Ilustrasi (Erina Prima)
 Ada serumput bahagia menghempas jiwa, ada kesejukan mengalir tenang membasahi hati dalam raga, ada bias-bias cahaya yang terus memancar terang untuk memapah tiap langkah agar dapat berjalan. Sejenak merenung, ada banyak permohonan yang hampir tak pernah putus terpanjatkan kepadaNya, namun…hingga sekarang belum juga terwujud. Ada banyak permintaan yang terucap kepadaNya, namun hingga detik ini belum juga terpenuhi. Mungkin, saya pernah merasakan lidah yang hampir kelu karena terus bermunajat namun belum juga terijabah, atau kelelahan batin yang begitu meletihkan karena doa yang hampir selalu terucapkan, namun belum juga terjawab. Sungguh, tiap-tiap bait dalam doa yang terucapkan bagi saya itu adalah energi yang membentuk ketahanan kita dalam menghadapi ujian hidup. Ia adalah senjata, karena dengannya kita mendapat bantuan dari yang Maha Kuat. Ya…kekuatan iman kita justru akan semakin tampak tatkala kita berupaya sekuat tenaga dan terus menerus memanjatkan doa, namun kita belum juga merasakan perubahan.
Kembali teringat akan sebuah kutipan kata yang begitu membekas dan mengena di hati “Iman seorang mukmin akan tampak di saat ia menghadapi ujian. Di saat ia tetap totalitas dalam berdoa tapi ia belum juga melihat pengaruh apapun dari doanya. Ketika, ia tetap tidak merubah keinginan dan harapannya, meski sebab-sebab berputus asa semakin kuat. Itu semua dilakukan karena ia yakin bahwa hanya Allah saja yang paling tahu apa yang lebih maslahat untuk dirinya.” Hampir sama kondisinya dengan orang yang menaiki gunung tinggi. Ia dianjurkan untuk tidak terlalu sering melemparkan pandangannya ke atas gunung yang harus ia daki, karena bisa memunculkan ketidakpercayaan diri dan membebani langkahnya untuk terus mendaki. Tapi, ketika ia turun dari tempat yang tinggi, ia juga dianjurkan untuk tidak terlalu sering melihat jauh ke bawah. Karena jauhnya daratan yang ia lihat bisa menimbulkan kelemahan pada jiwa. Adalah suatu kefitrahan bila kita merasa resah atas tiap bait-bait doa yang belum terjawab. Tawakal saja…bila kita tak pernah berhenti berdoa, dalam tiap kesunyian kita terus mengiba dengan penuh harap dan cemas dalam doa. Bukankah orang-orang yang memohon dan menginginkan doanya segera terkabul, cepat terwujud adalah bukti dari kelemahan iman? “Sesungguhnya Allah tidak pernah mengabulkan doa dari hati yang lalai.” Akhirnya kita masih memiliki sumber kegembiraan sejati yaitu doa yang membuat keimanan kita semakin hari semakin kuat. Maka sekarang tawakal saja…biar Allah yang menyegerakannya, menyegerakan kita dalam kebaikan yang menghantarkan kita menuju keridhaanNya. Wallahu’alam Bish Showwab.. Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/09/12100/tawakal-saja-biar-allah-yang-menyegerakannya/#ixzz1iaX2WZpu /@cwi

selengkapnya...

Ada Apa dengan Ayat Kursi?



Oleh: H. Muhammad Widus Sempo, MA
Kirim Print
2
email
Ilustrasi (jualkhat.wordpress.com)
Firman Allah SWT:
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ ﴿٢٥٥﴾
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 255)
Sebelum terlalu jauh menelaah kandungan makna Ayat Kursi, hemat penulis, seyogianya menelusuri pemberitaan hadits tentang kemuliaannya.
Sabda Rasul SAW:
عَنْ أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ e: «يَا أَبَا الْمُنْذِرِ، أَتَدْرِى أَىُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟» قَالَ: قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: «يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِى أَىُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟». قَالَ: قُلْتُ: اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ. قَالَ: فَضَرَبَ فِى صَدْرِى، وَقَالَ «وَاللَّهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِر»[[1]].
“Ubayyi bin Ka’b berkata: Rasul Saw bersabda: (Wahai Abu al-Mundzir! Apakah Anda tahu ayat yang mana di kitab Allah SWT yang paling agung?). Aku menjawab: hanya Allah dan Rasul-Nya yang tahu. Dia kemudian berkata lagi: (Wahai Abu al-Mundzir! Apakah Anda tahu ayat yang mana di kitab Allah SWT yang paling agung?). Aku menjawab: اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ, maka beliau pun menepuk dadaku dan berkata: (semoga engkau mudah menimba ilmu dan kelak menjadi alim, wahai Abu al-Mundzir!)”[[2]]
Dan sabdanya:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ t: أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ e قَالَ: «سُوْرَةُ البَقَرَةِ فِيْهَا آَيَةٌ سَيِّدَةُ آَيِ الْقُرْآنِ، لاَ تُقْرَأُ فِيْ بَيْتٍ، وَفِيْهِ شَيْطَانٌ إِلاَّ خَرَجَ مِنْهُ: آيَةُ الكُرْسِيِّ».
“Abu Hurairah RA berkata: Rasul Saw bersabda: (di Surah Al-Baqarah terdapat ayat yang merupakan Sayyidah (ratu, miss universe) ayat-ayat Al-Qur’an, dia tidak dibaca di dalam sebuah rumah yang dihuni setan, kecuali setan tersebut keluar. Ayat itu adalah Ayat Kursi.)”[[3]]
Kedua periwayatan tersebut menggarisbawahi kemuliaan Ayat Kursi dengan memberi dua label kemuliaan: Pertama: ayat yang paling agung, dan kedua: Sayyidah ayat-ayat Al-Qur’an. Tentunya, ini mengundang tanya: “ada apa dengan Ayat Kursi? Makna apa yang dibiaskan ke alam kehidupan manusia sehingga dia mendapatkan kemuliaan seperti ini?”
Hemat penulis, Dia miss universe ayat-ayat Al-Qur’an karena mengoleksi makna ketauhidan yang sempurna. Di sana ada ketauhidan zat, nama dan sifat-sifat Allah SWT. Olehnya itu, bukan hal yang aneh jika di pentas ayat-ayat ketauhidan dia mendapatkan kehormatan dan keagungan. Dia telah mementaskan pesona makna-makna ketauhidan yang tidak ditemui pada ayat-ayat lain.
Telaah seperti ini telah disuarakan sejak dini oleh Imam al-Ghazali, beliau berkata:
“tujuan utama ilmu-ilmu Al-Qur’an adalah untuk mengetahui Allah, zat dan sifat-sifat-Nya. Sementara itu, Ayat Kursi menyebutkan zat, sifat dan perbuatan Allah SWT yang tidak disinggung oleh ayat-ayat lain. Olehnya itu, dia Sayyidah ayat-ayat Al-Qur’an.
Firman-Nya: (الله) menunjukkan zat-Nya, firman-Nya: (لاَ إَلهَ إِلاَّ هُوَ) mengisyaratkan ketauhidan zat, dan firman-Nya: الْحَيُّ القَيُّوْمُ)) menegaskan sifat zat dan kemuliaannya. القَيُّوْمُ)) Yang berdiri sendiri, tidak tergantung kepada zat lain, dan tempat bergantung semua entitas kehidupan. Tentunya, yang demikian itu puncak dari sebuah kemuliaan dan keagungan.
Firman-Nya: (لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ) menyuguhkan penyucian dan kemuliaan terhadap-Nya dari segala sifat kemusnahan (seperti sifat-sifat makhluk) yang mustahil didapatkan dalam diri-Nya, firman-Nya: (لَهُ مَا فِيْ السَّموَاتِ وَمَا فِيْ الأَرْضِ) isyarat terhadap kepemilikan mutlak. Sesungguhnya dari Dia segala sesuatu, dan kepada-Nya tempat kembali segala sesuatu, dan firman-Nya: (مَنْ ذَ الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ) isyarat terhadap kepemilikan tunggal atas kekuasaan dan hukum. Sesungguhnya barang siapa yang memiliki hak memberi syafaat, maka ia pun memiliki dengan sendirinya hak untuk memuliakan diri-Nya. Tentunya, ini menunjukkan kepemilikan tunggal terhadap kekuasaan dan hukum-Nya dan menafikan dari diri-Nya persekutuan dengan makhluk apapun terhadap kepemilikan tersebut.
Firman-Nya: يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِم وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ)) menegaskan sifat ilmu Allah SWT yang meliputi segala sesuatu dan menafikan ilmu terhadap yang lain, kecuali ilmu itu sendiri datang dari-Nya sebagai bentuk anugerah terhadap hamba sesuai dengan keinginan-Nya, firman-Nya: (وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّموَاتِ وَالأَرْضِ) pernyataan terhadap keagungan dan kesempurnaan kekuasaan-Nya. Di sana masih banyak rahasia yang terselubung di balik makna (الكُرْسِيِّ), sifatnya, dan bagaimana ia meliputi langit dan bumi, yang karena keterbatasan tingkat pengetahuan manusia, maka di sini tidak dijelaskan, [[4]] dan firman-Nya: (وَلاَ يَؤُوْدُهُ حِفْظُهُمَا) isyarat terhadap sifat-sifat kekuatan Allah SWT (qudrah) dan penyucian terhadap-Nya dari segala bentuk kelemahan dan kekurangan.
Firman-Nya: (وَهُوَ العَلِيُّ العَظيْمُ) isyarat terhadap ketinggian dan keagungan kedua sifat Allah itu sendiri yang tidak pernah habis memberikan pemaknaan bagi mereka yang ingin mengais darinya makna-makna ketauhidan.
Sekarang, jika Anda menelaah koleksi makna-makna ini, kemudian Anda membaca ayat-ayat Al-Qur’an, saya pastikan Anda tidak akan menjumpai kumpulan makna ketauhidan, penyucian, dan penjelasan ketinggian sifat-sifat-Nya seperti apa yang ada dalam Ayat Kursi. Olehnya itu, sangat wajar jika ia digelar sebagai Sayyidah ayat-ayat Al-Qur’an.”[[5]]
Jika kita kembali menengok Ayat Kursi, maka ia akan memperlihatkan 10 penggalan kalimat [[6]] yang memberikan pemaknaan tersendiri. Olehnya itu, Ayat kursi tidak menggunakan huruf (و) yang berarti: (dan) sebagai kata penghubung antara satu penggalan kalimat dengan kalimat lain. Sistematika seperti ini telah menjadi kaidah baku dalam menyusun rangkaian kalimat. Mereka sepakat bahwa kalimat yang berdiri sendiri dalam memberikan pemaknaan jika dihubungkan dengan kalimat lain dengan kata penghubung akan melahirkan kerancuan.
Jarullâh az-Zamakhsyari berkata:
“jika Anda bertanya: “Bagaimana penggalan-penggalan kalimat Ayat kursi terangkai tanpa menggunakan kata penghubung?”
Saya menjawab: “tidak ada satu penggalan kalimat pun dalam ayat itu kecuali datang memberikan penjelasan tersendiri. Dan penjelasan mereka terpadu dan menyatu terhadap apa yang dijelaskan. Seandainya antara satu penggalan kalimat dengan kalimat lain disisipi kata penghubung, maka keterpaduan yang harmonis tersebut dalam memberikan pemaknaan akan rusak.””[[7]]
Maka dari itu, Wajar jika Dr. Majidah Muhammad Mohna dalam kupasannya menyimpulkan bahwa ada empat sebab utama yang melatarbelakangi penamaan Ayat Kursi sebagai ratu ayat-ayat Al-Qur’an:
Pertama: Ayat kursi mencakup Zat Allah yang Agung, sifat-sifatnya, dan 11 kata ganti (dhamir هُوَ, dan هُ) yang berarti: (dia, atau Nya). Semua kata ganti ini kembali kepada Zat Allah yang Mulia (الله).
Tentunya, semua ayat-ayat di dalam Al-Qur’an mengikut ke Ayat Kursi, seperti ayat-ayat kisah, perumpamaan, ancaman dan janji, kabar gembira dan buruk, perintah dan larangan. Yang demikian itu karena segala sesuatu selain daripada Zat Allah mengikut kepada-Nya, bukan hanya itu, tapi semua sifat-sifat Allah yang terdapat di beberapa tempat disatukan dalam ayat ini.
Kedua: Dengan 11 kata ganti tersebut Ayat Kursi seperti menutupi Zat dan kesempurnaan sifat-sifat Allah dengan tirai misteri yang mengundang para pemerhati tema-tema Al-Qur’an untuk mengungkap rahasia ketauhidan di balik tirai maknawi tersebut. Olehnya itu, penyebutan kata ganti berkali-kali menyimpan rahasia-rahasia yang butuh penalaran lebih lanjut. Para sufi meyakini bahwa dengan menyebut (هُوَ) berulang kali, seseorang bisa saja merasakan dirinya seperti di alam lain yang diselimuti oleh cahaya-cahaya ketauhidan, berlayar di lautan makna yang tidak bertepi dan hanyut dalam penghayatan. Jika kondisi seperti ini berlangsung lama maka orang tersebut boleh jadi hanya menyebut (هُ), tanda bahwa dia benar-benar hanyut dan tenggelam di lautan ketauhidan yang memukau.
Kedua: Kemuliaan Ayat Kursi dari ayat-ayat lain memberi indikasi kuat bahwa ciptaan-ciptaan Allah bukan pada satu tingkat. Setiap dari mereka punya keistimewaan tersendiri dari yang lain. Itu wajar saja karena yang memberi kemuliaan dan keistimewaan adalah Allah yang jika berkehendak pasti terjadi.
Keempat: yang memberikan penamaan terhadap Ayat Kursi dengan nama Sayyidah adalah Rasul Saw. Tentunya ini menunjukkan bahwa nama itu mulia, dan jika nama mulia pasti yang menyandang penamaan tersebut juga ikut mulia. [[8]]
Di penghujung tulisan singkat ini, saya mengajak pemerhati tema-tema keislaman untuk menyimpulkan makna-makna ketauhidan yang dipercikkan Ayat Kursi:
“Ayat Kursi adalah matahari ketauhidan yang menyinari kehidupan manusia. Di sana ada sapaan yang menyuarakan ketauhidan zat, nama dan sifat-sifat-Nya. Sejukkan rohani Anda dengan melantunkan ayat ini siang dan malam, pinang miss universe ayat-ayat Al-Qur’an tersebut dengan membuat diri Anda terbuai dan hanyut oleh ketinggian makna ketauhidan yang dipancarkan dan rahasia-rahasia kehidupan yang dikemas dan ditutupi oleh tabir maknawi. Mari bersama-sama budayakan cinta Ayat Kursi dan membacanya setiap hari!”

Catatan Kaki:
[1] Syekh Ali bin Sultân Muhammad al-Qârî berkata:
“sabdanya: (لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ) dengan nada perintah. Asal kata kerja tersebut adalah: (لِيَهْنِئَكَ), huruf hamzahnya (ء) dijatuhkan supaya ringan diucapkan, artinya: (supaya engkau mudah menimba ilmu). Orang Arab sering sekali menggunakan kalimat tersebut dalam memberikan doa dan ucapan selamat, seperti: (لِيَهْنِئَكَ الْوَلَدُ), artinya: (semoga anakmu mendatangkan kebahagiaan terhadapmu dan keluarga). Ucapan Rasul Saw tersebut merupakan doa terhadap Abu al-Mundzir agar mudah baginya menuntut ilmu dan kelak menjadi alim. Tentunya, doa itu mengindikasikan bahwa dia seorang alim yang sarat dengan ilmu. Di lain sisi, ia juga menyiratkan kemuliaan orang yang berilmu pengetahuan.” [Lihat: Syekh Ali bin Sultân Muhammad al-Qârî, Mirqâtul al-Mâfâtîh syarh Misykâtul Mashâbîh, ditahkik oleh Syekh Jamal Aetâni, Dar Kutub Ilmiah, Beirut, cet. 1, 1422 H/2011 M, vol. 5, hlm. 19]
[2] Shahîh Muslim, Kitab Shalâtul Musâfirîn, bab Fadlu Surah Al-Kahfi wa Ãyat Al-Kursi, hadits. No: 1921, hlm. 374-375
[3] Imam al-Hakim, al-Mustadrak ala As-Shahîhain, kitab Tafsir, bab min Surah Al-Baqarah, hadits. No: 3085, vol. 2, hlm. 312
[4] yang terlihat oleh penulis dari pernyataan Imam al-Gazâli di atas adalah kecenderungan kuat beliau untuk tidak memberikan pemaknaan terlalu jauh terhadap (الكرسي). Di sini ulama berbeda pendapat dalam menyikapi mufradat-mufradat seperti itu (Mutasyabihat).Para Ulama Salaf (Sahabat, Tabiin dan generasi setelah Tabiin (Tabi’ Tabiin)) tidak terlalu jauh memberikan penta’wilan, bahkan di antara mereka ada yang tidak ingin menta’wilkan, mengingat zat Allah SWT di luar dari jangkauan pengetahuan manusia. Olehnya itu, karena zat-Nya tidak diketahui, maka sifat-sifat-Nya yang berkaitan dengan (الكرسي) pun tidak diketahui. Mereka mengatakan Allah SWT punya kursi yang sifat dan bentuknya hanya Dia yang tahu. Beda halnya dengan ulama yang datang setelah tiga kurun waktu tersebut, khususnya ulama-ulama sekarang, mereka berupaya menta’wilkan mufradat-mufradat seperti ini sesuai dengan konteks kalimat yang ada tanpa melanggar batasan-batasan Aqidah.
Syekh Abu Suud, salah seorang mufassir di zaman pemerintahan dinasti Utsmani, berkata:
“Di sana tidak ada kursi, duduk dan berdiri, tetapi itu adalah perumpamaan terhadap kebesaran dan kekuasaan Allah yang mutlak, serta ilmu-Nya yang menyeluruh.” [Lihat: Tafsir Syekh Abi as-Suud, vol. 1 hlm. 296]
Lain halnya dengan Imam Hasan al-Bashri, beliau melihat bahwa (الكرسي) di sini adalah Arsy, dan ini dilegitimasi oleh Syekh Ibn Asyur, beliau berkata:
“itulah penafsiran yang paling nampak, karena (الكرسي) tidak pernah disebutkan di dalam Al-Qur’an kecuali pada ayat ini, sementara Arsy penyebutannya berkali-kali, dan keduanya tidak pernah disebutkan bersamaan. Seandainya (الكرسي) itu bukan Arsy, maka pasti ia disebutkan bersamaan.” [Lihat: at-Tahrîr wa at-Tanwîr, vol. 3, hlm. 23]
[5] Lihat: Imam Abi Hâmid al-Ghazâli, Jawâhir Al-Qur’an wa Duraruh, ditahkik oleh Syekh Muhammad Rasyîd Ridhâ, Dar Ihya’ al-Ulum, cet. 3, 1411 H/1990 M, hlm. 73-75
[6] Inilah penggalan-penggalan kalimat tersebut: (الله),) لا إَلهَ إِلاَّ الله هُو الحَيُّ القَيُّوْمُ), (لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ), (لَهُ مَا فِيْ السَّموَاتِ وَمَا فِيْ الأَرْضِ), (مَنْ ذَ الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ), يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ)), (وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ), (وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّموَاتِ والأرْضَ), (وَلاَ يَؤُوْدُهُ حِفُظُهُمَا) dan (وَهُوَ العَلِيُّ العَظِيْمُ).
[7] Tafsir al-Kassyâf, vol. 1, hlm. 483
[8] Lihat: Dr. Majidah Muhammad Mohna, Khutuwât ala ash-Shirât al-Mustakîm (at-Tauhid), Matbaah as-Syarq al-Haditsah, Kairo, hlm. 100-101

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/12/17659/ada-apa-dengan-ayat-kursi/#ixzz1iaS9EQax@cwi

selengkapnya...

Gabung bersama kami

About Me

admin jg menerima pelayanan jasa

admin jg menerima pelayanan jasa
Jasa arsitek rumah; desain arsitek / desain rumah, gambar denah rumah, bangun rumah baru, renovasi rumah dan pembangunan mesjid, mushola, ruko, disaign taman, dll. klik gambar utk kontak personal.

Syiar Islam On Twitter

Site info

Kalkulator Zakat Fitrah

  © Syiar islam Intisari Muslim by Dede Suhaya (@putra_f4jar) 2015

Back to TOP  

Share |