Perjalanan Rasulullah SAW ke Surga



Bersama Dua Tamunya Di suatu pagi hari, Rasulullah SAW bercerita kepada para sahabatnya, bahwa semalam beliau didatangi dua orang tamu. Dua tamu itu mengajak Rasulullah untuk pergi ke suatu negeri, dan Rasul menerima ajakan mereka. Akhirnya mereka pun pergi bertiga. Ketika dalam perjalanan, mereka mendatangi seseorang yang tengah berbaring.
Tiba-tiba di dekat kepala orang itu ada orang lain yang berdiri dengan membawa sebongkah batu besar. Orang yang membawa batu besar itu dengan serta merta melemparkan batu tadi ke atas kepala orang yang sedang berbaring, maka remuklah kepalanya dan menggelindinglah batu yang dilempar tadi. Kemudian orang yang melempar batu itu berusaha memungut kembali batu tersebut. Tapi dia tidak bisa meraihnya hingga kepala yang remuk tadi kembali utuh seperti semula. Setelah batu dapat diraihnya, orang itu kembali melemparkan batu tersebut ke orang yang sedang berbaring tadi, begitu seterusnya ia melakukan hal yang serupa seperti semula. Melihat kejadian itu, Rasulullah bertanya kepada dua orang tamu yang mengajaknya, “ Maha Suci Allah, apa ini?” “Sudahlah, lanjutkan perjalanan!” jawab keduanya. Maka mereka pun pergi melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan, mereka mendatangi seseorang lagi. Orang tersebut sedang terlentang dan di sebelahnya ada orang lain yang berdiri dengan membawa gergaji dari besi. Tiba-tiba digergajinya salah satu sisi wajah orang yang sedang terlentang itu hingga mulut, tenggorokan, mata, sampai tengkuknya. Kemudian si penggergaji pindah ke sisi yang lain dan melakukan hal yang sama pada sisi muka yang pertama. Orang yang menggergaji ini tidak akan pindah ke sisi wajah lainnya hingga sisi wajah si terlentang tersebut sudah kembali seperti sediakala. Jika dia pindah ke sisi wajah lainnya, dia akan menggergaji wajah si terletang itu seperti semula. Begitu seterusnya dia melakukan hal tersebut berulang-ulang. Rasulullah pun bertanya, “Subhanallah, apa pula ini?” Kedua tamunya menjawab, “Sudah, menjauhlah! ” Maka mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Selanjutnya mereka mendatangi sesuatu seperti sebuah tungku api, atasnya sempit sedangkan bagian bawahnya besar, dan menyala-nyala api dari bawahnya. Di dalamnya penuh dengan jeritan dan suara-suara hiruk pikuk. Mereka pun melongoknya, ternyata di dalamnya terdapat para lelaki dan wanita dalam keadaan telanjang. Dan dari bawah ada luapan api yang melalap tubuh mereka. Jika api membumbung tinggi mereka pun naik ke atas, dan jika api meredup mereka kembali ke bawah. Jika api datang melalap, maka mereka pun terpanggang. Rasulullah kembali bertanya, “Siapa mereka?” Kedua tamunya menjawab, “Menjauhlah, menjauhlah!” Akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka mendatangi sebuah sungai, sungai yang merah bagai darah. Ternyata di dalam sungai tadi ada seseorang yang sedang berenang, sedangkan di tepi sungainya telah berdiri seseorang yang telah mengumpulkan bebatuan banyak sekali. Setiap kali orang yang berenang itu hendak berhenti dan ingin keluar dari sungai, maka orang yang ditepi sungai mendatangi orang yang berenang itu dan menjejali mulutnya sampai ia pun berenang kembali. Setiap kali si perenang kembali mau berhenti, orang yang di tepi sungai kembali menjejali mulut si perenang dengan bebatuan hingga dia kembali ke tengah sungai. Rasulullah pun bertanya, “Apa yang dilakukan orang ini?!” “Menjauhlah, menjauhlah!” jawab kedua tamunya. Maka mereka pun melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan kali ini, mereka mendapatkan seseorang yang amat buruk penampilannya, sejelek-jeleknya orang yang pernah kita lihat penampilannya, dan di dekatnya terdapat api. Orang tersebut mengobarkan api itu dan mengelilinginya. “Apa ini?!” tanya Rasulullah “Menjauhlah, menjauhlah!” jawab kedua tamunya. Lalu mereka melanjutkan perjalanan lagi. Dalam perjalanan mereka menemukan sebuah taman yang indah, dipenuhi dengan bunga-bunga musim semi. Di tengah taman itu ada seorang lelaki yang sangat tinggi, hingga Rasulullah hampir tidak bisa melihat kepala orang itu karena tingginya. Di sekeliling orang tinggi itu banyak sekali anak-anak yang tidak pernah Rasul lihat sebegitu banyaknya. Melihat itu, Rasulullah kembali bertanya, “Apa ini? Dan siapa mereka?” Kedua tamunya menjawab, “Menjauhlah, menjauhlah!” Maka mereka pun pergi berlalu. Lalu mereka menyaksikan sebuah pohon yang amat besar, yang tidak pernah Rasul lihat pohon yang lebih besar dari ini. Pohon ini juga indah. Kedua tamu Rasul berkata, “Naiklah ke pohon itu!” Lalu mereka pun memanjatnya. Rasul dituntun menaiki pohon dan dimasukkannya ke dalam sebuah rumah yang sangat indah yang tak pernah Rasul lihat seumpamanya. Di dalamnya terdapat lelaki tua dan muda. Lalu mereka sampai pada sebuah kota yang dibangun dengan batu bata dari emas dan perak. Mereka mendatangi pintu gerbang kota itu. Tiba-tiba pintu terbuka dan mereka memasukinya. Mereka disambut oleh beberapa orang, sebagian mereka adalah sebaik-baik bentuk dan rupa yang pernah kita lihat, dan sebagiannya lagi adalah orang yang seburuk- buruk rupa yang pernah kita lihat. Kedua tamu yang bersama Rasulullah berkata kepada orang-orang itu, “Pergilah, dan terjunlah ke sungai itu!” Ternyata ada sungai terbentang yang airnya sangat putih jernih. Mereka pun segera pergi dan menceburkan dirinya masing-masing ke dalam sungai itu. Kemudian mereka kembali kepada Rasululullah dan dua tamunya. Kejelekan serta keburukan rupa mereka tampak telah sirna, bahkan mereka dalam keadaan sebaik-baik rupa! Lalu kedua orang tamu Rasulullah berkata, “Ini adalah Surga ‘Adn, dan inilah tempat tinggalmu!” “Rumah pertama yang kau lihat adalah rumah orang-orang mukmin kebanyakan, adapun rumah ini adalah rumah para syuhada’, sedangkan aku adalah Jibril dan ini Mika’il. Maka angkatlah mukamu (pandanganmu).” Maka mata Rasulullah langsung menatap ke atas, ternyata sebuah istana bagai awan yang sangat putih. Kedua tamu Rasulullah berkata lagi, “Inilah tempat tinggalmu!” Rasulullah berkata kepada mereka, “Semoga Allah memberkati kalian.” Kedua tamu itu lalu hendak meninggalkan Rasulullah. Maka Rasulullah pun segera ingin masuk ke dalamnya, tetapi kedua tamu itu segera berkata, “Tidak sekarang engkau memasukinya!” [1] “Aku telah melihat banyak keajaiban sejak semalam, apakah yang kulihat itu?” tanya Rasulullah kepada mereka. Keduanya menjawab, “Kami akan memberitakan kepadamu. Adapun orang yang pertama kau datangi, yang remuk kepalanya ditimpa batu, dia itu adalah orang yang membaca Al Qur’an tetapi ia berpaling darinya, tidur di kala waktu shalat fardhu ( melalaikannya). Adapun orang yang digergaji mukanya sehingga mulut, tenggorokan, dan matanya tembus ke tengkuknya, adalah orang yang keluar dari rumahnya dan berdusta dengan sekali-kali dusta yang menyebar ke seluruh penjuru. Adapun orang laki-laki dan perempuan yang berada dalam semacam bangunan tungku, maka mereka adalah para pezina. Adapun orang yang kamu datangi sedang berenang di sungai dan dijejali batu, maka ia adalah pemakan riba. Adapun orang yang sangat buruk penampilannya dan di sampingnya ada api yang ia kobarkan dan ia mengitarinya, itu adalah malaikat penjaga neraka jahannam. Adapun orang yang tinggi sekali, yang ada di tengah-tengah taman, itu adalah Ibrahim AS. Sedangkan anak-anak di sekelilingnya adalah setiap bayi yang mati dalam keadaan fitrah.” … Lalu di sela-sela penyampaian cerita ini, para sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan anak orang- orang musyrik?” Rasulullah menjawab, “Dan anak orang-orang musyrik.” Lalu Rasulullah SAW melanjutkan ceritanya. Adapun orang-orang yang sebagian mukanya bagus, dan sebagian yang lain mukanya jelek, mereka itu adalah orang-orang yang mencampuradukan antara amalan shalih dan amalan buruk, maka Allah mengampuni kejelekan mereka. [] Maraji’: Riyadhush Shalihin _______________ Catatan kaki: [1 ] Dalam hadits riwayat Bukhari lainnya, dikisahkan bahwa kedua tamu Rasulullah itu mengatakan kepada Rasulullah SAW, “Kamu masih memiliki sisa umur yang belum kamu jalani, jika kau telah melaluinya maka kau akan masuk rumahmu.” (HR. Bukhari) (hdn/hudzaifah)

/@cwi

selengkapnya...

DUA AMANAH ALLAH ATAS RASULNYA

Dua macam Amanah Allah atas RasulNya Muhammad Salallahu ‘Alihi Wasalam dimaksud yang harus difahami, yaitu amanah berupa “sistem beribadah kepada Allah” dan “sistem hukum bagi manusia”. Adapun penjelasan tentang dua perkara ini dapat kita simak di dalam Al Quran, yaitu : 1. Amanah berupa Sistem Beribadah kepada Allah لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ فَلا يُنَازِعُنَّكَ فِي الأمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ (٦٧) Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah (mereka) kepada Rabbmu.Sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar beradapada petunjuk jalan yang lurus. (Surah Al Hajj ayat 67) Artinya ada suatu kewajiban bagi setiap manusia yang telah menyatakan dirinya sebagai muslim untuk menepati sistem peribadahan kepada Allah menurut apa yang diajarkan Muhammad Rasulullah. Sistem ibadah dimaksud disini mengarah kepada 5 kewajiban pokok (ibadah makhdo) yaitu Syahadatain, menegakkan sholat, mendatangkan zakat, shoum pada bulan ramadhan, dan berhaji bagi yang mampu. Kelima hal ini dalam bahasa Al Hadits dinyatakan sebagai “ pembinaan keislaman”. Disini dapat difahami bersama, bahwa hanya Muhammad Rasulullah sosok manusia yang mendapat izin atau kewenangan dalam menjelaskan dan mencontohkan cara beribadah kepada Allah melalui hadits-haditsnya yang shahih. Tidak ada seorang manusiapun selain beliau SAW, yang berhak mengeluarkan pendapatnya mengenai cara beribadah kepadaNya meskipun seorang imam ataupun ulama terpandang, kecuali ia mengutipnya dari Al Quran dan Al Hadits yang shahih. Alasan berikut ini semakin menguatkan kedudukan rasulullah dalam masalah ini. Yaitu lafadz (kata) perintah sholat, zakat, shoum dan berhaji di dalam Al Quran semuanya berkedudukan mujmal ( ringkas). Artinya perintah-perintah tersebut baru dapat difahami secara sempurna dan dilaksanakan secara benar setelah mempelajari keterangan dari Rasulullah Muhammad SAW. Hal ini dikarenakan Allah telah menetapkan rasulNya sebagai penjelas dan contoh praktik dalam beribadah. Oleh karena itu satu ciri dari hadits yang shahih adalah tidak pernah bertentangan dengan ayat- ayat Al Quran. وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣) إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى (٤) dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al- Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan ( kepadanya). (Surah An Najm ayat 3 dan 4) Jika dalam praktek beribadah ini tidak merujuk kepada petunjuk Al Quran dan Hadits shahih atau mengambil dari hadits lemah (dhoif) apalagi palsu berarti telah berbuat bid’ah. Sedangkan setiap bid’ah dalam beribadah adalah sesat dan terancam dengan neraka. 2. Amanah berupa Sistem Hukum bagi Ummat Manusia ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الأمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ (١٨) Kemudian Kami jadikan engkau ( Muhammad) berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (Ad Din itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Surah Al Jatsiyah ayat 18) Telah pula Allah Subhanahu Ta’ala jadikan RasulullahNya Muhammad dan para muttabi’nya wajib untuk berada dalam “rel” syariatNya dalam mengatur pola interaksi kehidupan yang berlandaskan wahyu bukan nafsu dan filsafat logika manusia. Artinya, telah ada suatu “paket aturan” yang dikirimkan Allah untuk seluruh manusia melalui rasulNya yang wajib dilaksanakan. Meskipun Allah memberi kebebasan kepada manusia untuk memilih jalan untuk menjadi mukmin atau menjadi qaum yang kafir, karena Dia tidak mengambil manfaat sedikitpun dan tidak membutuhkan pertolongan dari makhluqNya, tapi dalam masalah hukum, tiap manusia wajib tunduk kepada Syariat Dinullah. Apabila diterapkan sistem hukum ilahiyah, dijaminNya akan membawa bermacam kemaslahatan dan kebahagian hidup bagi manusia itu sendiri. Sebaliknya bila diabaikan perintah ini, bahkan mengambil sistem hukum jahiliyah pasti membawa malapetaka, perpecahan, permusuhan dan kesengsaraan yang tidak mampu diatasi manusia manapun, terkecuali jika mereka kembali rujuk kepada amanah syariat ini saja. Karena secara jujur pada setiap hati nurani manusia akan mengakui bahwa diri mereka dan semua yang tampak dan tidak tampak di langit dan bumi serta diantara keduanya adalah milik Allah. Ia yang telah menciptakan semuanya, maka tentu merupakan hak bagi Allah untuk mengaturnya dan hak ini berbanding lurus sebagai kewajiban menghambakan diri bagi manusia selaku makhluqNya. Dengan menunaikan kewajiban untuk menjalankan sistem hukum dari Allah ini saja, maka akan tertunaikannya seluruh hak setiap manusia tanpa melanggar hak orang lain karena hanya di dalam Syariat Islam terdapat keadilan, kejujuran, dan keselamatan dunia-akhirat yang hakiki. Dengan keterang yang tergali pada ayat- ayat Allah di atas, maka sudah sepatutnya bagi setiap hamba Allah untuk menjadikannya bahan berfikir, perenungan dengan hati, dan untuk selanjutnya dilaksanakan dengan penuh kesungguhan, ketaatan, kesabaran dan sikap istiqomah. Petunjuk Al Quran : Sesungguhnya Allah telah menetapkan dalam Al Quran Surah An Nahl 44 sebagai berikut : بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (٤٤) “Dengan ayat-ayat (mu’jizat) dan kitab- kitab dan Kami telah turunkan kepadamu (Muhammad) Al Quran ini, supaya kamu menerangkan pada umat manusia tentang segala apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan mudah- mudahan mereka akan berfikir.” Bahasan ringkas : Ayat tersebut dengan diakhiri lafadz “la’ allahum yatafakkarun” dengan mengambil satu jurusan maknanya, yaitu “berfikir perihal amanah hukum secara benar”. Hal ini mengingat pada beberapa keterangan dari Allah dalam kitabNya antara lain : a.   Keberadaan Rasulullah adalah “ Uswah Hasanah”, suri tauladan atau contoh yang baik dalam pengamalan Al Quran, لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (٢١) Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan ( kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (Surah Al Ahzab ayat 21) Kemudian Beliau SAW ditugaskan Allah untuk menyampaikan Ad Dzikr (Al Quran) kepada ummat manusia secara sempurna, وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ (dan serulah mereka kepada Rabbmu, Surah Al Maidah ayat 67). Seruan (ajakan) ini meliputi bayan fi’liyah (contoh perilaku) dan bayan qouliyah nya (penjelasan dengan kalimat), yang dengan itu dapat membangun sikap yang positif bagi para muttabi’nya sebagaimana yang dapat dilihat dalam Surah Al Fath ayat 29 : مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا ( ٢٩) Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada wajah* mereka dari bekas sujud**. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan ganjaran yang agung. *) Wajah , pada ayat ini maksudnya lahir- bathinnya bukan wajah secara makna luqhowi yang berarti muka. ** ) Bekas Sujud maksudnya : selain pada air muka mereka kelihatan keimanan dan kesucian hati mereka. Juga berarti meninggalkan karya atau ‘amal shaleh, karena dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa anggota sujud dalam shalat meliputi tujuh tulang yang menunjukkan bahwa manusia bagian dari alam. Anggota sujud yaitu hidung sampai ke dahi (pola fikir), dua telapak tangan (karya), dua lutut, dan dua ujung kaki (langkah kerja). Bekas sujud bukan berarti tanda hitam di dahi, karena rasul kita tidak memiliki tanda ini. Sedangkan Muhammad Rasulullah adalah ahli sujud, yang tampak secara lahir pada tubuhnya dari bekas sujud adalah kaki beliau yang terkadang “bengkak” akibat lama berdiri ketika melaksanakan shalat malam. Kemudian permukaan bumi ditetapkan Allah sebagai masjid (tempat bersujud), yaitu untuk menghambakan diri dan beramal shalih (berkarya unggulan). b.   Bahwa Allah menetapkan RasulNya adalah untuk dituruti dalam segala perilaku dan ketetapan hukumnya, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُوٌ رَحِيمٌ (٣١) “Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku ( Muhammad Rasulullah), niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa- dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Surah Ali Imran ayat 31). c.   Rasulullah ditetapkan Allah sebagai pembawa Amanah Syariat, ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الأمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ Kemudian Kami jadikan engkau ( Muhammad) berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (Ad Din itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Surah Al Jatsiyah ayat 18) d.   Larangan bersikap mendua dalam menjalankan pola dan sistem Al Quran, فَلا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا Maka janganlah kamu mengikuti orang- orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran sebagai Jihad yang besar. (Surah Al Furqon ayat 52).   Inilah yang disebut dengan menumbuhkan ketaatan Fuad (daya kemampuan berfikir).   >Dikutip dari Pengajian Ahad pagi 28 Dzulqaidah 1430 Hijriyah


/@cwi

selengkapnya...

Politik Islam, Benarkah?


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ Berkaitan dengan penggunaan istilah- istilah yang sudah populer di tengah masyarakat, antara lain politik dan siyasah, maka perlu kiranya kita merujuk kembali pengertian dan pencitraannya. Mengapa demikian? Karena untuk memahami makna sebuah kata atau istilah secara akurat harus memahami benar sumber pemunculannya, latar belakang sejarahnya, tujuan, kondisi saat itu, dan pemahaman bahasa masyarakat pada awal pemunculannya. Oleh karena itu tentu kurang tepat jika hanya memahami suatu istilah dengan kondisi kekiniaan, dimana waktu yang panjang dan proses sejarah manusia telah mengalami berbagai gejolak dan perkembangan, tanpa melihat konteks awalnya.
Dalam catatan sejarah manusia, istilah “ politik” muncul di Yunani sekitar abad ke-4 sebelum masehi dalam sebuah buku filsafat yang dikarang oleh seorang pemikir klasik bernama Plato murid dari Socrates.
Buku tersebut berjudul asli politeia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris tradisional menjadi The Republic (sumber :Wikipedia bahasa Indonesia). Politeia berasal dari kata "polis", yang lebih kurang dapat diterjemahkan sebagai kata "kota", atau lebih tepatnya "negara-kota". Untuk mencerminkan makna ini, banyak bahasa menerjemahkan Politeia sebagai Negara (bahasa Inggris: The State), termasuk bahasa Belanda (De staat) dan bahasa Jerman (Der Staat). Konsep politeia dalam bahasa Yunani kuno dianggap sebagai suatu cara hidup. Jadi, pada kenyataannya terjemahan yang lebih tepat mestinya adalah 'bagaimana cara kita hidup sebagai masyarakat' (untuk pemahaman yang lebih baik lihat Politik karya Aristoteles muridnya Plato). Di dalam karya ini, Plato tampaknya menggunakan kata "politeia" secara lebih spesifik dalam pengertian bentuk pemerintahan, setidak-tidaknya menurut Liddell dan Scott dalam kamus mereka Greek-English Lexicon. Dalam perkembangan selanjutnya filsafat plato ini menjadi acuan pokok bagi bangsa Eropa khususnya sampai sekarang dalam mengatur sistem bernegara yang memunculkan teori politik dengan berbagai turunannya. Definisi Politik Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik. Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional . Di samping itu politik juga dapat ditilik dari sudut pandang berbeda, yaitu antara lain: 1 . politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles) 2 . politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara 3 . politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat 4 . politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik. Dalam konteks memahami politik perlu dipahami beberapa kunci, antara lain: kekuasaan politik, legitimasi, sistem politik, perilaku politik, partisipasi politik, proses politik, dan juga tidak kalah pentingnya untuk mengetahui seluk beluk tentang partai politik. Teori politik Teori politik merupakan kajian mengenai konsep penentuan tujuan politik, bagaimana mencapai tujuan tersebut serta segala konsekuensinya . Bahasan dalam Teori Politik antara lain adalah filsafat politik, konsep tentang sistem politik, negara, masyarakat, kedaulatan, kekuasaan, legitimasi, lembaga negara, perubahan sosial, pembangunan politik, perbandingan politik, dan seterusnya. Terdapat banyak sekali sistem politik yang dikembangkan oleh negara negara di dunia antara lain: anarkisme, autoritarian, demokrasi, diktatorisme, fasisme, federalisme, feminisme, fundamentalisme keagamaan, globalisme, imperialisme, kapitalisme, komunisme, liberalisme, libertarianisme, marxisme, meritokrasi, monarki, nasionalisme, rasisme, sosialisme, theokrasi, totaliterisme, oligarki dan sebagainya. Tokoh Pemikir Politik Tokoh tokoh pemikir Ilmu Politik dari kalangan teoris klasik, modern maupun kontempoter antara lain adalah: Socrates, Plato, Aristoteles, Adam Smith, Cicero, Friedrich Engels, Immanuel Kant, John Locke, Karl Marx, Lenin, Martin Luther, Max Weber, Nicolo Machiavelli, Rousseau, Samuel P Huntington, Thomas Hobbes, Antonio Gramsci, Harold Crouch, Douglas E Ramage. Dari Indonesia beberapa tokoh pemikir dan penulis materi Ilmu Politik dan Hubungan Internasional antara lain: Miriam Budiharjo, Salim Said dan Ramlan Surbakti. (Sumber : wikipedia) Perbedaan Buah Pikiran Manusia dan Wahyu Allah Dari keterangan di atas tampak bahwa pemunculan politik adalah dari hasil ‘ budidaya’ logika dan nafsu manusia. Dimana filsafat politik ini dikeluarkan oleh orang-orang kafir dari bangsa Eropa. Mereka bukanlah ulama, bukan pula Nabi dan Rosul yang wajib diikuti. Politik bukanlah bagian wahyu Allah. Sedangkan siyasah berakar kata sâsa – yasûsu, asalnya makna siyasah tersebut diterapkan pada pengurusan dan pelatihan gembalaan. Lalu, kata tersebut digunakan dalam pengaturan urusan- urusan manusia; dan pelaku pengurusan urusan-urusan manusia. Rasulullah SAW sendiri menggunakan kata siyasah dalam sabdanya : "Adalah Bani Israil, mereka diurusi urusannya oleh para nabi ( tasusuhumul anbiya ). Ketika seorang nabi wafat, nabi yang lain datang menggantinya. Tidak ada nabi setelahku, namun akan ada banyak para khalifah" (HR. Bukhari dan Muslim). Namun sekali lagi, siyasah yang diterapkan para Nabi sejak dahulu pada Bani Israil sampai umat Muhammad tidak menggunakan logika dan nafsu atas semua ucapan dan tindakannya, namun atas dasar wahyu. وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣)إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ “dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al- Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan ( kepadanya)”. (An Najm ayat 3 dan 4) Berbeda dengan politik hanya berhak diikuti oleh orang-orang kafir bukan oleh hamba Allah yang beriman, karena dari tujuannya adalah bagaimana meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional dengan segala konsekuensinya. Mungkin dengan revolusi, kudeta berdarah atau halus, demonstrasi dan seterusnya. Apakah Allah membenarkan cara yang demikian? Apakah Muhammad Rosulullah seorang pengikut ahli filsafat politik juga? Tentu bukan jawabannya. Rosul kita dan para sahabatnya hidup setelah zamannya Plato, dimana pada masa beliau SAW sudah ada dua kekuatan negara adidaya yang berlandaskan filsafat politik yaitu Persia dan Romawi. Namun sama sekali rosulullah dan sahabatnya tidak memulai dan mengakhiri langkah dakwah penyebaran Islam dengan mengambil filsafat teori kekuasaan tersebut. Beliau dicetak (sibqhoh) dengan Al Quran bukan dengan logika dan nafsu. Nabi berbuat, berucap dengan dengan menunggu perintah wahyu meskipun dalam keaadaan yang sangat sulit. Niat dan cara yang ditempuhnya benar, maka tidaklah cukup niat yang benar dengan mengabaikan cara yang benar. Karena hal ini tidak akan mencapai tujuan dan ridho Allah serta pasti dikalahkan oleh orang- orang yang secara total menghalalkan segala cara. Beliau SAW bahkan pernah ditawarkan Kekuasaan dan Harta oleh pamannya yang bernama Abu Tholib, tapi ditolaknya seraya mengatakan “Demi Allah wahai pamanku, sekiranya ada yang mampu memberikan matahari dan bulan di kedua tanganku agar aku berhenti dari perintah Islam ini, niscaya aku tolak, hingga Allah menjayakan Isam ini atau aku binasa dalam perjuangan ini”. Tentu orang yang berfikiran politik akan menjawab sebaliknya “terima dan kuasai masyarakat  baru diajak kepada Islam”. Rosulullah Muhammad bukanlah politikus bukan pula negarawan. Bukti nyata yang dapat dilihat siapa saja bahwa ternyata teori menguasai jabatan kekuasan atau parlemen demi ‘ mewarnai’ ummat ternyata gagal total. Para tokoh Islam yang berhasil duduk di posisi-posisi penting dalam pemerintahan melalui pola demokrasi jahiliyah malah bungkam seribu bahasa, bahkan ikut terwarnai pola jahiliyah. Meskipun sebelum berkuasa mampu bersuara lantang dan menjual ‘madu’ di mulutnya, dengan jargon-jargon “jika umat Islam tidak berpolitik maka akan menjadi korban politik”. Manhaj, jalan atau metode operasional politik tentu berbeda dengan manhaj yang dituntunkan Al Quran. Inilah dua jalan berbeda yang disinyalir dalam Al Quran, antara lain: أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَؤُلاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلا (٥١) “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang- orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.” (An Nisa ayat 51). Jalan politik identik dengan pengertian jibti dan thoghut. Jibti berarti sesat dan thoghut artinya yang menghalalkan segala cara. Suatu jalan yang dibangun oleh orang yang mengingkari kitabullah Taurat yang di bawa Nabi Musa as., karena Plato sebagai pencetus ideologi politik hidup setelah masa perutusan Musa dan pada empat abad sebelum perutusan Nabi Isa as. Sedangkan Bani Israil yang telah dibagi Musa as., menjadi duabelas kabilah besar telah menyebar hingga ke Benua Eropa. Dengan pengingkaran Kitabullah inilah maka mereka disebut Ahli Kitab, karena mereka memahami tapi sengaja berpaling darinya. وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٥٣) “dan bahwa (Al Quran ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. ” (Al An’am ayat 153). Siapa saja yang menempuh jalan hidup bukan dari Al Quran, tapi secara sadar atau tidak, sengaja atau tidak sengaja mengambil jalan dari produk fikiran dan nafsu manusia seperti filsafat politik, maka berarti telah bernabi kepada Plato, bukan kepada Muhammad Rosulullah. Sedangkan manhaj yang dibangun Rosulullah Muhammad mutlak mengikuti wahyu, bukan logika dan nafsu. Meskipun ideologi politik sudah menyebar luas kala itu sampai ke Jazirah Arabiya dengan adanya Kekaisaran Parsi dan Romawi Timur di Negeri Syam. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (٥١)فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ (٥٢) “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin- pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang- orang yang zalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami takut akan mendapat bencana". Mudah- mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka”. (Al maidah 51-52). Sesungguhnya sudah sama difahami bahwa Islam adalah milik Allah yang bersih, lengkap, dan sempurna. Jika seorang muslim sungguh-sungguh untuk menggali dalam Al Quran dan sunah rosulNya tentu ada sistem atau manhaj tersendiri dalam mendakwahkan dan membangun Islam ini. Dalam Addinul Islam tidak ada politik, tidak ada politik ‘ala Islam. Namun yang ada siyasah yang dituntunkan secara spesifik dan tidak akan pernah sama dengan politik. Meskipun siyasah sering diterjemahkan secara serampangan dengan politik. Namun ada sifat antagonistik antara keduanya. Politik terbukti selamanya tidak mampu membangun keadilan yang beradab dan kesejahteraan, malah sebaliknya kebiadaban dan kesengsaraan akibat perpecahan dan permusuhan yang hebat. Sedangkan siyasah yang dituntunkan para rosul murni sebagai jalan yang diwahyukan Allah yang pasti mampu membangun keadilan dan kesejahteraan hakiki bagi seluruh manusia termasuk orang-orang kafir sekalipun. Dalil-Dalil Penunjang : أ َلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ (٣) “ Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah Addin yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar”. (Surah Azzumar ayat 3). ا لْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا “ pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku- cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu” (Al Maidah ayat 3). و َلا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ ( d an janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (Al Baqarah ayat 42)   م َا لَمْ تَحْكَم أ َئِمَّتُهَمْ بِكِتَابِ اللهِ وَيَتَغَيَّرَوا مَا أَنْزَ لَ اللهُ اِلاَّ جَعَلَ اللهُ بَأ ْسُهَمْ بَيْنَهُمْ ر واه ابو داود و اين ماجه عن عبد الله بن عمر “Barangsiapa yang tidak berhukum kepada ketetapan Kitabullah, dan mengada-adakan selain yang diturunkan Allah, niscaya diantara mereka diadakan Allah permusuhan yang hebat (HR.Abu Dawud, Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar)   أ َفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا (٨٢)   “Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”. (An Nisa ayat 82) Wallahu’alam bi showab.


/@cwi

selengkapnya...

Gabung bersama kami

About Me

admin jg menerima pelayanan jasa

admin jg menerima pelayanan jasa
Jasa arsitek rumah; desain arsitek / desain rumah, gambar denah rumah, bangun rumah baru, renovasi rumah dan pembangunan mesjid, mushola, ruko, disaign taman, dll. klik gambar utk kontak personal.

Syiar Islam On Twitter

Site info

Kalkulator Zakat Fitrah

  © Syiar islam Intisari Muslim by Dede Suhaya (@putra_f4jar) 2015

Back to TOP  

Share |