Pendengki tidak akan sukses

"Janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling membelakangi (saling berpaling), dan janganlah pula saling memutuskan. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yg bersaudara." (HR Mutaffaq 'Alaih).

Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam Al adab dan Muslim dalam Al Biir. Lebih khusus dalam larangan dengki disebutkan Oleh Rosulullah dalam hadist lain:

"Hindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan, sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakar." (HR. Abu Dawud)




Dengki di definisakan oleh para ulama sebagai: "Mengangankan hilangnya kenikmatan (yg berhubungan dg) agama maupun dunia.

Dari definisi diatas kita dapat memahami bahwa iri dengki tidak hanya menyangkut capaian-capaian yg bersifat duniawi, melainkan juga mencakup capaian-capaian di lingkup keagamaan. Ini juga berarti bahwa penyakit dengki tidak hanya menjangkiti kalangan awam. Iri dengki itu juga ternyata dapat menjalar dan menjangkiti kalangan yg dikategorikan berilmu, pejuang, bahkan da'i. Seorang Da'i atau Mubaligh misalnya, tidak suka melihat dg banyaknya pengikut da'i atau Mubalaigh lain. Seorang yg berafiliasi kepada kelompok atau jemaah tertentu sangat benci kepada kelompok atau jema'ah lain yg mendapatkan kemenangan-kemenangan. Dan masih banyak lagi bentuk lainnya dari sikap iri dengki di kalangan para 'Pejuang . Tapi bagaiamana ini bisa terjadi?

Imam Al-Ghazali ra menjelaskan: "Tidak akan terjadi saling dengla pada kalangan Ulama, sebab yg mereka tuju adalah Ma'rifatullah (mengenal Allah). Tujuan itu bagaikan Samudera luas yg tidak bertepi. Dan yg mereka cari adalah kedudukan di sisi Allah. Itu juga merupakan tujuan yg tidak terbatas. Karena kenikmatan yg paling tinggi pada sisi Allah adalah perjumpaan dengan-Nya. Dan dalam hal itu tidak akan ada saling dorong dan berdesak-desakan. Orang-orang yg melihat Allah tidak akan merasa sempit dg adanya orang lain yg juga melihat-Nya. Bahkan semakin banyak yg melihat semakin nikmatlah ia."

Al-Ghazali melanjutkan: "Akan tetapi, jika para ulama, dg ilmunya itu menginginkan harta dan wibawa mereka, pasti saling dengki. Sebab harta merupakan materi. Jika ia ada pada tangan seseorang, pasti hilang dari tangan orang lain. Dan wibawa adalah penguasaan hati. Jika hati seseorang mengagungkan seorang ulama, pasti orang itu tidak mengagungkan ulama lainnya. Hal itu dapat menjadi sebab saling dengki." (Ihya-u'ulumid-din, Imam Al-Ghazali, juz. III, hal. 191.)

Jadi dalam kontek perjuangan, dengki dapat merayapi hati orang yg merasa kalah wibawa, kalah popularitas, kalah pengikut. Yg didengki tentulah pihak yg dianggapnya lebih dalam hal wibawa, popularitas, pengaruh dan jumlah pengikut itu. Tidak mungkin seseorang merasa iri pada seorang yg dianggapnya lebih 'kecil atau lebih lemah. Sebuah pepatah Arab mengatakan Kullu dzi ni'matin mahsuudun (setiap yg mendapat kenikmatan pasti di dengki).

Penyakit dengki sangat berbahaya. Tapi bahayanya lebih besar mengancam si pendengki ketimbang yg didengki. Bahkan realitas membuktikan, seringkali pihak yg pihak yg didengki justru diuntungkan dan mendapatkan banyak kebaikan. Sebaliknya, sipendengki menjadi pecundang. Diantara kekalahan-kekalahan si pendengki adalah:

Pertama, kegagalan dalam perjuangan
perilaku sipendengki sering tidak terkendali. Dia bisa terjebak dalam tindakan merusak mana baik, mendeskreditkan, dan menghinakan orang yg didengkinya. Padahal Rosulullah telah bersabda: "Tidak ada seorangpun yg menghinakan seorang muslim di satu tempat yg padanya ia dinodai harga dirinya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan menghinakan orang itu di tempat yg ia inginkan pertolongan-Nya. Dan tidak seorangpun yg membela seorang muslim ditempat yg padanya ia dinodai harga dirinya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah membela orang (yg membela) itu ditempat yg ia menginginkan pembelaan-Nya." (HR. Akhmad, Abu Dawud, dan ath-Tabrani)

Kedua, melumat habis kebaikan
Rosulullah Saw bersabda
"Hindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan, sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakar." (HR. Abu Dawud)

Makna memakan kebaikan dijelaskan dalam kitab 'Anul Ma'bud "Memusnahkan dan menghilangkan (nilai) ketaatan pendengki sebagai mana api membakar kayu bakar. Sebab kedengkian akan mengantarkan pengidapnya menggunjing orang yg didengki dan perbuatan buruk lainnya. Maka berpindhlah kebaikan si pendengki itu pada kehormamtan org Yg didengki kenikmatan demi kenikmatan sedangkan si pendengki bertambah kerugian demi kerugian sebagaimana yg Allah firmankan "ia merugi dunia dan akherat"." ('Ainul-Ma'bud, juz 13:168)

Ketiga, tidak produktif dg kebijakan
Rosulullah Saw bersabda: "Menjalar kepada kalian penyakit umat-umat (terdahulu): kedengkian dan kebencian. Itulah penyakit yg akan mencukur gundul. Aku tdk mengatakan penyakit itu mencukur rambut melainkan mencukur agama." (HR. At-Tirmidzi)

Keempat, Menghancurkan harga diri
Semakin hebat gempuran kedengkian, bagi orang yg berfikir objektif justru akan semakin tahu kebusukan hati si pendengki.

Kelima, menyerupai orang munafik
Diantara perilaku orang munafik adalah selalu mencaci apa yg dilakukan orang lain.

Keenam, gelap mata dan tidak termotifasi untuk memperbaiki diri

Ketujuh, membebani diri sendiri


"Pendengki tidak akan pernah sukser" (kitab: Kasyful-kahfa 1:430)./@cwi

selengkapnya...

Bukan Modernisasi, Tapi Jahiliyahisasi dan Hewanisasi

Bagi kita yang tinggal di daerah perkotaan, pemandangan wanita berpakaian transparan, setengah terbuka, dan ketat sudah menjadi hal yang lumrah. Setiap hari pemandangan seperti itu akan terlihat, sengaja ataupun tidak sengaja. Ketika kita sedang menunggu bis di halte, dalam bis, melewati jalan, di pasar, dan berbagai tempat lainnya.

Kita juga mungkin tahu, bahwa sebagian wanita yang berpakaian ketat dan terbuka tersebut bila ditanya, “Apakah anda seorang muslimah?” ia akan menjawab, “Ya, saya seorang muslimah.” Lalu kalau kita coba bertanya kembali, “Apakah model pakaian anda sesuai dengan ketentuan syariat islam?” ia juga akan berujar dengan bangga, “Inilah modernitas
.”

Islam hadir menjunjung tinggi kedudukan wanita. Wanita yang dahulu dimasa sebelum kenabian Muhammad Saw. selalu dilecehkan dan tidak dihargai dengan datangnya Islam mereka diperhitungkan dan ditempatkan pada posisi yang mulia. Orang-orang yang tidak memahami ajaran islam sepenuhnya, tidak menggali sejarah masa lalu, dan menjadi budak hawa nafsu berusaha dengan sekuat tenaga melepaskan para wanita dari pakaian kemuliaannya.


Semua itu mereka landaskan dengan dalih kebebasan berpendapat, kesetaraan gender, dan modernitas zaman. Sehingga wanita muslimah yang menutup seluruh tubuhnya dianggap kolot dan tidak maju. Mereka dikucilkan dan dilecehkan, seperti yang terjadi di beberapa negara non-muslim dan juga negara yang penduduknya menganut agama Islam.

Kebebasan berpendapat yang tidak pada tempatnya dan kebablasan serta kesetaraan gender yang sering kali salah diartikan adalah paham yang datang dari Barat. Paham orang-orang yang tidak mengenal agama. Dimana setiap orang bebas melakukan apapun yang ia lakukan selama tidak mengganggu ketentraman orang lain. Selama hal itu masih dalam standar wajar yang mereka tetapkan.

Sehingga bukanlah hal yang asing kalau dalam film-film Barat yang pernah kita tonton melalui televisi seringkali ditampilkan di dalamnya kehidupan yang bebas dan lepas. Dan yang parahnya lagi, saat ini stasiun-stasiun televisi di Indonesia seolah-olah berlomba-lomba menyuguhkan tayangan-tayangan yang mengundang birahi syahwat.

Sebagian wanita muslimah yang lemah iman dan dangkal pemahaman keislamannya sering kali tertipu dengan syubhat yang dilontarkan Barat. Dan mereka saling berlomba untuk meniru gaya hidup yang rusak tersebut. Sehingga apa yang terjadi? Kerusakan moral, kasus pelecehan, perkosaan, dan perzinaan seperti hal yang biasa kita dengar dan baca dalam media elektronik dan cetak. Bukankah semua ini berawal dari sebagian wanita yang mempertontonkan kemolekan tubuhnya pada orang banyak?

Bagi laki laki yang teguh imannya mungkin akan sanggup untuk memalingkan mata dan menghindari hal tersebut. Tapi bagaimanakah dengan mereka yang masih leman iman dan amalannya, apakah yang terjadi? Dengan dorongan yang selalu datang dari hawa nafsu dan bisikan setan ia akan berusaha mencari jalan untuk bisa menyalurkan hasratnya yang tidak lagi bisa dibendung, sehingga berbagai tindakan kriminal, perzinaan, perkosaan, hubungan diluar nikah dan lainnyapun banyak terjadi dan sering kita dengar.

Tidak ada sedikitpun kebaikan paham kebebasan yang diusung Barat terhadap upaya melepaskan para wanita muslimah dari pakaian kemuliaan yang telah Allah tetapkan bagi mereka. Apa yang mereka gembar-gemborkan adalah upaya untuk merusak tatanan kehidupan bermasyarakat dan menjauhkan wanita dari agamanya. Dan paham itu telah terbukti menimbulkan kerusakan multidimensi dalam tatanan kehidupan masyarakat, seperti yang terjadi di masyarakat Barat.

Islam mewajibkan kepada setiap muslimah supaya menutup aurat, dimana setiap manusia yang berbudaya sesuai dengan fitrahnya akan malu kalau auratnya itu terbuka. Sehingga dengan demikian akan berbedalah manusia dari binatang yang telanjang.

Islam mengharamkan perempuan memakai pakaian yang membentuk dan tipis sehingga nampak kulitnya. Termasuk diantaranya ialah pakaian yang dapat mempertajam bagian-bagian tubuh, khususnya tempat-tempat yang membawa fitnah, seperti : bagian dada, betis , paha, dan sebagainya.

Dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda: “Ada dua golongan dari ahli neraka yang belum pernah saya lihat keduanya itu: (l) Kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka pakai buat memukul orang (penguasa yang kejam); (2) Perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, yang cenderung kepada perbuatan maksiat dan mencenderungkan orang lain kepada perbuatan maksiat, rambutnya sebesar punuk unta. Mereka ini tidak akan bisa masuk sorga, dan tidak akan mencium bau sorga, padahal bau sorga itu tercium sejauh perjalanan demikian dan demikian.” (Riwayat Muslim, Babul Libas)

Mereka dikatakan berpakaian, karena memang mereka melilitkan pakaian pada tubuhnya, tetapi pada hakikatnya pakaiannya itu tidak berfungsi menutup aurat, karena itu mereka dikatakan telanjang, karena pakaiannya terlalu tipis sehingga dapat memperlihatkan kulit tubuh, seperti kebanyakan pakaian perempuan sekarang ini.

Jadi, pada dasarnya bukanlah modernisasi yang mereka gembar gemborkan, bukan juga keseteraan gender, tapi mereka mengusung mazhab setan dan hawa nafsu yang akan merusak moral dan kehidupan masyarakat. Mereka ingin mengembalikan para wanita muslimah pada kehidupan jahiliyah. Sehingga pada akhirnya, ketika mereka telah sampai pada puncak modernisasi yang mereka usung, kita tidak akan lagi melihat para wanita berpakaian di tempat-tempat umum.

Kalaupun berpakaian hanya menutup dua bagian sensitif dengan dua potong kain. Pemandangan seperti ini tak jauh berbeda dari pemadangan gerombolan sapi, kerbau, kambing, dan hewan lainnya. Hewan memang tidak punya akal dan rasa malu sehingga ia tidak ambil pusing dengan apa yang ia lakukan. Tapi manusia yang telah Allah anugerahkan padanya akal dan hati, justru seharusnya lebih berifikir bijak dan punya rasa malu.

Sungguh benar apa yang telah Allah sampaikan dalam Al-Qur’an, bahwa mereka punya telinga, tapi tidak digunakan untuk mendengarkan kebenaran, punya mata tapi tidak digunakan melihat kebenaran dan punya hati tapi tidak digunakan untuk memahami kebenaran, mereka seperti binatang, bahkan mereka lebih sesat dari binatang.

Sesungguhnya tabarruj (mempertontonkan perhiasan dan kecantikan pada orang lain) adalah kehidupan jahiliyah dan segala paham yang mengusung pada tabarruj sama artinya ingin mengembalikan wanita pada masa jahiliyah, masa kekolotan, dan kebodohan. Sedangkan, hijab itulah sesungguhnya kemajuan dan kemuliaan diri bagi wanita.

Saat ini mereka membisikkan ke telinga wanita: Keluarlah, tinggalkan rumahmu, jalanilah kehidupan modern, lepaskanlah pakaian yang menutup tubuhmu, lepaskanlah keterbelakangan. Sehingga beberapa wanita bekerja di pesawat, menjadi pramugari, di bar-bar, pertokoan, dan lainnya. Mereka disuruh keluar setengah telanjang di taman-taman, sehingga mereka tidak akan rela sampai menjadikan para wanita muslimah duduk dan berjalan di tepi pantai dengan hanya mengenakan dua potong kain, penutup bagian atas dan bawah.

Kemudian mereka berkata, “Sekarang engkau telah menjadi wanita yang maju dan berperadaban.”
Kita bertanya, “Apakah setiap kali para wanita hidup dalam kemajuan dan berperadaban, ia mengangkat kainnya di atas betis dan paha, kemudian ia menyempitkan pakaiannya?” Peradaban dan kemajuan apakah yang mereka gembar-gemborkan ketika wanita di tepi pantai hanya mengenakan dua potong pakaian penutup saja? Tidak lain adalah peradaban hewan.

Sejatinya, modernisasi dan kemajuan yang telah dilakukan oleh manusia tidak hanya diartikan kemajuan dibidang sains dan teknologi saja, kemudian mengabaikan agama dan moral, tapi kemajuan dan keberadaban yang sesungguhnya adalah mencakup ilmu, iman, amal, mental, akhlak, dan moral. Sehingga dapat tergambar dari kemajuan tersebut kehidupan yang tenang, aman, damai, tentram, dan selamat. Wallahu a`lam bish-showab


selengkapnya...

Isu Terorisme dan Serangan Terhadap Islam

Oleh Fadly pada Sabtu 03 Oktober 2009, 06:15 AM

Apakah anda orang yang mengatakan bahwa berjihad menegakkan Syari’ah Islam dan khilafah Islamiyah di bumi Allah adalah tindakan Terorisme ? Jika demikian, berarti anda belum mengerti tentang jihad Islami yang merupakan mukjizat Allah SWT.

Jihad adalah usaha serius untuk membumikan wahyu Allah di muka bumi sehingga tidak ada lagi kezaliman dan fitnah terhadap Islam dan ummatnya. Renungkan firman Allah dalam QS Al Baqarah 2:193 dan QS Al Anfal 8:39.

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (QS. Al Baqarah 2:193)


Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari kekafiran), Maka Sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan. (QS. Al Anfal 8:39)

Fitnah adalah kezaliman dan sifatnya lebih kejam dari pembunuhan, karenanya "Allah mengharamkan kezaliman sampai datangnya hari qiyamat." (HR Muslim
)

Allah SWT. memerintahkan kepada Rasulullah SAW. dan ummatnya agar terus memerangi orang kafir dan zalim yang selalu menimbulkan fitnah kepada Islam dan ummatnya. Al Qur’an mengingatkan:



"Wahai Nabi berjihadlah melawan orang-orang kafir dan munafiqien itu dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali." (QS. At Taubah 9:73 dan QS 66:9)

Terorisme dan Ketidakadilan Global

Masalah yang jarang disentuh oleh media massa ketika mengangkat isu terorisme adalah ketidakadilan global. Padahal faktor ketidakadilan global menjadi salah satu pemicu serangan terhadab barat atau objek-objek yang dianggap berhubungan dengan barat. Penjajahan yang dilakukan barat di dunia Islam, termasuk dukungan membabi buta barat terhadap penjajahan zionis Israel di Palestina, merupakan cerminan dari ketidakadilan itu.

Ketika 9 orang terbunuh akibat pengeboman di hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton, banyak orang yang mengecam aksi tersebut. Sikap yang sama seharusnya muncul ketika ratusan ribu umat Islam terbunuh pasca invasi AS di Iraq. Mengutip laporan yang dimuat Jurnal Lancet, lebih dari 650 ribu warga sipil Iraq tewas sejak invasi AS pada tahun 2003 dan jumlah itu tentu saja terus saja bertambah hingga kini.

Amerika serikat dimaklumi marah saat gedung WTC diserang yang menyebabkan sekitar 3000 orang terbunuh. Sebaliknya, tentu bisa dimaklumi juga umat Islam marah ketika pasukan Amerika terus menerus membunuh rakyat sipil di Afghanistan dan Pakistan. PBB mengatakan jumlah penduduk sipil yang tewas di Afghanistan tahun ini meningkat 24 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laporan PBB menyebutkan lebih dari 1.000 orang tewas dalam enam bulan pertama tahun ini. Jumlah korban serangan AS terhadap rakyat sipil di perbatasan Pakistan-Afghanistan pun terus meningkat.

Bandingkan pula sikap dunia barat ketika Israel menyerang Gaza. Angka korban serangan Israel ke jalur Gaza sejak 27 desember 2008 hingga 18 januari 2009 malah mencapai 1313 atau rata-rata 59 orang tewas perhari atau setiap jam lebih 2 orang tewas. Tidak hanya itu, Israel juga mengakui menggunakan senjata kimia yang mengerikan, yakni fosfor putih. Belum lagi yang terbunuh akibat isolasi jalur Gaza oleh Israel. Alih-alih mengecam Israel, Amerika, Inggris dan sekutunya malah membela Israel. Untuk kasus Indonesia, ketidakadilan itu juga tampak dari sikap yang diskriminatif terhadap pembunuhan umat Islam di Ambon, Poso, atau kerusuhan di Sampit.

Berkaitan dengan pengeboman pada juli 2005 di London, pemerintahan Inggris memberikan peringatan bahwa keterlibatan dalam invasi AS ke Iraq telah meningkatkan adanya ancaman serangan balasan terhadap Inggris. Laporan yang bocor dari Joint Terrorims Center (JTAC) Inggris, yang mendahului serangan tersebut, memperingatkan: "peristiwa-peristiwa yang terjadi di Iraq semakin menjadi motivasi dan fokus sejumlah teroris berkaitan dengan aktivitas di Inggris."

Pada april 2005, sebuah laporan yang ditulis oleh Joint Intelligence Committee (JIC) berjudul "International Terrorism Impact of Iraq" bahkan lebih eksplisit menyatakan: “kami menilai bahwa konflik yang terjadi di Iraq telah memperburuk ancaman terorisme internasional dan akan terus memberikan dampak dalam jangka waktu yang lama. Konflik tersebut telah memperkuat kegigihan para teroris yang telah melakukan serangan ke negara-negara barat dan memotivasi orang-oran lain yang tidak melakukannya.”

Seharusnya siapapun yang menginginkan kekerasan global dihentikan, juga harus dengan tegas meminta AS dan negara-negara imperialis lainnya menghentikan kebijakan yang eksploitatif dan diskriminatif terhadap dunia Islam. Masyarakat barat sendiri seharusnya meminta penguasa mereka agar menarik tentara negaranya dari Iraq, Afghanistan, dan negeri Islam lainnya. Termasuk menghentikan dukungan membabi buta terhadap Israel.

Bagi umat Islam, ketidakadilan global ini harus dihentikan. Berharap pada negara-negara imperialis untuk menghentikan kejahatan mereka sangatlah sulit. Karena selama barat masih mengadopsi ideologi kapitalisme, penjajahan akan menjadi metode baku yang tidak berubah. Tidak ada pilihan lagi, kecuali umat Islam bersatu membangun kekuatan global khilafah Islam yang akan melindungi umat Islam dari bulan-bulanan negara imperialis..

Isu Terorisme & Serangan Terhadap Islam

Sebenarnya isu memerangi terorisme yang dilancarkan Amerika dan sekutu-sekutunya adalah perang melawan Islam dan kaum Muslimin. Musuh-musuh Islam mencoba membidik Islam dan kaum Muslimin di balik isu terorisme. Mereka takut dengan bangkitnya kaum muslimin. Dengan demikian mereka berusaha sekuat tenaga dan dengan berbagai macam cara untuk menghancurkan kebangkitan kaum Muslimin, salah satunya dengan melancarkan perang melawan terorisme.

Saat ini umat Islam menjadi tertuduh dan semua ketakutan dengan segala hal tentang Islam, karena selalu dikait-kaitkan dengan isu terorisme. Para pelajar, aktivis Islam dan semisalnya menjadi resah. Mereka khawatir dituduh dan dianggap sebagai sarang dan penyedia serta membantu aktivitas terorisme.

Gerakan-gerakan dakwah pun dicurigai meskipun gerakan dakwah itu terbuka dan tak ada sangkut pautnya dengan teroris. Beberapa orang pun mengawasi ketat anak remajanya yang mau berangkat mengaji. Padahal hal itu tak pernah terjadi sebelumnya. Mereka menanyakan ngajinya sama siapa, tempatnya di mana, dan segala macam secara berulang-ulang.

Bahkan di sebuah wilayah, beberapa orang yang hendak melakukan khuruj (aktivitas yang rutin dilakukan oleh Jama’ah Tabligh) di sebuah masjid, ditolak warga setempat pasca pengeboman di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton. Warga setempat tak mau daerahnya dijadikan tujuan orang luar. Mereka takut orang-orang tersebut terlibat terorisme.

Sikap paranoid ini muncul belakangan di beberapa daerah. Ini terjadi setelah televisi dengan sangat gencar menyebarkan berita terorisme sejak penyerbuan di Temanggung, Jawa Tengah. Bukannya obyektif, pemberitaan di media massa cenderung menstigmatisasi negatif Islam dan kaum muslimin.

Belum jelas benar siapa pelakunya, media massa langsung menyorot pesantren. Pesantren dianggap mengajarkan jihad dan ini menjadi inspirasi para teroris. Media massa pun sibuk mencari latar belakang orang-orang yang diduga teroris dengan melakukan interogasi dan inkuisisi terhadap almamater, keluarga, dan para tetangga.

Tampa disaring, berita isu langsung disiarkan. Padahal tidak semua sumber berita yang didapatkannya layak disiarkan.

Hal yang sama tidak pernah dilakukan terhadap para koruptor. Adakah media massa yang pernah mengaitkan koruptor dengan almamaternya? Kemudian menyatakan bahwa unversitas X telah mengajarkan korupsi? Atau mencari guru dan dosennya karena dianggap sebagai inspirasi untuk korupsi?

Sikap media ini tidak lepas dari upaya pihak-pihak tertentu untuk menjadikan media sebagai corong dalam menyerang Islam dan kaum muslimin. Lihat saja bagaimana media massa seolah jadi ‘orang bodoh’ dan menurut saja dengan arahan sumber-sumber mereka. Sikap kritis mereka hilang. Bahkan untuk mencari alternatif narasumber lagi. Sampai-sampai ketika sumber-sumber berita mereka memberitakan berita yang salah pun, ditelan mentah-mentah. Perhatikan ketika penyerangan di Temanggung terjadi, dalam siaran langsungnya, mereka seperti koor menyanyikan lagu bahwa teroris yang terbunuh adalah gembong teroris Noordin M Top. Ternyata bukan.

Telah terjadi trial by the press (pengadilan oleh meda massa), yang dampaknya jauh lebih kejam. Media pun tergiring oleh frame berpikir musuh-musuh Islam yang menggeneralisasi para teroris dengan Islam. Isu memerangi terorisme yang dilancarkan Amerika dan sekutu-sekutunya disebarluaskan dan dikerjakan oleh media massa yang pada hakikatnya untuk menghilangkan kebangkitan Islam.

Ironisnya, media massa seolah maklum saja dengan tindakan brutal Amerika dan sekutunya menebar bom dan kematian di mana-mana. Media massa tidak pernah menyebut mereka sebagai teroris, meski korban tewas jauh lebih banyak dan massif.

Media memang telah menjadi alat bagi kapitalisme global dalam mempertahankan hegemoninya. Di era informasi dimana kemenangan ditentukan oleh penguasa sumber-sumber informasi, media massa adalah salah satu pilar kapitalisme.

Barat paham betul bahwa Islam adalah musuh berikutnya setelah komunisme runtuh. Islam adalah ancaman. Karenanya, kebangkitan Islam mesti dihalang-halangi. Caranya bisa melalui hard dan soft power. Untuk itu barat dan antek-anteknya mendekonstruksi persepsi masyarakat terhadap Islam untuk melahirkan sikap moderat bahkan liberal. Mereka tidak mau Islam tampil apa adanya sesuai Al Quran dan As Sunnah. Sikap moderat dan liberal ini dianggap pas dengan hegemoni dan determinasi barat.

Sangat tidak mengherankan bila di tengah isu terorisme yang sedang hangat sekarang tiba-tiba muncul pernyataan beberapa tokoh yang mencoba menggeneralisasi bahwa terorisme itu adalah keinginan menerapkan syariah Islam dalam Daulah Islam. Mereka mencoba menebar ‘pukat harimau’ untuk menjaring aktivis pergerakan Islam.

Mereka sepertinya tutup mata-atau memang sengaja terhadap fakta bahwa tidak semua gerakan yang memperjuangkan syariah Islam dan khilafah setuju dengan aksi terorisme. Modus mereka ini sama dan sebangun dengan gaya Amerika dan barat umumnya melihat Islam pasca tragedi WTC pada September 2001.

Tak mengherankan bila banyak pihak yang menganalisis bahwa aksi-aksi terorisme di Indonesia ini sengaja dimainkan oleh pihak asing. Tujuannya adalah melemahkan umat Islam Indonesia sehingga Islam tidak bisa bangkit menjadi sebuah kekuatan yang besar di negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia ini.

Oleh karena itu perlu waspada terhadap segala tipu daya musuh-musih Islam tersebut. Para pengembang dakwah harus terus istiqomah mendakwahkan Islam dan mengembalikan kejayaan Islam dengan metode dakwah yang dicontohkan oleh Rosulullah SAW.

Siapa Teroris Sebenarnya ? Sadarlah Wahai Kaum Muslimin…!

Jadi, siapakah terorisme yang sebenarnya ? Kalau kita mau meneliti sejarah, maka terlalu banyak dan panjang catatan peristiwa sejarah Amerika yang dapat membuktikan bahwa Amerika adalah teroris sejati. Amerika dengan dukungan sekutunya NATO, berhasil menekan PBB untuk mengembargo Irak.

Jika definisi teror adalah membunuh rakyat sipil yang tak berdosa; anak-anak, wanita dan orang tua, maka mereka atau Amerika adalah teroris paling pertama, teratas dan terjahat yang dikenal oleh sejarah umat manusia. Mereka telah membantai jutaan rakyat sipil tak berdosa di seluruh dunia; Jepang, Vietnam, Afghanistan, Iraq, Palestina, Chechnya, Indonesia dan banyak negara lainnya.

Jika definisi teror adalah membom tempat-tempat dan kepentingan-kepentingan umum, mereka adalah pihak yang pertama, teratas dan terjahat yang mengajarkan, memulai dan menekuni hal itu.

Jika definisi teror adalah menebarkan ketakutan demi meraih kepentingan politik, maka merekalah yang pertama, teratas dan terjahat yang melakukan hal itu di seluruh penjuru dunia.

Jika definisi teror adalah pembunuhan misterius terhadap lawan politik, maka mereka adalah pihak pertama, teratas dan terjahat yang melakukan hal itu.

Jika definisi mendukung teroris adalah membiayai, melatih dan memberi perlindungan kepada para pelaku kejahatan, maka mereka adalah pihak yang pertama, teratas dan terjahat yang melakukan hal itu. Mereka bisa berada di balik berbagai kudeta di seluruh penjuru dunia. Aliansi Utara di Afghanistan, John Garang di Sudan, Israel di bumi Islam Palestina, Serbia dan Kroasia di bekas negara Yugoslavia, dan banyak contoh lainnya merupakan bukti konkrit tak terbantahkan bahwa The Real Terrorist adalah Amerika dan sekutu-sekutunya!

Dengan demikian, setelah ummat mengetahui rencana apa di balik isu terorisme, siapa teroris sebenarnya, maka mereka juga harus tetap sabar, tawakal, dan yakin bahwa Islam pasti menang. Hal ini sebagaimana janji Allah SWT dalam firmanNya :

“Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar (Islam) untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (QS At Taubah, 9 : 33 & QS Ash Shaff, 61 : 9)

Wallahu’alam bis Showab!

* Artikel ini merupakan ringkasan dari Khutbah Ust. Abu Muhammad Jibriel (Wakil Amir Majelis Mujahidin) pada Bulan Syawwal di beberapa Masjid di Jakarta


selengkapnya...

Gabung bersama kami

About Me

admin jg menerima pelayanan jasa

admin jg menerima pelayanan jasa
Jasa arsitek rumah; desain arsitek / desain rumah, gambar denah rumah, bangun rumah baru, renovasi rumah dan pembangunan mesjid, mushola, ruko, disaign taman, dll. klik gambar utk kontak personal.

Syiar Islam On Twitter

Site info

Kalkulator Zakat Fitrah

  © Syiar islam Intisari Muslim by Dede Suhaya (@putra_f4jar) 2015

Back to TOP  

Share |