Sikap Hidup Seorang Muslimah (Komitmennya Terhadap Nilai-Nilai Islam)

oleh : Nafîsah M. Ridwan
Sikap hidup seseorang sangat ditentukan oleh cara pandang mendasar yang dimilikinya tentang kehidupan. Sebagai seorang muslimah, yang telah meyakini aqidah Islam, sudah seharusnya ia senantiasa memiliki kesadaran penuh bahwa keberadaan dan eksistensi dirinya, alam semesta yang ditempatinya serta kehidupan yang dijalaninya di dunia ini bukan terjadi dan berjalan dengan sendirinya. Semua itu adalah ciptaan Allah SWT. Dia-lah sebagai “Subyek Pengendali” segala sesuatu yang berlangsung di alam semesta ini.

Dengan demikian seorang muslimah akan senantiasa menyadari bahwa posisinya di dunia ini adalah sebagai seorang hamba yang tunduk pada aturan Allah SWT sebagai Khaliqnya. Selanjutnya ia pun meyakini bahwa hanya Allah SWT yang harus ditaati dan disembah, dan hanya keridloan-Nya lah yang harus digapai dalam kehidupan ini.

Hal ini sesuai dengan kalimat syahadat yang menjadi ikrar setiap muslim (maupun muslimah) yang dibacakan dalam setiap sholatnya:
“Tidak ada Tuhan (yang disembah) kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah.“


Muhammad ismail dalam kitabnya “al-Fikrul al-Islami” menjelaskan bahwa arti Lâillâha illallah baik secara lughowi maupun syar’i adalah Lâ ma’budda illallah (Tidak ada yang disembah kecuali allah). Artinya, seorang muslim/muslimah) yang telah mengikrarkan kalimat syahadat di atas harus mewajibkan dirinya untuk melakukan ibadah hanya kepada Allah semata, tidak kepada yang lain. Cara pandang khas ini merupakan cara pandang yang dilandasi oleh aqidah islamiyah. Demikian juga, seluruh pemikiran-pemikiran cabang yang ada saat ini pun harus dibangun di atas landasan aqidah Islamiyah.

Aqidah Islam Sebagai Pijakan Berfikir dan Bertindak
Ketika seorang muslimah mengambil Islam sebagai Aqidahnya maka sudah seharusnya ia senantiasa menjadikan Aqidah Islamiyah sebagai standar kehidupannya. Ia pun harus memahami bahwa karakter aqidah islam adalah aqidah ruhiyah dan aqidah siyasiyah. Sehingga ia senantiasa menjadikan aqidah Islamiyah sebagai pijakan berfikir dan bertindak.

Tak satu pun pemikiran-pemikiran yang ia lahirkan kecuali berangkat dan berstandar hanya pada aqidah Islamiyah. Demikian juga ketika bertindak atau bersikap maka tak satu pun tindakan atau pun sikap yang ia tunjukkan kecuali berstandar pada hukum syara’ yang terpancar dari aaqidah islamiyah tersebut.

Seorang muslimah tidak akan merasakan dirinya hidup kecuali di atas pijakan Aqidah islamiyah. Bahkan sulit baginya untuk melepaskan diri dari ikatan Aqidah Islamiyah. Dengan demikian ketika nilai-nilai asing datang dan berusaha menyusup ke alam kehidupannya maka ia tiada ragu dan sungkan untuk menolaknya bahkan semaksimal mungkin berusaha mengikis “virus” tersebut dari kehidupannya.

Tak pernah sedikit pun terlintas dalam benaknya untuk mengambil atau mengakomodasi nilai-nilai asing termasuk di dalamnya adalah nilai-nilai demokrasi. Karena ia menyadari bahwa nilai-nilai tersebut adalah racun yang membahayakan bagi diri dan umatnya. Ia menyadari bahwa jika mengambil apalagi meminum racun tersebut sama saja dengan melakukan upaya bunuh diri.

Seorang muslimah tak pernah sedikitpun tergiur oleh bujuk rayu pemikiran-pemikiran asing yang bermaksud menyeretnya. Ia tak pernah bergeming sedikit pun oleh bujukan materi ataupun manfaat yang disuguhkan dihadapannya. Untuk meneguk setetes pun, tak kuasa ia melakukannya. Karena ia sadar bahwa semua itu hanyalah tipu daya yang akan membawa dirinya pada jurang kesengsaraan dan kesesatan. Sehingga ia semakin berusaha untuk memperkuat aqidahnya. Ia pun tak melupakan apa yang telah menjadi firman Allah SWT dalam Qs. al-Baqarah [2]: 256 :

“…Sesungguhnya telah jelas antara jalan yang benar dan jalan yang salah. kArena itu barangsiapa yang ingkar pada thaghut dan beriman kepada Allah maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus…”

Dalam kondisi apapun seorang muslimah yang menjadikan aqidah Islam sebagai pegangan hidupnya akan tetap pada pendirian untuk mengambil hanya satu standar nilai dalam hidupnya. Sekalipun ia harus mengorbankan harta, jiwa dan raganya ia akan tetap memilih jalan hidup yang hakiki. Baginya hidup yang hakiki bukan untuk memperoleh materi ataupun manfaat, akan tetapi hidup yang hakiki adalah meraih kemuliaan di sisi Al-Khaliqnya. Ia pun sadar bahwa satu-satunya jalan untuk meraih kemuliaan hanyalah dengan menjadikan Aqidah islamiyah sebagai standar baku dalam kehidupannya.

Pada saat seorang muslimah menjadikan aqidah islamiyah sebagai pijakan berfikir dan bertindak itulah dikatakan ia telah menemukan jatidirinya, sebagai sosok pribadi muslim. Yakni sosok kepribadian yang khas, yang murni dan istimewa, tidak tercampur sedikit pun oleh nilai-nilai asing.

Begitulah seharusnya seorang muslimah. Ia senantiasa memegang idealisme Islam dengan kuat. Ia pun optimis bahwa idealisme Islam yang mampu memecahkan seluruh problematika kehidupan manusia.

Acuh Tak Acuh bukan Tabiatnya
Bukan tabiat seorang muslimah hidup dengan konsep individualisme. Sebaliknya ia senantiasa menempatkan dirinya menjadi bagian dari umat islam yang lain. Karenanya ia tak lupa dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah Saw:

“Kamu akan melihat orang-orang yang beriman saling berkasih sayang, saling mencintai, saling mengasihi yaitu bagaikan satu tubuh. Apabila satu anggota saja sakit, maka tertariklah bagian anggota yang lain ikut sakit dengan tidak dapat tidur dan badan panas.” [HR. Bukhari Muslim].

“Barangsiapa yang tidak memperhatikan kepentingan kaum muslimin, maka ia bukanlah termasuk di antara mereka. Dan barangsiapa yang tidak berada di waktu pagi dan petang selaku pemberi nasehat bagi Allah dan rasulNya, bagi kitabNya, bagi pemimpinnya dan bagi umumnya kaum muslimin, maka ia bukanlah termasuk di antara mereka.” [HR. ath-Thabrani].

Oleh karena itu seorang muslimah tak akan pernah tinggal diam ketika melihat nilai-nilai asing yang membahayakan bagi saudara-saudaranya (umat Islam yang lain). Ia tak bisa berdiam diri melihat fakta yang demikian. Ia akan senantiasa berusaha menyadarkan umat islam untuk senantiasa waspada terhadap nilai-nilai asing yang membahayakan bagi kehidupan mereka.

Ia bagaikan pembawa pelita penerang jalan, pembawa penjelas antara yang haq dan yang bathil, sebab ia adalah generasi penerus penyampai risalah Rasulullah SAW. Ia menjadi penuntun orang-orang yang meminta petunjuk ke arah jalan kebenaran. Dirinya sarat dengan bejana-bejana ilmu dan aqalnya ibarat khazanah-khazanah hikmah. Ia tak akan pernah merelakan masyarakat (umat Islam) dijauhkan dari nilai-nilai Islam. Ia pu tak rela masyarakat berada di bawah pengaruh orang-orang tak berilmu yang dengan mudah memberikan fatwa untuk menerima kebathilan. Dengan demikian keberadaan dirinya senantiasa dibutuhkan umat Islam.

Untuk menjadi muslimah yang demikian tentulah sangat tidak cukup hanya menjadikan Aqidah Islamiyah sebatas ucapan lafadz-lafadz. Akan tetapi haruslah berusaha menjadikan aqidah tersebut sebagai standar baku bagi kehidupannya dan memahami konsekuensinya. Sehingga ia pun memiliki kepedulian yang tinggi untuk memelihara nilai-nilai Islam yang ada dalam dirinya dan nilai-nilai Islam yang ada dalam diri umat Islam pada umumnya.

Nilai-nilai asing yang membahayakan dirinya ia pahami membahayakan pula bagi uamatnya. Demikian pula nilai-nilai asing yang membahayakan umatnya ia pahami pula membahayakan bagi dirinya. Hingga ia pun senantiasa memiliki kesadaran yang tinggi untuk memelihara diri dan umatnya dari kontaminasi racun-racun dunia. Ia pun dengan lantang akan mengatakan racun adalah racun, madu adalah madu. Kebenaran adalah kebenaran, kebathilan adalah kebathilan. Tak pernah ia membungkus kebathilan dengan sesuatu agar tampak baik dihadapan umat Islam. Bahkan tanpa segan membongkar keburukan nilai-nilai asing yang membahayakan umatnya dengan sejelas-jelasnya, untuk kemudian menunjukkan al haq yang sesungguhnya, tanpa ragu dan bimbang. Demikianlah seharusnya seorang muslimah bersikap peduli terhadap umat Islam. Kepeduliannya terhadap umat islam adalah kepeduliannya terhadap islam sebagai dien yang dianutnya.

Perjuangan Hakiki Muslimah Bersama Umat
Ketika kaum muslimin telah menyadari akan esensi aqidah Islam yang dipeluknya, maka muslimah bersama ummat bersatu dalam barisan perjuangan yang hakiki. Yakni perjuangan yang berada di bawah panji aqidah LÂ ILLÂHA ILLALLAH MUHAMMADAR RASULULLAH. Dengan kata lain perjuangan yang berperspektif Islam.

Dalam perjuangan ini, kaum muslimin (termasuk muslimah) berusaha untuk mewujudkan nilai-nilai Islam yang hakiki. Nilai-nilai Islam yang murni tanpa adanya noda-noda asing yang akan mencemari nilai Islam. Nilai ini tentu saja bukan nilai yang absurd, akan tetapi merupakan nilai yang pasti akan membawa kaum muslimin sampai pada suatu bentuk kehidupan yang sesuai dengan tuntunan ilahi. Dalam perjuangannya tak pernah ada kata sepakat dengan nilai-nilai asing. Dengan kata lain tidak ada kata kompromi ataupun akomodasi dengan nilai-nilai yang datang dari luar Islam, sekalipun nilai asing tersebut nampak baik luarnya. Sebab ukuran kebaikan tidak bisa dilihat dari luarnya, akan tetapi hanya dapat dilihat dari ideologi yang mendasarinya.

Oleh karena itu, bukan sesuatu yang tidak mungkin, jika kaum muslimin selalu bercita-cita mewujudkan nilai-nilai islam dalam kehidupannya. Bukan pula hal yang mustahil untuk menolak setiap bentuk nilai-nilai asing yang bertentangan dengan nilai Islam.

Akhirnya hanya kembali kepada aqidah Islamiyah, kaum muslimin dapat mencapai kemuliaan yang hakiki.

DAFTAR PUSTAKA:
1.Muhammad Ismail. Al Fikrul Al Islamy. 1953
2. Taqiyyuddin An Nabhany. Syakhshiyyatul Islamiyah. Darul Ummah
3. Taqiyyuddin An Nabhany. Attakatul Hizby. 1953
4. Drs. H. Moh. Rifa’i. Tiga Ratus Hadits bekal Da’wah dan pembina Pribadi Muslim. 1980. Wicaksana. Bandung
5. Abu Laily dan Drs. H. Zahri Hamid. Al Hadits. 1983. Kota Kembang Yogyakarta.

/@cwi

selengkapnya...

Semangat Pendidikan Andrea Hirata Dalam Tetralogi Laskar Pelangi

oleh: Dedeawan [dedeawanap at yahoo.co.id]
Berbicara tentang Andrea Hirata dan Laskar Pelanginya bukanlah hal yang baru bagi mereka yang mengikuti perkembangan novel Indonesia yang sedang semarak dengan hadirnya penulis-penulis novel yang memberikan kisah-kisah yang berbeda dan menggugah jiwa pembacanya, seperti Habiburrahman El Shirazy, penulis novel Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih yang karya-karyanya best seller dan digandrungi karena ceritanya yang mengandung nilai Islami dan tidak terkesan menggurui.

Andrea Hirata, anak muda Melayu Belitong lulusan Sorbonne, Perancis, novelis muda berbakat yang menghadirkan kisah masa kecilnya dalam sebuah novel yang unik dengan mengangkat tema pendidikan dalam ceritanya yaitu Tetralogi Laskar Pelangi. Dalam Tetralogi Laskar Pelangi terdiri dari empat novel yaitu Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov.


Dalam Laskar Pelangi, mengisahkan sepuluh orang anak yang bersekolah di sekolah Muhammadiyah. Cerita berawal dari keresahan Pak Harfan dan Bu Muslimah, yang mengabdikan diri di sekolah tersebut, yang panik karena baru ada sembilan anak baru kelas satu yang mendaftar yaitu Ikal (penulis sendiri, Andrea Hirata), Lintang, Mahar, Trapani, Kucai, Syahdan, Samson, A Kiong, dan satu-satunya perempuan bernama Sahara. Padahal menurut pengawas dari Diknas Belitong menegaskan bahwa sekolah yang muridnya kurang dari sepuluh maka sekolah tersebut harus tutup. Disaat-saat terakhir munculah Harun, anak lima belas tahun dengan keterbalakangan mental yang menyelamatkan sekolah itu dari penutupan.

Keberadaan SD sekaligus SMP Muhammadiyah tersebut sangat berbeda dengan keadaan sekolah-sekolah PN Timah, ibarat bumi dengan langit. Sekolah PN Timah adalah sekolah yang didirikan oleh PN Timah, perusahaan negara yang menguasai produksi hasil tambang di pulau Belitong. Sekolah PN dikhususkan untuk anak-anak pejabat atau staf yang bekerja di perusahaan yang pada masa itu tebesar se-kawasan Asia. Sedangkan penduduk belitong adalah pekerjanya.

Meski dikisahkan kesepuluh anak Laskar Pelangi tersebut bersekolah di sekolah yang mirip gudang kopra, semangat mereka tetap membara, begitupun Bu Muslimah guru mereka, dan Pak Harfan kepala sekolah. Bu Muslimah digambarkan sebagai sosok guru yang bersahaja dari pandangan anak didiknya yang memanggilnya ibunda guru. Kehidupan ekonominya dari pekerjaan lain sebagai penjahit. Profesi gurunya murni semata demi syiar Islam dan memenuhi panggilan jiwa sebagai pendidik. Demikian halnya dengan Pak Harfan, pamannya Bu Mus, digambarkan sebagai guru yang berjenggot lebat, berkemeja koko warna hijau yang berubah menjadi putih karena terlalu sering dicuci, bercelana panjang kusut karena terlalu sering dipakai. Kehidupan ekonominya dari hasil berkebun. Sekolah mereka adalah potret buram sekolah miskin masyarakat Melayu Belitong yang hidup dan berkembang dengan semangat perjuangan dan pengorbanan serta sumbangan sukarela warga.

Mengikuti alur cerita Laskar Pelangi membuat kita (pembaca) untuk menyelami masa kecil penulis (Andrea Hirata) dan juga teman-temannya yang penuh semangat dalam mengenyam pendidikan. Seperti Lintang yang harus mengayuh sepedanya sejauh 40 kilometer melewati jalan kecil penuh rawa dan buaya besar untuk sampai di sekolah. Lintang jualah yang disebut-sebut dalam novel ini sebagai anak jenius didikan alam, yang mengangkat harkat dan martabat sekolah miskin Muhammadiyah itu dalam lomba cerdas cermat tingkat kabupaten mengalahkan sekolah-sekolah PN yang penuh fasilitas. Namun sayang, anak jenius didikan alam tersebut harus mengubur kejeniusannya saat ayahnya meninggal dan Lintang harus menjadi tulang punggung keluarganya.

Buku kedua dari Tetralogi Laskar Pelangi adalah Sang Pemimpi. Mengisahkan Ikal, Arai, dan Jimron dalam menjalani hari-hari mereka bersama mimpi-mimpinya saat bersekolah di SMA. Kesetiakawanan yang tinggi mereka tunjukkan dalam mewujudkan mimpinya. Saat itu PN Timah belitong dalam keadaan kacau dan gelombang PHK besar-besaran membuat anak-anak tidak bisa bersekolah karena orang tua mereka tidak sanggup membiayainya. Anak-anak yang ingin bersekolah harus bekerja, begitu juga dengan ketiga sahabat ini, hingga harus bekerja sebagai kuli ngambat yang bertugas menunggu perahu nelayan tambat dan memikul tangkapan para nelayan itu ke pasar ikan. Kuli tambat adalah pekerjaan yang paling kasar yang hanya diminati oleh mereka yang semangat bersekolahnya kuat, atau mereka yang benar-benar putus asa karena tidak memiliki pekerjaan lain.

Buku ketiga adalah Edensor, menceritakan Ikal dan Arai yang mendapat beasiswa untuk
mengambil S-2 ke Eropa, tepatnya di Sorbonne, Perancis. Dan buku keempat dari Tetralogi Laskar Pelangi adalah Maryamah Karpov.

Kiranya, semangat Andrea Hirata dalam Tetralogi Laskar Pelanginya dalam meraih pendidikan setinggi-tingginya, menggapai mimpi menjadi kenyataan, mengunjungi tempat yang tidak pernah diduga sebelumnya, dapat melecut kita, para pendidik ataupun siapa saja untuk memajukan pendidikan dengan segala keterbatasannya.

/@cwi

selengkapnya...

Manhaj Haraki Dalam Hijrah Nabi Sirah Nabawiyah








dakwatuna.com - Sebuah rencana makar telah difokuskan oleh kaum musyrikin Mekah kepada Rasulullah saw., hal ini dilakukan setelah mereka berkali-kali gagal melakukan upaya menghalangi mencegah, mengintimidasi, menteror dan sebagainya. Sasaran utama mereka adalah para pengikut Rasulullah yang terdiri dari orang-orang lemah dan tidak memiliki dukungan kuat dari kabilahnya maupun tokoh yang memiliki kekuatan. Semua cara kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang kafir musyrik ternyata tidak mampu menghentikan harakah dakwah. Maka mereka pun mencoba menggunakan cara-cara lain, yaitu dengan cara “mudahanah” seperti dengan bujukan, rayuan dan mengajak kompromi dan sebagainya, intinya adalah agar Rasulullah berhenti tidak lagi menyerukan dakwah Islam kepada mereka.

Mereka menginginkan agar kalimat tauhid, “La Ilaha Illallah” tidak lagi berkumandang di muka bumi. Namun Rasulullah sedikit pun tidak bergeming dari tekadnya untuk terus menyampaikan dakwah ini kepada seluruh manusia sampai Islam jaya di muka bumi atau beliau binasa dalam memperjuangkannya.


Ketika orang-orang kafir mengetahui bahwa dakwah Rasulullah diam-diam terus berkembang tidak hanya di kalangan keluarga atau teman-teman dekatnya, akan tetapi mulai didukung oleh orang-orang di luar kaum Quraisy, bahkan orang-orang dari luar kota Mekah, maka bertambahlah kekhawatiran mereka karena jika Muhammad dapat keluar dari negerinya pasti akan menyusun kekuatan bersama para pengikutnya untuk memerangi mereka, maka mereka pun segera berkumpul di “darun nadwah” sebagai tanda keseriusan dan kebulatan tekad untuk mengakhiri dakwah yang disampaikan oleh Rasulullah.

Mereka bermusyawarah untuk menyatukan kata sepakat sebagaimana dilontarkan oleh Abu Jahal , yaitu kumpulkan para pemuda, preman dan para algojo dari semua kabilah kemudian mereka dipersenjatai dengan senjata lengkap, selanjutnya diinstruksikan kepada mereka secara serentak untuk membunuh Muhammad. Hanya dengan cara inilah mereka bisa lega dari gangguan dakwah Muhammad, kalkulasinya adalah jika Muhammad terbunuh keluarga besarnya tidak akan mampu berhadapan dengan semua kekuatan kabilah mereka.

Allah SWT mengungkapkan rencana makar mereka di dalam ayat Al-Quran:

“ Dan ingatlah ketika orang-orang kafir telah bersepakat untuk melakukan makar kepadamu, untuk menangkap atau membunuhmu atau mengusirmu, mereka berbuat makar dan Allah pun membuat makar untuk mereka dan makar Allah adalah lebih baik dari makar mereka” (Al-Anfal, 30)

Musuh-musuh Islam senantiasa beranggapan bahwa dengan terbunuhnya Muhammad atau pemimpin dakwah, maka tidak akan ada lagi perlawanan dari para pengikutnya, tidak ada lagi jihad dan gerakan revolusioner dari pengikutnya. Anggapan ini jelas tidak benar, karena sesungguhnya semangat perjuangan Islam tidak akan pernah berhenti dengan terbunuhnya sang pemimpin karena setiap diri orang beriman adalah pemimpin.

Upaya yang sia-sia

Maka dapat kita baca dalam sejarah atau kita saksikan bahwa semua upaya orang-orang kafir untuk membunuh tokoh dakwah hanya akan sia-sia saja dari usahanya. Karena Islam adalah sebuah gerakan individu dan jamaah, sebuah gerakan ruhiyah aqliyah dan jasadiyah yang tak terpisahkan satu sama lainnya, maka ketika musuh-musuh Islam berhasil untuk menghabisi gerakan Islam dengan jalan membunuh pemimpinnya tidaklah berarti habis pula gerakan Islam itu sendiri. Banyak contoh di beberapa negara muslim yang telah terbunuh pimpinannya namun perjuangan pengikutnya justru semakin menggelora bagai rantai yang tak terputus. Jika satu terputus menjadi syahid akan tumbuh beribu calon syuhada yang akan menunggu.

Langkah dan sarana menuju kemenangan

Sarana strategis dan penting untuk mengantarkan kemenangan yang dapat diambil dari peristiwa hijrah antara lain:

Tidurnya Sahabat Ali ra di tempat tidur Rasulullah, hal ini menunjukkan betapa pentingnya gerakan Islam menjalankan kewajiban ikhtiar dan persiapan dalam segala sesuatunya untuk menghadapi musuh meski sesungguhnya seluruh kekuatan itu di gantungkan kepada Allah SWT. Tidurnya Ali bin Abi Thalib adalah sebuah kesiapan total yang meliputi harta dan jiwa.

Keluarnya Rasulullah di waktu siang yang panas terik, karena sesungguhnya waktu siang panas terik bagi kebanyakan orang-orang Arab adalah waktu qailulah, waktunya orang beristirahat tidur sebentar di siang hari, maka sikap ini mengandung makna kerahasiaan dan upaya untuk menghindar dari pengawasan pandangan mata kebanyakan orang.

Keluarnya Nabi dari celah dinding rumah Abu Bakar, bisa jadi rumah Abu bakar As-Siddiq adalah bagian dari wilayah pengamatan orang-orang musyrikin dari sekian banyak rumah yang ada, hal ini menunjukkan upaya untuk menghindar pandangan orang yang senantiasa mengawasi rumah seseorang di mana pada umumnya pengawasan itu terfokus pada pintu sebagai kelayakan orang keluar dan masuk rumah. Maka keluarnya nabi dari rumah Abu Bakar As-Siddiq melalui celah dinding merupakan upaya rahasia untuk menjauhkan dari pengamatan dan pandangan musuh.

Arah menuju Gua Tsur, jika rencana untuk membunuh Nabi di kota Mekah sudah tidak bisa dihindari, maka berarti jalan menuju kota Madinah adalah fokus pengawasan bagi pasukan berkuda dari orang-orang kafir yang telah disiap-siagakan agar Nabi tidak bisa sampai ke kota Madinah. Begitu kira-kira logika berfikir umumnya orang, karena ke sanalah memang arah dan tempat yang akan dituju oleh Nabi.

Maka menguasai dan menghalangi langkah musuh berarti terselesaikannya perang secara cepat dan praktis dengan lawan.

Ketika Nabi mengarahkan langkahnya ke gua tsur maka langkah ini dapat dikatakan sebagai upaya mengalihkan analisa dari musuhnya dan sekaligus membuyarkannya, karena Gua Tsur tidak berada di jalan menuju Madinah.

Berita-berita di kota Mekah, Abu Bakar as-Siddiq menyuruh anaknya Abdullah untuk memantau berita yang dibicarakan orang-orang kafir tentang Nabi dan ayahnya di siang hari, untuk kemudian kembali disampaikan kepada keduanya di malam hari, maka Nabi dan Abu Bakar tidak sekadar bersembunyi untuk waktu tertentu seukuran waktu orang melakukan perjalanan ke Madinah, akan tetapi juga harus mengetahui secara langsung atas kerahasiaan langkah dan upaya yang dilakukannya, sejauh mana yang dilakukan oleh musuh. Nabi memastikan diri untuk dapat memantau sikap dari musuhnya .

Mengatur perbekalan

Inilah peran yang diamanahkan kepada Asma binti Abu Bakar, selama Rasulullah dan ayahnya berada di dalam gua untuk beberapa waktu, seandainya suplai makanan terputus kemungkinan besar Rasulullah dan orang tuanya akan mati kelaparan. Anda bisa bayangkan seorang Asma binti Abu Bakar seorang anak perempuan dengan segala keterbatasannya dibanding saudara lelaki nya Abdullah bin Abu Bakar, namun demikian ia mampu memerankan tugasnya yang demikian penting

Penghapusan bekas jejak

Mengikuti bekas jejak adalah petunjuk yang dapat menemukan persembunyian Rasulullah dan Abu Bakar as-Siddiq di dalam gua.

Demikian pula ketika Abdullah dan Asma yang setiap hari mendatangi gua, maka tugas Amir bin Fuhairah dialah yang menghapus bekas jejak keduanya.

Inilah sebuah pelajaran berharga yang dapat di pelajari oleh para pemuda dan pemudi jika ia bersungguh-sungguh mempelajarinya, inilah pelajaran dari kerja-kerja rahasia dengan pemahaman yang dalam dan detail, sebuah strategi yang sangat di perlukan dalam menghilangkan jejak agar tidak bisa dibaca oleh musuh.

Berkesinambungan selama tiga hari

Hari-hari pertama keberadaan Rasulullah dan Abu Bakar As-Siddiq di dalam gua adalah hari di mana seluruh tempat di kota Mekah dalam pengawasan dan pemantauan yang ketat oleh orang-orang kafir, mereka begitu intens dan ketatnya melakukan pencarian terhadap Rasulullah hingga kesemua pelosok untuk menemukan tempat persembunyiannya.

Tiga hari adalah waktu yang dibutuhkan untuk menyisirnya sudah mereka pergunakan dengan optimal, maka jika lebih dari tiga hari Rasulullah tidak segera meninggalkan kota Mekah sementara Abdullah dan Asma masih terus menjalankan tugasnya, tentu orang-orang kafir akan melihat dan menilai lain dari apa yang dilakukan oleh Abdullah dan Asma hal ini sangat memungkinkan untuk diketahuinya tugas rahasia keduanya dan akan mudah terbongkar tugas yang dijalankannya.

Peran dan campur tangan kekuatan langit

Orang-orang kafir telah melakukan upaya habis-habisan untuk menemukan Rasulullah dan Abu Bakar As-Siddiq, seluruh tanah dan pegunungan di kota Mekah telah disisir rata tak sejengkal pun yang terlewatkan dalam pencariannya, pencarian pun berakhir di sekitar gua tempat Rasulullah dan Abu Bakar As-Siddiq bersembunyi. Abu Bakar berkata pada Rasulullah, Ya Rasulullah ada seseorang yang melihat persembunyian kita, Rasulullah menjawab: Tidak ya Abu Bakar, Malaikat akan menutupi kita dengan kedua sayapnya. sesaat kemudian orang tersebut membuang hajat di depan mulut gua, Rasulullah pun menegaskan: Jika ia melihat persembunyian kita, tentu ia tidak akan melakukannya. Maka berdoa kepada Allah dengan kerendahan hati dan kesungguhan dan mohonlah pertolongan-Nya.

Tugas manusia hanyalah melakukan ikhtiar dengan memaksimalkan potensi dan kekuatan yang dimilikinya, karena sesungguhnya kekuatan Allahlah yang akan menjawab keterbatasan yang dimiliki oleh manusia, karena sesungguhnya Allahlah yang menjadikan ketenangan dan kecukupan pada diri manusia, setelah manusia menyerahkan kembali urusan dan kekuasaan kepada-Nya.

Memanfaatkan dari pengalaman orang-orang musyrik

Ketika abu Bakar As-Siddiq menyewa Abdullah bin Uraikith sebagai pemandu perjalanan beliau bersama Rasulullah. Saat itu Abdullah bin Uraikith adalah seorang Musyrik. ini menunjukkan bahwa pemanfaatan dalam konteks seperti ini dapat dilakukan selama ada jaminan keamanan, artinya rencana rahasia yang akan dilakukan tidak akan tersebar kepada orang-orang musyrikin. Maka gerakan dakwah pun dapat mengambil manfaat dari potensi yang ada pada non-muslim selama berpeluang dan kemudian ada garansi kepercayaan keamanahan dari pihak non-muslim tersebut.

Ketika Abu bakar As-Siddiq ditanya Rasulullah: Siapakah orang yang bersama dengan engkau? beliau menjawab: Ini adalah orang yang akan memberi petunjuk jalan dalam perjalanan, pada orang itu ada jalan yang dapat menunjukkan kebaikan, inilah kecerdasan dan firasat seseorang yang dapat melakukan langkah cerdas tanpa harus berdusta dalam memanfaatkan potensi lawan.

Menyikapi orang seperti Suraqah

Penting bagi harakah Islamiyah untuk mengambil pelajaran dari sikap yang dilakukan oleh Rasulullah terhadap orang seperti Suraqah

- Kemampuan menyikapi lawan, bagaimana mengambil hati lawan kemudian bekerja sama dengannya sehingga dapat memperoleh kemenangan dari potensi lawan tersebut.

- Dalam perjalanan menuju tegaknya daulah Islam terkadang ada perjanjian dan kerjasama dengan musuh, yang penting bagaimana kita bisa mencari bagian yang jelas yang dapat menguntungkan dan mendatangkan ketenangan kita, soal nanti bagaimana itu hal lain.

- Mengambil posisi aman dari lawan yang bisa berubah sikap dan menyatakan keberpihakan dan kepercayaan kepada kita, sekalipun seseorang dalam satu sikap memusuhi Islam di sisi lain pada dirinya ada peluang untuk mendapat hidayah untuk menjadi muslim. Allahu a’lam


/@cwi

selengkapnya...

Gabung bersama kami

About Me

admin jg menerima pelayanan jasa

admin jg menerima pelayanan jasa
Jasa arsitek rumah; desain arsitek / desain rumah, gambar denah rumah, bangun rumah baru, renovasi rumah dan pembangunan mesjid, mushola, ruko, disaign taman, dll. klik gambar utk kontak personal.

Syiar Islam On Twitter

Site info

Kalkulator Zakat Fitrah

  © Syiar islam Intisari Muslim by Dede Suhaya (@putra_f4jar) 2015

Back to TOP  

Share |