Keutamaan Menjaga Lisan dan Buah Hasilnya




Ditulis oleh Admin di/pada 01/06/2009

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih berbicara. Bahkan tak sedikit orang yang belajar khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus. Lisan memang karunia Allah yang demikian besar. Dan ia harus selalu disyukuri dengan sebenar-benarnya. Caranya adalah dengan menggunakan lisan untuk bicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri.

Orang yang banyak bicara bila tidak diimbangi dengan ilmu agama yang baik, akan banyak terjerumus ke dalam kesalahan. Karena itu Allah dan Rasul-Nya memerintahkan agar kita lebih banyak diam. Atau kalaupun harus berbicara maka dengan pembicaraan yang baik. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (Al-Ahzab: 70)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari hadits no. 6089 dan Al-Imam Muslim hadits no. 46 dari Abu Hurairah)

Lisan (lidah) memang tak bertulang, sekali engkau gerakkan sulit untuk kembali pada posisi semula. Demikian berbahayanya lisan, hingga Allah dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.

Dua orang yang berteman penuh keakraban bisa dipisahkan dengan lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa dipisahkan karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa dipisahkan dengan cepat karena lisan. Bahkan darah seorang muslim dan mukmin yang suci serta bertauhid dapat tertumpah karena lisan. Sungguh betapa besar bahaya lisan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6092)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan satu kalimat yang tidak benar (baik atau buruk), hal itu menggelincirkan dia ke dalam neraka yang lebih jauh antara timur dan barat.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6091 dan Muslim no. 6988 dari Abu Hurairah Rad. )

Al-Imam An-Nawawi mengatakan: “Hadits ini (yakni hadits Abu Hurairah yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim) teramat jelas menerangkan bahwa sepantasnya bagi seseorang untuk tidak berbicara kecuali dengan pembicaraaan yang baik, yaitu pembicaraan yang sudah jelas maslahatnya dan kapan saja dia ragu terhadap maslahatnya, janganlah dia berbicara.” (Al-Adzkar hal. 280, Riyadhus Shalihin no. 1011)

Al-Imam Asy-Syafi’i mengatakan: “Apabila dia ingin berbicara hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya.” (Al-Adzkar hal. 284)

Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi mengatakan: “Ketahuilah, setiap orang yang telah mendapatkan beban syariat, seharusnya menjaga lisannya dari semua pembicaraan, kecuali pembicaraan yang sudah jelas maslahatnya. Bila keadaan berbicara dan diam sama maslahatnya, maka sunnahnya adalah menahan lisan untuk tidak berbicara. Karena pembicaraan yang mubah bisa menarik kepada pembicaraan yang haram atau dibenci, dan hal seperti ini banyak terjadi. Keselamatan itu tidak bisa dibandingkan dengan apapun.”

Keutamaan Menjaga Lisan

Memang lisan tidak bertulang. Apabila keliru menggerakkannya akan mencampakkan kita dalam murka Allah yang berakhir dengan neraka-Nya. Lisan akan memberikan ta’bir (mengungkapkan) tentang baik-buruk pemiliknya. Inilah ucapan beberapa ulama tentang bahaya lisan:

1. Anas bin Malik : “Segala sesuatu akan bermanfaat dengan kadar lebihnya, kecuali perkataan. Sesungguhnya berlebihnya perkataan akan membahayakan.”

2. Abu Ad-Darda’ : “Tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali salah satu dari dua orang yaitu orang yang diam namun berpikir atau orang yang berbicara dengan ilmu.”

3. Al-Fudhail : “Dua perkara yang akan bisa mengeraskan hati seseorang adalah banyak berbicara dan banyak makan.”

4. Sufyan Ats-Tsauri : “Awal ibadah adalah diam, kemudian menuntut ilmu, kemudian mengamalkannya, kemudian menghafalnya lantas menyebarkannya.”

5. Al-Ahnaf bin Qais : “Diam akan menjaga seseorang dari kesalahan lafadz (ucapan), memelihara dari penyelewangan dalam pembicaraan, dan menyelamatkan dari pembicaraan yang tidak berguna, serta memberikan kewibawaan terhadap dirinya.”

6. Abu Hatim : “Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya. Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu, jika terdapat (maslahat) baginya maka dia akan berbicara. Dan bila tidak ada (maslahat) dia tidak (berbicara). Adapun orang yang jahil (bodoh), hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang menyentuh lisannya dia akan (cepat) berbicara. Seseorang tidak (dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya.”

7. Yahya bin ‘Uqbah: “Aku mendengar Ibnu Mas’ud berkata: ‘Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya, tidak ada sesuatu yang lebih pantas untuk lama dipenjarakan dari pada lisan.”

8. Mu’arrifh Al-‘Ijli : “Ada satu hal yang aku terus mencarinya semenjak 10 tahun dan aku tidak berhenti untuk mencarinya.” Seseorang bertanya kepadanya: “Apakah itu wahai Abu Al-Mu’tamir?” Mua’arrif menjawab: “Diam dari segala hal yang tidak berfaidah bagiku.”

(Lihat Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala karya Abu Hatim Muhamad bin Hibban Al-Busti, hal. 37-42)

Buah Menjaga Lisan

Menjaga lisan jelas akan memberikan banyak manfaat. Di antaranya:

1. Akan mendapat keutamaan dalam melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Abu Hurairah Rad. meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6090 dan Muslim no. 48)

2. Akan menjadi orang yang memiliki kedudukan dalam agamanya.

Dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ketika ditanya tentang orang yang paling utama dari orang-orang Islam, beliau menjawab:

“(Orang Islam yang paling utama adalah) orang yang orang lain selamat dari kejahatan tangan dan lisannya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 11 dan Muslim no. 42)

Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali mengatakan: “Hadits ini menjelaskan larangan mengganggu orang Islam baik dengan perkataan ataupun perbuatan.” (Bahjatun Nazhirin, 3/8)

3. Mendapat jaminan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam untuk masuk ke surga.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam hadits dari Sahl bin Sa’d :

“Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin baginya al-jannah (surga).” (HR. Al-Bukhari no. 6088)

Dalam riwayat Al-Imam At-Tirmidzi no. 2411 dan Ibnu Hibban no. 2546, dari shahabat Abu Hurairah Rad. , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Barangsiapa yang dijaga oleh Allah dari kejahatan apa yang ada di antara dua rahangnya dan kejahatan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka dia akan masuk surga.”

4. Allah akan mengangkat derajat-Nya dan memberikan ridha-Nya kepadanya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam hadits dari Abu Hurairah Rad. :

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat dari apa yang diridhai Allah yang dia tidak menganggapnya (bernilai) ternyata Allah mengangkat derajatnya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 6092)

Dalam riwayat Al-Imam Malik, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali dalam Bahjatun Nazhirin (3/11), dari shahabat Bilal bin Al-Harits Al-Muzani bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Sesungguhnya seseorang berbicara dengan satu kalimat yang diridhai oleh Allah dan dia tidak menyangka akan sampai kepada apa (yang ditentukan oleh Allah), lalu Allah mencatat keridhaan baginya pada hari dia berjumpa dengan Allah.”

Demikianlah beberapa keutamaan menjaga lisan. Semoga kita diberi kemampuan oleh Allah untuk melaksanakan perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya dan diberi kemampuan untuk mengejar keutamaan tersebut. Wallahu a’lam.

Dikutip dari http://asysyariah.com Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi, Judul :Lidah Tak Bertulang


/@cwi

selengkapnya...

Saat Diberikan Kebaikan Padanya maka Ucapkanlah ‘Jazaakallohu Khoir’

Penulis: Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah




Ada sebagian orang berkata: ada sebagian pula yang menambah tatkala dengan mengatakan : jazaakallahu alfa khaer” (semoga Allah membalasmu dengan seribu kebaikan” ?

Ucapkan : Jazaakallohu Khoir

Ini adalah beberapa fatwa yang bermanfaat dari Al-Allamah Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah Ta’ala,menjawab beberapa pertanyaan setelah Beliau menjelaskan hadits Usamah bin Zaid radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

من صُنِعَ إليه مَعْرُوفٌ فقال لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ الله خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ في الثَّنَاءِ

“Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan : jazaakallahu khaer (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.” (HR.At-Tirmidzi (2035), An-Nasaai dalam Al-kubra (6/53), Al-Maqdisi dalam Al-mukhtarah: 4/1321, Ibnu Hibban: 3413, Al-Bazzar dalam musnadnya:7/54. Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam shahih Tirmidzi)

Berikut ini fatwa Al-Allamah Abdul Muhsin hafizhahullah, semoga bermanfaat.






1.Pertanyaan :

sebagian ikhwan ada yang menambah pada ucapannya dengan mengatakan “jazakallah khaeran wa zawwajaka bikran” (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dan menikahkanmu dengan seorang perawan),dan yang semisalnya. Bukankah tambahan ini merupakan penambahan dari sabda Rasul shallallahu alaihi wasallam ,dimana beliau mengatakan “sungguh dia telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.?

Beliau menjawab:

Tidak perlu (penambahan) doa seperti ini,sebab boleh jadi (orang yang didoakan) tidak menginginkan do’a yang disebut ini.Boleh jadi orang yang dido’akan dengan do’a ini tidak menghendakinya.Seseorang mendoakan kebaikan,dan setiap kebaikan sudah mencakup dalam keumuman doa ini.Namun jika seseorang menyebutkan do’a ini,bukan berarti bahwa Rasulullah r melarang untuk menambah dari do’a tersebut.Namun beliau hanya mengabarkan bahwa ucapan ini telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya. Namun seandainya jia dia mendoakan dan berkata: “jazakallahu khaer wabarakallahu fiik wa ‘awwadhaka khaeran” (semoga Allah membalas kebaikanmu dan senantiasa memberkahimu dan menggantimu dengan kebaikan pula” maka hal ini tidak mengapa.Sebab Rasul Shallallahu alaihi wasallam tidak melarang adanya tambahan do’a. Namun tambahan do’a yang mungkin saja tidak pada tempatnya,boleh jadi yang dido’akan dengan do’a tersebut tidak menghendaki apa yang disebut dalam do’a itu.

2.Pertanyaan :

Ada sebagian orang berkata:ada sebagian pula yang menambah tatkala berdo’a dengan mengatakan : jazaakallahu alfa khaer” (semoga Allah membalasmu dengan seribu kebaikan” ?

Beliau -hafidzahullah- menjawab:

“Demi Allah ,kebaikan itu tidak ada batasnya, sedangkan kata seribu itu terbatas, sementara kebaikan tidak ada batasnya.Ini seperti ungkapan sebagian orang “beribu-ribu terima kasih”,seperti ungkapan mereka ini.Namun ungkapan yang disebutkan dalam hadits ini bersifat umum.”

3.Pertanyaan:

apakah ada dalil bahwa ketika membalasnya dengan mengucapkan “wa iyyakum” (dan kepadamu juga) ?

Beliau menjawab:

“tidak, sepantasnya dia juga mengatakan “jazakallahu khaer” (semoga Allah membalasmu kebaikan pula), yaitu didoakan sebagaimana dia berdo’a, meskipun perkataan seperti “wa iyyakum” sebagai athaf (mengikuti) ucapan “jazaakum”, yaitu ucapan “wa iyyakum” bermakna “sebagaimana kami mendapat kebaikan,juga kalian” ,namun jika dia mengatakan “jazaakalallahu khaer” dan menyebut do’a tersebut secara nash,tidak diragukan lagi bahwa hal ini lebih utama dan lebih afdhal.”

(transkrip dari kaset: durus syarah sunan At-Tirmidzi,oleh Al-Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad hafidzahullah,kitab Al-Birr wa Ash-Shilah,nomor hadits:222). Diterjemahkan oleh Abu Karimah Askari bin Jamal

Berikut ini transkrip dalam bahasa Arab:

يقول السائل : بعض الإخوة يتطرق فيزيد على (جزاك الله خيرا وزوجك بكرا) ونحو ذلك.أليس في هذا استدراك على قول النبي صلى الله عليه وسلم فإنه يقول ((فقد أبلغ في الثناء))

فأجاب :ولا حاجة بهذا الدعاء قد يكون ما يريد هذا الشيء الذي دعي به ,أي نعم قد يكون الإنسان الذي دعي بهذا أنه لا يريده .فالإنسان يدعو بالخير وكل خير يدخل تحت هذا العموم .فالإنسان يأتي بهذا الدعاء وليس معنى ذلك أن الرسول × نهى عن ذلك يعني لا يزيد على هذا وإنما أخبر أن هذا فيه إبلاغ بالثناء ,لكنه لو دعا له فقال: جزاك الله خيرا وبارك الله فيك وعوضك خيرا ما فيه بأس ,لأن الرسول × مامنع من الزيادة .لكن مثل هذه الزيادة التي قد تكون في غير محلها ,قد يكون صاحب المدعو له لا يريد هذا الشيء الذي دعي له به .

السؤال: والآخر يقول :يزيد البعض فيقول : جزاك الله ألف خير

فأجاب: والله الخير ليس له حد ,ليس له حد والألف هذا محدود,والخير بدون حد .لكن هذا مثل عبارات بعض الناس :ألف شكر شكر مثل ما يعبرون.لكن التعبير بهذا الذي جاء في هذا الحديث عام

السؤال: هل هناك دليل على أن الرد يكون بصيغة (وإياكم)؟

فأجاب: لا , الذي ينبغي أن يقول :( وجزاكم الله خيرا) يعنى يدعى كما دعا, وإن قال (وإياكم) مثلا عطف على جزاكم ,يعني قول (وإياكم) يعني كما يحصل لنا يحصل لكم .لكن إذا قال: أنتم جزاكم الله خيرا ونص على الدعاء هذا لا شك أنها أوضح وأولى

(مفرغ من شريط دروس شرح سنن الترمذي ,كتاب البر والصلة ,رقم:222)

Sumber: Darussalaf.or.id dinukil dari http://ibnulqoyyim.com Judul Diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Penulis: Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah Judul : Ucapan : Jazaakallohu Khoir

/@cwi

selengkapnya...

Fiqh Ghazawat (Strategi Perang)

Oleh: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah dakwatuna.com -

Tanpa kita sadari “As-Shira’ bainal haq wal bathil”, pertarungan antara al- Hak dan batil terus berlangsung di tengah- tengah kehidupan kita. Persoalannya yang penting bagi kita adalah, sejauh mana kita berada dalam barisan yang hak dan memenangkan pertarungan melawan yang batil tersebut. Untuk memenangkan pertarungan ikhwah fillah, kita perlu menata dan memenej dengan baik “al-haq” yang kita perjuangkan, sebab tanpa itu semua kita akan mudah digilas dan dikalahkan dengan manuver-manuver kebatilan yang ditata dan dimenej dengan baik, sebagaimana kata Imam Ali RA : “Al-Haqqu bilaa nizhaamin yaghlibuhul Bathil binizhaamin”.



Ikhwah Fillah Rahimakumullah! Al-Haq dalam pengertian yang luas bila terus diperkuat dan dikembangkan, akan mampu menggeser kebatilan di segala bidang. Untuk memperkuat dan mengembangkan al-Haq agar semakin eksis dan aplikatif dalam kehidupan ini tentunya memerlukan sarana. Sarana itu adalah “dakwah” itu sendiri.  Oleh karena itu dakwah harus selalu dipahami dalam konteknya sebagai  refresentasi Al-Haq yang bertarung melawan kebatilan. Sehingga berdakwah dalam arti luas sesungguhnya dapat juga diartikan dengan berperang. Berperang merebut pengaruh dan dukungan, berperang untuk menguasai sektor- sektor kebijakan publik yang nantinya diharapkan mengkapitalisasi potensi dan kekuatan dakwah di segala bidang, serta memperbanyak program-program kebaikan ( Amar Ma’ruf) di tengah-tengah kehidupan masyarakat dan meminimalisasi program- program kemunkaran (Nahi Munkar) yang berpotensi merusak tatanan nilai kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, orientasi dakwah tidak cukup hanya memasyarakat (Mihwar Sya’by), tetapi orientasi dakwah juga harus menegara (Mihwar daulah). Untuk itu diperlukan “strategic of war”, strategi perang untuk memenangkan dakwah ini. Bila kita renungkan Ikhwah Fillah!, Rasulullah SAW sebelum terjun  melewati peperangan yang sesungguhnya telah mengawali aksi dakwahnya dengan pendekatan strategi perang. Perang untuk menguasai individu-individu yang penting dan potensial bagi kapitalisasi dakwah ke depan. Misalnya Pola rekrutmen yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam dakwahnya adalah pola pendekatan yang segmentatif, dari kalangan segmen wanita Rasulullah berhasil merekrut isterinya Khadijah RA, dari kalangan pria dewasa khususnya saudagar beliau berhasil merekrut Abu Bakar RA, dari kalangan kaum dhuafa dan hamba sahaya berhasil direkrut Zaid bin HAritsah dan dari kalangan anak-anak dan remaja Ali bin Abi Thalib RA. Masing-masing segmen kemudian menjadi bertambah panjang rangkaian gerbong dan penumpangnya, karena proses dakwah dan rekrutmen terus berjalan pada masing-masing segmen tersebut. Dalam kontek jihad siyasi dan mihwar daulah sekarang ini,  juga amat penting bagi kita untuk merekonstruksi strategi perang yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, artinya harus ada dari kita ikhwah fillah,  yang memfokuskan dakwahnya untuk segmen dan kalangan tertentu, harus ada di antara kita yang berdakwah di kalangan pengusaha, birokrat, pelajar, dosen, mahasiswa, buruh, petani, pedagang dan sya’biyah ‘aammah.  Semakin banyak segmen yang dapat direkrut dan dikelola, maka akan semakin banyak simpul massa yang bisa di raih untuk meningkatkan potensi dan dukungan bagi dakwah ini. Ikhwah Fillah Rahimakumullah! Dalam strategi perang yang terpenting adalah menguasai sumber-sumber kekuatan, yang dapat menambah kekuatan kita dan mengurangi kekuatan lawan. Oleh karena itu Habab bin Mundzir RA penasehat militer Rasulullah SAW mengusulkan agar pasukan kaum muslimin dalam perang Badar segera mendekat ke sumber air sebelum pasukan Quraisy mengambil posisi tersebut. Dalam konteks jihad siyasi kita sekarang ini juga di perlukan penguasaan sumber, di antara sumber yang penting untuk dikuasai adalah media dan sarana informasi lainnya, juga  sumber-sumber yang dapat mendatangkan pengaruh, seperti public figure, simpul massa dan vote getter. Semakin banyak hal itu dikuasai, semakin banyak sumber-sumber kekuatan yang dapat membantu kelancaran dakwah, dan semakin membuat dakwah memiliki kekuatan untuk memuluskan jalan al-Haq dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Ikhwah Fillah ! Rahimakumullah! Fiqhul ghazawat, tidak hanya terkait dengan kecamuk nya perang, tetapi juga terkait dengan kepiawaian diplomasi dan memperlihatkan Performa di mata lawan, oleh sebab itu Rasulullah SAW membawa serta 80 kaum Musyrikin Bani Khuza’ah lengkap dengan hewan- hewan kurban yang akan disembelih, ketika beliau dan kaum Muslimin menuju Mekah untuk melakukan umrah. Peristiwa inilah yang mengantarkan kaum Muslimin kepada perjanjian Hudaibiyah yang kemudian membuat dakwah semakin leluasa dan bebas bergerak. Diplomasi dan Performa damai yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW menegaskan kepada elit pimpinan Quraisy bahwa Islam datang dengan misi social charity untuk kemanusiaan. Sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk menolak kedatangan Nabi dan kaum Muslimin. Nah, misi itu pulalah yang juga harus ditonjolkan oleh dakwah ini, bagaimana meyakinkan para pemimpin baik di tingkat nasional maupun internasional untuk tidak mencurigai dakwah ini dan tidak ada alas an bagi mereka untuk menentang dan menolaknya. Untuk itu  ikhwah fillah, kita harus banyak melakukan pendekatan, kalau perlu mengundang mereka untuk hadir pada even-even besar yang diselenggarakan. Mengundang tokoh nasional khususnya kalangan tokoh partai Nasionalis-Sekuler, bahkan tokoh internasional baik kalangan Muslim dan non muslimnya akan sangat membantu menumbuhkan kesan pergaulan nasional dan internasional yang baik dan  imej inklusif tas dakwah ini, Ikhwah fillah Rahimakumullah Di situlah kesempatan besar untuk memperkenalkan kepada mereka, sebatas yang diperlukan, apa dakwah ini, apa misi besarnya, dan bagaimana pandangan dakwah dalam membangun solusi dari problematika yang dihadapi dunia dewasa ini. Bila mereka mengenali dakwah dengan baik maka insya Allah mereka tidak akan mudah begitu saja memusuhi dakwah. “Al- Insaanu ‘aduwwun bimaa jahula”, manusia cenderung memusuhi sesuatu yang tidak diketahuinya”. Demikian kata Imam Ghazali rahimahullah. Ikhwah fillah Rahimakumullah ! Strategi menampakkan kekuatan di mata lawan juga sangat penting kaitannya dengan strategi perang, oleh sebab itu pasca perjanjian Hudaibiyah Rasulullah SAW mengirim ekspedisi ke Mu’tah wilayah koloni Romawi, di satu sisi memanfaatkan gencatan senjata dan perdamaian untuk memperluas pengaruh dakwah, di sisi lain untuk show of force kepada kabilah-kabilah Arab, bahwa kekuatan kaum Muslimin tidak dapat diremehkan begitu saja, tidak pernah sejarahnya bangsa Arab berperang dengan Romawi, tetapi Rasulullah SAW bersama kaum Muslimin telah memulainya, beliau melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh bangsa Arab sebelumnya, hal ini semakin menunjukkan imej kekuatan umat Islam di kalangan bangsa Arab, khususnya kaum kafir Quraisy. Ikhwah fillah Rahimakumullah Nu’man bin Muqarrin RA, panglima perang kaum Muslimin ketika berperang melawan Persia di Nahawand, dengan jumlah pasukan yang jauh tidak seimbang, di mana pasukan kaum Muslimin jauh lebih sedikit ketimbang jumlah pasukan Persia. Num’an bin Muqarrin dengan kecerdasan intelegensianya segera memberikan komando serentak kepada pasukan, pada saat musuh telah tampak dari kajauhan, strategi agar kaum Muslimin kelihatan banyak dan bermilitansi tinggi, maka dibuatlah komando serentak melalui aba-aba takbir serentak secara berbarengan. Takbir pertama, seluruh pasukan kaum Muslimin bersiap-siap di samping kendaraan tunggangannya, takbir kedua mereka serempak menurunkan peralatan dan perlengkapan tenda nya, takbir ketiga mereka serentak mendirikan kemahnya dalam waktu yang sangat cepat. Hal ini menimbulkan ketakutan di kalangan pasukan Persia, setiap mereka mendengarkan gemuruh takbir membahana di tengah pasukan kaum Muslimin. Demikianlah ikhwah fillah, pentingnya membangun image sebagai sebuah strategi memenangkan pertarungan, strategi membangun image ini tidak hanya dibutuhkan pada konteks jihad askary, tetapi juga jihad siyasi. Intinya adalah bagaimana kita dapat bermain cantik, smooth dan efektif dalam memenangkan pertarungan antara al-haq dan al-bathil, sebagaimana pesan salah seorang ashabul Kahfi : “Dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun.” (QS. Al-Kahfi ; 19) Wallahu A’lamu Bisshawab
:/@cwi

selengkapnya...

Gabung bersama kami

About Me

admin jg menerima pelayanan jasa

admin jg menerima pelayanan jasa
Jasa arsitek rumah; desain arsitek / desain rumah, gambar denah rumah, bangun rumah baru, renovasi rumah dan pembangunan mesjid, mushola, ruko, disaign taman, dll. klik gambar utk kontak personal.

Syiar Islam On Twitter

Site info

Kalkulator Zakat Fitrah

  © Syiar islam Intisari Muslim by Dede Suhaya (@putra_f4jar) 2015

Back to TOP  

Share |