Jangan Banyak Mengeluh, Bersyukurlah! Kekayaan Hati Yang Hakiki

Segala puji bagi Allah shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Rasulullah keluarganya para shahabatnya dan yang selalu mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du:

Para pembaca yang dirahmati Allah Ta’alaa:

Kebanyakan manusia mengira bahwa kekayaan hanyalah dengan mengumpulkan harta berupa uang, saham, property, perdagangan dan lainnya, menurut mereka orang yang tidak demikian bukan orang kaya, akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memalingkan pandangan kita kepada makna kekayaan yang hakiki dalam sabdanya:

" ليس الغنى عن كثرة العرض، ولكن الغنى غنى النفس".

Artinya: (kekayaan bukanlah banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kekayaan hati).

Berapa banyak manusia yang memiliki bermacam harta yang banyak tetapi sebenarnya dia hidup dalam kefakiran, kita melihatnya selalu takut dan gundah, berusaha menambah hartanya karena takut jatuh miskin, dia bakhil untuk menafkahkan hartanya dalam hal kebaikan supaya hartanya tidak berkurang, bahkan terkadang memutuskan silaturahim gara-gara alasan yang sama, sebagaimana kita lihat dia selalu menoleh kepada harta orang lain, orang seperti ini selamanya hidup fakir, karena dia tidak ridho dengan pembagian Allah Ta’alaa untuknya, dan karena dunia telah menetap dalam hatinya.



Inilah kisah Khubaib bin ‘Adi radhiallahu anhu berkata: ketika itu kami berada dalam satu masjlis lalu datanglah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang bekas air membasahi kepalanya lalu sebagian kami berkata: kami melihat anda hari ini sedang senang hati maka beliau menjawab: “benar dan Alhamdulillah”. Kemudian orang-orang menceritakan tentang kekayaan maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا بأس بالغنى لمن اتقى ، والصحة لمن اتقى خير من الغنى ، وطيب النفس من النعيم" .( صحيح سنن ابن ماجة).

Artinya: (tidak mengapa kekayaan bagi yang bertakwa, dan kesehatan bagi yang bertakwa lebih baik dari kekayaan, dan senang hati termasuk kenikmatan) Shahih Ibnu Majah.

Janganlah menoleh kepada milik orang lain:

Karena Allah Azza wa Jalla berfirman:

(وَلا تَمُدَّنَ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجاً مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى) (طـه:131).

Artinya: (dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal) [QS Thahaa: 131].

Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dan ridholah dengan pembagian Allah Ta’alaa untukmu pasti kamu menjadi orang yang paling kaya” artinya adalah: terimalah apa yang diberikan Allah kepadamu, dan dijadikan nasibmu dari rizki, kamu menjadi orang terkaya, karena yang bersikap qana’ah maka dia merasa kaya.

Marilah kita merenungkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

" من أصبح منكم آمنا في سربه، معافى في جسده، عنده قوت يومه، فكأنما حيزت له الدنيا بحذافيرها ".

Artinya: (Barang siapa yang pagi harinya merasa aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, memiliki makanan hari itu, seolah dia telah mendapatkan kekayaan dunia).

Jika anda melihat orang yang lebih banyak harta dan anak dari dirimu maka ketahuilah bahwa ada orang yang lebih sedikit harta dan anaknya jadi lihatlah mereka yang dibawahmu, jangan melihat mereka yang diatasmu, demikianlah Nabi shallallahu ’alaihi wasallam mengajarkan kita dalam sabdanya:

"انظروا إلى من هو أسفل منكم، ولا تنظروا إلى من هو فوقكم، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم".

Artinya: (lihatlah orang yang dibawahmu, dan janganlah melihat orang yang diatasmu, karena itu lebih pantas supaya kamu tidak meremehkan nikmat Allah atasmu).

Orang lain dengan urusannya dan anda dengan urusan anda sendiri:

Seorang muslim sadar bahwa dia ada di dunia ini untuk satu tujuan yang agung dan mulia lagi tinggi yaitu beribadah kepada Allah Ta’alaa, dan mengibadahkan manusia kepada Allah Ta’alaa, oleh karena itu dunia tidak boleh melampaui batasnya, karena dunia disisinya hanya wasilah bukan tujuan, diatas makna yang agung inilah Nabi shallallahu ’alaihi wasallam mendidik para shahabatnya radhiallahu anhum.

Inilah kisah Rib’ie bin ’Amir bersama Rustum penguasa Persia sebagai saksi bagi makna yang tinggi dan tujuan mulia ini, saat Rustum meminta dari panglima Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu anhu untuk mengirim seorang utusan untuk bernegosiasi sebelum dimulai peperangan Qadisiyah, maka beliau mengutus Mughirah bin Syu’bah, ketika itu yang dikatakan kepada Rustum: sesungguhnya kami tidak mencari dunia, ambisi dan keinginan kami hanyalah akhirat, kemudian Sa’ad mengirim utusan lain kepadanya yaitu Rib’ie bin ’Amir, lalu memasukinya sedangkan mereka telah menghiasi majlisnya dengan bantal-bantal bertahtakan emas dan sutra, mereka memperlihatkan intan dan permata yang berharga, dia sedang duduk diatas dipan dari emas, dan Rib’ie masuk dengan pakaian usang, pedang, tameng dan kuda yang kecil, dia terus menaikinya sampai menginjak ujung permadani kemudian turun mengikatnya dengan sebagaian bantal tadi, dan maju dengan senjata dan baju besinya, lalu mereka berkata: letakkan senjatamu, diapun berkata: saya tidak mendatangi kalian, tapi saya mendatangi kalian ketika kalian mengundangku, maka jika kalian membiarkanku begini, maka saya teruskan, jika tidak aku kembali, maka Rustum berkata: izinkan dia, lalu dia menghadap dengan bersandar tombaknya diatas bantal-bantal dan mengoyaknya, seolah mengatakan kepada mereka secara langsung: dunia kalian ini tidak mempedayakan kami apalagi menyibukkan kami, lalu mereka berkata: apa yang membuat kalian datang? Dia menjawab: Allah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa yang mau dari peribadatan hamba kepada peribadatan kepada Allah, dan dari sempitnya dunia menuju luasnya akhirat, dari kezaliman agama-agama kepada keadilan Islam, maka kami diutus dengan agama-Nya kepada makhluk-Nya supaya menyeru mereka kepada-Nya, maka siapa saja yang menerima itu maka kami menerimanya dan kami kembali, dan siapa yang enggan menerima kami memeranginya selamanya sampai mencapai janji Allah Ta’aala, mereka bertanya: apa janji Allah? Dia menjawab: surga bagi yang mati saat memerangi mereka yang enggan, dan kemenagan bagi yang tertinggal.

Subhanallah, dalam keadaan fakir hampir tidak mendapatkan dunia sedikitpun berbicara tentang tujuannya termasuk mengeluarkan manusia dari sempitnya dunia menuju luasnya dunia dan akhirat!!.

Sungguh dahulu jika mereka mendapatkan dunia hanya di tangan mereka tidak sampai masuk kedalam hati mereka, oleh karena itu ketika mereka diminta untuk berinfak mereka kerahkan harta tanpa rasa takut fakir atau habis hartanya, pernah Umar datang dengan separuh hartanya sedangkan Abu Bakar radhiallahu anhu dengan seluruh hartanya ketika ditanya apa yang ditinggalkan untuk keluarganya? Dia menjawab: Allah dan rasul-Nya. Subhanallah, tidak pernah takut fakir. Juga Utsman radhiallahu anhu pernah mempersiapkan pasukan ketika masa sulit.

Jadi janganlah mengeluh, karena disekitar kita banyak yang kurang beruntung dari kita, sangat disayangkan jika seorang muslim hanya sampai dunia yang fana saja ambisinya dan mengorbankan akhiratnya.

Wallahu A’lam bishowab. /@cwi

selengkapnya...

Prinsip Islam (60) Bersuci Adalah Separoh Iman & Syarat Sahnya Shalat

Kita meyakini bahwa bersuci merupakan separoh dari iman. Allah tidak akan menerima shalat seseorang tanpa bersuci. Sedangkan thaharah (bersuci) dari hadats kecil bisa dengan berwudhu’. Sedangkan dari hadats besar dengan mandi. Dan apabila tidak ditemukan air secara hakiki (tidak ada air) atau secara hukmi (karena tidak bisa menggunakan air), maka cukup dengan tayammum.

Allah telah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya,

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

“Dan pakaianmu, maka bersihkanlah!” (QS. Al-Mudatsir: 4)

Adalah orang-orang musyrik tidak menjaga kebersihan (bersuci), lalu Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk membersihkan diri dan membersihkan bajunya. Sebagian pendapat mengatakan bahwa maksud “thaharah” tersebut adalah dari dosa-dosa dan kesalahan. Namun, secara dzahir ayat tersebut mencakup keduanya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

“Bersuci itu separoh keimanan” (HR. Muslim), maksudnya puncak pahalanya dilipatgandakan sampai setengah pahala iman. Ada yang mengatakan, maknanya iman menghapuskan dosa-dosa yang telah lalu, begitu juga wudhu. Sebabnya, karena wudhu tidak sah tanpa iman. Karena harus dengan iman inilah disebut sebagai separoh darinya. Dan masih ada beberapa pendapat lain mengenai hadits ini.

Allah telah memuji jama’ah masjid Qubba’ karena mereka suka menjaga kebersihan (kesucian). Allah Ta’ala berfirman,

فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ


“Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS. Al-Taubah: 108). Bersuci yang Allah puji dalam ayat ini adalah karena mereka beristinja’ dengan air sebagaimana yang telah dijelaskan dengan gamblang oleh beberapa hadits.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah masuk kamar kecil, lalu aku dan seorang anak kecil membawakan satu wadah berisi air dan sebuah tongkat. Maka beliau beristinja’ (bercebok) dengan air.” Dan dalam riwayat lain, “Apabila Nabi shallallahu 'alaihi wasallam buang air besar maka saya membawakan air untuknya, lalu beliau beristinja’ dengannya.” (HR. Al-Bukhari)

Dan tentang disyariatkannya beristinja’ dengan batu (istijmar) ditunjukkan oleh hadits Aisyah radhiyallahu 'anha, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

إِذَا ذَهَبَ أَحَدُكُمْ لِحَاجَتِهِ فَلْيَسْتَطِبْ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ فَإِنَّهَا تُجْزِئُهُ عَنْهُ

“Apabila salah seorang kalian pergi ke kakus (WC), maka hendaknya dia membersihkan (beristinja’) dengan tiga batu, maka itu sudah mencukupkannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan al-Nasai)

Dan tentang adab-adab buang air telah dijelaskan oleh hadits Salman, “Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang kami bercebok dengan tangan kanan, bercebok kurang dari tiga batu dan bercebok dengan kotoran hewan atau tulang.” (HR. Muslim)

Terlebih lagi, Islam menjadikan bersuci sebagai kunci shalat dan syarat sahnya. Shalat tidak akan pernah diterima tanpa bersuci. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda

مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

“Kunci shalat adalah bersuci, tahrim (pembuka)nya adalah takbir, dan tahlil (penutup)nya adalah salam.” (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةً بِغَيْرِ طُهُورٍ

“Allah tidak menerima shalat seseorang tanpa bersuci.” (Muttafaq ‘alaih)

لَا تُقْبَلُ صَلَاةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Tidak akan diterima shalat seseorang yang berhadats sehingga dia berwudhu.” (Mutaafaq ‘alaih)

Thaharah dari hadats besar dan kecil

Allah menyebutkan dua macam thaharah (bersuci) dari hadats asghar (kecil) dan akbar (besar). Juga meyebutkan cara pengganti jika tidak mampu menggunakan air. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Maidah: 6)

Tentang tata cara wudhu, telah ditunjukkan oleh hadits Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Beliau pernah berwudhu’, maka beliau membasuh mukanya. Lalu mengambil seciduk air lalu berkumur-kumur dan beristinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung) dengannya. Lalu mengambil seciduk air –beliau mengabungkannya dengan tangannya yang satu (kiri)- lalu mencuci wajahnya. Lalu mengambil seciduk air dan menggunakannya untuk mencuci tangan kanannya. Lalu mengambil seciduk air dan menggunakannya untuk mencuci tangan kirinya. Kemudian mengusap kepalanya. Kemudian mengambil seciduk air dan memercikkan air (sedikit demi sedikit) ke kaki kanannya sehingga membasahinya. Kemudian mengambil seciduk lagi dan membasahi kaki kirinya. Kemudian beliau radhiyallahu 'anhumai berkata, “Beginilah aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berwudhu.” (HR. al-Bukhari)

Dan juga hadits Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, beliau minta diambilkan air wudhu lalu berwudhu. Beliau mencuci kedua telapak tangannya tiga kali, lalu berkumur-kumur dan beristintsar (menyemprotkan air lewat hidung). Kemudian beliau membasuh mukanya tiga kali, lalu membasuh tangan kanannya sampai ke siku tiga kali, lalu mencuci tangan kirinya seperti itu. Kemudian mengusap kepalanya. Kemudian membasuh kaki kanannya sampai kedua mata kakinya tiga kali, lalu mencuci kaki kirinya seperti itu. Kemudian beliau berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berwudhu seperti wudhuku ini. Kemudian beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

‘Siapa berwudhu seperti wudhuku ini, lalu berdiri shalat dia rakaat dan jiwanya tidak disibukkan selain shalat maka diampuni dosa-dosanya yang lalu’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Adapun tatacara mandi dijelaskan oleh hadits ‘Aisyah radhiyallahu 'anha,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنْ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي الْمَاءِ فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ

“Bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam apabila mandi janabat, beliau memulai mencuci kedua tangannya. Lalu berwudhu sebagaimana sebagaimana wudhu untuk shalat. Kemudian beliau memasukkan jari-jari tangannya ke dalam air, lalu menyela-nyela pangkal rambut kepalanya. Setelah itu beliau menyiram kepalanya tiga kali dengan air sepenuh dua telapak tangannya, lalu meratakannya ke seluruh tubuh.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Mandi semacam ini merupakan tata cara mandi yang sempurna. Kalau dia membasahi seluruh badannya dengan air dengan cara apapun maka sudah mencukupi. Imam Syafi’i rahimahullaah berkata, “Allah mewajibkan mandi secara mutlak, tidak menyebutkan sesuatu yang harus didahulukan sebelum yang lain. Maka bagaimanapun cara mandi yang dilakukan seseorang, maka sudah cukup (boleh dan sah) apabila ia membasahi seluruh tubuhnya. Dan cara terbaik dalam mandi adalah (mengikuti) apa yang diriwayatkan ‘Aisyah.”

Dan cara mandi juga dijelaskan oleh hadits Maimunah –istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam- berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat kecuali membasuh kedua kakinya, mencuci kemaluannya dan tempat yang terkena kotoran (mani). Lalu beliau menuangkan air ke tubuhnya, lalu menggeser kedua kakinya dan mencucinya. Inilah cara mandi janabat beliau shallallahu 'alaihi wasallam.” (HR. al-Bukhari)

Tidak diragukan lagi bahwa membasuh kemaluan itu sebelum wudhu, karena huruf “wawu (yang artinya dan- red)” tidak menuntut urut. Dan tentang mengakhirkan mencuci kedua kaki dalam mandi adalah persoalan khilaf yang sudah masyhur.

Dan tentang tata cara tayammum juga telah diriwayatkan oleh al-Bukhari. Ada seseorang datang kepada Umar bin Khathab, lalu berkata, “Aku telah junub, dan –sampai sekaranng- tidak mendapatkan air.” Maka Amar bin Yasir berkata kepada Umar bin Khathab, “Tidakkah engkau ingat! Saat kita, saya dan kamu bersama-sama dalam safar?. Adapun engkau tidak shalat, sedangkan aku berguling-guling di atas tanah lalu shalat. Kemudian aku melaporkannya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, “Adalah cukup bagimu seperti ini.” Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menepukkan kedua telapak tanganya ke tanah, lalu meniup keduanya, lalu mengusapkan keduanya pada muka dan kedua telapak tangannya.”
Diterjemahkan oleh Badrul Tamam dari kitab Maa Laa Yasa’ al-Muslima Jahluhu, DR. Abdullah Al-Mushlih dan DR. Shalah Shawi. /@cwi

selengkapnya...

Aliran Sesat di Maros Yakini Ada Tuhan di Atas Allah, Modifikasi Shalat & Al-Fatihah

MAROS (voa-islam.com) – Aliran sesat baru berkembang di Maros, meyakini masih ada Tuhan di atas Allah dan melarang jemaatnya baca Al-Qur'an. Ibadahnya bersemedi, bergoyang-goyang dan meraung-raung. Shalatnya dua kali sehari dengan membaca Al-Fatihah tidak utuh yang dicampur dengan bahasa Makassar. Bubarkan!!

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maros, Sulawesi Selatan, prihatin dengan perkembangan aliran Ahad Soht di Dusun Laiya, Desa Mattajang, Kecamatan Cenrana. MUI mengkhawatirkan dampak yang bakal ditimbulkan aliran yang dipimpin Aha’ Daeng Kulle ini.

Ketua MUI Maros, KH Sahabuddin Hamid mengatakan, aliran Ahad Soht telah berumur tiga bulan dan memiliki penganut sekitar 50 orang. “Jika tidak ditangani, maka ajarannya akan terus berkembang,” kata Sahabuddin.

Sahabuddin menyatakan Ahad Soht adalah sesat dan sudah jauh melenceng dari syariat Islam. Menurut dia, ibadah kelompok ini sangat janggal, seperti membaca Al Fatihah secara tidak lengkap dan bercampur bahasa Makassar.

....ibadah kelompok ini sangat janggal, seperti membaca Al Fatihah secara tidak lengkap dan bercampur bahasa Makassar....

Kejanggalan lain, cara beribadah mereka yang diam bersemedi, bergoyang-goyang, dan meraung-raung. Aliran ini juga hanya mewajibkan dua kali salat, yakni zuhur dan asar.

Yang dinilai paling menyimpang oleh Sahabuddin, Ahad Soht mengajarkan masih ada Tuhan di atas Allah dan melarang jemaahnya membaca Al-Qur’an. “Ini sudah sangat kelewatan,” ujar Sahabuddin, geram.

....Aliran ini mengajarkan masih ada Tuhan di atas Allah dan melarang jemaahnya membaca Al-Qur’an....

Karena itu, MUI meminta Pemerintah Kabupaten Maros dan Kepolisian Resor Maros untuk segera turun tangan, karena aliran ini dinilai telah meresahkan warga. Sahabuddin juga menghimbau Daeng Kulle agar tidak menyebarluaskan ajarannya. “Atas nama MUI Maros, saya meminta kepada Daeng Kulle untuk menghentikan penyebaran Ahad Soht.”

Desa Laiya terletak di pelosok Kabupaten Maros, arah menuju Kabupaten Bone. Untuk sampai ke daerah itu, paling tidak perlu menempuh sekitar empat jam. Dua jam berkendaraan dari Kota Kabupaten Maros, dan dilanjutkan berjalan kaki sekitar dua jam lagi. Orang yang ingin menuju kampung itu harus menyusuri bukit terjal yang berliku. [taz/viv]/@cwi

selengkapnya...

Gabung bersama kami

About Me

admin jg menerima pelayanan jasa

admin jg menerima pelayanan jasa
Jasa arsitek rumah; desain arsitek / desain rumah, gambar denah rumah, bangun rumah baru, renovasi rumah dan pembangunan mesjid, mushola, ruko, disaign taman, dll. klik gambar utk kontak personal.

Syiar Islam On Twitter

Site info

Kalkulator Zakat Fitrah

  © Syiar islam Intisari Muslim by Dede Suhaya (@putra_f4jar) 2015

Back to TOP  

Share |