Terlalu Pahit untuk Ditanggung Umat


Hanya masalah waktu saja. Isi perjanjian penyerahan Granada kepada Kerajaan Kristen Castile mulai dilanggar satu persatu. Muslimin diusir dari Granada menuju selatan, termasuk pemimpi besar dan pengkhianat umat ; Abu Abdillah al-Shaghir. Yang tidak diusir, dijadikan budak dan digiring ke arah utara.

Manakah yang oleh Abu Abdillah al-Shaghir disebut sebagai penjagaan atas eksistensi muslim. Manakah yang oleh Abu Abdillah al-Shaghir disebut sebagai penjagaan atas sesuatu yang sudah dimiliki muslimin.

Dan memang, mana ada kebesaran muslimin di bawah bayang-bayang musuh. Mana mungkin Islam dan muslimin bisa dijaga oleh seorang pengkhianat. Yang niat sesungguhnya bukan semua item di atas. Tetapi kepentingan dirinya sendiri. Kepentingan yang dikemas dalam kebohongan publik dan dibungkus oleh topeng standar ganda. Beda ke dalam, beda ke luar.

Abu Abdillah ‘beruntung’. Tidak dihabisi nyawanya. Tidak dijadikan budak. Hanya diusir dari Granada menuju ke selatan itupun dengan fasilitas dari Kerajaan Kristen. Hanya setahun setelah ia menjual Granada dengan mimpi akan setumpuk harta dan jabatan.


Tetapi tidakkah dipikirkan oleh para pengkhianat umat. Siapapun mereka. Hidup di zaman manapun mereka. Bahwa pengkhianatan yang dilakukannya membawa dampak yang sangat gelap dan hitam bagi keberlangsungan Islam dan muslimin.

Abu Abdillah hanya diusir. Setahun setelah ia mengkhianati muslimin. Dia pun menangis. Banjir air mata. Mungkin dia menyesal. Tetapi penyesalan yang sudah terlambat.

Dia hanya diusir. Tetapi lihatlah muslimin setelah itu. Bukan hanya diusir. Mereka dibunuh, dijadikan budak dan bahkan dipaksa untuk menanggalkan iman mereka. Musibah itu telah merobek-robek harta termahal seorang mukmin, aqidah mereka. Musibah itu telah menyentuh agama mereka; musibah terbesar dalam hidup yang Nabi berlindung darinya.

Dia meneteskan air mata. Tetapi muslimin harus tertumpah darah mereka. Bahkan ada yang mati dengan cara dibakar hidup-hidup hanya karena ketahuan menyimpan mushaf al-Qur’an. Terpikirkankah oleh Abu Abdillah dan semua kroninya? Dampak pengkhianatan mereka?

Hanya berselang tujuh tahun sejak penyerahan Granada. Tepatnya pada tahun 905 H / 1499 M, Kerajaan Kristen dengan perintah dari gereja mengumumkan resmi penutupan seluruh masjid dan pelarangan shalat secara terbuka. Pengumuman tersebut dikeluarkan setelah tujuh tahun lamanya, berbagai upaya dilakukan untuk memurtadkan muslimin.

Terpikirkankah oleh Abu Abdillah dan semua kroninya? Dampak pengkhianatan mereka?

30 tahun berikutnya. Tahun 935 H / 1529 M, pelarangan bagi muslimin kembali dikeluarkan. Kali ini giliran al-Qur’an dan bahasanya yang dilarang. Muslimin resmi dilarang berbicara dengan menggunakan Bahasa Arab. Siapa yang melakukannya, hukumannya adalah mati! Al-Qur’an pun dilarang untuk dibaca. Dan muslimin dilarang untuk berhubungan dengan dunia Islam internasional.

Terpikirkankah oleh Abu Abdillah dan semua kroninya? Dampak pengkhianatan mereka?

40 tahun berikutnya. Tahun 974 H / 1567 M, dikeluarkan kembali peraturan. Ini peraturan paling aneh sedunia. Philip II melarang Umat Islam mandi. Karena mereka tahu, walau muslimin telah dilarang shalat. Tetapi mereka tetap shalat dengan cara sembunyi-sembunyi. Dan masyarakat Kristen di Andalus memang tidak peduli dengan mandi. Bahkan disebutkan dalam kisahnya, bahwa Ratu Isabella menyebutkan dengan bangga tentang dirinya bahwa dia tidak pernah mandi kecuali hanya dua kali saja; sekali saat ia lahir dan sekali saat menjelang malam pernikahannya. Dan sekali lagi saat dia mati. Dampak dari peraturan itu, kamar mandi-kamar mandi umum dihancurkan. Dan siapapun rumah muslim yang terlihat ada bekas mandi, pengadilan bisa memutuskan untuk dihukum mati!

Terpikirkankah oleh Abu Abdillah dan semua kroninya? Dampak pengkhianatan mereka?

Tak berhenti sampai di situ. Kebencian musuh Islam terus berkembang. Hingga akhirnya pakaian Islami dan Arab dilarang untuk dipakai. Siapa yang memakainya dinyatakan telah melanggar aturan negara dan layak diberi hukuman mati!

Terpikirkankah oleh Abu Abdillah dan semua kroninya? Dampak pengkhianatan mereka?

Pengadilan investigasi pun didirikan. Fungsinya adalah membongkar muslimin yang masih menyembunyikan keislamannya. Dengan sebuah bukti ringan bahwa dia masih muslim, seperti masih menyimpan mushaf al-Qur’an, maka dijatuhi hukuman mati! Setidaknya, pengadilan tersebut telah menjatuhi 3 juta orang dengan hukuman mati!

Terpikirkankah oleh Abu Abdillah dan semua kroninya? Dampak pengkhianatan mereka?

Para pengkhianat umat terus larut dalam syahwatnya. Para pendukung pengkhianat pun terbuai dalih-dalih legalisasi pengkhianatan. Mereka semua tidak pernah menyangka bahwa efek pengkhianatan sangat besar dan bahaya. Bahkan lebih besar dan lebih bahaya dari yang mereka bayangkan. Dampak pengkhianatan itu terlalu pahit untuk ditanggung oleh muslimin.

Allah sudah memberikan peringatan –semoga menjadi peringatan bagi semua-,

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (Qs. Al-An’am: 44)

Berikut penjelasan gabungan para ulama dalam al-Tafsir al-Muyassar, “Ketika mereka mengabaikan perintah-perintah Allah dan menjauhinya, Kami membuka bagi mereka pintu-pintu segala sesuatu berupa rizki. Kami ubah kesulitan hidup menjadi kelapangan, kesakitan menjadi kesehatan fisik. Itu adalah istidraj Kami kepada mereka. Hingga ketika mereka sombong dan bangga dengan yang Kami berikan kepada mereka berupa kebaikan dan nikmat, Kami adzab mereka dengan tiba-tiba. Seketika itu mereka putus asa dan terputus dari semua kebaikan.”

Dan biasanya semua sadar. Saat sudah terlambat. Saat tidak mungkin lagi lari dari adzab Allah. Saat semuanya telah musnah. Dan umat muslim harus kembali tenggelam dalam catatan gelap sejarah hidup mereka.

Hanya ada sekelompok orang yang masih sadar. Merekalah yang menyadari semua bahaya pengkhianatan itu. Merekalah yang terus menyuarakan kebenaran dan sadar akan dekatnya adzab Allah dalam berbagai bentuknya. Dampak dari pengkhianatan yang tengah berlangsung dan terus berlangsung. Mereka adalah para mujahid semisal Musa bin Abi Ghassan.

Hanya saja, para mujahid seperti Musa bin Abi Ghassan biasanya sudah tersingkir sejak para pengkhianat itu menempati posisi pembuat keputusan dan sejak mereka mulai mengarang ‘fikih’ syahwat.

Wallahu a’lam
/@cwi

selengkapnya...

Melahirkan Pembuka Roma

Kita sudah bisa mengetahui sejarah yang akan diukir di masa depan. Inilah hebatnya belajar sejarah dalam Islam. Ternyata sejarah bukan hanya sebuah rangkaian frame masa lalu yang terulang hari ini. Dalam Islam, kita mengenal yang namanya nubuwwat. Nubuwwat adalah penyampaian Nabi tentang masa depan yang belum terjadi di zaman beliau.

Artinya, kita sudah bisa mengetahui dengan pasti sebuah sejarah yang akan terjadi di masa depan. Dengan pasti. Ya, pasti terjadi. Karena bersumber pada wahyu.

Hingga hari ini, masih banyak nubuwwat Rasulullah yang belum terjadi. Di antaranya sepenggal penyampaian Rasul dalam hadits ini,

عن أبي قبيل قال : كنا عند عبدالله بن عمرو بن العاص وسئل : أي المدينتين تفتح أولا القسطنطينية أو رومية ؟ فدعا عبدالله بصندوق له حلق قال : فأخرج منه كتابا قال : فقال عبدالله : بينما نحن حول رسول الله صلى الله عليه و سلم نكتب إذ سئل رسول الله صلى الله عليه و سلم : أي المدينتين تفتح أولا : أقسطنطينية أو رومية ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : مدينة هرقل تفتح أولا . يعني : قسطنطينية


Dari Abu Qubail berkata: Ketika kita sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia ditanya: Kota manakah yang akan dibuka terlebih dahulu; Konstantinopel atau Rumiyah? Abdullah meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian dia mengeluarkan kitab. Abdullah berkata: Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau ditanya: Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Rumiyah? Rasul menjawab, “Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.” Yaitu: Konstantinopel.
(HR. Ahmad, ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim)


Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim. Adz-Dzahabi sepakat dengan al-Hakim. Sementara Abdul Ghani al-Maqdisi berkata: Hadits ini hasan sanadnya. Al-Albani sependapat dengan al-Hakim dan adz-Dzahabi bahwa hadits ini shahih. (Lihat al-Silsilah al-Shahihah 1/3, MS)

Ada dua kota yang disebut dalam nubuwwat nabi di hadits tersebut;

1. Konstantinopel

Kota yang hari ini dikenal dengan nama Istambul, Turki. Dulunya berada di bawah kekuasaan Byzantium yang beragama Kristen Ortodoks. Tahun 857 H / 1453 M, kota dengan benteng legendaris tak tertembus akhirnya runtuh di tangan Sultan Muhammad al-Fatih, sultan ke-7 Turki Utsmani.

2. Rumiyah

Dalam kitab Mu’jam al-Buldan dijelaskan bahwa Rumiyah yang dimaksud adalah ibukota Italia hari ini, yaitu Roma. Para ulama termasuk Syekh al-Albani pun menukil pendapat ini dalam kitabnya al-Silsilah al-Ahadits al-Shahihah.

Kontantinopel telah dibuka 8 abad setelah Rasulullah menjanjikan nubuwwat tersebut. Tetapi Roma, hingga hari ini belum kunjung terlihat bisa dibuka oleh muslimin. Ini menguatkan pernyataan Nabi dalam hadits di atas. Bahwa muslimin akan membuka Konstantinopel lebih dulu, baru Roma. Itu artinya, sudah 15 abad sejak Rasul menyampaikan nubuwwatnya tentang penaklukan Roma, hingga kini belum juga Roma jatuh ke tangan muslimin.

Kalau Konstantinopel perlu 8 abad untuk bisa ditaklukkan. Roma, jika dihitung dari penaklukan Konstantinopel hingga hari ini sudah berlangsung hampir 7 abad dan belum bisa dibuka oleh muslimin.

Entah perlu berapa abad sejak Konstantinopel runtuh, untuk bisa mengislamkan Roma. Yang jelas, pasti Roma akan jatuh ke tangan muslimin. Keyakinan yang telah dibuktikan secara empirik dengan jebolnya ketebalan benteng Konstantinopel.

“Penaklukan pertama terjadi di tangan pembuka dari Kesultanan Utsmani, 800 tahun setelah Nabi mengabarkan penaklukan tersebut. Penaklukan kedua akan terbukti dengan izin Allah, dan pasti!” begitu Syekh al-Albani dengan penuh keyakinan menjelaskan hadits nubuwwat tersebut dalam kitabnya al-Silsilah al-Shahihah.

Lebih jelas lagi, beliau menajamkan, “Dan tidak diragukan juga bahwa penaklukan kedua (Roma) menguatkan kembalinya khilafah rasyidah untuk umat ini.”

Orang tua Muhammad al-Fatih, gurunya, masyarakatnya, bahkan al-Fatih sendiri tidak pernah menduga bahwa penakluk Konstantinopel itu adalah Muhammad al-Fatih.

Yang mereka semua lakukan hanyalah bermimpi kebesaran, mengukir harapan dan melakukan semua persiapan. Untuk melahirkan pembukti nubuwwat Nabi. Dan mereka telah berhasil. Kita pun seharusnya sama. Tidak ada yang pernah menduga bahwa penakluk Roma adalah generasi kita, atau anak cucu keturunan kita, bahkan mungkin dari dalam rumah kita.

Tetapi mari kita bermimpi kebesaran itu, mengukir harapan itu dan melakukan semua persiapan itu. Untuk melahirkan pembuka Roma.

فاعتبروا يا أولي الأبصار
/@cwi

selengkapnya...

KRISIS AKHLAQ GERAKAN ISLAM Sebuah Upaya Rekonstruksi Gerakan Islam Masa Depan


Oleh: DR. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy*

***

A6. Cara Pemakaian Obat

Obat telah kita paparkan, lalu bagaimana cara kita memanfaatkan obat itu. Bagaimana kita menjadi orang-orang yang hatinya terwarnai oleh hakikat ubudiyyah sempurna kepada Allah, tidak diperbudak oleh harta, kedudukan, interes pribadi dan penyakit-penyakit hati seperti egois, sombong, ujub dan efek-efeknya yang berbahaya.

Tidak diragukan lagi, caranya tidak ringan dan mudah. Caranya adalah dengan jalan berjihad dan bersungguh-sungguh, sebagaimana firman Allah :

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ

“ Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu.” (QS. Al Hajj : 78)

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami.” (QS. Al Ankabut : 69)

Cara Mengobati

Sebuah jalan yang mepertegas perbedaan antara mukmin yang sejati dan munafik bermuka dua dalam keberagamaan dan keimanannya. Sebuah pelindung yang menjadikan seorang muslim tidak tergolong dalam
sabda Rasulullah saw
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ ،َ تَعِسَ عَبْدُ الْقَطِيفَةِ ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ ، وَإِذَا شِيكَ فَلاَ انْتَقَشَ، إِنْ أُعْطِىَ رَضِىَ ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ (رواه البخاري وابن ماجه)
“Celakalah hamba dirham, celakalah hamba dinar, celakalah hamba baju yang indah, celakalah dan sengsaralah, ketika terkena durinya maka tidak akan ada yang bisa menolongnya. Ketika diberi mereka ridha, dan ketika tidak diberi mereka meradang.” (HR. Bukhari dan Ibnu Majah)


Dia ibarat aparat yang menjaga iman kita dari dua serigala lapar, yang diwanti-wanti oleh Rasulullah saw dalam sabdanya :

“Tidaklah dua serigala lapar yag dilepas dalam kerumunan kambing, itu lebih berbahaya dari pada kerakusan seseorang terhadap harta dan kedudukan dengan mengorbankan agamanya.” (HR. Turmudzi, Ahmad dan Abu dawud)
Karena urgensi jihad ini sebagai satu-satunya jalan yang membawa kita pada ridha Allah, sekaligus juga yang menunjukkan kepada medan ubudiyyah yang sesungguhnya, maka para pendahulu kita yang baik telah mencurahkan seluruh kemampuan yang mereka miliki untuk meniti jalan ini.

Mereka lawan nafsu mereka, mereka kendalikan hawa nafsunya dengan berbagai macam cara. Sampai-sampai mereka melakukan hal yang sedikit melampaui batas kewajaran, pagar syariat dan petunjuk nubuwwah.

Kami paparkan hal ini semua, sesuai dengan kesepakatan para pendahulu kita yang baik dan petunjuk-petunjuk yang ada dalam kitab dan sunnah Rasul-Nya. Kita sadarkan diri kita sesadar-sadarnya, bahwa ini adalah inti dari ajaran Islam. Ini adalah tangga satu-satunya menuju pencapaian manhaj Ilahi yang di wajibkan oleh Allah kepada hamba-Nya. Ini adalah kunci kemudahan bagi segala kesusahan, kunci persatuan bagi segala ikatan dan kunci kemenangan yang kita impikan.

Kami ingatkan diri kami untuk pertama kalinya, lalu kami berwasiat kepada saudara-saudara kami yang kami cintai, dengan selalu berharap kepada taufiq dan pertolongan Allah.

Cara-cara pemakaiannya.

Pertama : Perenungan kita akan jati diri dan tujuan akhir kita, merasakan pengawasan Allah yang melekat dan membangkitkan kesadaran kita ketika lalai dan lupa.
Merenung adalah aktifitas akal, tanpa renugan maka akal tak akan berguna. Renunganlah yang membebaskan akal kita dari kekuatan nafsu dan ikatannya. Tanpa renungan maka kita tidak akan bisa membedakan antara petunjuk akal sehat dan bisikan nafsu.

Karenanya, tidak heran jika Allah swt selalu menutup ayat-ayat kauniyyah dengan harapan-harapan terhadap manusia, semoga mereka berfikir (la'allakum tatafakkarun), sesungguhnya dalam ayat ini ada banyak pelajaran bagi orang-orang yang berakal (inna fii dzalika laayaatil liqaumiy yatafakarun), Maka apakah mereka tidak mau berfikir (Afala tatafakkarun).

Karena itulah titik tolak utama risalah Nabi Muhammad saw, sebagai seorang mukmin, dai dan mujahid, adalah berawal dari renungan yang berkesinambungan. Bukanlah hal yang sia-sia, ketika Allah swt mengilhamkan ke dada Rasulullah saw untuk cinta menyendiri dalam sepi, jauh dari hingar bingar dan kerusakan masyarakat. Tujuannya adalah agar Beliau bisa menjernihkan pandangan, dengan banyak berfikir dan merenung di gua hira dalam waktu yang lama.

Ketika perenungan dilakukan dengan kondisi tempat yang sepi, jauh dari tarikan nafsu, syahwat dan polusi duniawi, maka perenungan tersebut akan membuahkan kejernihan dan kedekatan pada kebenaran. Diri manusia sendirian menghadapi bisikan-bisikan dan dorongan-dorongan yang muncul dari berbagai jendela dan pintu yang terbuka luas di hadapannya. Ada akal sehat dan logika yang lurus. Ada keinginan-keinginan dan syahwat yang melekat dalam diri kita. Ada penolakan-penolakan dari rasa kurang, sombong dan fanatisme. Ada ikatan-ikatan yang muncul karena benci, dengki, iri dan berebut meraih sesuap dunia dan hiasannya yang menipu.

Bukanlah posisi yang benar, ketika kita mendengarkan dorongan dan bisikan suara-suara ini. Tapi kita harus bisa memposisikan diri kita sebagai pendengar yang baik, dengan menjadikan akal sehat dan logika yang jernih sebagai hakim atas semuanya, sehingga semua menjadi jelas dan tegas di hadapan kita.

Kemampuan seperti ini tidak akan didapat kecuali setelah melalui perenungan dalam waktu yang panjang dan kontinyu, sehingga mampu mengisi usia penuh petuah. Dengan menyendiri, berdialog dengan akal sehat dan logika yang jernih, tentang jati diri dan tujuan akhir dari hidupnya. Apa yang berkembang dan mandeg dalam kehidupannya. Dengan sarana dzikir kepada-Nya, merenungi pelajaran besar yang disampaikan melalui lisan dan petunjuk langsung Rasul-Nya.

Bukan berarti kami menganjurkan umat ini untuk mengisolasi diri, hidup terasing dari masyarakat, tinggal di gua-gua dan lembah-lembah terpencil. Ini bukan fitrah manusia dan bukan pula misi hidup setiap muslim.

Kami hanya mengajak meluangkan waktu khusus untuk akal sehat kita setiap kita merasa ada yang penting dengan kantong modal hidup kita. Kita melakukan seperti apa yang telah dilakukan oleh para pedagang yang menghabiskan usianya dalam kerumunan manusia dan keramaian pasar.

Kondisi tersebut tidak perlu membuatnya tidak bisa berdiam sejenak, meluangkan waktunya untuk menyendiri di kamarnya. Jauh dari anak, istri dan sahabat dekat. Berkonsentrasi penuh dengan buku, kertas dan alat hitung bisnisnya. Kalau bukan karena waktu luang yang mereka usahakan di sela-sela kehidupan mereka ini, mungkin bisnis di pusat perdagangannya yang ramai itu tidak mendatangkan kecuali kerugian dan penyesalan yang berkepanjangan.

Kami mengajak umat ini untuk menempuh jalan kebebasan berfikir, berlepas diri secara sadar dan tidak sadar dari segala dorongan fanatisme, bisikan kebaikan palsu dan aneka ragam tarikan nafsu syahwat, sehingga kita menemukan keyakinan telah berjalan di atas manhaj yang didukung oleh akal sehat yang merdeka.

Jalan yang ditempuh oleh Rasulullah saw dalam hidupnya ini, dengan menyepi dan menyendiri untuk merenung, menjadi pelajaran sekaligus kehormatan bagi umatnya.

Kita tidak lupa pula, bahwa di antara faktor yang mendukung kita untuk selalu sadar dan merenung adalah intensitas kita duduk-duduk berdekatan dengan orang-orang shalih.

Sebaliknya, jika kita ingin jauh dari kesadaran dan aktifitas perenungan, maka bergabunglah dengan orang-orang yang lalai di panggung kesia-siaan mereka. Nikmatilah tempat-tempat yang menjadikan umur kita murah tak berharga, larut dalam permainan dan hiburan yang tidak mendatangkan kebaikan di akhirnya, sibuk dengan gosip murahan yang ditamsilkan sebagai aktivitas makan daging bangkai saudara.

*) Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy lahir pada tahun 1929 di sebuah daerah yang bernama Buthan, bagian dari wilayah Turki yang terletak di perbatasan antara Turki dengan Irak bagian utara.

Pada usia empat tahun, beliau ikut ayahnya, Mullah Ramadhan untuk pindah ke Damaskus, Syria. Setelah menamatkan sekolah Islam di Damaskus, Al-Buthy kuliah di Universitas Al-Azhar, Mesir. Beliau mendapatkan gelar doktor dalam bidang hukum Islam di Universitas Al-Azhar pada tahun 1965.

Pada tahun yang sama, beliau kembali ke Damaskus dan diangkat sebagai salah satu pimpinan di Universitas Damaskus, sekaligus aktif sebagai dosen di sana. Selain itu, ia juga menjabat anggota dewan tinggi di universitas Oxford, Inggris.

Selain sebagai dosen, Al-Buthy juga aktif di berbagai konfrensi dan simposium dunia. Beliau fasih berbahasa Arab, Turki, dan Ingris. Tidak kurang dari 40 buku telah beliau tulis. Hampir setiap hari, beliau mengisi taklim di masjid Damaskus, dan berbagai masjid di Syria. Ribuan orang selalu hadir dalam setiap taklim yang beliau pimpin.
/@cwi

selengkapnya...

Gabung bersama kami

About Me

admin jg menerima pelayanan jasa

admin jg menerima pelayanan jasa
Jasa arsitek rumah; desain arsitek / desain rumah, gambar denah rumah, bangun rumah baru, renovasi rumah dan pembangunan mesjid, mushola, ruko, disaign taman, dll. klik gambar utk kontak personal.

Syiar Islam On Twitter

Site info

Kalkulator Zakat Fitrah

  © Syiar islam Intisari Muslim by Dede Suhaya (@putra_f4jar) 2015

Back to TOP  

Share |