Haman sebagaimana Disebutkan dalam Alquran

Oleh Abduldaem Al-Kaheel

Segala puji bagi Allah yang berfirman di dalam Al-Qur’an:

“Dan berkata Firaun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta". (QS Al-Qashash [28]: 38)

Firaun yang disebutkan dalam ayat ini berbicara dengan para bangsawan bangsanya bahwa ia tidak mengenal tuhan untuk mereka kecuali dirinya sendiri. Firaun memanggil Haman untuk memintanya membangunkan untuknya dari tanah yang dibakar, atau batu bata, bangunan yang sangat tinggi supaya ia bisa melihat Tuhannya Musa.

Ayat ini menunjuk kepada banyak mujizat seperti:

1. Firaun memosisikan dirinya sebagai tuhan: seperti dalam perkataannya, “aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.” Riset arkeologi menemukan peradaban Mesir kuno yang memastikan bahwa Firaun sejak dinasti keempat mengklaim bahwa mereka adalah anak-anak Dewa Raa, dewa matahari yang disembah oleh orang Mesir kuno. Tidak hanya itu, nama Raa berada di antara para keluarga fir'aun, seperti Raa Nip, yang berarti dewa emas. Kata ilmuwan arkeologi, yang bukti paling jelas bahwa Firaun menganggap diri mereka sebagai tuhan adalah adanya lagu untuk matahari yang telah diabadikan dalam teks-teks di dalam piramida, yang mengidentifikasi Firaun sebagai dewa matahari. Lagu ini berbicara ke rakyat Mesir, termasuk daftar panjang yang menakjubkan tentang manfaat yang dapat dinikmati rakyat Mesir di bawah perlindungan dan penguasa dewa matahari, seperti yang diberikan Firaun kepada rakyat Mesir. Ia harus menerima hadiah yang sama dari rakyat Mesir. Itu sebabnya seluruh lagu diulang lagi dengan menempatkan nama firaun meskipun yang tercatat dalam lagu asli adalah nama “Raa atau Horase”.

2. Keajaiban kedua adalah penggunaan batu bata oleh Fir'aun dalam membangun menara: Firaun meminta Haman untuk membangun istana yang tinggi atau menara dari tanah liat bakar yang merupakan batu bata. Hal ini dianggap sebagai mukjizat sejarah Alquran, karena telah menjadi pemikiran umum bahwa batu bata menurut para sejarahwan tidak muncul di Mesir kuno, kecuali setelah era Roma, dan ini menurut pendapat membuat para sejarahwan bertentangan dengan ayat yang menyatakan permintaan Firaun kepada Haman bahwa dia harus membangun sebuah istana yang tinggi dari tanah liat bakar atau batu bata. Pendapat para sejarahwan itu terus bertahan hingga Patry, seorang ilmuwan arkeologi menemukan sejumlah batu bata yang digunakan dalam membangun entombment dan juga digunakan dalam membangun beberapa bangunan dasar yang merujuk kepada masa Rammsis II , Mrinbtah dan Sity II dari dinasti keluarga kesembilan belas (1308-1184 SM). Dan ia menemukan batu bata itu dalam sebuah situs arkeologi yang tidak jauh dari Be Rammsis atau Kantir, Ibukota Fir'aun di timur Delta.

3. Mukjizat ketiga menunjuk ke salah satu asisten Firaun dengan namanya Haman. Profesor Morris Bokay menyatakan sebagai berikut, “Al-Qur’an menyebutkan seseorang bernama Haman yang merupakan salah satu pembantu Firaun. Firaun memintanya untuk membangun bangunan yang tinggi atau sebuah istana tinggi memungkinkan Firaun—ketika ia berkata dengan sinis kepada Musa—untuk mencapai Allah dan melihat-Nya. Dan saya ingin tahu apakah nama itu tidak terhubung ke sebuah nama hiroglif, sehingga ia dapat disimpan sebagai salah satu dokumen era tersebut, sehingga kemudian “Nakhara” yang berarti “menulis surat suatu bahasa dalam surat bahasa lain” akan terjadi. Dan saya tidak akan puas dengan jawaban kecuali yang datang dari seorang ahli dalam bahasa hieroglif dan juga mengetahui bahasa Arab secara baik.

Jadi saya bertanya kepada seorang ilmuwan di bidang Egyptologue dari perancis tentang kedua hal tersebut. Saya menulis nama Haman, tapi saya tidak mengatakan apa-apa kepadanya tentang realitas teks yang bersangkutan. Saya hanya mengatakan kepadanya bahwa kata ini terkait dengan abad ketujuh sebelum masehi. Jawabannya yang pertama adalah bahwa nama asli itu tidak mungkin karena tidak mungkin untuk menemukan teks yang mencakup nama nama seorang pria terkemuka dalam bahasa hieroglif dan juga memiliki sajak hiroglif yang terkait dengan abad ketujuh sebelum masehi.

Nama ini tidak dikenal sampai sekarang. Itu karena bahasa hieroglif telah lama dilupakan. Di sisi lain, ia menyarankan saya untuk memeriksa kamus nama-nama pribadi kerajaan baru dan untuk mencari nama ini, dengan memberi isyarat kepada saya tentang bahasa hieroglifnya jika benar-benar ditemukan. Dan ketika saya mencari, saya menemukan tertulis dalam kamus ini persis seperti yang saya harapkan. Sungguh suatu kejutan!

Saya tidak hanya menemukan namanya, tetapi juga menemukan pekerjaannya, seperti yang ditulis dalam bahasa Jerman “kepala pekerja galian”. Tetapi tanpa tanda apapun tentang masanya, kecuali teks yang berkaitan dengan kerajaan yang berdiri di zaman Nabi Musa, dan pekerjaan yang ditulis menunjukkan bahwa ia bertanggungjawab di bidang konstruksi. Jadi, apa pendapat kita tentang perbandingan antara perintah Firaun kepada Haman sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an, dengan apa yang tertulis dalam buku ini.”

Mahabenar Allah dalam firman-Nya: “Dan berkata Firaun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta.” (QS Al-Qashash [28]: 38) /@cwi

selengkapnya...

Selaksa Asa, Sebersit Azzam, dan Segumpal Kesadaran


dakwatuna.com – Seiring kehadiran buah hati yang pertama menyemarakkan hidup kami, saya jadi memiliki kebiasaan baru yang berlangsung hingga kini.

Menatap wajah anak-anak di kala mereka terlelap dalam tidur malam maupun siang adalah saat-saat yang saya sukai dan tanpa sadar sudah menjadi bagian dalam ritme hidup saya. Ada perasaan tertentu yang sulit diungkapkan namun terasa ada ketenangan mengalir ke relung hati.

Ketika menatap wajah-wajah damai itu, selalu hadir sebersit azzam dalam hati untuk terus belajar dan memperbaiki diri agar bisa menjadi ibu sebaik mungkin bagi mereka.

Menatap bersihnya paras yang seolah memancarkan bercahayanya hati mereka, selalu sanggup menumbuhkan janji di hati untuk menjaga anugerah terindah dalam hidup kami ini dengan sebaik mungkin menjaga amanah dariNya.

Namun di saat bersamaan dengan hadirnya rasa tersebut, tak bisa ditepis sering pula muncul kilas balik berbagai kejadian saat bagaimana saya merespon tingkah anak-anak yang terkadang menguji kesabaran diri sekaligus menunjukkan suatu kenyataan bahwa ternyata saya mendapatkan banyak ilmu kehidupan dari tingkah polos mereka.

Seperti saat itu jarum jam menunjukkan pukul satu malam, yang berarti baru satu jam berlalu putri kecilku genap berusia 4 tahun. Ia tengah tertidur lelap, kerudung berwarna pink dengan motif bunga-bunga kecil masih melekat di kepalanya. Saya tatap wajahnya yang menentramkan itu, ada kilasan peristiwa berkelebat saat pandangan tertuju pada kerudung kesayangannya…

“Bunda, kenapa setiap bunda keluar rumah selalu menutup rambut dengan kerudung besar itu?”, putri kecilku bertanya dengan binar mata penuh rasa ingin tahu.

Sejenak saya terdiam, memikirkan kalimat apa yang pantas diucapkan agar dipahaminya. Lalu sambil berjongkok di hadapannya, saya coba menjawab…

“Karena Bunda ingin disayang dan dijaga Allah maka Bunda turuti apa yang diperintahkan Allah… Allah menyuruh perempuan yang sudah besar untuk menutupi rambut supaya tidak ada yang mengganggunya. Tapi, tak hanya rambut lhoo…, semua bagian tubuh kecuali wajah dan telapak tangan harus ditutup juga dengan pakaian yang seperti Bunda pakai ini”, urai saya.

“Ooo… gitu ya?”, gumamnya perlahan…matanya mengerjapkan gemintang rasa ingin tahu lebih jauh…

“Yang boleh lihat hanya ayah, kakak, aku dan adek ya?” ia lontarkan kembali sebuah tanya.

“Masih ada selain mereka yang boleh lihat, tapi lain kali aja ya Bunda kasih tahunya?” terlihat putriku mengangguk mengiyakan permintaan saya.

“Bunda, aku suka lihat Bunda pakai kerudung…karena Bunda jadi disayang Allah”, ungkap putriku sambil menghambur dalam pelukan.

“Aku juga mau pake ah! Aku juga ingin dijaga dan disayang Allah!” ujarnya sambil berlari menuju lemari miliknya. Ia mengambil sehelai kerudung lalu mengenakannya.

Kuacungkan kedua jempol tanganku tanda menyetujui dan memuji sikapnya. Putriku tersenyum senang kemudian berlari ke halaman rumah, bergabung kembali dengan kakaknya yang sedang asyik bermain di teras.

Tak disangka sejak itu ia selalu ingin mengenakan kerudung setiap kali keluar rumah. Seringkali kami membujuknya agar ia melepas kerudungnya itu setelah seharian bermain di luar. Tetapi ia selalu menolak. Kalaupun dilepas hanya saat akan mandi, setelah itu ia akan mengenakannya kembali.

“Aku ingin dijaga dan disayang Allah, seperti Allah menyayang Bunda!” ucapnya ketika suatu hari saya tanya kenapa ia tak mau melepas kerudungnya.

Subhanallah! jawaban polosnya membuat saya menyesal karena selama ini selalu membujuknya agar ia melepas kerudung saat ia berkeringat kelelahan dan kepanasan. Padahal ia tak pernah mengeluhkan keadaan dirinya bahkan kelihatannya tetap merasa nyaman.

Di lain waktu berbeda lagi motivasi memakai kerudungnya, ia mengatakan pada saya bahwa ia merasa malu ketika orang melihat rambutnya. Putri kecilku tak suka rambut indahnya menjadi perhatian dan merasa jengah mendengar komentar atau pujian orang.

Subhanallah! rasa hati semakin tak menentu…Maafkan bundamu ya nak?… Bunda tidak peka akan keinginan baikmu untuk meraih cinta Allah di usia beliamu…kuusap kepala putriku yang terlindung kerudung kesayangannya itu.

Kembali saya tatap wajah damainya… terbayang suatu waktu ia pernah merajuk dan menangis dengan kencang ketika bangun tidur mendapatkan matahari sudah menyemburatkan cahayanya. Di sela sedu-sedannya, ia mengatakan bahwa dirinya sedih karena saya dan suami tidak membangunkannya untuk shalat subuh berjamaah di masjid.

Subhanallah! Kami terperangah…sungguh tak disangka ternyata putri kecilku memiliki keinginan yang sangat mulia. Ia ingin shalat subuh bersama ayahnya di masjid. Kakaknya pun melayangkan protes yang sama pada kami, mengapa ia dan adiknya tidak dibangunkan saat adzan berkumandang? Tak ada yang dapat kami ucapkan saat itu selain permintaan maaf dan berjanji akan membangunkan mereka untuk subuh yang akan datang.

Harus saya akui, seringkali saya terjebak dalam rasa kasihan pada anak-anak, merasa mereka masih terlalu kecil untuk melakukan hal itu. Perasaan tak tega membangunkan mereka agar turut ayahnya menembus gelap dan dingin subuh menuju masjid, kerap memenuhi pikiran saya. Astaghfirullah!

Semestinya kami bersyukur ketika mendapatkan buah hati yang memiliki kecenderungan kuat untuk melaksanakan titahNya meski di usia dini mereka. Namun, entah kenapa selalu melintas dalam pikiran kami rasa kasihan, bahwa mereka masih terlalu kecil untuk melakukan semua kebaikan yang saat ini dengan senang hati mereka lakukan. Alangkah naifnya kami…

Padahal bukankah lebih baik jika dilakukan pembiasaan sejak usia dini bagi permata hati kita sejauh tidak dalam bentuk pemaksaan agar tumbuh kecintaan dalam pribadi mereka untuk mentaati perintah dan larangan Allah?

Benarlah sebuah pepatah Jerman mengatakan „Eltern werden ist einfach, Eltern zu sein ist schwierig“ (menjadi orangtua adalah mudah tapi berperan sebagai orangtua adalah lebih sulit). Saya merasakan diri ini masih sangat jauh untuk dapat bersikap bijak dalam menyikapi tingkah anak baik sikap yang positif maupun negatif . Di samping itu saya pun masih perlu belajar banyak untuk bisa konsisten dengan apa yang kami inginkan dari diri anak-anak untuk menjadi pribadi shalih, tentunya dengan mendukung segala kebaikan yang dilakukan mereka, bukan sebaliknya.

Astagfirullahaladzhim!… saat menatap wajah-wajah tanpa dosa itu, bongkahan rasa bersalah menyesak di ulu hati.

Saya jadi teringat dengan seorang ibu di Berlin. Belum lama berselang suaminya yang berkebangsaan Jerman, wafat. Meninggalkan ia beserta dua putrinya yang masih di bawah umur. Ibu tersebut bercerita pada saya melalui e-mail tentang azzamnya untuk terus berupaya mengenalkan Islam kepada kedua buah hatinya. Semangat yang tersirat dalam tulisannya itu saya rasakan tak berubah sejak saya mengenalnya pertama kali di sebuah masjid tempat berkumpulnya muslimin- muslimat Indonesia. Saya melihat sendiri betapa ia berusaha sekuat daya membiasakan buah hatinya untuk berinteraksi dan belajar banyak hal tentang Islam dalam masjid tersebut. Meskipun jarak rumahnya dengan masjid cukup jauh dan sering terkendala dengan kondisi cuaca, semangat itu tak pernah pudar dari dirinya. Ia berharap pembiasaan sejak dini pada buah hatinya dapat menjadi benteng iman mereka ketika menghadapi budaya di negeri tempat mereka bermukim.

Ada pula ibu lainnya yang membuat saya kagum. Sama halnya dengan ibu yang pertama tadi, ia pun menikah dengan pria Jerman dan dikaruniai tiga orang putra yang kini beranjak remaja. Saya sering bertemu dengan ketiga putranya itu di hari ahad saat mereka akan belajar untuk menambah wawasan keislamannya di masjid Indonesia tersebut. Di masjid bernama Al-Falah itu, memang diadakan program kajian khusus untuk para remaja Indonesia- Jerman yang dipandu mualaf Jerman bernama Daniel serta beberapa guru lainnya. Mereka pun selalu hadir saat shalat tarawih di bulan Ramadhan. Melihat sosok mereka, saya jadi teringat akan cerita sang ibu bagaimana ia berjuang mendidik dan mengkondisikan agar ajaran agama terpatri dalam kepribadian mereka…Ya, ibunya mengkondisikan ruhani anaknya agar selalu tertaut pada Islam sejak mereka masih kecil. Subhanallah!

Masih banyak deretan ibu lainnya melintas dalam benak saya dengan segala upaya keras mereka sebagaimana kedua ibu tersebut. Lantas kenapa saya masih terpaku pada sebuah alasan bahwa mereka masih terlalu kecil untuk dikenalkan pada kewajiban terhadap agamanya yang kelak mesti mereka jalankan? Saya harus menepis pikiran itu dan mulai menyalakan semangat untuk mendidik dan mengenalkan keindahan ajaran Islam di usia belia mereka agar kelak menjadi pribadi-pribadi berakhlaq mulia dalam naungan cahaya Islam.

Saat menatap kembali wajah-wajah suci belum tersentuh dosa itu…saya berharap dalam hati, semoga belum terlambat untuk segera memperbaiki kekeliruan diri.

Di hari kelahiran putriku… bersimpuh diri ini padaMu Ya Allah, ampunilah kelalaian kami.. bimbinglah selalu kami untuk bisa mendidik amanah sekaligus karunia dariMu ini hingga dapat menghantarkan mereka menjadi pribadi-pribadi shalih yang mencintaiMu dan Engkau cintai, amiin.

Inilah salah satu hal mengapa saya suka menatap wajah mereka dalam lelap tidurnya… ada selaksa asa, ada sebersit azzam dan ada segumpal kesadaran untuk melakukan koreksi diri./@cwi

selengkapnya...

Katakan TIDAK! pada Buruk Sangka

Oleh Ineu

Berulang-ulang Jasmine mengucap tasbih, tahmid, takbir dan tahlil saat pesawat hendak mendarat di landasan bandara internasional Tegel-Berlin. Sementara itu, dalam pangkuannya seorang bayi yang baru berusia empat bulan tampak begitu tenang menghilangkan dahaga dengan minuman terbaik yang Allah anugerahkan untuknya.

Tak lama kemudian terdengar standing aplause dari wajah-wajah sumringah para penumpang, menandakan pesawat telah landing dengan sempurna. Dan, bagi Jasmine hal itu berarti saat-saat yang paling dinantikannya hanya tinggal hitungan menit. Hamdalah menyertai langkah kakinya meninggalkan burung besi tersebut.

Haru, hanya satu kata itu saja yang dapat mewakili perasaan Jasmine saat Allah mempertemukan kembali ia dengan kekasih hatinya Fadhlan, di bandara tersebut saat pagi musim gugur Oktober 2005. Tak henti-henti ia mengucap syukur atas kasih sayang Allah hari itu pada keluarga kecilnya.

Ada sesuatu yang mengherankan ketika pertemuan itu terjadi, tangis bayinya yang sempat menarik perhatian penumpang lain saat mengantri untuk pengambilan barang di salah satu ruang bandara, terhenti begitu melihat sosok ayahnya menghampiri. Bayinya tiba-tiba tertawa dan menghentak-hentakkan kakinya tanda ia gembira. Fadhlan yang baru pertama kali melihat buah hatinya itu segera mendekapnya. Subhanalah, Jasmine hanya mampu bertasbih atas kebahagiaan sekaligus keharuan yang dialaminya saat itu.

Seperti yang dilakukan penumpang lainnya, sejoli itu pun segera keluar dari bandara menuju halte dimana banyak taxi siap mengantar orang-orang menuju tujuan. Fadhlan segera mencegat salah satunya, sang supir langsung sigap menanggapi. Namun ketika Fadhlan menunjuk ke arah Jasmine, serta merta sang supir menggelengkan kepala dan ia pun berlalu meninggalkan Fadhlan dan Jasmine dalam keheranan.

Fadhlan coba mencegat kembali, tetapi semua supir yang dihampirinya selalu menunjukkan sikap yang sama dengan supir taxi pertama, berubah sikap begitu melihat Jasmine. Berulang kali Fadhlan mencoba lagi, namun lagi-lagi hanya gelengan kepala yang didapat setiap kali para supir taxi itu melihat ke arah Jasmine. "Aneh?!" batin mereka berdua. Kecemasan mulai menjalari hati mereka dan menodai kegembiraan di hari perjumpaan itu.

Hembusan angin pagi dalam suhu 12 derajat mulai menggigilkan tubuh Jasmine. Namun dingin yang menusuk-nusuk hingga ke tulang itu tak dihiraukannya saat melihat sang buah hati tertidur pulas dalam dekapannya. Sambil menunggu upaya Fadhlan mendapatkan taxi, sebuah prasangka mulai hadir dan memainkan perasaannya.

"Kenapa mereka tiba-tiba menolak begitu melihatku ya? Apa karena mereka membenci orang Islam dan tak menyukai penampilanku dengan kerudung yang menjuntai lebar ini?" hati kecilnya bertanya-tanya.

Suara orang-orang yang pernah memberi saran sebelum keberangkatan ia menyusul suaminya serasa memenuhi gendang telinga.

"Jangan lupa kerudungnya dipendekin aja saat berangkat nanti!" seorang teman mengingatkan.

"Bawa baju-baju muslim dan kerudung yang modis kan?" ucap teman yang lain.

"Kamu mau tetap dengan penampilanmu seperti itu?" tanya ibunya penuh rasa khawatir.

Dan masih banyak lagi saran senada yang intinya menganjurkan Jasmine untuk merubah penampilan dirinya yang terbiasa mengenakan kerudung lebar dalam balutan gamis atau busana longgar lainnya.

Suara-suara itu menjadikan prasangka di hati Jasmine semakin menguat. Namun, segera ia berucap istighfar. "Tak ada yang salah dengan penampilanku. Insya Allah selama ini aku telah berusaha mengikuti perintah-Nya sesuai dengan syarat-syarat berbusana yang disyariatkan," bisik hati Jasmine menghalau prasangkanya.

"Tak mungkin Allah membiarkan hamba yang berusaha menjaga agama-Nya, ku yakin pertolongan Allah pasti akan datang!" Jasmine berucap pelan berusaha menentramkan diri dengan mengingat janji-Nya dan ia pun khusyu berdoa.

Entah sudah berapa kali Fadhlan mendapat penolakan, namun tiba-tiba seorang supir taxi memanggilnya. Segera Fadhlan menghampiri, sang supir taxi menyodorkan sehelai kartu nama. Terlihat oleh Jasmine, suaminya tersenyum dan mengucapkan terimakasih.

Rupanya para supir taxi itu tak mau mengantar sejoli itu tiap kali melihat Jasmine bukan dikarenakan penampilan Jasmine seperti prasangka yang sempat menghembus-hembus hatinya. Alasan para supir itu hanyalah karena taxi mereka tidak dilengkapi dengan kursi khusus untuk bayi. Ya, kursi khusus bayi, satu hal penting yang luput mereka siapkan sebelum hari pertemuan itu.

Untunglah dengan pertolongan Allah, seorang supir tergerak hatinya memberi kartu alamat sebuah agen taxi yang menyediakan perlengkapan tersebut. Ia pun memberitahu mereka bahwa belum tentu agen yang dimaksud dapat menyediakan taxi yang mereka perlukan dalam waktu cepat, karena taxi dengan perlengkapan keamanan bayi jumlahnya tidak banyak.

Ucapan sang supir ternyata benar adanya. Jasmine dan Fadhlan pun membuktikannya setelah menelpon agen tersebut. Jasmine dan bayinya semakin kedinginan dalam penantian, sementara taxi belum juga muncul. Meskipun demikian, mereka tetap berucap syukur karena petunjuk tersebut telah mengurai kebingungan mereka sebelumnya. Terlebih lagi buat Jasmine, petunjuk itu berhasil menguatkan sangka baiknya pada Allah sekaligus menggugurkan sangka buruk yang sempat melintas.

Hembusan angin musim gugur tak lagi dapat ditahan tubuh Jasmine dan bayinya. Fadhlan risau melihat keadaan anak dan isterinya hingga memutuskan untuk kembali ke ruang dalam bandara agar dapat menghangatkan badan.

Saat hendak menyebrang menuju tempat yang dimaksud, tiba-tiba sebuah taxi mendekat. Seraut wajah timur tengah yang mengendarai taxi tersebut mempersilahkan Jasmine dan Fadhlan untuk menaiki taxinya sambil mewanti-wanti Jasmine untuk memegang erat bayinya karena taxi tersebut tidak dilengkapi kursi khusus untuk bayi. Fadhlan dan Jasmine merasa heran namun bercampur rasa lega.

Sepanjang perjalanan, tak henti mereka panjatkan rasa syukur hingga taxi sampai ke tempat tujuan, sebuah apartemen di jalan Trift. Saat itu Jasmine merasakan Kuasa dan Kasih Sayang Allah di awal kakinya menginjak bumi Deutchland. "Kalau bukan karena pertolongan Allah, kuyakin tak akan ada supir taxi yang mau melanggar aturan mengemudi yang sangat ketat di negeri ini," bisiknya.

Jasmine tak sanggup membayangkan apa yang akan dialami jika ia turuti hembusan prasangka yang sempat melintas dalam hatinya saat peristiwa itu terjadi. Ia teringat pada firman Allah dalam sebuah hadits Qudsi, "Qala Ta’ala ana ‘inda dhanni ‘abdi. In khairan fa khairan wa in syarran fa syarran,"yang terjemahnya berarti "Aku bergantung pada prasangka hamba-Ku. Sekiranya berprasangka baik, akan berdampak baik dan sekiranya berprasangka buruk akan menjadi buruk."

Dalam sujud syukur, kembali hati kecilnya berbisik, "Dikarenakan penjagaan Allah sajalah, aku dapat melaksanakan seruan-Nya, 'Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.' (QS. Al-Hujuraat [49] : 12)."

Pengalaman yang dilaluinya hari itu membuat Jasmine berjanji pada dirinya untuk selalu mengedepankan baik sangka dan memasang alarm di hati untuk katakan TIDAK! pada buruk sangka.

ratnautami.com
/@cwi

selengkapnya...

Gabung bersama kami

About Me

admin jg menerima pelayanan jasa

admin jg menerima pelayanan jasa
Jasa arsitek rumah; desain arsitek / desain rumah, gambar denah rumah, bangun rumah baru, renovasi rumah dan pembangunan mesjid, mushola, ruko, disaign taman, dll. klik gambar utk kontak personal.

Syiar Islam On Twitter

Site info

Kalkulator Zakat Fitrah

  © Syiar islam Intisari Muslim by Dede Suhaya (@putra_f4jar) 2015

Back to TOP  

Share |