Sunan Ampel (Sayyid Ali Rahmatullah)


PRABU Sri Kertawijaya tak kuasa memendam gundah. Raja Majapahit itu risau memikirkan pekerti warganya yang bubrah tanpa arah. Sepeninggal Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, kejayaan Majapahit tinggal cerita pahit. Perang saudara berkecamuk di mana-mana. Panggung judi, main perempuan, dan mabuk-mabukan menjadi '' kesibukan'' harian kaum bangsawan --pun rakyat kebanyakan. Melihat beban berat suaminya, Ratu Darawati merasa wajib urun rembuk. ''Saya punya keponakan yang ahli mendidik kemerosotan budi pekerti,'' kata permaisuri yang juga putri Raja Campa itu. ''Namanya Sayyid Ali Rahmatullah, putra Kakanda Dewi Candrawulan,'' Darawati menambahkan.


Tanpa berpikir panjang, Kertawijaya mengirim utusan, menjemput Ali Rahmatullah ke Campa --kini wilayah Kamboja. Ali Rahmatullah inilah yang kelak lebih dikenal sebagai Sunan Ampel. Cucu Raja Campa itu adalah putra kedua pasangan Syekh Ibrahim Asmarakandi dan Dewi Candrawulan. Ayahnya, Syekh Ibrahim, adalah seorang ulama asal Samarkand, Asia Tengah. Kawasan ini melahirkan beberapa ulama besar, antara lain perawi hadis Imam Bukhari. Ibrahim berhasil mengislamkan Raja Campa. Ia kemudian diangkat sebagai menantu. Sejumlah sumber sejarah mencatat silsilah Ibrahim dan Rahmatullah, yang sampai pada Nabi Muhammad lewat jalur Imam Husein bin Ali. Tarikh Auliya karya KH Bisri Mustofa mencantumkan nama Rahmatullah sebagai keturunan Nabi ke-23.
Ia diperkirakan lahir pada 1420 , karena ketika berada di Palembang, pada 1440 , sebuah sumber sejarah menyebutnya berusia 20 tahun. Soalnya, para sejarawan lebih banyak mendiskusikan tahun kedatangan Rahmatullah di Pulau Jawa. Petualang Portugis, Tome Pires, menduga kedatangan itu pada 1443.
Hikayat Hasanuddin memperkirakannya pada sebelum 1446 -- tahun kejatuhan Campa ke tangan Vietnam. De Hollander menulis, sebelum ke Jawa, Rahmatullah memperkenalkan Islam kepada Raja Palembang, Arya Damar, pada 1440. Perkiraan Tome Pires menjadi bertambah kuat. Dalam lawatan ke Jawa, Rahmatullah didampingi ayahnya, kakaknya (Sayid Ali Murtadho), dan sahabatnya (Abu Hurairah). Rombongan mendarat di kota bandar Tuban, tempat mereka berdakwah beberapa lama, sampai Syekh Asmarakandi wafat. Makamnya kini masih terpelihara di Desa Gesikharjo, Palang, Tuban. Sisa rombongan melanjutkan perjalanan ke Trowulan, ibu kota Majapahit, menghadap Kertawijaya. Di sana, Rahmatullah menyanggupi permintaan raja untuk mendidik moral para bangsawan dan kawula Majapahit. Sebagai hadiah, ia diberi tanah di Ampeldenta, Surabaya. Sejumlah 300 keluarga diserahkan untuk dididik dan mendirikan permukiman di Ampel. Meski raja menolak masuk Islam, Rahmatullah diberi kebebasan mengajarkan Islam pada warga Majapahit, asal tanpa paksaan. Selama tinggal di Majapahit, Rahmatullah dinikahkan dengan Nyai Ageng Manila, putri Tumenggung Arya Teja, Bupati Tuban. Sejak itu, gelar pangeran dan raden melekat di depan namanya. Raden Rahmat diperlakukan sebagai keluarga keraton Majapahit. Ia pun makin disegani masyarakat. Pada hari yang ditentukan, berangkatlah rombongan Raden Rahmat ke Ampel. Dari Trowulan, melewati Desa Krian, Wonokromo, berlanjut ke Desa Kembang Kuning. Di sepanjang perjalanan, Raden Rahmat terus melakukan dakwah. Ia membagi-bagikan kipas yang terbuat dari akar tumbuhan kepada penduduk. Mereka cukup mengimbali kipas itu dengan mengucapkan syahadat. Pengikutnya pun bertambah banyak. Sebelum tiba di Ampel, Raden Rahmat membangun langgar (musala) sederhana di Kembang Kuning, delapan kilometer dari Ampel. Langgar ini kemudian menjadi besar, megah, dan bertahan sampai sekarang --dan diberi nama Masjid Rahmat. Setibanya di Ampel, langkah pertama Raden Rahmat adalah membangun masjid sebagai pusat ibadah dan dakwah. Kemudian ia membangun pesantren, mengikuti model Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Format pesantrennya mirip konsep biara yang sudah dikenal masyarakat Jawa. Raden Rahmat memang dikenal memiliki kepekaan adaptasi. Caranya menanamkan akidah dan syariat sangat memperhatikan kondisi masyarakat. Kata ''salat'' diganti dengan ''sembahyang'' (asalnya: sembah dan hyang). Tempat ibadah tidak dinamai musala, tapi ''langgar'', mirip kata sanggar. Penuntut ilmu disebut santri, berasal dari shastri -- orang yang tahu buku suci agama Hindu. Siapa pun, bangsawan atau rakyat jelata, bisa nyantri pada Raden Rahmat. Meski menganut mazhab Hanafi, Raden Rahmat sangat toleran pada penganut mazhab lain. Santrinya dibebaskan ikut mazhab apa saja. Dengan cara pandang netral itu, pendidikan di Ampel mendapat simpati kalangan luas. Dari sinilah sebutan ''Sunan Ampel'' mulai populer. Ajarannya yang terkenal adalah falsafah ''Moh Limo''. Artinya: tidak melakukan lima hal tercela. Yakni moh main (tidak mau judi), moh ngombe (tidak mau mabuk), moh maling (tidak mau mencuri), moh madat (tidak mau mengisap candu), dan moh madon (tidak mau berzina). Falsafah ini sejalan dengan problem kemerosotan moral warga yang dikeluhkan Sri Kertawijaya. Sunan Ampel sangat memperhatikan kaderisasi. Buktinya, dari sekian putra dan santrinya, ada yang kemudian menjadi tokoh Islam terkemuka. Dari perkawinannya dengan Nyai Ageng Manila, menurut satu versi, Sunan Ampel dikaruniai enam anak. Dua di antaranya juga menjadi wali, yaitu Sunan Bonang ( Makdum Ibrahim) dan Sunan Drajat (Raden Qosim). Seorang putrinya, Asyikah, ia nikahkan dengan muridnya, Raden Patah, yang kelak menjadi sultan pertama Demak. Dua putrinya dari istri yang lain, Nyai Karimah, ia nikahkan dengan dua muridnya yang juga wali. Yakni Dewi Murtasiah, diperistri Sunan Giri, dan Dewi Mursimah, yang dinikahkan dengan Sunan Kalijaga. Sunan Ampel biasa berbeda pendapat dengan putra dan murid-mantunya yang juga para wali. Dalam hal menyikapi adat, Sunan Ampel lebih puritan ketimbang Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga pernah menawarkan untuk mengislamkan adat sesaji, selamatan, wayang, dan gamelan. Sunan Ampel menolak halus. ''Apakah tidak khawatir kelak adat itu akan dianggap berasal dari Islam?'' kata Sunan Ampel. ''Nanti bisa bidah, dan Islam tak murni lagi.'' Pandangan Sunan Ampel didukung Sunan Giri dan Sunan Drajat. Sementara Sunan Kudus dan Sunan Bonang menyetujui Sunan Kalijaga. Sunan Kudus membuat dua kategori: adat yang bisa dimasuki Islam, dan yang sama sekali tidak. Ini mirip dengan perdebatan dalam ushul fiqih: apakah adat bisa dijadikan sumber hukum Islam atau tidak. Meski demikian, perbedaan itu tidak mengganggu silaturahmi antarpara wali. Sunan Ampel memang dikenal bijak mengelola perbedaan pendapat. Karena itu, sepeninggal Maulana Malik Ibrahim, ia diangkat menjadi sesepuh Wali Songo dan mufti (juru fatwa) se- tanah Jawa. Menurut satu versi, Sunan Ampel-lah yang memprakarsai pembentukan Dewan Wali Songo, sebagai strategi menyelamatkan dakwah Islam di tengah kemelut politik Majapahit. Namun, mengenai tanggal wafatnya, tak ada bukti sejarah yang pasti. Sumber-sumber tradisional memberi titimangsa yang berbeda. Babad Gresik menyebutkan tahun 1481 , dengan candrasengkala ''Ngulama Ampel Seda Masjid''. Cerita tutur menyebutkan, beliau wafat saat sujud di masjid. Serat Kanda edisi Brandes menyatakan tahun 1406. Sumber lain menunjuk tahun 1478 , setahun setelah berdirinya Masjid Demak. Ia dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, di areal seluas 1.000 meter persegi, bersama ratusan santrinya. Kompleks makam tersebut dikelilingi tembok besar setinggi 2 ,5 meter. Makam Sunan Ampel bersama istri dan lima kerabatnya dipagari baja tahan karat setinggi 1 ,5 meter, melingkar seluas 64 meter persegi. Khusus makam Sunan Ampel dikelilingi pasir putih. Setiap hari, penziarah ke makam Sunan Ampel rata-rata 1. 000 orang, dari berbagai pelosok Tanah Air. Jumlahnya bertambah pada acara ritual tertentu, seperti saat Haul Agung Sunan Ampel ke-552 , awal November lalu. Pengunjungnya membludak sampai 10.000 orang. Kalau makam Maulana Malik Ibrahim sepi penziarah di bulan Ramadhan, makam Sunan Ampel justru makin ramai 24 jam pada bulan puasa.


/@cwi

selengkapnya...

Selamatkan Bahtera Kemanusiaan!

Dr. Muhammad Mahdi Akif
Allah Swt berfirman, وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِير مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا “Dan sungguh telah Kami muliakan anak-anak Adam (manusia), Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik. Dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra': 70). Dalam rangka menaati perintah Allah untuk berjalan di muka bumi dan mengambil pelajaran darinya, maka kita bisa mengamati bahwa kondisi kemanusiaan di abad 21 ini sangat memprihatinkan.


Sehingga kerusakan terjadi di darat dan lautan, karena perbuatan tangan manusia. Perbedaan berakhir dengan penyiksaan, bahkan pembunuhan. Senjata menjadi bahasa dialog antar manusia. Ini semua mengganti nilai-nilai Islami yang Allah serukan, seperti ta‘âruf (saling mengenal), ta‘âwun (tolong-menolong), hidup bersama, sebagaimana firman-Nya, يَا أيُّها النَّاس إنَّا خلقناكم من ذكر وأُنثى وجعلناكم شعوبًا وقبائلَ لتعارفوا إنَّ أَكْرَمَكُم عِنْدَ اَللهِ أَتْقَاكُم إنَّ اللهَ عليمٌ خبيرٌ “Wahai sekalian manusia, sungguh Kami telah menciptakan kalian dari jenis laki-laki dan perempuan dan menjadikan kalian berbangsa- bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal satu sama lain. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian." (QS. Al- Hujurat: 13). Saat ini, kemanusiaan juga telah jauh dari fitrah yang Allah tetapkan. Nilai telah hilang, sehingga manusia tidak lagi memuliakan manusia lainnya. Maksud dari "kemanusiaan" di sini adalah, kaidah dasar interaksi antar sesama manusia yang Allah tetapkan, untuk menjalankan tujuan penciptaan manusia, yaitu sebagai khalifah Allah di muka dunia; menegakkan syariat Islam dan memakmurkan dunia yang merealisasikan tujuan agung ketuhanan... "Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di atas muka bumi..." (QS. Al-Baqarah: 30). Oleh karena itu, manusia memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Syariat Islam hadir untuk menjaga kemanusiaan; menjamin hak-haknya, memperbaiki kondisi hidupnya, dan memudahkan segala urusannya di dunia. Untuk itu, Allah Swt. menundukkan segala sesuatu untuk manusia, sebagaimana firman-Nya, وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالْنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالْنُّجُومُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَات لِّقَوْم يَعْقِلُونَ “Dan Allah telah menundukkan bagi kalian malam dan siang, matahari, bulan, dan bintang dengan titah-Nya. Sesungguhnya pada semua itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami. (QS. An-Nahl: 12). Selain itu, Islam juga mengandung Maqâshid Al- Syarî‘ah (tujuan-tujuan utama Syariat) untuk menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta, demi menjaga kehidupan dan kemuliaan manusia. Di antara bentuk pemuliaan Allah terhadap manusia juga adalah, Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna, sebagaimana firmannya, لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيم "Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna." (QS. Al- Tin: 4). Bahkan Allah mengaitkan manusia dengan Dzat- Nya Yang Maha Tinggi, sebagaimana firman-Nya, إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِين (71) فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ (72) فَسَجَدَ الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ (73) إِلَّا إِبْلِيسَ اسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ (74) “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku menciptakan manusia dari tanah. Dan apabila Aku telah menciptakannya dan meniupkan ruh milik-Ku ke jasadnya, maka sujudlah kalian kepadanya'. Kemudian seluruh malaikat sujud padanya. Kecuali Iblis, ia berlaku sombong dan ia tergolong kaum yang kafir." (QS. Shad: 71-74). Dari dasar Islam yang sangat memuliakan manusia ini, maka lahirlah sebuah nilai yang tinggi, yaitu seluruh manusia sama dalam syariat, karena seluruh manusia berasal dari keturunan yang sama, yaitu dari Adam dan Hawa. Allah Swt. berfirman, يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْس وَاحِدَة وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا "Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakanmu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak... (QS. Al-Nisa: 1). Nilai-nilai Apa yang Mereka Serukan? Itulah nilai-nilai Islam yang pernah menguasai dunia lebih dari seribu tahun. Pada masa di mana Khilafah Islamiyah menjadi satu-satunya kiblat dunia dalam ilmu, akhlak, syariat, dan pola pikir. Sedangkan Barat pada masa itu masih menjalani kehidupan goa, terbelakang, dan menerapkan hukum rimba. Ketika memasuki zaman Renaissance di Eropa pada abad pertengahan, Barat mulai mempelajari peradaban Islam; baik secara ilmu maupun pemikiran. Saat itu, orang-orang mengira bahwa dunia akan menuju kedamaian dan saling tolong-menolong. Mensinergikan ruh dan akal. Akan tetapi, ternyata yang lahir dari " peradaban" Barat justru UU dan peraturan yang bertentangan dengan fitrah manusia. Bahkan bertentangan dengan nilai yang Allah tetapkan. Di antara nilai peradaban Barat yang bertentangan dengan fitrah itu adalah, menjadikan keuntungan materi sebagai dasar dan satu-satunya timbangan menghukumi segala sesuatu. Sehingga tersebarlah keburukan. Seluruh sarana dibolehkan untuk merealisasikan keuntungan materi bagi manusia. Logika materialistis itulah yang menjadi sandaran ekspansi penjajahan Eropa dan Amerika selama 6 abad terakhir. Mereka menghalalkan merampas kekayaan "masyarakat terbelakang". Bahkan, mereka menjual masyarakat itu sendiri di pasar perbudakan. Ratusan juta jiwa yang Allah muliakan dipaksa berkerja di pertanian dan perindustrian "peradaban Barat." Perperangan pun semakin merajalela. Negara- negara non-Barat semakin terbelakang setelah beberapa abad imperialisme Barat. Muncullah masyarakat dan negara yang tidak mengetahui makna kedamaian. Tidak tahu jalan menuju peradaban. Semua ini setelah mereka dipaksa tunduk pada Barat, untuk menjadi pasar tempat menjual hasil-hasil perindustrian dan pertanian Barat, dan untuk menggerakkan pertukaran uang raksasa yang dibangun Yahudi pada abad ke-XVII di AS, dan untuk menjaga terpasoknya bahan mentah bagi negara-negara Barat. Kekuasaan nilai materialisme, pragmatisme, menjauhkan manusia dari agama Allah, semua ini berperanan besar dalam mengukuhkan penjajahan, yang mengembalikan manusia ke zaman hukum rimba dan perbudakan. Sedangkan istilah-istilah seperti persaudaraan manusia dan tolong-menolong, sangat jauh dari kamus interaksi antar manusia. Lumpur semakin menghitam dan kebakaran semakin berkobar, ketika berbagai kepentingan Barat dengan kapitalismenya bertemu dengan kepentingan dan ketamakan proyek Zionisme di Dunia Islam. Pertumpahan darah semakin merata di muka bumi. Foto-foto para para pengungsi dan orang-orang terlantar mendominasi berita tentang umat kita, akibat kecongkakan global serta kediktatoran dan kerusakan internal umat. Kemanusiaan Butuh Penyelamat Kini, kemanusiaan di bawah kepemimpinan Barat atas dunia sangat memprihatinkan. Aliran darah, kemiskinan, dan kelaparan meluber ke seluruh penjuru dunia akibat nilai pragmatis yang berdasarkan kepentingan materi. Kemanusiaan butuh konsep yang mampu menyelamatkannya, menjaga kehidupan, harta, dan menyelamatkan kehormatan yang masih tersisa. Konsep penyelamat kemanusiaan ada pada Islam. Tidak ada agama yang sangat menjunjung tinggi kemanusiaan selain Islam. Bukan sekedar kata, slogan, atau cita-cita semata, melainkan telah terbukti dalam sejarah. Pengalaman dari sebuah negara terbesar sepanjang sejarah. Dalam akidah Islam, Rasulullah telah meletakan pondasi-pondasi persaudaran, persamaan, dan keadilan, sehingga beliau bersabda, "يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَلا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلا لا فَضْلَ لِعَرَبِيّ عَلَى أَعْجَمِيّ وَلا لِعَجَمِيّ عَلَى عَرَبِيّ، وَلا لأحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى" (رواه أحمد) "Wahai sekalian manusia, ingatlah sesungguhanya Tuhan kalian adalah satu dan bapak kalian adalah satu. Sungguh tidak ada keutamaan Arab atas non-Arab, non-Arab atas Arab, kulit merah atas hitam, dan kulit hitam atas merah, kecuali dengan ketakwaan.” (HR. Ahmad). Dalam khutbah Haji Wadâ‘, Rasulullah meletakkan dasar interaksi sesama manusia yang sangat tinggi, yaitu memuliakan manusia dan apa yang ia miliki. Rasul bersabda, "أيُّها النَّاس اسمَعُوا قَوْلي، فإنِّي لا أدري لعلِّي لا ألقاكُم بعد عامِي هذا بهذا الموقف أبدًا، أيُّها النَّاس إنَّ دماءَكُم وأموالَكُم عليكم حرامٌ إلى أنْ تَلْقَوْا ربَّكم كحرمةِ يَوْمِكُم هذا، وكحرمةِ شهرِكُم هذا، وإنَّكم ستَلقَوْن ربَّكُم فيسألُكُم عن أعمالكم وقد بلَّغت، فمنْ كان عِنْدَهُ أمانةٌ فليؤدِّها إلى مَنْ ائْتَمَنَهُ عليها" (رواية ابن إسحاق لخطبة الوداع) "Wahai sekalian manusia, dengarlah ucapakanku. Sungguh aku tak tahu, bisa jadi aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian di tahun-tahun mendatang. Wahai sekalian manusia, ketahuilah bahwa harta dan darah kalian adalah haram ( suci) hingga kalian bertemu Allah, sebagaimana sucinya hari kalian ini, sucinya bulan kalian ini." ( HR. Ibnu Ishaq). Islam juga merupakan agama akhlak dan nilai yang menjaga kemanusiaan. Rasul bersabda, "إنَّما بُعِثْتُ لأتمِّمَ مكارمَ الأخلاقِ" "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemulian akhlak... " Inilah nabi kita, dan inilah agama kita. Bukti sejarah Islam sebagai penyelamat manusia ini tidak hanya pada masa Rasul, tapi juga setelahnya, karena Islam merupakan madrasah Rabbani yang membentuk generasi. Inilah Umar bin Khattab, murid dari madrasah an-nubuwwah. Pada suatu hari, Umar melihat seorang kakek sedang meminta sedekah di pasar yang ramai. Umar bertanya padanya, "Siapakah Anda wahai kakek tua?" Kakek tersebut adalah seorang Yahudi dari Madinah. Ia menjawab, " Saya seorang yang telah terlalu tua. Saya membutuhkan jizyah (pajak) dan nafkah." Maka Umar menjawab, “Sungguh kami tidak berlaku adil padamu wahai kakek. Kami mengambil jizyah darimu di masa muda dan membiarkan dirimu terlunta-lunta di masa tua.” Lalu Umar membawa kakek tersebut ke rumahnya, kemudian menghidangnya makanan. Setelah itu Umar mengutus seseorang menuju ke Baitul Mâl dan berkata, “Berikanlah kakek ini dan orang-orang sepertinya keperluan yang memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya.” Dari kisah di atas, Umar r.a. menunjukkan bahwa Islam adalah rahmat dan keadilan bagi pemimpin maupun rakyat. Masih banyak kisah lainnya yang serupa. Inilah agama Islam yang oleh pihak yang membencinya dikesankan dengan kejam dan kesan negatif lainnya. Sedangkan apa yang terjadi pada anak-anak Gaza, Palestina, Irak, Afghanistan, dan lainnya dianggap sebagai "kasih sayang" hukum internasional. Wahai Kaum Muslimin Dimanapun Anda Berada Sungguh amanah yang Anda pikul sangat berat. Setiap kita dituntut untuk optimal berusaha sesuai posisinya, baik dai, politikus, ulama, wartawan, mahasiswa, pengusaha, petani, dan lainnya. Hendaklah setiap kita melihat kembali kondisi sekitarnya. Hendaklah kembali ke agama yang benar. Mengembalikan nilai-nilai Islam sebagaimana Allah turunkan. Rambu-rambu kehidupan yang komprehensif. Bukan hanya akidah, ibadah, dan muamalat saja, akan tetapi seluruh sisi kehidupan manusia. Maka terapkanlah ajaran Islam secara kaffah. Wahai sekalian manusia... berimanlah kepada Allah, Rasul-Nya, kitab-kitab-Nya dan Hari Akhir. Perbaikilah hubungan sesama manusia. Wahai sekalian anak-anak, perbaikilah hubungan dengan orang tua, keluarga, dan kerabat dekat. Karena sesungguhnya memperbaiki hubungan sesama manusia adalah ibadah yang agung dan sangat mulia. Tunaikanlah amanah-amanah secara adil... إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat". (QS. An-Nisa': 58). Bersungguh-sungguhlah dalam kerja kalian. Rasulullah bersabda, "اجتهدوا في عَمَلِكُم. إنَّ الله يحبُّ إذا عَمِلَ أحدُكُم عملاً أنْ يتقنَه... (حديثٌ صحيحٌ) "Sesungguhnya Allah mencintai seseorang hamba yang bersungguh-sungguh dalam berkerja.” Islam tidak hanya memperbaiki umat Islam saja, akan tetapi juga menyelamatkan kemanusiaan secara utuh. Wahai hamba-hamba Allah, renungkanlah firmah-Nya, إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (ص: 150) “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. Al-Shad: 150)

/@cwi

selengkapnya...

Al-Qur’an Mendahului Sains Modern


“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’ an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Fushilat (41) : 53). A.   Al-Qur’an Kitab Hidayah Tanya: Untuk apa Allah swt menurunkan Al-Qur’ an? Jawab: Allah swt menurunkan Al-Qur’an untuk menjadi petunjuk bagi manusia. Al-Qur’an adalah kitab petunjuk, bukan kitab kedokteran atau teknik, bukan kitab astronomi atau kimia yang menghimpun berbagai informasi ilmiah ilmu-ilmu tersebut. Sekali lagi ia hanya kitab hidayah ilahi bagi perilaku manusia. B.    Al-Qur’an Turun dengan Ilmu Allah swt Tanya: Kalau begitu apa maksud ungkapan “Al- Qur’an mendahului sains modern?”


Jawab: Artinya, ketika Al-Qur’an berbicara tentang manusia, tumbuhan, atau makhluk lain, ia pasti berbicara tentang hakikatnya. Manusia baru mengetahuinya setelah sains dan peralatan-peralatan canggih digunakan untuk melakukan berbagai penelitian ilmiah. Itulah makna Al-Qur’an mendahului sains modern sekaligus sebagai bukti baru mukjizat Al-Qur’an di masa kemajuan teknologi yang semakin menegaskan bahwa ia adalah kalamullah yang tidak sedikitpun mengandung kesalahan. C.   Sesaknya Dada Tanya: Apa contoh masalah ini? Jawab: Contoh-contoh cukup banyak, di antaranya penemuan para pilot tentang semakin sesaknya dada mereka setiap kali mereka menambah ketinggian di udara sampai-sampai mereka merasa tercekik karena tak mampu bernafas akibat semakin berkurangnya kadar oksigen. Realita ini belum diketahui sebelumnya, orang menganggap bahwa udara tersedia sampai ke planet-planet dan bintang-bintang yang ada di langit. Sedangkan Al-Qur’an telah mengungkap hakikat ini sejak empat belas abad lebih. Allah swt. berfirman: “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (Al-An’am (6): 125). Maksudnya: Barangsiapa berhak disesatkan Allah swt karena amal-amalnya yang buruk dan permusuhannya terhadap Islam, maka Allah swt. menjadikan dadanya sempit bila mendengar mauizhah (nasihat) yang mengingatkannya tentang kebenaran Islam seperti sempitnya dada orang yang naik ke langit. Hal ini tidak diketahui manusia yang tidak beriman sebelum mereka menggunakan pesawat terbang. Lalu apakah Nabi Muhammad saw. memiliki pesawat khusus untuk menyampaikan informasi ini? Atau apakah yang disampaikan semata wahyu yang berasal dari ilmu Allah swt?! D.   Informasi tentang Pusat Perasa di Kulit Tanya: Adakah contoh yang lain? Jawab: Ya, kita ambil contoh dari susunan tubuh manusia. Dulu orang percaya bahwa saraf perasa terdapat di seluruh tubuh dengan kepekaan yang sama. Namun ilmu pengetahuan modern mengungkap kekeliruan ini, ternyata pusat kepekaan terhadap rasa sakit dan lainnya terletak pada kulit di mana jarum suntik hanya terasa sakit pada kulit. Al-Qur’an menyebutkan hakikat ini sebelum penemuan para ahli. “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisa (4) : 56). Maksudnya: Perasaan sakit menerima azab terpusat pada kulit mereka dan apabila kulit itu telah hangus matang mereka tidak merasakan azab lagi. Oleh karenanya, Allah swt. Yang Maha Mengetahui ciptaan-Nya menggantinya dengan kulit yang baru agar mereka tetap merasakan azab. Apakah Muhammad saw memiliki alat-alat bedah khusus untuk mengetahui informasi ini? Atau apakah ini hanyalah bukti bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan dengan ilmu-Nya? Maha Benar Allah swt. yang telah berfirman: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Fushilat ( 41) : 53). Kesimpulan Al-Qur’an mengandung informasi yang baru terungkap kebenarannya setelah berabad-abad lamanya seiring kemajuan ilmu pengetahuan. Di antaranya informasi Al-Qur’an tentang sesaknya dada orang yang menjelajah langit, dan pusat rasa yang ada di kulit. Ilmu pengetahuan abad dua puluh kemudian membenarkan informasi Al-Qur’an ini. Kebenaran ini sebagai bukti bahwa Al-Qur’an semata-mata wahyu Allah swt. kepada Rasul- Nya Muhammad saw. Allahu a’lam


/@cwi

selengkapnya...

Gabung bersama kami

About Me

admin jg menerima pelayanan jasa

admin jg menerima pelayanan jasa
Jasa arsitek rumah; desain arsitek / desain rumah, gambar denah rumah, bangun rumah baru, renovasi rumah dan pembangunan mesjid, mushola, ruko, disaign taman, dll. klik gambar utk kontak personal.

Syiar Islam On Twitter

Site info

Kalkulator Zakat Fitrah

  © Syiar islam Intisari Muslim by Dede Suhaya (@putra_f4jar) 2015

Back to TOP  

Share |