Barang-barang Bertuah Penolak Bala




Lihatlah sebagian orang menggunakan “Batu Bertuah”, “Keris Sakti”, “Sabuk Bertuah”, “Permata Pelaris Dagangan”, “Rompi Penarik Hati”, “Kopiah Penolak Bala”, “Permata Pelaris Bisnis”, “Tanduk Kucing Penyebab Kekebalan”, “Tanduk Babi”, “Rotan Pembawa Rejeki”, dan lainnya…

Barang-barang Penolak Balak

Setiap orang menginginkan keselamatan di dunia, maupun di akhirat. Oleh karena itu, masing-masing orang mencari sebab untuk mendatangkan keselamatan dan kebahagiaan bagi dirinya. Hanya saja tak semua orang mengetahui sebab yang baik dan diizinkan oleh Allah -Azza wa Jalla-. Bahkan banyak diantara mereka sembarangan dan sembrono dalam mencari sebab, sehingga ada sebagian orang jahil yang mengambil sesuatu yang bukan sebab keselamatan dan kebahagiaan baginya.




Realita seperti ini banyak kita temukan di lapangan kehidupan. Lihatlah sebagian orang menggunakan “batu bertuah”, “keris sakti“, “Sabuk Bertuah”, “Permata Pelaris Dagangan“, “Rompi Penarik Hati”, “Kopiah Penolak Bala”, “Permata Pelaris Bisnis”, “Tanduk Kucing Penyebab Kekebalan“, “Tanduk Babi”, “Rotan Pembawa Rejeki”, dan lainnya. Semua barang-barang ini diyakini oleh sebagian orang jahil sebagian penyebab tertolaknya bala’ (petaka), dan penyebab datangnya kebahagiaan berupa rejeki, kesehatan, jodoh, dan lainnya. Ini adalah keyakinan jahiliah yang telah dihapus oleh Allah dengan kedatangan Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- membawa Islam yang menghapus segala bentuk paganisme, dan penyembahan kepada selain Allah beserta sebab-sebabnya. (Lihat Al-Qoul As-Sadid (hal. 46))

Allah -Ta’ala- berfirman,

“Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah. Jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri“.(QS. Az-Zumar : 38).

Syaikh Ibnu Sholih Al-Utsaimin -rahimahullah- berkata, “Syahid (dalil penguat) dari ayat ini bahwa berhala-berhala ini tidak mampu memberikan manfaat bagi penyembah-penyembahnya, baik dalam mendatangkan manfaat maupun menolak bala’. Berhala-berhala itu bukanlah sebab bagi hal itu. Maka dianalogikan (disamakan) dengan berhala-berhala itu segala sesuatu yang bukan merupakan sebab syar’iy, atau qodariy (yang ditetapkan berdasarkan taqdir). Jadi, menjadikan hal-hal itu sebagai sebab, dianggap sebagai bentuk kesyirikian kepada Allah“. [Lihat Al-Qoul Al-Mufid (1/168)]

Jadi, tali, bebatuan, permata, keris jika semuanya dijadikan sebagai sebab yang mendatangkan kebahagian dan penolak bala’, maka semua barang-barang itu bukanlah sebab-sebab yang dibenarkan dalam agama kita. Bahkan itu merupakan kesyirikan kepada Allah; diharamkan dalam agama kita!! Benda-benda itu tidak dapat mendatangkan kebahagiaan atau menolak bala’ menurut pandangan syari’at. Jika ditinjau berdasarkan taqdir (ketentuan) Allah, maka benda-benda itu tidaklah menjadi sebab datangnya kebahagiaan dan tertolaknya bala’.

Burhanuddin Ibrahim bin Umar Al-Biqo’iy -rahimahullah- berkata saat menafsirkan ayat di atas, “Tatkala telah dimaklumi bahwa mereka (orang-orang kafir) terdiam dari pertanyaan ini, sebab mereka mengetahui adanya keharusan kontradiksi saat mereka menjawab dengan kebatilan. Diantara kebatilan agama mereka, mereka menjawab dengan kebenaran“. [Lihat Nazhm Ad-Duror fi Tanaasub Al-Ayat wa As-Suwar (7/258)]

Perhatikanlah, ketika orang-orang kafir ditanya, apakah sembahan-sembahan mereka dapat mendatangkan mudhorot (bala’), dan menghalangi rahmat dan kebaikan Allah, maka mereka mengakui bahwa sembahan-sembahan mereka tak dapat melakukan hal itu!! Ini pernyataan dan penegasan orang-orang kafir. Tragisnya di zaman ini ada sebagian orang yang mengaku “muslim”, tapi mereka mengakui bahwa ada benda atau makhluk yang mampu mendatangkan rejeki atau menolak bala’. Padahal semua itu telah dilarang dan dingkari oleh Allah.

Para pembaca yang budiman, ketika kita mengingkari orang yang meyakini bahwa ada yang mampu mendatangkan manfaat dan kebahagiaan atau menolak bala’ dari selain Allah, maka sebagian orang jahil menyangkal seraya berkata, “Kami tidak meyakini bahwa benda-benda ini dapat mendatangkan manfaat atau menolak bala’!! Kami hanya meyakini bahwa benda-benda ini hanya menjadi sebab yang mendatangkan manfaat dan menolak bala’, karena hanya Allah yang mampu melakukan hal itu”.

Ketahuilah bahwa ini hanyalah bualan mereka. Mereka hanya ingin menipu kaum awam yang tak memahami agamanya dengan baik. Untuk menjawab bualan dan syubhat (kerancuan) mereka ini, maka silakan anda dengarkan penjelasan Syaikh Ibn Nashir As-Sa’diy -rahimahullah- saat beliau berkata, “Wajib bagi seorang hamba untuk mengenal tiga perkara tentang MASALAH SEBAB. Pertama, seorang hamba tidak menjadikan diantara sebab-sebab itu sebagai suatu SEBAB, kecuali yang telah nyata bahwa ia adalah sebab menurut syari’at dan taqdir (ketetapan Allah). Kedua, seorang hamba tidak bersandar kepada sebab-sebab itu, bahkan ia hanya bersandar kepada Yang Mengadakan dan Menetapkan sebab (yakni, Allah). Di samping itu, ia tetap melakukan sesuatu yang disyari’atkan diantara sebab-sebab itu, dan bersemangat terhadap sebab yang bermanfaat. Ketiga, seorang hamba mengetahui bahwa sebab-sebab itu bagaimana pun besar dan kuatnya, tapi sebab-sebab itu tergantung kepada ketentuan Allah, dan taqdir-Nya; tak akan keluar dari ketentuan-Nya“. [Lihat Al-Qoul As-Sadid Syarh Kitab At-Tauhid (hal. 43-44)]

Jadi, barangsiapa menggunakan benda-benda yang dikeramatkan baik berupa batu, atau tali, dan lainnya dengan maksud untuk menghilangkan bala’ setelah terjadinya, atau untuk menolak bala’ sebelum terjadinya, maka sungguh ia telah berbuat syirik (mempersekutukan Allah dengan makhluk). Sebab jika ia meyakini bahwa benda-benda itulah yang menolak dan menghilangkan bala’, maka ini adalah syirik akbar (besar), yaitu syirik dalam sifat rububiyyah, karena ia telah meyakini adanya sekutu bagi Allah dalam hal penciptaan dan pengaturan makhluk; juga syirik dalam uluhiyyah (peribadahan), sebab ia telah menghambakan diri kepada benda-benda itu, serta menggantungkan hatinya pada benda-benda itu karena mengharapkan manfaat dan kebaikannya.

Jika seorang hamba meyakini bahwa Allah-lah yang Memberi manfaat dan menolak bala’, tapi seseorang masih meyakni bahwa benda-benda yang dikeramatkan tersebut adalah sebab yang ia menolak bala’ dengannya, maka sungguh ia telah menjadikan sesuatu yang bukanlah sebab yang disyari’atkan dan tidak pula ditaqdirkan oleh Allah sebagai suatu sebab. Ini adalah perbuatan yang diharamkan dan bentuk kedustaan atas nama syari’at dan taqdir. Menjadikan benda-benda yang dikeramatkan sebagai suatu sebab dalam menolak bala’ atau mendatangkan rejeki dan kebahagiaan merupakan perkara yang diharamkan dalam agama kita. Oleh karenanya, Uqbah bin Amir -radhiyallahu anhu- berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْبَلَ إِلَيْهِ رَهْطٌ فَبَايَعَ تِسْعَةً وَأَمْسَكَ عَنْ وَاحِدٍ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ بَايَعْتَ تِسْعَةً وَتَرَكْتَ هَذَا قَالَ إِنَّ عَلَيْهِ تَمِيمَةً فَأَدْخَلَ يَدَهُ فَقَطَعَهَا فَبَايَعَهُ وَقَالَ مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

“Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah didatangi oleh oleh suatu rombongan. Beliau membai’at sembilan orang, dan enggan membai’at satu orang. Mereka pun berkata, “Wahai Rasulullah, engkau telah membai’at sembilan orang, dan meninggalkan satu orang”. Beliau bersabda, “Pada dirinya ada jimat”. Kemudian beliau memasukkan tangannya dan memutuskan jimat itu. Lalu membai’atnya seraya berkata, “Barangsiapa yang menggantung jimat, maka sungguh ia telah berbuat syirik“. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/156), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (4/219), dan Al-Harits Ibn Abi Usamah dalam Musnad-nya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (492)]

Menjadikan jimat sebagai sebab dalam menolak bala’ atau mendatangkan manfaat (kebahagiaan) merupakan perbuatan yang diharamkan dalam agama kita sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam hadits di atas.

Selain itu, jimat atau benda yang dikeramatkan lainnya, jika ditinjau berdasarkan taqdir (ketetapan Allah), maka ia bukanlah sebab yang menolak bala’ dan mendatangkan manfaat berupa kesembuhan dan kebahagiaan, sebab menurut tajribah (pengalaman dan eksperimen), jimat tidaklah mendatangkan kesembuhan dan menolak marabahaya; jimat atau keris yang dikeramatkan hanyalah benda mati yang tidak bisa berbicara atau bergerak, apalagi mau menolong orang. Inilah yang dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya,

“Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari korma. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh yang Maha Mengetahui (Allah)”.(QS. Faathir : 13-14)

Seorang muslim tidak boleh mengharap berkah, rahmat, dan manfaat dari makhluk , sebab makhluk-makhluk itu tak memiliki daya dan upaya, tidak bisa mendengar, dan tidak pula melihat. Kalaupun bisa, maka ia tak mampu memenuhi permintaan kita.

Di zaman ini kita amat heran dengan adanya sekelompok orang-orang jahil yang mengharapkan hal-hal itu dari makhluk lemah. Kalian akan heran melihat ada diantara mereka yang mendatangi kuburan para “wali” untuk mengharap kebaikan dan berkah dari mereka. Kalian akan melihat keanehan saat mendengar ada sebagian orang yang memandikan keris, mengolesinya dengan parfum, dan menyimpannya di tempat yang mulia sebagaimana ia menempatkan Al-Qur’an. Semua ini mereka lakukan karena mengharapkan berkah, kebaikan dan manfaat dari keris itu. Ini adalah bentuk paganisme yang diharamkan oleh Allah -Azza wa Jalla- dan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Kalian akan melihat keajaiban dunia yang menakjubkan saat anda menyaksikan sebagian kaum awam mengikuti Kiyai Slamet (seekor kerbau yang dikeramatkan di Solo). Mereka bergerombol dan berdesakan mengikuti kerbau yang hina itu demi ngalap (mencari) berkah darinya. Gilanya lagi, sebagian mereka berebutan memungut tahi (kotoran) dari kerbau hina itu. Alangkah celakanya mereka!!!

Anda akan terheran ketika mendengar dan menyaksikan orang-orang bodoh menyiksa diri ketika antri menunggu giliran di depan tempat tinggal PONARI demi mengharapkan berkah dan kesembuhan dari “Batu Ajaib” milik PONARI. Demi Allah, semua ini adalah bentuk PAGANISME alias BERHALAISME yang sangat diharamkan dalam agama kita!!! Sebab tak sesuatu pun dari selain Allah yang mampu memberikan manfaat dan menolak bala’ dari makhluk lain. Semua makhluk tidak memiliki daya dan upaya di sisi Allah. Minta dan berharaplah dari Allah -Azza wa Jalla-; jangan mengharap dari makhluk, apalagi benda mati.

Allah -Ta’ala- berfirman,

“Ibrahim berkata: Maka mengapakah kalian menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kalian?” Ah (celakalah) kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah. Maka apakah kalian tidak memahami?” (QS. Al-Anbiyaa: 66-67)

Ayat ini membatalkan semua bentuk kemusyrikan; orang-orang musyrikin mengharapkan sesuatu dari selain Allah dan takut kepadanya, karena mereka meyakini bahwa makhluk-makhluk yang mereka sembah mampu mendatangkan kebaikan, dan menolak bala’. Jadi, seorang mengharap berkah dari selain Allah juga merupakan kemusyrikan yang telah dibatalkan oleh ayat di atas.

Syaikh Sholih Ibn Abdil Aziz -hafizhohullah- berkata usai menjelaskan makna dan jenis-jenis tabarruk (ngalap berkah) yang pernah dilakukan oleh kaum musyrikin Quraisy, “Tabarruk (ngalap berkah) yang beragam ini seluruhnya merupakan tabarruk syirik“. [Lihat At-Tamhid li Syarh Kitab At-Tauhid (hal. 127)

Terakhir kami nasihatkan kepada kaum muslimin agar membersihkan aqidah (keyakinan)nya dari meyakini adanya benda-benda yang dikeramatkan sebagai pembawa kebaikan dan penolak bala’. Jauhilah keyakinan batil ini, niscaya kalian akan selamat, insya Allah.

Sumber : Darussalaf.or.id dari Buletin Jum’at At-Tauhid edisi 117 Tahun III. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas Judul: Barang-barang Penolak Bala



/@cwi

selengkapnya...

Jatuhnya Baghdad (656 h./1258 m.)





Mengamati fase-fase sejarah peradaban Islam, segera akan didapatkan kenyataan bahwa umat Islam pernah -dan akan selalu- dihadapkan pada kondisi-kondisi sulit. Beberapa diantaranya meninggalkan trauma sejarah dan luka yang sulit disembuhkan. Diantara luka itu: pertama, peristiwa jatuhnya Baghdad ke tangan pasukan Tatar 656 H/1258 M. Kedua, jatuhnya kekuasaan Islam di Andalus, Spanyol. Ketiga, hegemoni pemikiran Barat pada dunia Islam dewasa ini. Secara berturut-turut, ketiga peristiwa itu akan dikupas untuk direnungkan dan kita ambil hikmahnya.
Baghdad

Membandingkan konflik kepentingan dan perang saudara berkepanjangan di Irak paska jatuhnya Rezim Saddam Husein dengan sejarah jatuhnya Baghdad tahun 656 H./1258 M. mengantarkan pada satu kesimpulkan: ternyata konflik Sunni-Syiah di Irak menemukan akar sejarahnya. Konflik besar antar kedua kelompok pernah terjadi juga dulu. Pertanyaannya, kalau dulu pertikaian antar keduanya menjadikan salah satu sebab pendorong hancurnya kekuasan Abasiah, apakah friksi yang terjadi sekarang ini juga akan membuat Irak dibuat hancur juga tanpa kita tahu siapa pemenangnya? Kesimpulan di atas berdasarkan pada data sejarah sebagai berikut:



Sebagai pengantar, sebetulnya, susah untuk menjelaskan bagaimana strategis Kota Baghdad dalam bentangan sejarah peradaban Islam. Pada masa keemasannya terlalu banyak keindahan yang bisa ia banggakan. Ia terlalu "sempurna". Yakut al-Hamawi dalam Mu\'jam al-Buldan menyebutnya sebagai Um ad-Dunya dan Sayidah al-Bilad –pusat peradaban dunia-. Saat itu, selain keindahan tata kotanya, Baghdad adalah center of excellence keilmuan dunia. Ulama-ulama dari berbagai disiplin ilmu, pusat-pusat kajian dan penelitian, universitas, kekayaan referensi, semuanya tumplek di Baghdad. Tak heran lebih dari seribu pengarang mencantumkan kalimat al-Bagdadi pada namanya. Mereka adalah orang yang berasal atau menimba ilmu di Baghdad yang kemudian hijrah keluar Baghdad. Adapun ulama-ulama yang tinggal d Baghdad atau bermukim di Baghdad, terlalu sulit untuk dihitung jumlahnya. Namun sejak 656 H. atau 1258 M, bahkan hingga ini, Baghdad seolah tak mau bangun dari tidur panjangnya. Tentara Amerika dan sekutunya kini bercokol di Irak. Warga Irak pun –Suni, Syiah dan Kurdi- asyik bertikai sesamanya. Memilukan memang!

Petaka 656 H.1258 M. ini terjadi, selain karena lemahnya kepemimpinan Khalifah ke-37 –terakhir- dinasti Abasiah, al-Musta\'shim (609-656 H/1212-1258 M.) juga karena ada konspirasi antara salah seorang menteri kepercayaan al-Musta\'shim, Ibn al-Alqami (seorang penganut Syiah Rafidhah) dengan penguasa Tatar, Hulaku. Demikian para pakar sejarah menjelaskan.

Pada masa Abasiah dia merupakan orang kepercayaan khalifah. Tapi, sayang kepercayaan itu kemudian disalahgunakan. Dia berniat ingin menggusur Abasiah dari pentas kekuasaan dan kemudian di atas reruntuhannya mendirikan negara Syiah. Nafsu ini timbul karena adanya konflik fanatisme bermazhab antara kaum Suni kota Basrah dengan penduduk Kurkhi yang penduduknya penganut Syiah Rafidhah. Suatu hari penduduk Basrah lapor pada Pangeran Abu Bakar Ibn al-Mu\'tashim –sebagian pakar mengatakan nama aslinya Abu Abas Ahmad- dan Ruknudin atas tindakan kekerasan yang dilakukan penduduk Kurkhi. Melihat gejala yang tidak sehat itu mereka berdua memerintahkan bala tentara menyerang Kurkhi. Akibatnya Kurkhi porak-poranda. Peristiwa ini ternyata meninggalkan rasa sakit dan dendam yang luar biasa bagi Ibn al-Alqami dan memicu keinginan di atas.

Untuk meluluskan hasratnya diaturlah tiga rencana besar yang semuanya dilakukan dengan rapih dan kecerdikan yang luar biasa:

Pertama, melemahkan kekuatan angkatan bersenjata Abasiah dengan cara memangkas anggaran militer dan mengurangi jumlah pasukan. Dari sekitar seratus ribu tentara pada masa ayah al-Mu\'tashim -al-Mustansir-, dipangkas menjadi kira-kira sepuluh ribu pasukan saja. Latihan peperangan dan modernisasi peralatan perang pun tak pernah ada lagi.

Kedua, melakukan konpsirasi politik dengan Penguasa Tatar, Hulaku, dengan kompensasi dia akan dijadikan Khalifah nantinya. Ibn al-Alqami mendorong Hulaku menyerang Baghdad. Dia berhasil meyakinkan bahwa Bagdad dalam kondisi sangat lemah. Semua info yang berkaitan dengan Bagdad dikasihnya dengan segala kepolosan. Sementara pergerakan pasukan Tatar dia tutup-tutupi serapat mungkin, sehingga pihak Abasiah tidak tahu, bahkan tak merasakan ada maut yang sedang mengintip.

Ketiga, menasehati Khalifah untuk tidak menyerang Tatar. Dia meyakinkan bahwa opsi damai adalah pilihan terbaik demi menyelamatkan nyawa rakyat. Demikian Ibn al-Alqami membungkus niat busuknya dengan alasan kemanusiaan. Karena lemahnya insting politik, Khalifah begitu percaya dengan apa yang disarankan Ibn al-Alqami.

Maka pada 18 Januari 1258 M. bertepatan dengan 656 H. Khalifah dan seluruh umat Islam harus menanggung derita dan tercabik-cabiknya harga diri. Petaka ini adalah awal kemunduran peradaban umat Islam setelah mengalami masa keemasan berabad-abad. Tak hanya materi yang hilang, tapi jiwa dan kekayaan inteketual pun hilang. Entah kapan lagi kita bisa mengulanginya? Pada hari itu dengan segala keganasan pasukan Tatar yang jumlahnya berlipat-lipat dibandingkan pasukan muslim tak tertahankan lagi menerobos pertahanan kota Baghdad. Ratusan ribu jiwa, laki-laki, perempuan, anak-anak, orang tua habis dibunuh. Atas perintah Hulaku, ratusan ribu manuskrip buku karya ulama Islam yang tersimpan rapi di rak perpustakaan-perpustakaan dibuang ke sungai Dajlah. Para pakar sejarah menceritakan saat itu Dajlah penuh sesak dengan buku-buku, sehingga membentuk jembatan, dan tak heran, kalau kuda pun bisa melewati sungah Dajlah dengan mudah. Air Dajlah berubah jadi hitam oleh tinta. Manuskrip-manuskrip yang merupakan akumulasi peradaban Islam-Arab terdahulu hilang tanpa ampun. Kelompok keilmuan, universitas, masjid-masjid tak ada lagi, hilang ditelan bumi. Baghdad pun jadi kota mati. Hanya bau busuk mayat dan orang depresi berat yang tersisa. Penyakit menular mewabah ke seantero negeri. Negara tetangga – Mesir dan Syiria- hanya bisa meratap, menangis pilu tanpa bisa berbuat.

Pengkhinatan Ibnu al-Alqami

Pengkhianatan Ibnu al-Alqami sungguh tak akan terlupakan. Ketika pasukan Tatar mendekati kota Baghdad, Khalifah baru sadar, bau kematian sudah ada di depan mata. Dia pun memerintahkan pasukannya yang tinggal sedikit untuk menghadang laju pasukan Tatar. Tapi, Ibnu al-Alqami, dengan niat busuknya, menyarankan Khalifah untuk memilih opsi damai dengan konsekuensi hasil pajak Irak di bagi dua, antara Khalifah dan Tatar. Ibnu al-Alqami, sebagi juru runding, pun mengabarkan keinginan penguasa Tatar untuk mengambil mantu putra Khalifah, yaitu pangeran Abi Bakar. Maka berangkatlah Khalifah dengan disertai 700 tokoh. Mereka terdiri dari: fukaha, kaum sufi, petinggi negara dan tokoh masyarakat. Begitu mendekati kediaman Hulaku, mereka dihadang dan hanya 17 orang yang diizinkan masuk. Sementara sisanya dibunuh tanpa tersisa!

Sedangkan Khalifah, sementara masih dibiarkan hidup dan dipersilahkan kembali ke Istananya, tapi dengan status sebagai tahanan rumah. Kesempatan menikmati hidup sesaat ini lebih karena pertimbangan materi, dimana Khalifah dipaksa untuk memberikan semua kekayaan pribadi dan negara kepada Hulaku. Ditengah-tengah kesempatan sesaat yang diberikan Hulaku pada Khalifah, menurut Ibn Katsir, sekelompok Syiah Rafidhan dengan giat memprovokasi Hulaku untuk sekalian saja menghabisi nyawa Khalifah. Karena kalau dibiarkan, satu atau dua tahun ke depan Khalifah dipastikan akan memberontak. Maka, ketika Khalifah kembali datang ke hadapan Hulaku, dia memerintahkan untuk membunuhnya. Konon yang memberikan isyarat untuk membunuh adalah Ibnu al-Alqami dan Nashirudin Atthusi.

Pada tahun yang sama, Hulaku kembali ke negaranya. Ibnu al-Alqami ternyata tak mendapatkan apa yang dia cita-citakan! Dia hanya menjadi penguasa boneka. Semua kebijakan ada pada Tatar. Ternyata kedudukan pada masa Abasiah jauh lebih mulia dah terhormat dibanding masa Hulaku. Memang tak akan ada pengkhianat yang jadi orang besar. Andaipun ada hanya bermulut besar!

Seorang wanita, suatu hari, melihat Ibnu al-Alqami menunggangi kuda. Pada saat yang bersamaan tentara Tatar menggertak marah pada Ibnu al-Alqami dan menyuruh untuk mempercepat laju kudanya. Lalu, bertanyalah wanita itu pada Ibnu al-Alqami, "Apakah Abasiah juga memberlakukanmu seperti ini?" pertanyaan cerdas dan menyindir ini ternyata menyisakan kesan yang dalam pada diri Ibnu al-Alqami. Dia tahu betul, wanita itu sedang menertawakan kebodohannya. Setelah kejadian itu Ibnu al-Alqami menjadi pemurung dan seperti orang bingung. Tiga bulan kemudian, pada tahun yang sama- dia pun mati membawa penyesalan yang tak berarti. Namanya tidak dikenang kecuali sebagai ibrah bagi para pengkhianat! Wallau \'alam



Fakta ini berdasarkan data-data sejarah yang dibangun para sejarawan Suni. Adapun sejarawan Syiah, seperti Thabathabai, misalnya, menolak keras tuduhan bahwa Alqami berkhianat pada Abasia. Tapi pembelaan ini terasa lemah ketika diajukana pertanyaan: kenapa ketika Hulaku meninggalkan Baghdad, kok Alqami yang dipercaya sebagai kepala pemerintahan Baghdad? Bukankah dia salah-satu menteri kepercayaan Khalifah yang baru digulingkan? Ada apa dibalik semua itu?



/@cwi

selengkapnya...

Hati Potensi Berharga yang Harus Dijaga



Secara umum manusia memiliki 3 potensi penting. Potensi pertama adalah potensi fisik, sehingga jika kita mampu mengelola fisik dengan baik, insya Allah kita akan menjadi manusia yang kuat dan produktif. Bahkan Islam sangat menganjurkan agar kita memiliki fisik yang sehat. Almu`minuni qowiyyu, mu`min yang kuat lebih baik dan lebih disukai oleh Allah daripada mu`min yang lemah.

Dalam catatan sejarah, sampai usia 6 tahun Nabi Muhammad Saw memiliki tubuh yang benar-benar atletis. Beliau memulai peperangan pada usia 53 tahun. Dan tentu saja, perang zaman dulu tidak perang seperti zaman sekarang. Ketika itu Rasulullah Saw memakai baju besi hingga dua lapis dan mengarungi padang pasir sejauh ratusan kilometer. Itu artinya fisik beliau sangat prima.



Akan tetapi,ternyata tidak selamanya orang yang berfisik baik itu mulia sebagaiaman kemuliaan Rasulullah. Bahkan tidak jarang manusia yang berbadan bagus malah menjadi hina akibat keindahan fisiknya. Wanita bertubuh bagus tidak identik dengan wanita yang mulia, malah tidak sedikit wanita berbadan bagus menjadi turun derajatnya karena dia gemar memamerkan tubuhnya. Di sisi lain ada juga orang yang gara-gara badannya bagus menjadi stress karena takut jadi tidak bagus. Setiap hari waktunya habis untuk memikirkan badannya. Ikut senam, diet dan membeli bermacam-macam obat supaya tubuhnya tetap bagus. Secara tidak langsung orang seperti ini justru tersiksa dengan keindahan tubuhnya.

Sekali lagi, kita memang harus meningkatkan potensi fisik, namun potensi ini tidak identik dengan kemuliaan seseorang, jika tidak mampu menjaganya dengan hati-hati.

Potensi yang kedua adalah akal. Kita dikaruniai akal oleh Allah dan akal inilah yang membedakan kita dengan makhluk Allah lainnya. Dengan akal kita dapat memikirkan ayat-ayat Allah di alam ini sehingga kita dapat mengelola dan mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan.

Kendati demikian, potensi akal juga bukanlah potensi yang dapat menentukan mulia atau tidaknya seorang manusia. Di Indonesia ini begitu banyak orang yang pintar, tapi mengapa Indonesia masuh juga terpuruk? Setiap tahun puluhan ribu sarjana dikeluarkan oleh kampus-kampus yang ternama. Tapi mengapa korupsi masih juga merajalela? Rasanya kecil kemungkinan kalau korupsi itu dilakukan oleh orang-orang yang bodoh. Bagaiamana tidak?

Uang negara, uang rakyat yang dikuras jumlahnya bukan hanya dalam bilangan jutaan atau miliaran, tapi juga triliunan rupiah. Kalau orang bodoh rasanya dia tidak akan kuat berpikir jauh-jauh seperti itu. Artinya pintar tidak identik dengan kemuliaan. Jika tidak hati-hati, mempunyai anak pintar juga tidak selalu identik dengan kebahagiaan. Ada yang anaknya pintar sementara orang tuanya hanya lulusan SD atau SMP, malah jadi menghina orang tuanya.

Demikianlah memang. Badan yang kuat tidak selalu menggambarkan kemuliaan, akal pikiran yang pintar juga tidak selalu membuat oang menjadi mulia. Jadi apa sih yang bisa membuat orang mulia?

Inilah potensi ketiga yang ada pada diri manusia yang tidak setiap orang mampu menjaga serta mengembangkannya. Dialah yang dinamakan hati. Hati inilah potensi yang bisa melengkapi otak cerdas dan badan kuat menjadi mulia. Dengan hati yang hidup inilah orang yang lumpuh pun bisa menjadi mulia, orang yang tidak begitu cerdas pun dapat menjadi mulia. Ada sebuah syair yang mungkin bisa menggambarkan betapa hati bisa sangat berpengaruh pada kehidupan seseorang.

"Bila hati kian bersih, pikiran pun selalu jernih, semangat hidup kan gigih, prestasi mudah diraih; Tapi bila hati busuk, pikiran jahat merasuk, akhlaqpun kan terpuruk, dia jadi makhluk terkutuk. Bila hati kian lapang, hidup susah tetap tenang, walau kesulitan menghadang, dihadapi dengan tenang; Tapi bila hati sempit, segalanya jadi rumit, seakan hidup terhimpit, lahir batin terasa sakit".

Masya Allah, andaikan hati kian bersih tentu akan nikmat sekali menjalani hidup ini. Kalau hati kita ini bersih dan sehat, maka pikiran pun bisa menjadi cerdas. Kenapa? Karena tidak ada waktu untuk berpikir licik, dengki atau keinginan untuk menjatuhkan orang lain. Sebab, kalau tidak hati-hati benar maka hidup kita itu sangat melelahkan. Sekali saja kita tidak suka kepada seseorang, maka lambat laun kebencian itu akan memakan waktu, produktivitas dan memakan kebahagiaan kita, kita akan lelah memikirkan orang yang kita benci.

Karenanya bila hati kita bersih, maka pikiran bisa menjadi jernih. Tidak ada waktu buat iri, semua input kan masuk dengan mudah, karena tidak ada ruang untuk meremehkan siapa pun. Akibatnya kita akan memiliki akses data yang sangat tinggi, akses informasi yang benar-benar melimpah, akses ilmu yang benar-benar meluas, ujungnya akan mampu mengambil ide-ide yang cemerlang dan gagasan-gagasan yang jitu.

Berbeda dengan orang yang sombong, dia akan merasa bahwa dirinyalah yang paling tahu semua hal. Akibatnya, dia tidak pernah mau mendengar masukan dari orang lain. Padahal setiap orang tentu memiliki kelemahan. Dan untuk memperbaiki kelemahan itulah kita membutuhkan koreksi dan masukan dari orang lain.

Dengan kebersihan hati, insya Allah, otak akan lebih cerdas, ide lebih brilian, gagasan lebih cemerlang. Orang yang bersih hati itu punya kemampuan berpikir lebih cepat dari orang lain. Namun orang yang kotor hatinya, cuma akan berjalan di tempat. Dia kan sibuk memikirkan kekurangan orang lain, yang ada dalam pikirannya hanyalah kejelekan orang. Hatinya akan menjadi sempit.

Coba perhatikan jika ada anjing, kerbau, atau ada ular, di lapangan yang sangat luas, tentunya relatif tidak akan menjadi masalah. Apa lagi jika lapangannya teramat sangat luas, sebab ruang untuk bergerak jauh lebih leluasa. Tapi apa bila kita sedang da di kamar mandi, lalu muncul seekor tikus saja, pasti akan menjadi masalah. Kita tidak akan nyaman, jijik, atau malah ketakutan. Artinya bagi orang-orang yang berhati sempit, perkara kecil saja bisa menjadi masalah besar, apalagi perkara yang benar-benar besar.

Jika hati bersih maka wajah pun akan memancarkan kecerahan dan penuh keramahan. Bahkan Nabi Muhammad Saw juga demikian. Beliau tidak pernah berjumpa dengan oang lain kecuali dalam keadaan tersenyum cerah. Senyum yang penuh keikhlasan memang sangat bernilai besar, karena selain menjadi shadaqah juga akan menyehatkan tubuh. Bahkan menurut para ahli, senyum itu hanya menggunakan 17 otot, sedangkan cemberut 32 otot, makanya orang yang sering cemberut akan mengalami kelelahan otot.

Dalam berbicara pun kita harus sangat berhati-hati, sebab tak jarang melalui tutur kata, akan terlihat derajat seseorang. Sebab mulut ini ibarat teko yang mengeluarkan isinya. Jika di dalamnya berisi kopi tentu yang keluar juga kopi, tapi jika isinya air yang bening pasti keluar air yang bening. Orang yang berkualitas itu, jika berbicara ada struktur dan cirinya. Kalau dia berbicara yang keluar adalah ide atau gagasan, hikmah, solusi, ilmu dan zikir, sehingga pembicaraannya senantiasa bermanfaat. Kalau bunyi itu efektif. Semakin banyak omongan sia-sia, maka semakin turun kualitas orang itu, padahal ciri-ciri kualitas keislaman orang itu dilihat bagaimana kesanggupan menahan diri dari sesuatu yang sia-sia. Kalau kita selalu berusaha mengendalikan hati, detak jantung normal, wajah cerah, lisan enak, dan badan sehat. Lebih dari itu bergaul dengan siapa pun akan menyenangkan.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk mengenal potensi yang termahal dari hidup kita, yaitu hati kita sendiri. Hidupkan hati dengan memperbanyak ilmu, memperbanyak ibadah, dan zikir. Ladang untuk berkarya teramat luas, hiduplah dengan menjaga kebersihan hati, insya Allah hidup ini menjadi lebih indah dan penuh makna.

Hati adalah amanah yang harus dijaga dengan penuh kesungguhan. Kita tidak bisa mengatur dan menata hati, kecuali dengan memohon pertolongan Allah agar Dia selalu menjaga hati kita. Hati adalah pangkal kehidupan. Jika Allah memberi hati kita yang bening, kita akan banyak mendapat keuntungan dan bisa menjadi apa saja sesuai dengan keinginan. Bisnis bisa menjadi lancar dan sukses, menjadi pemimpin yang dicintai, suami yang dihormati, ayah yang disegani, menjadi apa pun bisa terwujud jika akhlak kita mulia di sisi Allah. Dan kuncinya adalah Qalbun Salim, yaitu hati yang selamat, selamat dari segala kebusukan. Sebab kesuksesan dan kemuliaan hanyalah milik orang-orang yang berhati bersih. Semoga kita termasuk di dalamnya. Amin.Wallahu a`lam bishowab




/@cwi

selengkapnya...

Gabung bersama kami

About Me

admin jg menerima pelayanan jasa

admin jg menerima pelayanan jasa
Jasa arsitek rumah; desain arsitek / desain rumah, gambar denah rumah, bangun rumah baru, renovasi rumah dan pembangunan mesjid, mushola, ruko, disaign taman, dll. klik gambar utk kontak personal.

Syiar Islam On Twitter

Site info

Kalkulator Zakat Fitrah

  © Syiar islam Intisari Muslim by Dede Suhaya (@putra_f4jar) 2015

Back to TOP  

Share |