Melahirkan Pembuka Roma

Kita sudah bisa mengetahui sejarah yang akan diukir di masa depan. Inilah hebatnya belajar sejarah dalam Islam. Ternyata sejarah bukan hanya sebuah rangkaian frame masa lalu yang terulang hari ini. Dalam Islam, kita mengenal yang namanya nubuwwat. Nubuwwat adalah penyampaian Nabi tentang masa depan yang belum terjadi di zaman beliau.

Artinya, kita sudah bisa mengetahui dengan pasti sebuah sejarah yang akan terjadi di masa depan. Dengan pasti. Ya, pasti terjadi. Karena bersumber pada wahyu.

Hingga hari ini, masih banyak nubuwwat Rasulullah yang belum terjadi. Di antaranya sepenggal penyampaian Rasul dalam hadits ini,

عن أبي قبيل قال : كنا عند عبدالله بن عمرو بن العاص وسئل : أي المدينتين تفتح أولا القسطنطينية أو رومية ؟ فدعا عبدالله بصندوق له حلق قال : فأخرج منه كتابا قال : فقال عبدالله : بينما نحن حول رسول الله صلى الله عليه و سلم نكتب إذ سئل رسول الله صلى الله عليه و سلم : أي المدينتين تفتح أولا : أقسطنطينية أو رومية ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : مدينة هرقل تفتح أولا . يعني : قسطنطينية


Dari Abu Qubail berkata: Ketika kita sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia ditanya: Kota manakah yang akan dibuka terlebih dahulu; Konstantinopel atau Rumiyah? Abdullah meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian dia mengeluarkan kitab. Abdullah berkata: Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau ditanya: Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Rumiyah? Rasul menjawab, “Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.” Yaitu: Konstantinopel.
(HR. Ahmad, ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim)


Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim. Adz-Dzahabi sepakat dengan al-Hakim. Sementara Abdul Ghani al-Maqdisi berkata: Hadits ini hasan sanadnya. Al-Albani sependapat dengan al-Hakim dan adz-Dzahabi bahwa hadits ini shahih. (Lihat al-Silsilah al-Shahihah 1/3, MS)

Ada dua kota yang disebut dalam nubuwwat nabi di hadits tersebut;

1. Konstantinopel

Kota yang hari ini dikenal dengan nama Istambul, Turki. Dulunya berada di bawah kekuasaan Byzantium yang beragama Kristen Ortodoks. Tahun 857 H / 1453 M, kota dengan benteng legendaris tak tertembus akhirnya runtuh di tangan Sultan Muhammad al-Fatih, sultan ke-7 Turki Utsmani.

2. Rumiyah

Dalam kitab Mu’jam al-Buldan dijelaskan bahwa Rumiyah yang dimaksud adalah ibukota Italia hari ini, yaitu Roma. Para ulama termasuk Syekh al-Albani pun menukil pendapat ini dalam kitabnya al-Silsilah al-Ahadits al-Shahihah.

Kontantinopel telah dibuka 8 abad setelah Rasulullah menjanjikan nubuwwat tersebut. Tetapi Roma, hingga hari ini belum kunjung terlihat bisa dibuka oleh muslimin. Ini menguatkan pernyataan Nabi dalam hadits di atas. Bahwa muslimin akan membuka Konstantinopel lebih dulu, baru Roma. Itu artinya, sudah 15 abad sejak Rasul menyampaikan nubuwwatnya tentang penaklukan Roma, hingga kini belum juga Roma jatuh ke tangan muslimin.

Kalau Konstantinopel perlu 8 abad untuk bisa ditaklukkan. Roma, jika dihitung dari penaklukan Konstantinopel hingga hari ini sudah berlangsung hampir 7 abad dan belum bisa dibuka oleh muslimin.

Entah perlu berapa abad sejak Konstantinopel runtuh, untuk bisa mengislamkan Roma. Yang jelas, pasti Roma akan jatuh ke tangan muslimin. Keyakinan yang telah dibuktikan secara empirik dengan jebolnya ketebalan benteng Konstantinopel.

“Penaklukan pertama terjadi di tangan pembuka dari Kesultanan Utsmani, 800 tahun setelah Nabi mengabarkan penaklukan tersebut. Penaklukan kedua akan terbukti dengan izin Allah, dan pasti!” begitu Syekh al-Albani dengan penuh keyakinan menjelaskan hadits nubuwwat tersebut dalam kitabnya al-Silsilah al-Shahihah.

Lebih jelas lagi, beliau menajamkan, “Dan tidak diragukan juga bahwa penaklukan kedua (Roma) menguatkan kembalinya khilafah rasyidah untuk umat ini.”

Orang tua Muhammad al-Fatih, gurunya, masyarakatnya, bahkan al-Fatih sendiri tidak pernah menduga bahwa penakluk Konstantinopel itu adalah Muhammad al-Fatih.

Yang mereka semua lakukan hanyalah bermimpi kebesaran, mengukir harapan dan melakukan semua persiapan. Untuk melahirkan pembukti nubuwwat Nabi. Dan mereka telah berhasil. Kita pun seharusnya sama. Tidak ada yang pernah menduga bahwa penakluk Roma adalah generasi kita, atau anak cucu keturunan kita, bahkan mungkin dari dalam rumah kita.

Tetapi mari kita bermimpi kebesaran itu, mengukir harapan itu dan melakukan semua persiapan itu. Untuk melahirkan pembuka Roma.

فاعتبروا يا أولي الأبصار
/@cwi

selengkapnya...

KRISIS AKHLAQ GERAKAN ISLAM Sebuah Upaya Rekonstruksi Gerakan Islam Masa Depan


Oleh: DR. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy*

***

A6. Cara Pemakaian Obat

Obat telah kita paparkan, lalu bagaimana cara kita memanfaatkan obat itu. Bagaimana kita menjadi orang-orang yang hatinya terwarnai oleh hakikat ubudiyyah sempurna kepada Allah, tidak diperbudak oleh harta, kedudukan, interes pribadi dan penyakit-penyakit hati seperti egois, sombong, ujub dan efek-efeknya yang berbahaya.

Tidak diragukan lagi, caranya tidak ringan dan mudah. Caranya adalah dengan jalan berjihad dan bersungguh-sungguh, sebagaimana firman Allah :

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ

“ Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu.” (QS. Al Hajj : 78)

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami.” (QS. Al Ankabut : 69)

Cara Mengobati

Sebuah jalan yang mepertegas perbedaan antara mukmin yang sejati dan munafik bermuka dua dalam keberagamaan dan keimanannya. Sebuah pelindung yang menjadikan seorang muslim tidak tergolong dalam
sabda Rasulullah saw
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ ،َ تَعِسَ عَبْدُ الْقَطِيفَةِ ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ ، وَإِذَا شِيكَ فَلاَ انْتَقَشَ، إِنْ أُعْطِىَ رَضِىَ ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ (رواه البخاري وابن ماجه)
“Celakalah hamba dirham, celakalah hamba dinar, celakalah hamba baju yang indah, celakalah dan sengsaralah, ketika terkena durinya maka tidak akan ada yang bisa menolongnya. Ketika diberi mereka ridha, dan ketika tidak diberi mereka meradang.” (HR. Bukhari dan Ibnu Majah)


Dia ibarat aparat yang menjaga iman kita dari dua serigala lapar, yang diwanti-wanti oleh Rasulullah saw dalam sabdanya :

“Tidaklah dua serigala lapar yag dilepas dalam kerumunan kambing, itu lebih berbahaya dari pada kerakusan seseorang terhadap harta dan kedudukan dengan mengorbankan agamanya.” (HR. Turmudzi, Ahmad dan Abu dawud)
Karena urgensi jihad ini sebagai satu-satunya jalan yang membawa kita pada ridha Allah, sekaligus juga yang menunjukkan kepada medan ubudiyyah yang sesungguhnya, maka para pendahulu kita yang baik telah mencurahkan seluruh kemampuan yang mereka miliki untuk meniti jalan ini.

Mereka lawan nafsu mereka, mereka kendalikan hawa nafsunya dengan berbagai macam cara. Sampai-sampai mereka melakukan hal yang sedikit melampaui batas kewajaran, pagar syariat dan petunjuk nubuwwah.

Kami paparkan hal ini semua, sesuai dengan kesepakatan para pendahulu kita yang baik dan petunjuk-petunjuk yang ada dalam kitab dan sunnah Rasul-Nya. Kita sadarkan diri kita sesadar-sadarnya, bahwa ini adalah inti dari ajaran Islam. Ini adalah tangga satu-satunya menuju pencapaian manhaj Ilahi yang di wajibkan oleh Allah kepada hamba-Nya. Ini adalah kunci kemudahan bagi segala kesusahan, kunci persatuan bagi segala ikatan dan kunci kemenangan yang kita impikan.

Kami ingatkan diri kami untuk pertama kalinya, lalu kami berwasiat kepada saudara-saudara kami yang kami cintai, dengan selalu berharap kepada taufiq dan pertolongan Allah.

Cara-cara pemakaiannya.

Pertama : Perenungan kita akan jati diri dan tujuan akhir kita, merasakan pengawasan Allah yang melekat dan membangkitkan kesadaran kita ketika lalai dan lupa.
Merenung adalah aktifitas akal, tanpa renugan maka akal tak akan berguna. Renunganlah yang membebaskan akal kita dari kekuatan nafsu dan ikatannya. Tanpa renungan maka kita tidak akan bisa membedakan antara petunjuk akal sehat dan bisikan nafsu.

Karenanya, tidak heran jika Allah swt selalu menutup ayat-ayat kauniyyah dengan harapan-harapan terhadap manusia, semoga mereka berfikir (la'allakum tatafakkarun), sesungguhnya dalam ayat ini ada banyak pelajaran bagi orang-orang yang berakal (inna fii dzalika laayaatil liqaumiy yatafakarun), Maka apakah mereka tidak mau berfikir (Afala tatafakkarun).

Karena itulah titik tolak utama risalah Nabi Muhammad saw, sebagai seorang mukmin, dai dan mujahid, adalah berawal dari renungan yang berkesinambungan. Bukanlah hal yang sia-sia, ketika Allah swt mengilhamkan ke dada Rasulullah saw untuk cinta menyendiri dalam sepi, jauh dari hingar bingar dan kerusakan masyarakat. Tujuannya adalah agar Beliau bisa menjernihkan pandangan, dengan banyak berfikir dan merenung di gua hira dalam waktu yang lama.

Ketika perenungan dilakukan dengan kondisi tempat yang sepi, jauh dari tarikan nafsu, syahwat dan polusi duniawi, maka perenungan tersebut akan membuahkan kejernihan dan kedekatan pada kebenaran. Diri manusia sendirian menghadapi bisikan-bisikan dan dorongan-dorongan yang muncul dari berbagai jendela dan pintu yang terbuka luas di hadapannya. Ada akal sehat dan logika yang lurus. Ada keinginan-keinginan dan syahwat yang melekat dalam diri kita. Ada penolakan-penolakan dari rasa kurang, sombong dan fanatisme. Ada ikatan-ikatan yang muncul karena benci, dengki, iri dan berebut meraih sesuap dunia dan hiasannya yang menipu.

Bukanlah posisi yang benar, ketika kita mendengarkan dorongan dan bisikan suara-suara ini. Tapi kita harus bisa memposisikan diri kita sebagai pendengar yang baik, dengan menjadikan akal sehat dan logika yang jernih sebagai hakim atas semuanya, sehingga semua menjadi jelas dan tegas di hadapan kita.

Kemampuan seperti ini tidak akan didapat kecuali setelah melalui perenungan dalam waktu yang panjang dan kontinyu, sehingga mampu mengisi usia penuh petuah. Dengan menyendiri, berdialog dengan akal sehat dan logika yang jernih, tentang jati diri dan tujuan akhir dari hidupnya. Apa yang berkembang dan mandeg dalam kehidupannya. Dengan sarana dzikir kepada-Nya, merenungi pelajaran besar yang disampaikan melalui lisan dan petunjuk langsung Rasul-Nya.

Bukan berarti kami menganjurkan umat ini untuk mengisolasi diri, hidup terasing dari masyarakat, tinggal di gua-gua dan lembah-lembah terpencil. Ini bukan fitrah manusia dan bukan pula misi hidup setiap muslim.

Kami hanya mengajak meluangkan waktu khusus untuk akal sehat kita setiap kita merasa ada yang penting dengan kantong modal hidup kita. Kita melakukan seperti apa yang telah dilakukan oleh para pedagang yang menghabiskan usianya dalam kerumunan manusia dan keramaian pasar.

Kondisi tersebut tidak perlu membuatnya tidak bisa berdiam sejenak, meluangkan waktunya untuk menyendiri di kamarnya. Jauh dari anak, istri dan sahabat dekat. Berkonsentrasi penuh dengan buku, kertas dan alat hitung bisnisnya. Kalau bukan karena waktu luang yang mereka usahakan di sela-sela kehidupan mereka ini, mungkin bisnis di pusat perdagangannya yang ramai itu tidak mendatangkan kecuali kerugian dan penyesalan yang berkepanjangan.

Kami mengajak umat ini untuk menempuh jalan kebebasan berfikir, berlepas diri secara sadar dan tidak sadar dari segala dorongan fanatisme, bisikan kebaikan palsu dan aneka ragam tarikan nafsu syahwat, sehingga kita menemukan keyakinan telah berjalan di atas manhaj yang didukung oleh akal sehat yang merdeka.

Jalan yang ditempuh oleh Rasulullah saw dalam hidupnya ini, dengan menyepi dan menyendiri untuk merenung, menjadi pelajaran sekaligus kehormatan bagi umatnya.

Kita tidak lupa pula, bahwa di antara faktor yang mendukung kita untuk selalu sadar dan merenung adalah intensitas kita duduk-duduk berdekatan dengan orang-orang shalih.

Sebaliknya, jika kita ingin jauh dari kesadaran dan aktifitas perenungan, maka bergabunglah dengan orang-orang yang lalai di panggung kesia-siaan mereka. Nikmatilah tempat-tempat yang menjadikan umur kita murah tak berharga, larut dalam permainan dan hiburan yang tidak mendatangkan kebaikan di akhirnya, sibuk dengan gosip murahan yang ditamsilkan sebagai aktivitas makan daging bangkai saudara.

*) Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy lahir pada tahun 1929 di sebuah daerah yang bernama Buthan, bagian dari wilayah Turki yang terletak di perbatasan antara Turki dengan Irak bagian utara.

Pada usia empat tahun, beliau ikut ayahnya, Mullah Ramadhan untuk pindah ke Damaskus, Syria. Setelah menamatkan sekolah Islam di Damaskus, Al-Buthy kuliah di Universitas Al-Azhar, Mesir. Beliau mendapatkan gelar doktor dalam bidang hukum Islam di Universitas Al-Azhar pada tahun 1965.

Pada tahun yang sama, beliau kembali ke Damaskus dan diangkat sebagai salah satu pimpinan di Universitas Damaskus, sekaligus aktif sebagai dosen di sana. Selain itu, ia juga menjabat anggota dewan tinggi di universitas Oxford, Inggris.

Selain sebagai dosen, Al-Buthy juga aktif di berbagai konfrensi dan simposium dunia. Beliau fasih berbahasa Arab, Turki, dan Ingris. Tidak kurang dari 40 buku telah beliau tulis. Hampir setiap hari, beliau mengisi taklim di masjid Damaskus, dan berbagai masjid di Syria. Ribuan orang selalu hadir dalam setiap taklim yang beliau pimpin.
/@cwi

selengkapnya...

100KB Pembawa Dosa Sepanjang Tahun

Muhammad Yusuf Efendi
Oleh: Muhammad Yusuf Efendi


dakwatuna.com – Apa makna dari 100KB? Silakan simak tulisan ini!

Begitu banyak orang berusaha menghindari daging babi, alkohol makanan yang haram, akan tetapi dia terjatuh ke dalam dosa besar karena kekhilafannya. Apakah kekhilafan itu karena kebenciannya? Tidak selalu.

Terkadang karena kecintaan dengan sesuatu, bisa jadi dia jatuh ke dalam dosa besar ini. Kecintaan dengan pendapat yang diyakini kebenarannya, dia bela mati-matian apa yang dia anggap benar itu. Padahal dia sudah terjatuh ke dalam ghibah.

Terkadang dengan “ringan” nya kita seolah sedang memakan daging bangkai saudara kita sendiri dengan argumen pembenaran akan kebenaran dan keyakinannya. Berapa daging bangkai? 2 atau kah 3 dalam sehari? Astaghfirullohaladziim.

Kenapa?

Marilah kita simak firman Allah dalam QS Al-Hujurot ayat 12, yang artinya sebagai berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang .” (QS Al-Hujurat:12)

Demikianlah Allah mengumpamakan antara menggunjing (ghibah) dengan orang yang memakan daging bangkai saudaranya sendiri.

Lalu Apakah ghibah itu ?

Sesuai apa yang diterangkan Nabi SAW: pada Hadits Riwayat Muslim, Abu Daud : Nabi SAW bersabda : “Tahukah kamu apa ghibah itu ? Jawab sahabat : Allahu warasuluhu a’lam (Allah dan Rasulullah yang lebih tahu).
Kemudian Nabi SAW bersabda: Menceritakan hal saudaramu yang ia tidak suka diceritakan pada orang lain. Lalu Sahabat bertanya: Bagaimana jika memang benar sedemikian keadaan saudaraku itu ?

Jawab Nabi SAW : “Jika benar yang kau ceritakan itu, maka itulah ghibah, tetapi jika tidak benar ceritamu itu, maka itu disebut buhtan (tuduhan palsu, fitnah) dan itu lebih besar dosanya”.
Dalam kitab al adzkar , Imam AnNawawy memberikan definisi : ‘Ghibah, adalah menyebutkan hal-hal yang tidak disukai orang lain, baik berkaitan kondisi badan, agama, dunia, jiwa, perawakan, akhlak, harta, istri, pembantu, gaya ekspresi rasa
senang, rasa duka dan sebainya, baik dengan kata-kata yang gamblang,
isyarat maupun kode.


Dalam era informasi yang canggih sekarang ini, bentuk-bentuk ghibah dapat dilakukan dengan model yang lebih baru. Tulisan, sms, email, bahkan lewat bahasa tubuh. Di internet, tulisan yang berupa elektronik sangatlah ringan. Sebuah email biasanya tidak lebih dari 100KB. Sangat kecil sekali dibanding sebuah flash disk yang mampu menyimpan 4GB data.
Coba mari kita fikirkan kalau tulisan kita adalah ghibah ? sudah tersebar ke mana-mana, yang akhirnya kita tidak mampu menghapus tulisan itu sendiri. Ditambah kalau tulisan kita sudah masuk ke lingkaran milis-milis. Tulisan itu akan tetap tersimpan rapi di dunia internet, tanpa kita dapat menghapuskannya. Sudah berapa dosa yang telah kita perbuat dengan Ghibah yang kita lakukan ?

Dalam buku kecil Provision for the seekers, ada hadist pendek yang berbunyi, Laa yad khulul jannata qottatun, Tidak akan masuk syurga orang yang melakukan qattat. Qattat bisa disinonimkan dengan nammam, artinya orang yang mendengarkan pembicaraan sekelompok orang yang kemudian dia menyebarkan pembicaraan tersebut ke orang lain. Baik dengan terang-terangan atau dengan sindiran, tanpa dia dapat mengontrol penyebaran pembicaraan yang dia lakukan. Yang akhirnya menarik pro dan kontra pembaca, baik yang tahu permasalahan atau pun tidak.

Itulah bahayanya email dan dunia internet. Bisa jadi anda shalat, zakat, puasa di waktu bangun, akan tetapi sebenarnya di waktu tidur pun anda melakukan dosa besar dengan bentuk ghibah karena Qattat yang anda sebarkan. Bagaimana cara menghapus ini semua ? Jelas tidak mungkin. Email dan tulisan anda akan tersimpan di setiap harddisk orang yang menerima email anda. Atau tersimpan di server bang Yahoo dan paman Google. Sampai kapan ? Mungkin sampai hari kiamat !!

Kalau anda tidak dapat menghapusnya, dengan apa anda akan masuk surga kelak ?
Maukah anda melakukan dosa sepanjang tahun ? Tidak bukan ? Berhati-hatilah dengan 100KB!! /@cwi

selengkapnya...

Gabung bersama kami

About Me

admin jg menerima pelayanan jasa

admin jg menerima pelayanan jasa
Jasa arsitek rumah; desain arsitek / desain rumah, gambar denah rumah, bangun rumah baru, renovasi rumah dan pembangunan mesjid, mushola, ruko, disaign taman, dll. klik gambar utk kontak personal.

Syiar Islam On Twitter

Site info

Kalkulator Zakat Fitrah

  © Syiar islam Intisari Muslim by Dede Suhaya (@putra_f4jar) 2015

Back to TOP  

Share |