Jauhi Kekerasan Dalam Rumah Tangga!

Penyebab kekerasan dalam rumah tangga, yaitu sikap nusyuz suami atau istri. Kemudian dikemukakan pula dua upaya pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, yaitu agar suami sebagai qawwam mampu melihat sisi baik pasangan, menasihati dan memperingatkan nusyuz istri dengan penuh kasih sayang. Upaya pencegahan kekerasan dalam rumah tangga lainnya adalah sebagai berikut.

Beri Kewajiban Nafkah Terbaik
Tak jarang kekerasan menjelma dalam bentuk tekanan secara ekonomi, maksudnya istri sulit memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga karena jumlah penghasilan suami (tetap atau tidak tetap) tidak pernah utuh sampai di tangan keluarga.
Suami sama sekali tidak pernah mengajak istri memanage keuangan, banyak pengeluaran di belakang istri, kikir kepada istri, boros di luar sepengetahuan istri, atau berfoya-foya di luar istri.



Harus diakui bahwa kewajiban nafkah memang berasal dari suami, ?Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya. (Q.S. An-Nisa 2: 34), namun ini harus dicatat bahwa suami tidak serta-merta dapat semena-mena menjatah istri.

Seyogianya, suami yang bertakwa justu selalu berusaha mencukupi sekuat tenaga ekonomi keluarga, meliputi istri dan anak. Berusaha mencukupi pemberian sandang, pangan, dan papan yang terbaik yang dia mampu usahakan. Jangan sampai tega menyalurkan dana tanpa ada musyawarah, suka-suka sendiri mengatur keuangan, dengan maksud kikir, hitungan pada istri sendiri.

Ada contoh istri kesulitan untuk membiayai rumah tangganya disebabkan suami tidak transparan alias kikir pada keluarga yang menjadi tanggungannya. Aisyah berkata bahwa Hindun bintu Utbah pernah bertanya, ?Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah orang kikir, ia tidak mau memberi nafkah kepadaku dan anakku sehingga aku mengambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya.? Rasulullah bersabda, ?Ambillah apa yang mencukupi bagimu dan anakmu dengan cara yang baik.? (H.R. Bukhari dan Muslim). Digambarkan bahwa istri sampai terpaksa mengambil sendiri tanpa sepengetahuan suami, masih dapat dibolehkan Rasulullah saw., untuk mengatasi sekadar yang diperlukan.

Keterangan dalam dua hadis lain menegaskan bahwa istri merupakan amanat di hadapan Allah swt., amanat memberi makan dan pakaian yang terbaik. Dari Umar bin al-Ahwash al- Jasyimi r.a., sesungguhnya ia mendengar Rasulullah saw. bersabda, ?Bertakwalah kalian kepada Allah tentang istri karena kalian mengambil mereka dengan amanat Allah dan kalian halal bergaul dengan mereka dengan kalimat Allah dan kewajiban kalian kepada mereka adalah memberi makan dan pakaian dengan cara yang baik.? (H.R. Ibnu Majah)

Selanjutnya, dari Hakim bin Mu?awiyah dari bapaknya r.a. berkata kepada Rasulullah saw., ?Apakah kewajiban suami kepada istrinya?? Ia menjawab, ?Memberinya makan jika engkau makan, memberinya pakaian jika engkau berpakaian, dan janganlah memukul wajah, jangan menjelek-jelekkannya dan janganlah meninggalkannya (di waktu marah) kecuali masih dalam rumah.? (H.R. Ahmad)

Berkomunikasi
Setelah menikah, kecenderungan berkomunikasi straight to the point (langsung) tak jarang yang berbentuk kalimat perintah, berita, atau sekadar basa basi. Ini merupakan atmosfer tidak sehat yang mengarah pada kekerasan verbal dan nonverbal. Kekerasan verbal misal mengumbar kata cerai, memaki pasangan, mengeluarkan kata-kata yang menyakiti pasangan, atau kata-kata ancaman. Kekerasan nonverbal misalnya bahasa tubuh menjauh, memusuhi pasangan, dingin tidak melayani pasangan (kekerasan seksual), ringan tangan, jarang pulang, acuh, cuek, dan diam seribu bahasa. Seiring hati dan pikiran tidak tertuju pada pasangan, tidak diisi dengan rasa kangen, tidak cemburu (dayuts), masa bodoh, seperlunya, dan akhirnya nafsi-nafsi (masing-masing) seperti dua orang asing yang saling menjaga area agar tidak diintervensi. Padahal, seharusnya istri dan suami ibarat ladang yang saling menutupi kelebihan dan kekurangan masing-masing. (lihat Q.S. Al Baqarah 2: 223).

Wujud komunikasi yang terbaik secara nonverbal misalnya ungkapan belaian cinta-kasih sayang, penuh perhatian, sikap lembut, yang dibumbui dengan kata-kata verbal langsung penuh keikhlasan, berupa panggilan mesra, tatapan penuh gelora yang menembus dada, dan kata-kata rayuan sanjungan pada pasangan yang bisa membuat hati melayang,
sebagai pupuk rasa mawaddah (cinta pasca nikah) dan rahmah (kasih sayang).

Jangan heran jika banyak rumah tangga yang terasa hambar karena jarang, irit, dan pelit mengungakapkan rasa suka dan duka, ketakutan, harapan, dan cita-cita. Padahal, pasangan adalah orang yang semestinya paling awal menetahui msalah yang dihadapi pasangannya, bukan orang lain. Walaupun begitu, sikap overprotektif dan introvert tidak akan membawa manfaat dalam rumah tangga karena ada sisi ketidakpercayaaan pada pasangan atau masih ada dusta dan sisi gelap yang tidak ingin diketahui pasangan.

Komunikasi yang sehat dibangun berlandaskan kejujuran: tak ada dusta, tak ada pengkhianatan, mengingatkan sebatas amar ma?ruf nahyi mungkar. Selebihnya, tawakal dan menyerahkan semua pada Allah swt. sebagai penggenggam hati makhluk-Nya.
Dari Aisyah r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, ?Yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada istrinya, dan aku orang yang paling baik kepada istri-istriku.? (H.R. Ibnu Majah). Terbukti, Rasulullah saw. amat hafal bahasa tubuh pasangannya, memanjakan dengan pangilan mesra, membantu pekerjaan pasangan, transparan dengan siapa beliau berkawan, selalu ingin didampingi istri, mengajak serta mengayuh biduk rumah tangga, ibadah, dan dakwah.

Akhirnya marilah kita renungkan keterangan Rasulullah saw. yang mengingatkan pada pria (suami) bahwa wanita (istri) diperlakukan dengan lembut, ? Berwasiatlah kepada wanita dengan baik karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atasnya. Jika engkau paksa meluruskannya pasti engkau akan mematahkannya, tapi jika engkau membiarkannya tentu akan tetap bengkok, berwasiatlah kepada wanita dengan baik.? (H.R. Bukhari) Wallahu a?lam

/@cwi

selengkapnya...

Di mana Tembok Zulkarnain?

Wahai Zulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj merusak di bumi. Maka tolong engkau buatkan tembok pembatas antara kami dan mereka


Mereka berkata, ‘Wahai Zulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj merusak di bumi. Maka tolong engkau buatkan tembok pembatas antara kami dan mereka.’” (Q.S. Al Kahfi 18: 94)

Sekitar 50 km di utara Beijing, ada sebuah desa di kaki bukit bernama Badaling. Dari sinilah para turis memasuki pintu gerbang menuju Tembok Besar Cina (The Great Wall). Pemandangan dari atas tembok sangat indah. Tembok sepanjang 6000 km itu konon bisa terlihat dari bulan. Banyak orang menyangka itulah tembok yang dibuat oleh Zulkarnain dalam surat Al Kahfi.
Dan yang disebut Ya’juj dan Ma’juj adalah bangsa Mongol dari Utara yang merusak dan menghancurkan negeri-negeri yang mereka taklukkan. Mari kita cermati kelanjutan surat Al Kahfi ayat 95-98 tentang itu.



Zulkarnain memenuhi permintaan penduduk setempat untuk membuatkan tembok pembatas. Dia meminta bijih besi dicurahkan ke lembah antara dua bukit. Lalu minta api dinyalakan sampai besi mencair. Maka jadilah tembok logam yang licin tidak bisa dipanjat.

Ada tiga hal yang berbeda antara Tembok Cina dan Tembok Zulkarnain. Pertama, tembok Cina terbuat dari batu-batu besar yang disusun, bukan dari besi. Kedua, tembok itu dibangun bertahap selama ratusan tahun oleh raja-raja Dinasti Han, Ming, dst. Sambung-menyambung. Ketiga, dalam Al Kahfi ayat 86, ketika bertemu dengan suatu kaum di Barat, Allah berfirman, “Wahai Zulkarnain, terserah padamu apakah akan engkau siksa kaum itu atau engkau berikan kebaikan pada mereka.” Artinya, Zulkarnain mendapat wahyu langsung dari Tuhan, sedangkan raja-raja Cina itu tidak. Maka jelaslah bahwa tembok Cina bukan yang dimaksud dalam surat Al Kahfi. Jadi di manakan tembok Zulkarnain?

Abdullah Yusuf Ali dalam tafsir The Holy Qur’an menulis bahwa di distrik Hissar, Uzbekistan, 240 km di sebelah tenggara Bukhara, ada celah sempit di antara gunung-gunung batu. Letaknya di jalur utama antara Turkestan ke India dengan ordinat 38oN dan 67oE. Tempat itu kini bernama buzghol-khana dalam bahasa Turki, tetapi dulu nama Arabnya adalah bab al hadid. Orang Persia menyebutnya dar-i-ahani. Orang Cina menamakannya tie-men-kuan. Semuanya bermakna pintu gerbang besi.

Sekarang sudah tidak ada dinding besi di sana, tetapi Hiouen Tsiang, seorang pengembara Cina pernah melewati pintu berlapis besi itu dalam perjalanannya ke India di abad ke-7. Tidak jauh dari sana ada danau yang dinamakan Iskandar Kul. Di tahun 842 Khalifah Bani Abbasiyah, al-Watsiq, mengutus sebuah tim ekspedisi ke gerbang besi tadi. Mereka masih mendapati gerbang di antara gunung selebar 137 m dengan kolom besar di kiri kanan terbuat dari balok-balok besi yang dicor dengan cairan tembaga, tempat bergantung daun pintu raksasa. Persis seperti bunyi surat Al Kahfi. Pada Perang Dunia II, konon Winston Churchill, pemimpin Inggris, mengenali gerbang besi itu. Subhanallah.

Bagaimanapun ini masih berupa spekulasi yang perlu diteliti lebih mendalam. Para arkeolog muslim harus terus mencari lagi tembok itu di berbagai tempat lain berdasarkan artefak-artefak dan dongeng rakyat di pelosok dunia yang mirip-mirip uraian Allah dalam surat Al Kahfi tadi. Jangan cepat-cepat berkata bahwa Kisah Zulkarnain di surat Al Kahfi hanyalah tamsil ibarat yang tidak perlu ada kenyataannya. Bahwa ayat Al Quran cukup untuk dibaca dan diimani saja. Wah, bukankah pendapat semacam ini sangat gegabah, menganggap Allah hanya mendongeng? Astaghfirullah. Kita harus yakin bahwa setiap kisah dalam Al Quran adalah benar. Dan kita ditantang untuk membuktikannya dalam rangka memuliakan agama Allah. Wallahu a’lam.


/@cwi

selengkapnya...

Keutamaan - Keutamaan Shalat

Ucapan yang tidak selaras dengan apa yang terkandung di dalam sanubari ibarat igauan


Salat adalah sendi agama dan pangkal ketaatan. Di antara adabnya adalah khusu. Telah diriwayatkan dari Utsman bin Affan r.a., dari Nabi saw., beliau bersabda, "Tidaklah tiba waktu salat fardu kepada seseorang, lalu dia membaguskan wudunya, khusunya, dan rukuknya, melainkan salat itu menjadi penebus dosa-dosanya yang telah lampau, selagi dia tidak mengerjakan dosa besar, dan yang demikian itu berlaku seterusnya." "Barang siapa salat dua rakaat dan dia tidak berhadas selama mengerjakannya, maka dosanya yang telah lampau diampuni ." (HR Bukhari dan Muslim).

Ketika Abdullah bin az-Zubair sudah mendirikan salat seakan-akan seperti batang pohon karena kekhusuannya. Saat dia sujud tidak terusik meskipun ada beberapa ekor burung yang hinggap di punggungnya. Yang bisa mgnusiknya ialah jika dia ditimpa runtuhan dinding. Suatu hari dia salat di dekat Al-Hijir. Tidak lama kemudian Qudzaifah datang ke tempat itu dan mengambil sebagian kainnya. Tetapi, sepertinya Abdullah bin Zubair tidak mengetahuinya. Maimun bin Mahran berkata, "Sekali pun aku belum pernah meihat Muslim bin Yasar menoleh saat mendirikan salat. Suatu kali sebagian bangunan masjid ada yang roboh, sehingga orang-orang yang berada di pasar menjadi kaget karenanya.

Sementara, saat itu pula Muslim bin Yasar berada di dalam masjid mendirikan salat. Tetapi, dia sama sekali tidak menoleh. Tetapi, jika dia hendak mendirikan salat, mereka berbicara dan tertawa." Jika sedang wudu, rupa Ali bin al-Hasan berubah menjadi kekuning-kuningan. Ketika ada yang bertanya, "Mengapa hal ini menjadi kebiasaan yang terjadi pada dirimu saat engkau wudu?" Dia menjawab, "Tahukah kalian, di hadapan siapakah aku hendak mendirikan salat?" Ketahuilah bahwa salat itu mempunyai rukun yang wajib dan yang sunah. Sedangkan rohnya adalah niat, ikhlas, khusu, dan keterlibatan hati.

Salat itu meliputi zikir, munajat, dan perbuatan. Tanpa melibatkan hati, tidak ada yang bisa dicapai dari zikir danmunajat. Sebab, ucapan yang tidak selaras dengan apa yang terkandung di dalam sanubari kedudukannya sama dengan igauan. Perbuatan pun tidak menghasilkan apa-apa. Sebab, jika tujuan dari berdiri adalah pengabdian, tujuan dari rukuk dan sujud adalah ketundukan dan pengagungan, sementara perbuatan ini sama sekali tidak diiringi dengan kehadiran hati, maka tujuan itu pun tidak tercapai.

Sebab, jika perbuatankeluar dari maksudnya, ia tinggal gambar yang tidak ada maknanya. Allah SWT berfirman, "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat mencapai-Nya." (Al-Hajj: 37). Maksudnya, yang sampai kepada Allah adalah sifat yang menguasai hati, yang mendorong untuk mengikuti perintah yang diwajibkan. Jadi, harus ada keterlibatan hati dalam salat sekalipun Allah memberi kelonggaran saat tiba-tiba lalai. Sebab, kehadiran hati pada saat permulaannya akan merembet ke saat-saat lain sesudahnya.

Makna-makna yang bisa mendukung kehidupan salat banyak macamnya. Di antaranya sebagai berikut.

Pertama, kehadiran hati seperti yang disebutkan di atas.
Maknanya, mengosongkan hati dari hal-hal yang bisa mengusiknya. Pendukungnya adalah hasrat. Jika muncul hasrat yang hendak mengusik hatimu, tidak ada jalan lain kecuali mengembalikan hasrat ini kepada salat. Pengalihan hasrat seperti ini bisa menguat dan bisa melemah, bergantung pada kekuatan iman terhadap akhirat danpelecehan terhadap dunia. Jika engkau merasa bahwa hatimu tidak hadir dalam salat, ketahuilah bahwa sebabnya adalah iman yang lemah. Karena itu, berusahalah untuk menguatkan iman itu.

Kedua, memahami makna-makna ucapan.
Ini termasuk pendukung di belakang kehadiran hati. Bisa saja hati benar-benar hadir mengiringi setiap ucapan tetapi tanpa makna.maka, pikiran harus dokonsentrasikan untuk memahami maknanya dengan menyingkirkan lintasan-lintasan pikiran dan memotong objeknya. Sebab, jika objeknya tidak segera dipotong,lintasan pikiran pun tidak akan pergi. Objek di sini bisa dahir bisa batin. Yang dahir adalah yang bisa mengganggu pendengaran danpenglihatan. Adapun yang batin lebih berat, seperti orang yang disibukkan oleh berbagai macam hasrat dan yang pikirannya mengelana ke seluruh penjuru dunia. Sebab, pikirannya tidak terbatas pada satu masalah saja dan tidak bisa dienyahkan dengan menundukkan pandangan mata.

Apa pun yang melintas di dalam hati sudah cukup untuk menyibukkannya. Jalan keluarnya, jika objek itu berupa objek yang dahir, potonglah apa pun yang bisa mengganggu penglihatan dan pendengaran, yaitu mantap menghadap ke arah kilat,memandang kearah tempat sujud, jangan memilih tempat salat yang di situ ada gambar-gambarnya, tidak membiarkan apa yang bisa mengganggu pancainderanya ada didekatnya. Tatkala Nabi saw. salat di suatu tempat yang ada bendera, beliau mencabutnya sambil bersabda, "Itulah yang tadi membuatku lalai dalam salat." (HR Bukhari dan Muslim).

Jika objeknya termasuk objek yang batin, jalan keluarnya ialah denganmemaksa hati dan jiwa untuk menyimak apa yang sedang dibaca dalam salat dan mengenyahkan hal-hal selainnya. Cara ini bisa dipersiapkan sejak sebelum memulai salat dengan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya,berusaha mengosongkan hati,memperbarui jiwa untuk mengingat akhirat dan urgensi berdiri di hadapan Allah. Jika pikiran masih belum bisa tenang juga, hendaklah dia menyadari bahwa pikirannya memang masih dikuasai hal-hal yang menarik minatnya dan keinginannya.

Karena itu, hendaklah dia seger memotong semua keinginan dan bisikan nafsunya itu. Ketahuilah bahwa bila suatu penyakit sudah akut, tidak ada yang bisa menyembuhkannya, kecuali obat dengan dosis tinggi. Jika penyakit gangguan salat semakin kuat, ia akanmenarik orang yang sedang salat, dan orang yang salat menariknya, hingga salat itu berakhir dalam dalam medan yang tarik-menarik. Perumpamaan dirinya seperti seseorang yang pergi ke tempat terpencil lalu berteduh di bawah sebuah pohon, karena dia hendak menenangkan pikirannya di sana. Suara kicau burung yang bertengger di ataspohon itu tentu saja mengganggu ketenangannya. Sepotong dahan dia lemparkan ke arah burung itu agar terbang. Burung-burung itu pun terbang menyingkir. Tetapi, selagi pikirannya belum kembali tenang, burung-burung itu kembali lagi bertengger di atas pohon dan ramai berkicau. Begitu seterusnya yang dia lakukan dengan burung-burung itu. Lalu, ada seseorang yang memberi tahu dia, "Ini adalah sesuatu yang tidak ada habis-habisnya. Jika engkau ingin cara yang tuntas, tebanglah pohon itu!" Begitu pula pohon-pohon hawa nafsu. Selagi pohon ini tumbuh menjadi tinggi dan bercabang-cabang dahannya, ia akan menarik pikiran, seperti burung yang tertarik untuk hinggap di pohon danlalat yang tertarik untuk hinggap di kotoran.

Maka, umur pun habis untuk mengusir sesuatu yang tidakakan bisa diusir. Sebab, tumbuhnya hawa nafsu dan syahwat ini, yang kemudian enguasai pikiran, adalah cinta kepad dunia. Amir bin Abdi Qais pernah ditanya,"Pernahkah engkau membisiki hatimu dengan sesuatu dari urusandunia selagi di dalam salat?" Dia menjawab, "Lebih baik engkau meninggalkan mata tombak di punggungku daripada aku berbuat seperti itu."

Memang memutus kecintan kepada dunia dari hati bukan perkara yang gampang, danmengenyahkannya sama sekali adalah perbuatan yang sangat berat lagi sulit. Tetapi, sebisa mungkin hal ini harus diusahakan. Sesungguhnya Allah Maha Pemberi taufik dan Maha Penolong.

Ketiga, mengagungkan Allah dan takut kepada-Nya.
Hal ini bisa menghasilkan dua hal: pertama, mengetahui keagungan Allah dan kebesaran-Nya. Kedua, mengetahui kehinaan dirinya dan kedudukannya sebagai hamba. Hal ini akan menghasilkan dua makrifat: ketenangan dan khusu. Yang juga bisa menambah rasa takut ialah berharap. Berapa banyak orang yang mengagung-agungkan seorang raja, yang amat takut terhadap murkanya, sebagaimana dia sangat mengharapkan kebaikan hatinya.

Jadi, orang yang mendirikan salat harus mengharapkan pahala dari Allah, sebagaimana dia takut azab-Nya jika dia meremehkan salatnya. Orang yang hendak mendirikan salat harus menghadirkan hatinya dalam segala sesuatu yang berkait dengan salatnya. Saat mendengar azan hendaklah dia menggambarkan bhwitu adalah seruan datangnya kiamat, lalu dia buru-buru memenuhi seruan itu. Hendaklah dia memperhatikan apa yang dia penuhi dari seruan itu dan dengan badan yang bagaimana dia hendak datang. Jika dia menutup auratnya, hendaklah dia tahu bahwa sebenarnya dengan tindakannya itu dia hendak menutupi aib badannya dari pandangan orang lain.

Maka, hendaklah dia mengingat aib baatinnya dankeburukan-keburukan yang dia sembunyikan, yang tidak diketahui kecuali Allah semata. Padahal, tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari penglihatan-Nya. Hal ini harus membuatnya merasa menyesal, malu, dan takut. Jika dia sudah menghadap kiblat berarti telah mengalihkan wjahnya dari berbagai arah ke satu arah, yaitu baitullah.

Jika dia mengarahkan hatinya kepada Allah, hal itu jauh lebih layak baginya. Sebagaimana wajahnya yang tidak bisa dikatakan mengarah ke baitulah, kecuali dengan meninggalkaan arah-arah yang lain, maka hatinya pun tidak bisa dikatakan mengarah kepada Allah, kecuali dengan meninggalkan hal-hal selain Allah. Jika engkau sudah bertakbir, janganlah hatimu mendustakan lidahmu. Sebab, jika ternyata di dalam hatimu masih ada sesuatu yang lebi besar dari Allah, berarti engkau telah berbuat dusta.

Maka, waspadalah jika sekiranya hawa nafsumu lebih besar dalam pandanganmu, dengan bukti engkau lebih mementingkannya daripada taat kepada Allah. Jika engkau sedang taawud, ketahuilah bahwa taawud adalah kembali kepada Allah. Jika engkau tidak kembali dengan hatimu, ucapanmu berarti hanya sekadar main-main. Pahamilah makna yang engkau baca.

Kami telah meriwayatkan dari Zararah bin Abu Aufa r.a. bahwa dia pernah membaca dalam salatnya,"Apabila ditiup sangkakala," maka seketika itu dia jatuh dalam keadaan meninggal duia. Rasakanlah tawadu saat engkau rukuk, rasakanlah kehinaan saat engkau sujud, karena engkau meletakkan jiwa pada tempatnya dan mengembalikan cabang ke pokoknya, dengan cara bersujud ke tanah, yang darinya engkau diciptakan. Dengan cara ini engkau bisa memahami makna zikir dengan sepenuh perasaan.

Ketahuilah bahwa mendirikan salat dengan memenuhi syarat-syarat batiniah seperti ini bisa membersihkan hati dari noda-noda karat dan mendatangkan cahaya di dalamnya, hingga dengan cara ini keagungan yang disembah bisa tampak dan rahasia-rahasianya bisa dilihat, yang mungkin tidak bisa dinalar, kecuali oleh orang-orang yang berilmu.

Sumber :
Mukhtashar Minhaajil Qaashidiin, Al-Imam asy-Syekh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisy


/@cwi

selengkapnya...

Gabung bersama kami

About Me

admin jg menerima pelayanan jasa

admin jg menerima pelayanan jasa
Jasa arsitek rumah; desain arsitek / desain rumah, gambar denah rumah, bangun rumah baru, renovasi rumah dan pembangunan mesjid, mushola, ruko, disaign taman, dll. klik gambar utk kontak personal.

Syiar Islam On Twitter

Site info

Kalkulator Zakat Fitrah

  © Syiar islam Intisari Muslim by Dede Suhaya (@putra_f4jar) 2015

Back to TOP  

Share |