Jilbab, Antara Tren Dan Kewajiban

Ilustrasi - Muslimah berjilbab di Turki (WN / akgunsemra)
Oleh: Maulud Mustofa 
 Teringat pembicaraan bersama keluarga Om saya beberapa waktu yang lalu, saat menyaksikan gaya berpakaian wanita-wanita zaman ini di sepanjang perjalanan kami dari Cikarang ke Tangerang, kami tergelitik dengan salah satu bagian pakaian yang bernama jilbab. Jilbab yang sebenarnya merupakan salah satu bagian pakaian wajib bagi perempuan, seperti dalam firman Allah SWT, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab: 59). Namun saat ini jilbab sering dialihfungsikan hanya menjadi salah satu gaya berbusana agar tampak menarik. Seperti halnya di salah satu negara tetangga yang menjadikan jilbab sebagai salah satu budaya berpakaian mereka, sepertinya yang terjadi di lingkungan kita saat ini para perempuan menjadikan jilbab hanya sebagai salah satu trend dalam berpakaian saja. Saat ada acara keagamaan atau pada hari raya ramai-ramai memakai jilbab. Lepas dari momen itu, kembali auratnya dibiarkan diterpa angin. Tidak memandang mereka artis atau bukan, fenomena seperti ini sering kita jumpai di sekitar kita. Dalam konteks lain, sering pula kita jumpai mereka yang memakai jilbab hanyalah untuk menutupi rambutnya yang menurut mereka sendiri kurang bagus. Namun di kesempatan lain kita dibuat tertegun saat dengan santai dan bangganya ia berjalan di depan umum dengan memamerkan rambut barunya yang baru saja direbonding. Bahkan mereka tidak menyadari tentang hukum rebounding itu sendiri dalam Islam. Satu alasan lain wanita memakai jilbab ternyata hanya karena ia sering dipuji lebih cantik jika memakai jilbab. Sedangkan hatinya sebenarnya merasa enggan memakai jilbab. Ia memakai jilbab namun terkadang pakaian yang ia kenakan menunjukkan lekuk-lekuk tubuhnya. Hal ini oleh nabi sering disinggung sebagai “wanita yang berpakaian tapi telanjang.” Sayang sekali, karena mereka yang berpakaian ketat atau seksi sudah dijelaskan tidak akan mencium bau surga. Mencium baunya saja diharamkan, apalagi tinggal di dalamnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128) Dengan alas an bahwa berbagai perilaku seperti di atas masih lebih baik daripada sama sekali tidak pernah memakai jilbab atau bahkan menghalangi wanita lain untuk berjilbab, mereka seolah-olah ingin ‘mencurangi’ hukum Islam. Seharusnya setiap muslimah memahami bahwa berjilbab itu merupakan suatu kewajiban. Ia mengenakan jilbab karena benar-benar diniatkan mengharap ridha Allah. Hal ini senada dengan sabda rasul yang menyatakan bahwa suatu amal itu tergantung dari niatnya. عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: إنما الأعمال بالنيات, وإنما لكل امرئ ما نوى. فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله, ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها, أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه. {رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبه البخاري وأبو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما الذين هما أصح الكتب المصنفة}. Dari Amir Mukminin Abi Hafsh Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Sesungguhnya segala amal tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang akan diraihnya atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Insya Allah jika segala sesuatu diniatkan karena Allah, Dzat Yang Abadi, suatu perilaku itu juga akan abadi meski banyak godaan dan hambatan untuk tetap istiqamah. Note : Jilbab di sini lebih cenderung saya artikan sebagai kerudung karena di lingkungan kita lebih sering dipahami seperti itu. Sedangkan pengertian jilbab, kerudung, burka, dsb sudah banyak diulas di berbagai artikel. Sumber: http://www.dakwatuna.com/2010/12/10193/jilbab-antara-tren-dan-kewajiban/#ixzz1hviSp9CO /@cwi

selengkapnya...

“Buat Apa Berkerudung Kalau Kelakuan Rusak” Benarkah?

Oleh: sandylegia Ilustrasi (Danang Kawantoro) Perempuan yang baik adalah yang bagus agamanya, yang dimaksud ‘agamanya’ adalah agama dalam hati bukan dalam penampilan. Pertanyaan, “Berarti lebih bagus perempuan tidak berkerudung tapi baik kelakuannya (beragama) daripada perempuan berkerudung yang tidak beragama (tidak baik kelakuannya)? Jawab: “Yang lebih bagus adalah perempuan yang berkerudung dan beragama sekaligus.” Kenapa? Realitas memperlihatkan kepada kita bahwa perempuan berkerudung lebih banyak yang beragama ketimbang perempuan yang tidak memakai kerudung. Jika ada perempuan tak memakai kerudung tapi beragama (berakhlaq), maka itu adalah pengecualian dari perempuan-perempuan tak berkerudung yang rata-rata kurang berakhlaq. Begitu pula jika ada perempuan berkerudung tapi tidak/kurang beragama, maka itu adalah pengecualian dari perempuan-perempuan berkerudung yang rata-rata beragama. Kerudung adalah setengah petunjuk kalau wanita yang memakai kerudung tersebut adalah wanita beragama, setengahnya lagi adalah hati atau perilaku kesehariannya. Bila perilaku keseharian seorang wanita muslimah sudah bagus namun belum berkerudung, segera lengkapi dengan kerudung, agar setengahnya terlengkapi dan menjadi sempurna. Begitu pula jika seorang wanita muslimah sudah berkerudung, namun akhlaq atau perilaku kesehariannya masih tidak baik, segera lengkapi dengan akhlaq yang baik, agar setengahnya terlengkapi dan menjadi sempurna. Jadi, jangan ada lagi orang yang berkata “Buat apa berkerudung kalau kelakuan seperti wanita tak beragama (tidak baik), lebih baik tidak berkerudung!!” Pernyataan itu keliru karena beberapa alasan: Pertama: Alasan Syar’i Pernyataan tersebut sama dengan menyeru perempuan untuk melanggar apa yang telah Allah perintahkan kepada wanita muslimah. Di dalam Al-Quran Allah berfirman: يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzaab: 59) Kedua: Alasan Logis Dikatakan sebelumnya bahwa wanita muslimah yang baik akhlaqnya namun tak berkerudung baru setengahnya menunjukkan kalau wanita tersebut beragama, karena setengahnya lagi adalah kerudung, berarti wanita yang tidak baik kelakuannya dan tidak berkerudung, tidak setengah pun menunjukkan bahwa wanita tersebut beragama. Maka, bukankah ini lebih parah nilainya di mata agama? Oleh karena itulah pernyataan di atas tidak menjadi solusi yang tepat. Solusi yang Tepat Bagi wanita muslimah yang sudah berkerudung dan merasa kalau akhlaq atau perilakunya masih jauh dari akhlaq seorang wanita muslimah yang sebenarnya, tidak perlu terhasut dengan pernyataan “Buat apa pakai kerudung, kalau…. dst” lantas melepas kerudungnya karena malu. Solusi yang bijak adalah, biarkan kerudung itu tetap melekat bersamanya sembari berusaha untuk terus mengadakan perbaikan akhlaq atau perilakunya. Pernyataan Lain “Kerudungi hati dulu, baru kerudungi penampilan”. Jika pernyataan ini memang pernah terlontar dan pernah ada, alangkah bijak jika pernyataan ini kita ubah menjadi: “Mengerudungi hati tak kalah penting dari mengerudungi penampilan”. Tentang pernyataan pertama, dikarenakan perbaikan akhlaq adalah proses berkesinambungan seumur hidup yang jelas bukan instan, dan dikarenakan tak ada yang dapat menjamin bagaimana dan seperti apa hari esok dalam kehidupan kita? Masih di atas bumi kah atau di dalam perutnya? Masih memijak kah atau dipijak? Maka menunda berkerudung dengan alasan memperbaiki akhlaq dulu adalah sesuatu yang tidak semestinya dilakukan oleh wanita muslimah mana pun. Adapun pernyataan kedua, memang demikianlah adanya, bacalah Al-Quran dan tadabburi maknanya, maka kita temukan bahwa hampir setiap kali Allah berfirman tentang wanita muslimah yang baik (beragama), isinya adalah tentang “Bagaimana seharusnya wanita muslimah itu berperilaku?” selebihnya adalah tentang “Bagaimana seharusnya wanita muslimah itu berpenampilan?”. Jika berkenan bacalah QS. An-Nur ayat 31, At-Tahrim ayat 5, 10, 11 dan 12, dan seterusnya. Pernyataan berikutnya adalah: “Kerudung itu bukan inti dari Islam!” Ya, saya pribadi setuju, memang bukan inti dari Islam, tapi bagian penting dari Islam yang jika bagian itu tidak ada, maka terlalu sulit untuk dikatakan “Ini Islam” sama sulitnya untuk dikatakan “Ini bukan Islam”. Dikatakan wanita muslimah sulit karena tidak pernah mau pakai kerudung, dikatakan bukan wanita muslimah juga sulit, karena shalat, zakat dan ibadah-ibadah lainnya tetap dikerjakan, juga akhlaqnya adalah akhlaq wanita muslimah. Kalau saya ibaratkan, hal ini seperti bangunan rumah yang tak nampak seperti rumah, namun lebih tampak seperti gudang; berjendela tanpa kaca, tanpa lantai ubin, dan tanpa atap dan seterusnya. Dikatakan rumah sulit, karena dari luar hampir tak dapat dibedakan dengan gudang. Dikatakan bukan rumah juga sulit, karena ternyata penghuninya lengkap, pasangan suami istri dan satu anak lelaki. Jendela berkaca, pintu, atap, dan lantai ubin memang bukan bagian inti dari rumah, tapi tanpa adanya semua itu, sebuah bangunan akan kehilangan identitasnya sebagai rumah, konsekuensinya, orang-orang akan menyangka kalau bangunan tersebut adalah gudang tak berpenghuni. Kerudung atau jilbab adalah identitas seorang muslimah (wanita beragama Islam). Kerudung lah yang memberi isyarat kepada lelaki-lelaki muslim bahkan semua lelaki bahwa yang mengenakannya adalah wanita terhormat, sehingga sangat tidak pantas direndahkan dalam pandangan mereka, kata-kata mereka, maupun perbuatan mereka (para lelaki). Allah SWT berfirman: يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzaab: 59) Kesimpulan “Identitas seorang wanita muslimah itu adalah jilbab dan akhlaqnya, akhlaq tanpa jilbab kurang, sama kurangnya dengan jilbab tanpa akhlaq”. Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/12/17744/buat-apa-berkerudung-kalau-kelakuan-rusak-benarkah/#ixzz1hvguh181 /@cwi

selengkapnya...

Catatan 20 Tahun Berjilbab: Antara Jilbab, Kajian Islam, dan Teroris Suara Pembaca

Oleh: Is Helianti –Membaca dan mendengar berita akhir-akhir ini sangat menyesakkan dada. Salah satunya, Densus 88 menggerebek sebuah rumah kos di Ciputat dan menembak mati para tersangka teroris. Sesak dada, karena menurut berita ada mahasiswa-mahasiswa generasi harapan yang tersangkut kasus ini. Para mahasiswa yang taat beribadah dan bersemangat dalam mengkaji Islam, disinyalir berkaitan. Seorang mahasiswa lain mengisahkan bahwa dia hampir saja direkrut oleh para tersangka teroris, didekati secara agresif sehingga ketakutan. Di tengah berita seperti itu banyak yang berkecamuk dalam benak. Antara lain, efek domino dari pemberitaan dan fakta ini. Bahwa kajian Islam di kampus-kampus mungkin akan ditakuti oleh para generasi muda dan para orang tua yang mempunyai anak mahasiswa. Karena mengikuti kajian keislaman rutin, lalu menjadi taat beribadah dan taat menjalankan perintah agama identik dengan mendekat pada teroris. Padahal bisa dijamin sebagian besar kajian Islam, pengajian, dan majelis ilmu yang ada sama sekali jauh dari suasana tersebut. Karena itu saya ingin menuliskan pengalaman pribadi saya untuk saya bagi, terutama bagi adik-adik mahasiswa. Pengalaman hidup yang bagi saya merupakan harta kekayaan tak ternilai yang membuat saya terus bersyukur telah melaluinya. Dan semoga bermanfaat khusunya dalam membuat kita untuk terus belajar menjadi seorang muslim yang sesungguhnya. Sehingga kita tak ragu berlari mendatangi hidayah dengan rajin-rajin menghadiri kajian Islam yang kaya manfaat, namun tidak meninggalkan daya kritis sebagai pemuda… Bulan Oktober ini, tepat 20 tahun saya memakai jilbab, tepatnya busana yang menutup aurat. Sebenarnya, ini bukan prestasi yang harus dibanggakan. Bagi saya yang mengikuti pendapat bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan wajah tentu bukan prestasi. Berjilbab tentulah sama artinya dengan mengapa saya harus sholat, mengapa saya harus puasa, dan melaksanakan kewajiban lainnya. Kewajiban yang saya pilih dengan kepala sehat, yakini, dan tanpa paksaan untuk saya jalankan. Berjilbab menjadi spesial buat saya karena momentum berjilbab inilah yang selalu mengingatkan saya untuk dapat menjalani apa yang saya yakini benar dengan memohon bimbingan Allah selalu. Momentum jilbab inilah yang menjadikan titik berangkat saya untuk selalu ingin berusaha jadi muslimah hamba Allah yang sejati tanpa kehilangan diri sendiri. (Walau sejujurnya, saya merasa masih jauh dari sosok muslimah hamba Allah yang sejati). Selain bersyukur pada Allah atas hidayah ini, tentu saja saya harus berterima kasih pada kajian-kajian keislaman di STAN waktu itu. Berterima kasih pada mentor-mentor kajian yang telah membukakan mata saya akan keindahan islam, keindahan berakhlak mulia, keindahan mengasihi dan berbakti pada ibu dan bapak, keindahan bersikap santun dan baik pada semua orang, muslim dan non-muslim. Sebelum mengkaji Islam, sebelum berjilbab, saya bisa jadi anak yang kasar pada orang tua. Anak yang tak bisa maklum pada kekurangan manusiawi mereka sebagai orang tua. Tetapi mengkaji Islam, berjilbab, membuat saya malu untuk sering-sering berbantahan dengan ibu. Banyak perilaku-perilaku positif yang saya latih setelah berjilbab dan mengikuti kajian Islam secara rutin. Berkat jilbab dan mengkaji Islam secara rutin dan tentu saja hidayah Allah SWT saya mantap menikah di usia muda, percaya diri untuk mengambil beasiswa ke Jepang dan meneruskan hingga doktor, mantap menekuni dunia kerja penelitian dengan idealisme ibadah membangun tanah air yang saya cintai, dan meyakini di jalan profesi inilah dakwah saya. Tentu bukan tanpa dinamika. Saya pernah gelisah ketika ada pendapat bahwa muslimah ”haram” bekerja. Muslimah cukup menjadi ibu rumah tangga saja. Dan banyak dari angkatan saya yang drop out dengan sengaja dari kuliah karena alasan ini. Nalar saya sebagai remaja memberontak. Jadi muslimah tidak boleh berprestasi? Muslimah tidak boleh bekerja? Berjilbab equal dengan kemandekan? Alhamdulillah, saya tak pernah menanggalkan daya kritis saya. Kegelisahan saya terjawab, dan sekarang seperti yang anda baca, saya bekerja dan tetap berjilbab dengan segala sikap yang saya yakini…:-) Karena itu, tetaplah berlari menggapai hidayah dan bimbingan Allah. Jangan menjauh dari kajian Islam hanya karena takut terjatuh dalam jeratan teroris. Kajian-kajian Islam adalah kegiatan yang positif. Daripada menghabiskan masa remaja dengan kegiatan yang tak tentu arah atau malah menyerempet hal-hal yang menyimpang seperti narkoba atau pergaulan bebas. Tetapi tetaplah open mind, berdiskusi dengan banyak pemikiran, bergaul dengan berbagai kalangan tanpa kehilangan prinsip diri, bersikap kritis dengan prasangka baik. Dan tentu yang utama, selalu berdoa mohon petunjuk Allah untuk membimbing kita selalu agar selalu ada dalam kebaikan. Islam itu indah dan menjadi muslim itu adalah membawa misi menjadikan nilai-nilainya rahmatan lil alamin…. Sumber: http://www.dakwatuna.com/2009/10/4317/catatan-20-tahun-berjilbab-antara-jilbab-kajian-islam-dan-teroris/#ixzz1hvg68XtE /@cwi

selengkapnya...

Gabung bersama kami

About Me

admin jg menerima pelayanan jasa

admin jg menerima pelayanan jasa
Jasa arsitek rumah; desain arsitek / desain rumah, gambar denah rumah, bangun rumah baru, renovasi rumah dan pembangunan mesjid, mushola, ruko, disaign taman, dll. klik gambar utk kontak personal.

Syiar Islam On Twitter

Site info

Kalkulator Zakat Fitrah

  © Syiar islam Intisari Muslim by Dede Suhaya (@putra_f4jar) 2015

Back to TOP  

Share |