Teror Kata Berkedok "Kasih"


"Aku datang untuk menemui ummat Islam, tidak dengan senjata tapi dengan kata-kata, tidak dengan kekuatan tapi dengan logika, tidak dalam benci tapi dalam cinta."
(Henry Martyn, missionaries)

Perang Salib telah gagal, begitu kata Henry Martyn. Karena itu, untuk ‘menaklukkan’ dunia Islam perlu resep lain: gunakan ‘kata, logika, dan kasih’. Bukan kekuatan senjata atau kekerasan.

Hal senada dikatakan misionaris lain, Raymond Lull, ‘Saya melihat banyak ksatria pergi ke Tanah Suci, dan berpikir bahwa mereka dapat menguasainya dengan kekuatan senjata, tetapi pada akhirnya semua hancur sebelum mereka mencapai apa yang mereka pikir bisa diperoleh.’


Lull mengeluarkan resep: Islam tidak dapat ditaklukkan dengan darah dan air mata, tetapi dengan cinta kasih dan doa. Menurut Eugene Stock, mantan sekretaris redaksi Church Missionary Society, tidak ada figur yang lebih heroik dalam sejarah Kristen dibandingkan Raymond Lull. Lull adalah misionaris pertama dan mungkin terbesar yang menghadapi para pengikut Muhammad.

Ungkapan Lull dan Martyn itu ditulis oleh Samuel M Zwemmer, misionaris Kristen terkenal di Timur Tengah, dalam buku Islam: A Challenge to Faith (1907). Buku yang berisi resep untuk ‘menaklukkan’ dunia Islam itu disebut Zwemmer sebagai ‘beberapa kajian tentang kebutuhan dan kesempatan di dunia para pengikut Muhammad dari sudut pandang missi Kristen’.

Bagi para missionaris, mengkristenkan kaum Muslim adalah keharusan. Dalam laporan tentang Konferensi Seabad Misi-misi Protestan Dunia (Centenary Conference on the Protestant Missions of the World) di London (1888), tercatat ucapan Dr George F Post, ‘Kita harus menghadapi Pan-Islamisme dengan Pan-Evangelisme. Ini merupakan pertarungan hidup dan mati.’ Selanjutnya, dia berpidato, ‘... kita harus masuk ke dalam Arabia; kita harus masuk ke Sudan; kita harus masuk ke Asia Tengah; dan kita harus mengkristenkan orang-orang ini atau mereka akan berbaris mengarungi gurun-gurun, dan mereka akan menyapu laksana api melahap kekristenan kita dan melahapnya.’

Kasus Turki Utsmani

Kekuatan ‘kata’ dan ‘kasih’ model Henry Martyn perlu dicatat secara serius. Perang pemikiran ini biasanya dijalankan dengan sangat halus, berwajah manis (seperti penampilan Paul Wolfowitz yang murah senyum). Tetapi cara ini justru lebih manjur, tanpa disadari si Korban.

Ahmad Wahib, yang kini dibangkit-bangkitkan lagi oleh sejumlah kalangan, bisa jadi merupakan ‘korban teror’ sehingga dia jadi ragu tentang kebenaran Islam. Banyak cendekiawan Muslim yang jadi korban setelah menerima pemikiran dan berbagai fasilitas. Anehnya, mereka merasa ‘tercerahkan’ sehingga bersemangat mengadopsi dan menyebarkan ‘pemikiran yang dianggap baru’ kepada kaum Muslimin. Padahal Allah telah memperingatkan dalam Al-Quran Surat Al-Hijr ayat 39:

‘Iblis berkata: Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.’

Kaum Yahudi juga sangat mafhum akan kekuatan teror ‘kata’ dan ‘kasih’. Begitu dahsyat sehingga mampu menghancurkan imperium besar (Utsmani) yang telah berusia hampir 700 tahun. Bagi Zionis, Turki Utsmani adalah penghalang utama mewujudkan negara Yahudi di Palestina.

Bagi Kristen-Eropa, Turki Utsmani adalah ancaman serius. Pendiri Kristen-Protestan, Martin Luther, menyatakan, ‘Kekuatan anti-Kristus adalah Paus dan Turki sekaligus’. Bernard Lewis menggambarkan, begitu takutnya sampai ada doa agar Tuhan menyelamatkan mereka dari kejahatan Paus dan Turki (Islam and the West, 1993).

Turki Ustmani sulit digulung dengan kekuatan senjata, tapi bisa ditekuk dari dalam oleh kelompok Turki Muda (The Young Turk) dengan ‘kata-kata’. Setelah 1908, praktis kekuasaan di Ustmani sudah dipegang oleh kelompok ini, melalui organisasi Committee anda Union Progress (CUP) yang beranggotakan para cendekiawan Turki yang telah ter-Barat-kan (westernized). Tiga Presiden Tukri modern (sampai tahun 1960) adalah aktivis SUP.

Bagi mereka, Barat (Eropa) adalah ‘kiblat’ untuk mencapai kemajuan. Abdullah Cevdet, seorang pendiri CUP, mengatakan, ‘Yang ada hanya satu peradaban, dan itu adalah peradaban Eropa. Karena itu, kita harus meminjam peradaban Barat, baik bunga mawar maupun durinya sekaligus.’

Dalam buku The Young Turk in Position yang diterbitkan Oxford Univeristy Press (1955), cendekiawan Turki M. Sukru Hanioglu mencatat bahwa kelompok ini berideologi positivesme, materialisme, dan nasionalisme. Hebatnya CUP juga memiliki kader-kader di tentara Ustmani, yang kemudian memegang kekuasaan Turki Modern. Salah satunya adalah Musthafa Kemal Ataturk.

Menurut Prof. Halil Inalcik, ‘Revolusi Kemal Atatturk’ mengambil konsep sosial Darwinsm. Karena itu, setelah berkuasa, Ataturk mem-Barat-kan Turki sepenuhnya, sampai soal-soal pakaian dan bahasa. Soal khilafah, Atatturk berpendapat, ‘Gagasan satu kekhalifahan, yang menjalankan otoritas religius bagi seluruh umat Islam, adalah gagasan yang diambil dari khayalan, bukan dai kenyataan.’

Gerakan SUP di akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20 sangat penting dicermati, karena mereka mampu menggunakan ‘kata-kata’ untuk melumpuhkan :’kekuasaan’ Sultan Utsmani. Terutama, dengan kolaborasi dengan gerakan Zionis, setelah Kongfres Zionis Pertama (1897). Cevdet dan sejumlah aktivis CUP memang simpatisan Yahudi dan gerakan Zionis.

‘Freedom and Liberation’

Tokoh-tokoh CUP juga berkolaborasi dengan Freemansonry di Turki. Menurut Dr. Sukru Hanioglu, dosen Universitas Islambul, saat itu aktivis Freemansonry memiliki hubungan erat dengan kelompok The Ottoman Freedom Society (Osmanli Hurriet Cemiyati) yang dibentuk tahun 1906. Tokoh Freemanson, Celanthi Scalieri, adalah pendiri loji The Lights of the East (Envar-I Sarkiye) yang beranggotakan sejumlah politisi, jurnalis, dan agamawan terkemuka (seperti Ali Sefkati, pemimpin redaksi Koran Istiqlal, dan Pangeran Muhammad Ali Halim, pemimpin Freemansonry Mesir).

Di sinilah nucleus faksi Turki Muda lahir. Gagasan utamanya mengelaborasikan kata Freedom (kemerdekaan/kebebasan) dan Liberation (pembebasan). Gerakan Scalieri mendapat dukungan sejumlah negara kuat, terutama Inggris. Itu bias dipahami, karena sejak ratusan tahun, Utsmani dianggap sebagai ancaman bagi Kristen Barat. Pengaruh Freemansonry terhadap gerakan liberal dan kebebasan Turki sangat kuat, sehingga Sukltan pun tidak berdaya.

Gerakan pembebasan di Turki ini mendapat inspirasi kuat dari dua peristiwa besar, yaitu Revolusi Prancis dan kemerdekaan Amerika Serikat. A New Encyclopedia of Fremansonry (1996) mencatat bahwa George Washington, Thomas Jefferson, John Hancoc, dan Benjamin Franklin adalah aktivis Freemansonry. Begitu juga tokoh gerakan pembebasan Amerika Latin, Simon Bolivar, dan Jose Rizal di Filipina.

Ide pokok Freemansonry adalah ‘Liberty, Egality and Fraternity’. Di bawah jargon inilah, jutaan orang ‘tertarik’ untuk melakukan apa yang disebut sebagai ‘kemerdekaan sejati bagi seluruh rakyat dari tirani politik maupun tirani sistem kerohanian’.

Tampaknya waktu itu Sultan Abdul Hamid II diposisikan sebagai ‘kekuatan tiran’. Dalam konteks gerakan pembebasan pemikiran, yang diposisikan sebagai tirani sistem kerohanian adalah ‘teks-teks Al-Quran dan Sunnah’, juga khazanah-khazanah Islam klasik karya ulama Islam terkemuka. Masih ditelusuri lebih jauh, seberapa jauh hubungan antara gerakan liberal dalam konteks pemikiran Islam dengan gerakan Freemasonry. Yang jelas, Rene Guenon, guru Frithjof Schuon (pelopor gagasan pluralisme) misalnya, adalah aktivis Freemasonry.

Juga masih diselidiki, adakah misalnya pengaruh aktivitas Jamaluddin Al-Afghani di Freemasonry dengan pemikiran Muhammad Abduh atau tafsir al-Manar-nya Rasyid Ridla Yang jelas, jargon-jargon pembebasan dari ‘teks’, dan dekonstruksi tafsir Quran (lalu menggantinya dengan metode hermeneutika yang banyak digunakan dalam tradisi Bibel), cukup sering terungkap.

Bahkan, bagi Mohamed Arkoun misalnya, Mushaf Utsmani diposisikan sebagai ‘tiran’ yang perlu dipersoalkan. Kata Arkoun, ‘‘persoalannya, berkaitan dengan proses historis pengumpulan Al-Quran menjadi mushaf resmi kian lama kian tidak masuk akal di bawah tekanan resmi khalifah, karena Al-Quran telah digunakan sejak permulaan negara Islam untuk melegitimasi kekuasaan dan menyatukan ummat.’

Kekuatan ‘kata’ dan ‘kasih’ terbukti ampuh dalam menaklukkan kekuatan-kekuatan Islam, yang biasanya disimbolkan dengan ungkapan tidak simpatik seperti ‘ortodoks’, ‘beku’, ‘berorientasi masa lalu’, dan ‘emosional’. Kolaborasi cendekiawan Turki, Kristen-Eropa, dan Zionis-Yahudi berhasil menggulung Turki Utsmani. Ironisnya, dua dari empat orang yang menyerahkan surat pemecatan Sultan Abdul Hamid II (1909) adalah non-Muslim. Salah satunya, Emmanuel Karasu (tokoh Yahudi).

Teror fisik seperti cluster bomb-nya Amerika dalam invasi di Iraq, mudah memancing reaksi besar. Ratusan ribu aktivis Islam turun ke jalan, menentang serangan AS ke Irak. Namun kalau menghadapi teror ‘kata’ berselubung ‘kasih’, kaum Muslimin biasanya terlambat sadar. Dampaknya pun biasanya memakan waktu lama. Ummat Islam akan tenang-tenang saja meskipun setiap detik diteror dengan kata-kata indah itu. Bisa melalui media massa, atau ucapan tokoh-tokoh ummat sendiri. Apakah sejarah masih akan berulang untuk kaum Muslim Indonesia’ Wallahu a’lam.* ( 25 Juni 2003).

/@cwi

selengkapnya...

Mengapa Tega Mencaci al-Quran dan Sahabat Nabi?


Sebagian pendukung paham sekularisme dan liberalisme mungkin tidak sadar, bahwa penyebaran paham ini sejatinya bagaikan membuka sebuah kotak pandora. Saat kotak itu terbuka, maka terjadilah peristiwa-peristiwa tragis yang susul-menyusul dan berlangsung secara liar, sulit dikendalikan lagi. Paham ini – yang biasanya berlindung dibalik jargon “pencerahan” dan “kebebasan berpikir” – menyimpan agenda-agenda dahsyat berupa penghancuran agama itu sendiri. Liberalisasi yang tanpa kendali telah terbukti menjadi senjata pemusnah masal buat agama-agama.

Salah satu wacana yang berkembang pesat dalam tema sekularisasi dan liberalisasi Islam di Indonesia saat ini adalah tema “dekonstruksi Kitab Suci”. Maka, proyek liberalisasi Islam tidak akan lengkap jika tidak menyentuh aspek kesucian al-Quran. Mereka berusaha keras untuk meruntuhkan keyakinan kaum Muslim, bahwa al-Quran adalah Kalamullah, bahwa al-Quran adalah satu-satunya Kitab Suci yang suci, yang bebas dari kesalahan. Sebagaimana kita bahas dua pekan lalu, sekarang sudah banyak orang dari kalangan Muslim sendiri yang bekerja keras untuk meruntuhkan otentisitas al-Quran sebagai Kitab Suci umat Islam. Ibarat dalam satu peperangan, para penghujat al-Quran ini laksana menikam kaum Muslimin dari belakang. Diantara tulisan-tulisan itu ada yang dikemas halus dan cukup ilmiah, sehingga tidak mudah bagi kebanyakan kaum Muslim untuk mengkritiknya. Tapi, ada juga penulis yang menggunakan bahasa yang kasar dan caci maki terhadap al-Quran, para sahabat, dan para ulama Islam.
Dalam acara bedah buku Prof. Musthafa A’zhami, The History of The Quranic Text, di Universitas Islam Negeri Jakarta, 12 Mei 2005, saya menunjukkan beberapa buku yang kini tersebar bebas dan secara terang-terangan menyerang kesucian al-Quran. Beberapa diantaranya sudah kita ungkap dalam catatan terdahulu. Ada satu buku lagi berjudul “Lobang Hitam Agama” (2005) yang secara terbuka mencaci maki al-Quran dan para sahabat Nabi. Di dalam buku ini tertulis kalimat-kalimat sebagai berikut:
“Bahkan sesungguhnya hakikat al-Quran bukanlah “teks verbal” yang terdiri atas 6666 ayat bikinan Usman itu melainkan gumpalan-gumpalan gagasan.” (hal. 42).
“Al-Quran bagi saya hanyalah berisi semacam “spirit ketuhanan” yang kemudian dirumuskan redaksinya oleh Nabi.” (hal. 42).
‘Oleh karena itu, Nabi, sahabat, dan pengalaman komunitas Mekkah dan Madinah (tajribatul madinah wa makkah) pada hakikatnya adalah “co-author” karena ikut “menciptakan” al-Quran.” (hal. 43).
“Seandainya (sekali lagi seandainya) Pak Harto berkuasa ratusan tahun, saya yakin Pancasila ini bisa menyaingi al-Quran dalam hal “keangkerannya” tentunya.” (hal. 64).
“Al-Quran, sehingga menjadi “Kitab Suci” (sengaja saya pakai tanda kutip) juga tidak lepas dari peran serta “tangan-tangan gaib” yang bekerja di balik layar maupun diatas panggung politik kekuasaan untuk memapankan status al-Quran. Dengan kata lain, ada proses historis yang amat pelik dalam sejarah pembukuan al-Quran hingga teks ini menjadi sebuah korpus resmi yang diakui secara konsensus oleh semua umat Islam. Proses otorisasi sepanjang masa terhadap al-Quran menjadikan kitab ini sebuah scripto sacra yang disanjung, dihormati, diagungkan, disakralkan dan dimitoskan. Padahal sebagian dari proses otorisasi itu berjalan dan berkelindan dengan persoalan-persoalan politik yang murni milik Bangsa Arab. Bahkan proses turunnya ayat-ayat al-Quran sendiri tidak lepas dari “intervensi” Quraisy sebagai suku mayoritas Arab.” (hal. 65)
“Di sinilah maka tidak terlalu meleset jika dikatakan, al-Quran, dalam batas tertentu, adalah “perangkap” yang dipasang bangsa Quraisy (a trap of Quraisy).” (hal. 65).
“Kita tahu, al-Quran yang dibaca oleh jutaan umat Islam sekarang ini adalah teks hasil kodifikasi untuk tidak menyebut “kesepakatan terselubung” antara Khalifah Usman (644-656M) dengan panitia pengumpul yang dipimpin Zaid bin Tsabit, sehingga teks ini disebut Mushaf Usmani.” (hal. 65).
“Maka, penjelasan mengenai al-Quran sebagai “Firman Allah” sungguh tidak memadai justru dari sudut pandang internal, yakni proses kesejarahan terbentuknya teks al-Quran (dari komunikasi lisan ke komunikasi tulisan) maupun aspek material dari al-Quran sendiri yang dipenuhi ambivalensi. Karena itu tidak pada tempatnya, jika ia disebut “Kitab Suci” yang disakralkan, dimitoskan.” (hal. 66)
“Dalam konteks ini, anggapan bahwa al-Quran itu suci adalah keliru. Kesucian yang dilekatkan pada al-Quran (juga kitab lain) adalah “kesucian palsu” – pseudo sacra. Tidak ada teks yang secara ontologis itu suci.” (hal. 67).
“Setiap teks memiliki keterbatasan sejarah. Karena itu, setiap generasi selalu muncul “agen-agen sejarah” yang merestorasi sebuah teks. Musa, Jesus, Muhammad Sidharta, Lao Tze, Konfusius, Zarasthutra, Martin Luther, dan lainnya adalah sebagian kecil dari contoh agen-agen sejarah yang melakukan restorasi teks. Tapi produk restorasi teks yang mereka lakukan bukanlah sebuah “resep universal” yang shalih likulli zaman wa makaan (kompatibel di setiap waktu dan ruang). Mereka tidak hadir di ruang hampa, mereka datang di tengah-tengah kehidupan manusia yang beragam dengan cita rasa yang berlainan pula. Jika mereka sudah melakukan restorasi teks atas teks sebelumnya, maka generasi pasca mereka mestinya melakukan hal yang sama dengan apa yang telah mereka lakukan: restorasi teks. Berpegang teguh secara utuh terhadap sebuah teks sama saja dengan berpegangan barang rongsokan yang sudah usang.” (hal. 70-71).

Begitulah tulisan-tulisan yang terdapat dalam buku yang terbit di Yogyakarta tersebut. Ajaibnya, buku seperti ini mendapat pujian berbagai tokoh. Dr. Moeslim Abdurrahman, cendekiawan Muhammadiyah menulis bahwa buku ini, “perlu dibaca oleh siapa saja yang ingin ber-taqarrub untuk mencari kebenaran.” Ahmad Tohari, budayawan, penulis kolom resonansi di Harian Republika, juga menulis, “Buku ini menawarkan ruang luas bagi pemahaman agama yang manusiawi karena asas pluralisme yang diusungnya.” Penulis buku ini juga disebut dibagian awal buku sebagai ‘pemikir muda Indonesia “paling menonjol” saat ini, terutama dalam bidang sosiologi agama’. Dalam pengantar buku, seorang Direktur Freedom Institute, menyebutkan, bahwa buku ini perlu diapresiasi dan disambut dengan baik.
Tentu saja, kita patut mengapresiasi dan menyambut baik semua karya-karya ilmiah yang bermutu tinggi, yang didukung dengan data-data yang baik dan jujur. Tetapi, kita juga wajib menguji dan menilai, apakah memang buku semacam ini merupakan buku ilmiah yang layak diperhitungkan. Jika ditelaah secara cermat, banyak isi buku ini yang lebih merupakan khayalan, luapan emosi, dendam, dan kemarahan penulisnya. Misalnya, di bagian awal bukunya, penulis menyebutkan: “Jika kelak di akhirat, pertanyaan di atas diajukan kepada Tuhan, mungkin Dia hanya tersenyum simpul. Sambil menunjukkan surga-Nya yang mahaluas, di sana ternyata telah menunggu banyak orang, antara lain, Jesus, Muhammad, Sahabat Umar, Ghandi, Luther, Abu Nawas, Romo Mangun, Bunda Teresa, Udin, Baharudin Lopa, dan Munir!”
Bukankah cerita seperti ini hanya sebuah khayalan dan fantasi? Sorga yang sudah dikunjungi si penulis?
Lihatlah, juga, dalam memandang al-Quran, penulis menggunakan nada-nada kecaman keras dan penghinaan kepada Sayyidina Usman r.a. Padahal, tindakan beliau dalam memprakarsai penghimpunan al-Quran diakui dan dihormati oleh kaum Muslimin. Semua sahabat Nabi ketika itu menyetujuinya. Bahkan, Sayyidina Ali r.a. yang memiliki Mushaf pribadi juga menyatakan: “Demi Allah, dia (Utsman r.a.) tidak melakukan apa-apa dengan Mushaf tersebut, kecuali dengan persetujuan kami semua.”
Ulama besar Abu ‘Ubayd juga pernah berkata: “Usaha Utsman (r.a.) mengkodifikasi al-Quran akan tetap dan sentiasa dijunjung tinggi, karena hal itu merupakan sumbangannya yang paling besar. Memang dikalangan orang-orang yang menyeleweng ada yang mencelanya, namun kecacatan merekalah yang tersingkap, dan kelemahan merekalah yang terbongkar.”
Jika memang Mushaf Utsmani terkait dengan rekayasa politik Utsman r.a. untuk mengokohkan kedudukannya dan kedudukan kaum Quraisy, maka logikanya, sepeninggal beliau, tentunya akan datang silih berganti penguasa-penguasa yang membuat Mushaf baru. Sepeninggal Bani Umayyah, mestinya Bani Abbasiyah juga membuat al-Quran baru. Begitu juga Bani Batimiyah, Bani Utsmaniyah, dan seterusnya. Tapi, semua ini tidak terjadi dalam sejarah kaum Muslimin. Bagaimana pun kerasnya pertentangan politik, tidak sampai mereka terpikir untuk membuat al-Quran baru, menghujat Sayyidina Utsman, apalagi menghinanya.
Ketika kita mendiskusikan buku Prof. A’zhami yang begitu serius dan berkualitas ilmiah tinggi, lalu kita membaca buku “Lobang Hitam Agama” ini, tampak dengan jelas, bagaimana rendahnya kualitas ilmiah buku ini. Entah apa yang menyebabkan penulis buku ini seperti menyimpan dendam dan kebencian yang begitu besar terhadap al-Quran dan sahabat Nabi Muhammad saw yang mulia. Padahal, penulis yang alumnus Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga ini begitu hormat terhadap seorang orientalis bidang al-Quran bernama Arthur Jeffery, dan mengutip pendapatnya tanpa kritis. (hal. 65).
Jika dengan Jeffery dia begitu hormat, ternyata tidak sebaliknya dengan para sahabat, khususnya Sayyidina Utsman. Padahal, sudah begitu banyak kajian kritis terhadap karya-karya Arthur Jeffery tentang al-Quran. Prof. A’zhami sendiri dalam bukunya banyak memberikan kritik-kritik dan membongkar kekeliruan Jeffery. Tetapi, penulis yang dipuji-puji sebagai pemikir muda yang menonjol ini tidak mempedulikan studi kritis semacam itu, dan lebih suka melampiaskan hawa nafsunya untuk “menghabisi” Mushaf Usmani.
Kita sebenarnya sangat berharap munculnya pemikir-pemikir muda muslim yang jujur, ikhlas, tawadhu’, dan serius dalam kajiannya. Jika penulis ini berpendapat bahwa Rasulullah saw adalah yang menyusun redaksi al-Quran, mestinya dia menyertakan bukti-buktinya. Bukankah pendapat ini adalah tidak lebih dari sebuah khayalan?
Berwacana memang tidak dilarang. Tetapi, menyebarkan pemikiran-pemikiran yang salah, mengandung konsekuensi tanggung jawab yang berat di akhirat nanti. Karena itu, kita mengingatkan, semoga penulis buku itu bertobat dan mengaji yang serius dan ikhlas tentang Islam. Sayang sekali jika potensi akal cerdas yang diberikan oleh Allah SWT justru digunakan untuk menyesatkan umat manusia. Kasihan dirinya, kasihan orang tuanya yang nantinya hanya mengharapkan doa dari anak yang shalih, bukan anak yang salah. Jika ada gagasan baru, sebaiknya gagasan ini didiskusikan secara terbatas, dikaji mendalam, dikonsultasikan dengan para ulama yang otoritatif dalam keilmuan, sebelum dilemparkan keluar. Wallahu a’lam. (Jakarta, 13 Mei 2005)

/@cwi

selengkapnya...

Bernard Lewis dan Ketakutan Yahudi PDF Cetak E-mail
Website Koran Haaretz yang berbasis di Israel, edisi 28 April 2004, menurunkan sebuah berita berjudul: 55-nation meeting on anti-Semitism opens in Germany?. Konferensi Internasional tentang anti-semitisme? itu diselenggarakan di Berlin dan dibuka oleh Presiden Jerman Johannes Rau. Penyelenggaranya, Organization for Security and Cooperation in Europe (OSCE) dan Jerman. Sejumlah tokoh dunia juga dijadwalkan memberikan presentasinya, seperti Menlu AS Colin Powel, sejumlah menteri negara-negara Eropa, dan pemenang Hadiah Nobel Elie Wiesel.

Konferensi tersebut merupakan bagian kampanye serius Israel untuk melawan dan mengurangi gelombang anti-semitisme yang melanda Eropa. Akhir-akhir ini, pemerintah Israel memang sangat serius untuk menghadapi apa yang mereka sebuat sebagai “anti-semitisme” Bulan lalu, Menlu Israel Silvan Shalom melawan ke Eropa dengan misi khusus meredam gelombang anti-semitisme di Eropa, yang belum pernah terjadi sehebat ini, pasca Perang Dunia II. Kata Shalom, ?Anti-Semitism is not only a problem for Israel and the Jews, it is Europe's problem as well."


Polling di kalangan masyarakat Eropa, November 2003, menunjukkan, Israel dipandang sebagai ancaman pertama bagi perdamaian dunia. Awal Januari 2004, Haaretz menyebutkan, 54 persen warga Israel mendesak pemerintah Israel agar melakukan usaha lebih aktif untuk melawan gelombang anti-Yahudi di Eropa. Syndroma ketakutan Yahudi terhadap sejarah masa lalu mereka tampaknya sedang kembali mencengkeram banyak kaum Yahudi.

Istilah anti-semitisme itu sendiri sudah banyak dikritik. Tetapi, kuatnya propaganda Yahudi menyebabkan, istilah itu akhirnya diterima secara luas di kalangan media massa dan dunia akademis. Istilah antisemitisme merujuk kepada nama ?Sem?, anak Noah ?yang menurut Kitab Kejadian 11:10-32 ? akan menurunkan Abram (Abraham). Dari Abram garis Ismail, akan lahir bangsa Arab. Artinya, bangsa Arab pun sebenarnya anak keturunan Sem. Karena itu, ada istilah ?Semitic language?, sebutan untuk sejumlah bahasa rumpun Semit, seperti Bahasa Arab, Hebrew, Syriac, dan lain-lain.

Istilah yang tepat sebenarnya ?anti-Yahudi?. Namun, entah mengapa istilah yang jelas-jelas salah ini masih terus dipertahankan di dunia internsional, dan dikhususkan untuk orang-orang Yahudi saja.

Fenomena ketakutan dan keterancaman kaum Yahudi ini sudah sejak lama dikhawatirkan oleh sejumlah cendekiawan Yahudi anti-Zionis Israel. Bahwa, negara Israel bukan hanya menjadi ancaman bagi Timur Tengah, tetapi juga ancaman bagi dunia internasional. ?In my view, Israel as a Jewish state constitutes a danger not only to itself and its inhabitants, but to all Jew and to all other peoples and states in the Middle East and beyond,? kata Dr. Israel Shahak dalam bukunya Jewish History, Jewish Religion. (London: Pluto Press, 1994). Tapi, hingga kini, peringatan Shahak, Noam Chomsky, Einstein, dan sebagainya, dianggap angin lalu saja oleh manusia sejenis Sharon dan Bush. Penjajahan, kekejaman, dan pembunuhan-pembunuhan terus dilakukan terhadap para pejuang Palestina.

Masalah Palestina, dari aspek hukum internasional, sebenarnya sangatlah jelas. Sesuai Resolusi 242 dan 338 PBB, Israel hanya dituntut mengembalikan sekitar 20 persen wilayah yang didudukinya dalam Perang 1967, yang hanya meliputi Jalur Gaza dan Tepi Barat. Itu artinya, PBB sudah mengesahkan pendudukan Isreal terhadap sekitar 80 persen wilayah Palestina. Padahal, sesuai Resolusi MU-PBB, No 181 tahun 1947, Yahudi hanya berhak terhadap 50 persen wilayah Palestina, tidak termasuk Jerusalem? Yang kini dijadikan ibukota Israel.

Masalahnya menjadi berkepenjangan dan sulit diselesaikan karena ? selain berbagai faktor lainnya ? faktor AS. Politik AS yang terus memihak Israel telah menimbulkan kecaman hebat di dunia internasional.

Bahkan, pasca pembunuhan Syeikh Yassin, AS benar-benar sendirian. Eropa pun mengecam sikap Israel. Harian Haaretz, edisi 2 April 2004, memuat berita, bahwa Masyarakat Eropa menilai, aksi-aksi tentara Israel (Israeli Defence Force/IDF) terhadap penduduk sipil Palestina, juga merupakan aksi teror. Ditulis dalam berita itu: ?The European Parliament on Thursday compared injuries to Palestinians by Israeli military action to "acts of terror," and called for a suspension of the Israel-EU Association Agreement, should Israel persist with its policy of assassinations.?

Israel adalah pelanggar terbesar berbagai resolusi PBB. Ia jelas-jelas melakukan praktik kolonialisme yang bertentangan dengan Piagam PBB. Dunia internasional, hampir tiap hari menyaksikan dan mendengar cerita tentang penjajahan, pembunuhan, dan berbagai kekejaman tentara Israel. Kasus ini benar-benar jelas. Mana yang salah dan mana yang benar. Mana yang zalim, dan mana yang dizalimi. Kasus ini menjadi titik penting penyelesaian berbagai masalah internasional, termasuk masalah terorisme.

Namun, AS terus-menerus melakukan pembelaan terhadap Israel. Mengapa? Ada sejumlah teori yang menjelaskan soal hubungan khusus (special ally) antara AS dan Israel. Kali ini, kita simak dua faktor penting yang menyebabkan AS terus mengekalkan politik ?anak-emas?nya terhadap Israel, yaitu (1) dukungan kelompok Kristen fundamentalis dan (2) kelompok ?neo-orientalis?. Kedua kelompok itu dikenal dalam politik AS sebagai kelompok neo-konservatif yang berpengaruh besar terhadap politik internasional AS.

Buku Religion and Globalization, (London: SAGE Publications, 1994), yang diedit oleh Peter Beyer, menyebutkan, kelompok Kristen fundamentalis AS, yang lebih dikenal sebagai Kristen Sayap Kanan (The New Christian Right/NCR), mulai dikenal pada akhir 1970-an. Ketika itu masyarakat AS menyaksikan kebangkitan munculnya kelompok ini, yang dalam politik AS dikenal sebagai ?gerakan politik keagamaan konservartif? atau a conservative religio-political Movement.

Kelompok Kristen fundamentalis juga dikenal dengan sebutan ?Kristen-Zionis? (The Zionist Christian) karena dukungan kuat mereka terhadap posisi dan kepentingan Zionis Israel. Mereka menggunakan ayat-ayat Bible untuk menguatkan posisi Israel, bahwa seolah-olah Tuhan telah memuliakan bangsa Israel, sehingga apa pun perilaku bangsa Yahudi tersebut, harus didukung. Kitab Kejadian 12:3 menyebutkan pernyataan Tuhan kepada bangsa Israel: ?Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."

Satu kelompok lain yang terus menyokong posisi AS terhadap Israel adalah para ilmuwan yang dikenal sebagai kelompok ?neo-orientalis?. Salah satu yang menonjol, misalnya, Bernard Lewis. Tahun 2003, ia menerbitkan buku tipis berjudul The Crisis of Islam: Holy War and Unholy Terror (London: Phoenix, edisi 2004). Buku ini perlu dicermati, karena kabarnya termasuk yang cukup laris di Barat dan memberikan panduan, bagaimana Barat, khususnya AS, memandang dan menerapkan kebijakan terhadap dunia Islam, termasuk masalah Palestina. Jika ditelaah, buku Lewis ini merupakan satu bentuk ?apologia?, yang dalam bahasa Greek (Yunani) memiliki arti ?pembelaan diri? (?speech in defence?).

Buku Lewis memiliki gaya dan ruh sejenis dengan buku The Clash of Civilization and Remaking of World Order -nya Samuel P. Huntington. Bahkan, Lewis lah yang sebenarnya telah mengangkat tema ?Clash of Civilization? sebelum dipopulerkan oleh Huntington, di era pasca keruntuhan Soviet. Shireen T. Hunter, dalam satu tulisannya berjudul The Rise of Islamist Movements and The Western Rresponse: Clash of Civilizations or Clash of Interests??, menyebut, ilmuwan seperti Bernard Lewis, termasuk tokoh aliran ?neo-Orientalist?. Aliran ini melihat munculnya kecenderungan anti-Barat pada kalangan ?Islamists? sebagai konsekuensi dari ?clash of civilizations?. Lewis menganggap, bahwa paham anti-Barat (anti-Westernism), khususnya anti-Amerika (anti-Americanism), merupakan derivasi dari gabungan antara unsur-unsur ?penghinaan?, ?kecemburuan?, dan ?ketakutan?. Aliran Lewis ini berbeda dengan aliran neo-Third-World, yang memandang munculnya semangat anti-Barat sebagai dampak dari kebijakan politik Barat. Misalnya, dukungan Barat terhadap rezim-rezim represif otoriter di dunia Islam dan juga dukungan sepihak terhadap Israel.

Pola pikir ?neo-orientalist? itulah yang mewarnai isi buku The Crisis of Islam ini. Maka, jangan heran, jika pembaca nyaris tidak akan mendapatkan kritik apa pun terhadap berbagai kebijakan Barat dalam buku ini.

Sebaliknya, berbagai justifikasi dan legitimasi politik Barat dan AS khususnya bisa dinikmati dalam buku ini. Sebuah pertanyaan yang populer di Barat pasca Perang Dingin, misalnya, dilontarkan Lewis, ?Is Islam, whether fundamentalist or other, a threat to the West?? Kata Lewis, yang juga keturunan Yahudi, Islam itu sendiri, bukan musuh Barat. Banyak kalangan Muslim, baik di dunia Islam, maupun di Barat, yang ingin menjalin hubungan lebih dekat dan bersahabat dengan Barat serta mengembangkan demokrasi di negara mereka. Tetapi, Muslim ? dalam jumlah yang signifikan, baik yang fundamentalis maupun tidak ? adalah jahat dan berbahaya; bukan karena Barat membutuhkan musuh, tetapi karena mereka memang seperti itu. (Islam as such is not enemy of the West? But a significant sumber of Muslims ? notably but not exclusively those whom we call fundamentalists ? are hostile and dangerous, not because we need enemy but because they do).

Untuk memudahkan Barat dalam membuat kebijakan politik, Lewis membagi Muslim dalam tiga kelompok: (1) Yang melihat Barat secara umum dan AS, khususnya, sebagai musuh Islam yang abadi; penghalang utama menerapkan keimanan dan hukum Tuhan. Maka, cara satu-satunya dalam menghadapi Barat adalah perang. (2) kalangan Muslim yang tetap berpegang kepada kepercayaan dan budayanya, tetapi mau bergabung dengan Barat untuk menciptakan dunia yang lebih bebas dan lebih baik. (3) Muslim yang melihat Barat sebagai musuh utama. Tapi, karena sadar terhadap kekuatan Barat, mereka melakukan akomodasi sesaat, untuk mempersiapkan ?perjuangan akhir? (final struggle). Lewis mengingatkan, agar Barat tidak salah dalam mengidentifikasi kelompok ke-2 dan ke-3. (We would be wise not to confuse the second and the third).

Dengan tegas, Lewis menyebut Muslim fundamentalis sebagai musuh Barat. Ia menyebut sejumlah ciri Muslim fundamentalis: (1) menganggap masalah yang dihadapi Muslim sebagai dampak dari modernisasi yang berlebihan dan mengkhianati nilai-nilai Islam yang murni (2) menganggap obat dari ?penyakit? itu adalah kembali kepada Islam sejati dan sekaligus menghapuskan semua hukum dan aspek sosial yang dipinjam dari Barat, serta menggantikannya dengan syariat, (3) menganggap bahwa perjuangan tertinggi adalah melawan pengkhianat di dunia Islam yang melakukan Westernisasi.

Menempatkan dirinya sebagai penasehat Barat, maka tidaklah aneh jika Lewis melakukan berbagai legitimasi terhadap kebijakan-kebijakan politik Barat dan AS. Dalam soal Israel-Palestina, misalnya, Lewis lebih banyak mengkritik sikap Muslim ketimbang kebijakan AS. Ia mengritik, mengapa pihak Arab dan Palestina pada 1930-an justru bersekutu dengan Jerman yang banyak mengirim orang Yahudi ke Palestina, dibanding Inggris, yang justru ingin mengeluarkan orang-orang Yahudi. Ia pun mempertanyakan, mengapa Arab lebih banyak memusuhi AS ketimbang Soviet, padahal Soviet memainkan peranan penting dalam pendirian negara Israel. Kritik Lewis jelas tidak fair. Sejumlah fakta penting tentang peranan Inggris dan AS dalam pendirian negara Israel, tidak diungkapnya. Ia tidak menyebut Deklarasi Balfour yang merupakan satu diantara tiga pijakan berdirinya negara Israel. Benar, Soviet banyak membantu senjata kepada Israel dalam perang tahun 1948-1949. Tapi, AS adalah arsitek keluarnya Resolusi 181 MU-PBB, 1947, yang membagi Palestina menjadi tiga bagian, dan memberi Yahudi hak 50 persen wilayah Palestina. Lewis tidak menyebut soal ini. Pun, ia membuang fakta AS adalah pelindung dan pembantu setia Israel. Apalagi, dengan menguatnya peran lobi-lobi Yahudi sayap kanan di sana.

Hendrick Smith, pemenang Hadiah Pulitzer, menulis dalam bukunya The Power Games: How Washington Works, sederet fakta tentang soal ini. Berkat peran AIPAC (American-Israel Public Affairs Committee), bantuan AS kepada Israel melonjak dari 2,1 milyar USD (1980) ke 3,8 milyar USD pada 1986. Buku-buku yang mengulas tentang ?hubungan spesial? antara Israel-AS ini begitu banyak bertebaran. Namun, Lewis sama sekali tidak menghiraukannya. Malah, ia menulis, bahwa hubungan strategis antara AS dan Israel adalah akibat dari penetrasi Soviet, bukan sebab.

Lewis secara jujur menyatakan, perhatian utama semua pemerintah AS adalah untuk menjamin kepentingan-kepentingan AS. Pasca Perang Dingin, kebijakan utama AS di Timur Tengah, ditujukan untuk mencegah munculnya hegemoni tunggal di wilayah itu, yang akan memonopoli minyak. Untuk itu, ia tidak menyoal, mengapa Barat dan AS mendukung rezim-rezim otoriter di Timur Tengah yang melakukan berbagai tindak kejahatan kemanusiaan. Sebab, itu dilakukan untuk mengejar kepentingan. Maka, tulis Lewis, sikap Eropa dan AS terhadap rezim-rezim semacam ini adalah: ?We don?t care what you do your own people at home, so long as you are cooperative in meeting our needs and protecting our interests?.

Buku Lewis ini sebenarnya tidak terlalu ?serius? dibandingkan buku-buku yang dia tulis sebelumnya, seperti buku Islam and the West, (New York: Oxford University Press, 1993). Namun, buku The Crisis of Islam, lebih praktis dan mudah dibaca sebagai panduan politik penguasa Barat. Itulah yang terjadi di Iraq. Sebelum serangan AS, Lewis sudah menulis, bahwa di Iraq dan Iran, penguasanya sangat anti-AS. Maka, kata dia, ?Kita? dapat membantu kekuatan-kekuatan oposisi demokratis untuk mengambil oper dan membentuk pemerintahan baru.

Ia juga menasehati, agar AS dan Barat pada umumnya, membantu atau tidak menjauhi kalangan Muslim yang memiliki pandangan yang sama dengan mereka. Maka, jangan heran, jika AS sekarang rajin membantu sebagian kalangan sekular-liberal yang dipandang sejalan dengan mereka. Dan mendorong kelompok-kelompok ini untuk ?nggebuki? (menghantam) saudara-saudara Muslimnya sendiri.

Ilmuwan-ilmuwan sejenis Lewis inilah yang membuat persoalan Palestina dan dunia pada umumnya sulit terpecahkan. Ia tidak mau melakukan koreksi yang substansial terhadap politik Barat, khususnya AS, dalam masalah Palestina. Padahal, dunia begitu jelas melihat duduk persoalannya. Bahwa yang terjadi di Palestina adalah pendudukan Israel, pengusiran warga Palestina, kekejaman-demi kekejaman yang dilakukan Israel, dan dukungan yang terus-menerus dari AS.

Semenntara dunia pun makin terbuka, dan kejahatan Israel semakin tersingkap. Ujung-ujungnya justru berakibat pada ketakutan kaum Yahudi sendiri di berbagai belahan dunia. Itu memang ulah mereka sendiri. Kita dapat membaca fenomena Yahudi kontemporer sekarang ini dan menelaah, bagaimana Al-Quran telah banyak bercerita tentang sifat kaum Yahudi. Diantaranya, sifat serakah pada dunia dan ingkar nikmat Allah. Wallahu a?lam. (KL, 30 April 2004)

/@cwi

selengkapnya...

Gabung bersama kami

About Me

admin jg menerima pelayanan jasa

admin jg menerima pelayanan jasa
Jasa arsitek rumah; desain arsitek / desain rumah, gambar denah rumah, bangun rumah baru, renovasi rumah dan pembangunan mesjid, mushola, ruko, disaign taman, dll. klik gambar utk kontak personal.

Syiar Islam On Twitter

Site info

Kalkulator Zakat Fitrah

  © Syiar islam Intisari Muslim by Dede Suhaya (@putra_f4jar) 2015

Back to TOP  

Share |