Ada Apa Di Antara Kepemimpinan Umar dan Ustman?

Abu Bakar Siddiq ra menjadi khalifah meneruskan apa yang telah dibangun Rasulullah saw. Walau telah muncul riak-riak dari mereka kaum munafik seperti enggan membayar zakat, tapi Abu Bakar tetap tegas dalam segala urusannya. Di samping itu, Abu Bakar mempunyai seorang Umar bin Khattab yang sanggup menjadi penyelesai kerikil-kerikil dalam dakwah Islam ketika itu.

bin Khattab menjadi satu-satunya kandidat yang paling memenuhi syarat di antara yangKetika Abu Bakar mangkat, tak banyak pula debat kusir siapa harus menggantikannya. Umar lainnya. Namun ketika mencari pengganti Umar bin Khattab, umat mulai terbelah dengan keraguan yang begitu tinggi: Siapa di antara Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Saad bin Malik, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan Thalhah bin Ubaidillah? Ini berdasarkan dari perkataan Rasulullah sebelum wafat, “Hai umatku, Abu Bakar sedikitpun tak pernah mengecewakanku, maka ketahuilah haknya itu. Hai umatku, aku ridho kepada Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Ustman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Saad bin Malik, Abdurrahman bin Auf, serta Muhajirin yang mula pertama, maka ketahuilah hak mereka itu.” Abu Bakar dan Umar wafat, maka hanya tertinggal enam orang tersebut.

August 18th, 2009 Goto comments Leave a comment Tak ada perdebatan panjang ketika
Abdurrahman buru-buru mengundurkan diri dengan menyatakan, “Hendaknya aku hanya ingin memilih saja, bukan dipilih.” Ia pun mendatangi rakyat untuk mengumpulkan opini dan kecenderungan rakyat. Di sinilah mulai terkuak sesuatu yang kelak menjadi pengulangan sejarah beradab-abad kemudian bahkan sampai kini. Di antara keenam orang itu, jelas Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib menjadi yang paling diutamakan—ini karena kelebihan-kelebihan mereka tentu saja. Tapi siapa: Ustman ataukah Ali?

Umat akhirnya memilih Ustman.
Seperti kita ketahui, Umar bin Khattab memimpin dengan ketat. Ia tak akan segan menyeret gubernurnya yang hidup mewah, bahkan memecatnya. Cara yang ditempuh oleh Umar adalah mengurangi keinginan untuk bersenang-senang, bahkan dalam hal-hal yag terhitung halal. Ini dilakukannya agar tidak terlena pada kenikmatan duniawi—bayangkan, Umar adalah seorang khalifah, dan ia mungkin tinggal menjentikan jari jika menginginkan sesuatu, tapi itu tidak ia lakukan.

Umar memulai dari dirinya sendiri, keluarganya, serta karib kerabatnya. Jika terdengar seorang pembesar yang hidup mewah, dengan segera dipanggilnya ke Madinah, kemudian diperkarakan. Bila di kemudian hari, pembesar itu masih melakukan hidup seperti itu juga, Umar memecatnya. Tujuan Umar jelas, agar umat menemukan pada pribadi pembesar mereka sebuah teladan yang membantu mereka untuk tidak terpikat oleh gelimang harta dan silau dunia.

Beberapa hari setelah diangkat jadi khalifah, Ustman teringat akan sebuah kejadian. Ketika hari yang panas menyengat, Ustman tengah berada dalam rumahnya, memandang keluar jendela dan dilihatnya seseorang yang menyusuri jalan. Ustman berpikir orang itu adalah seorang musafir, maka ia sudah menyiapkan diri untuk memanggilnya jika sudah dekat rumahnya, agar lelaki itu menepi dan berteduh dahulu, dan Ustman akan diberinya pertolongan dari kesusahan yang dialaminya.

Namun alangkah terkejutnya Ustman ketika mendapati lelaki itu adalah Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Umar sempoyongan menghela seekor unta yang berjalan di belakangnya. Matahari jelas telah menyengat Umar sedemikian rupa. Ustman bergegas menghampiri Amirul Mukminin, “Dari mana engkau Amirul Mukminin?”

“Sebagaimana yang kau lihat,” jawab Umar tersenyum, “Ada seekor unta dari hasil zakat yang lepas dan melarikan diri. Hingga aku segera menyusulnya, kemudian membawanya pulang kembali.”

Ustman mengerutkan keningnya, “Bukankah masih ada orang lain selain engkau yang bisa melakukan pekerjaan itu?”

“Tetapi,” tukas Umar lagi, “siapakah yang bersedia menggantikan aku di pengadilan Illahi, kelak?” Ustman meminta Umar untuk beristirahat sejenak menunggu panas matahari mereda. Tapi Umar bin Khattab menolak. “Kembalilah ke tempatmu, hai Ustman…” ujarnya.

Umar melanjutkan perjalanannya, meninggalkan Ustman, “Sungguh, engkau telah menyusahkan orang yang akan menjadi penggantimu, Amirul Mukminin…” gumam Ustman seraya tertunduk. Ustman sadar sepenuhnya, bahwa orang-orang menyokongnya untuk menjadi khalifah—bukannya Ali bin abi Thalib. Itu disebabkan keinginan umat yang ingin bebas dari aturan dan gaya hidup yang diterapkan dan dijalani Umar bin Khattab selama ini. Jika Ali yang menjadi khalifah, maka akan merupakan kelanjutan sistem yang ditempuh Umar, yaitu tegas dan ketat.

Ustman berpendirian bahwa harta itu diciptakan untuk mempermudah dan memperlancar kehidupan. Selama harta itu halal dan diperbolehkan menikmatinya, ia mempersilakan umat untuk memperoleh kebahagian hidup dan kenikmatan dunia—tidak peduli ia pejabat, pembesar , atau rakyat biasa. Bagi Ustman, tidak ada alasan untuk memcat seorang gubernurnya yang hidup mewah dan mereguk kehidupan duniawi, selama ia tidak melakukan dosa dan berbuat salah. Ustman tidak seperti Umar yang menganggap harta kekayaan akan menimbulkan bahaya layaknya minuman keras.

Sejak kepimpinan Ustman, dimulailah kehidupan umat yang bergelimang harta dan sedikit demi sedikit, dan akhirnya sepenuhnya menjadi terbuka pada berbagai kecenderungan harta duniawi selama beratus tahun, dan mungkin sampai kini—mereka berpegang, bahwa Ustman pun, salah satu yang dikasihi oleh Rasulullah saw membolehkan hidup mewah. Namun umat lupa bahwa Ustman, yang membolehkan kehidupan mewah, tidak menjalani hidup mewah, hanya sedikit berkecukupan. Ustman adalah seseorang yang peka terhadap keadaan dan kebutuhan orang lain, mendahulukan kepentingan orang banyak, lemah lembut, dan cerdas. Inilah yang tidak dicontoh dari umat berikutnya; mereka mengambil yang diperbolehkan Ustman bin Affan namun mengabaikan sifat Ustman yang demikian mulia. Mereka membolehkan diri hidup mewah namun sama sekali tidak peka terhadap kesulitan yang diderita umat. Wallohu alam bishawwab. (sa/khalidmuhkhalid/em)



selengkapnya...

Tina Styliandou: Saya Dididik Untuk Membenci Islam

Tina Styliandou, seorang perempuan Yunani yang sejak kecil hidup di lingkungan kelurga yang membenci Islam. Bahkan ia mendapatkan pendidikan yang memdoktrin orang untuk membenci Islam. Tapi hidayah Allah Swt menjauhkan hati Tina dari perasaan benci itu dan Tina malah menjadi seorang Muslim.

Menurut Tina, kebencian terhadap Muslim dalam lingkungan keluarganya berakar dari sejarah masa lalu. Ayah Tina dan keluarganya menghabiskan hampir sebagian besar hidupnya di Istanbul, Turki. Mereka adalah keluarga penganut Kristen Ortodoks, berpendidikan dan kaya. Seperti umumnya penganut Kristen Ortodoks yang tinggal di negeri-negeri Muslim, mereka sangat memegang teguh ajaran agamanya.

Situasinya berubah total ketika pemerintah Turki membuat kebijakan untuk mengusir penduduk Turki asal Yunani dan merampas seluruh harta benda, rumah dan bisnis mereka. Keluarga ayah Tina pun pulang ke Yunani dengan tangan kosong. "Itulah yang dilakukan Muslim Turki terhadap orang-orang Yunani", peristiwa itu tertanam kuat di benak mereka dan menjadi pemicu kebencian terhadap Islam dan Muslim.





Pengalaman serupa yang juga menimbulkan kebencian terhadap Muslim di lingkungan keluarga ibu Tina. Pada masa itu, keluarga ibunya tinggal di sebuah wilayah di Yunani yang berbatasan dengan Turki. Lalu terjadi serangan yang dilakukan oleh pasukan Turki ke wilayah tersebut. Pasukan Turki, menurut cerita ibunya, membakar rumah-rumah warga Yunani dan mereka harus mengungsi untuk menyelamatkan diri. Sejak itulah tumbuh kebencian terhadap Muslim, khususnya Muslim Turki.

Turki memang pernah menduduki Yunani selama hampir 400 tahun. "Dan kami diajarkan untuk percaya bahwa Islam bertanggungjawab atas kejahatan yang dilakukan terhadap orang-orang Yunani. Orang-orang Turki adalah Muslim dan kejahatan mereka dianggap sebagai refleksi dari agama mereka," ujar Tina.

Tak heran, ketika marak karikatur dan penghinaan terhadap Rasulullah Muhammad Saw beberapa waktu lalu, penghinaan dan pelecehan itu menjadi bagian dari mata pelajaran dan ujian di sekolah Tina. "Selama beratus-ratus tahun, buku sejarah dan agama kami mengajarkan untuk membenci dan mengolok-olok agama Islam," ungkap Tina.

Tina mengatakan>,"Dalam buku-buku kami, Islami bukan agama dan Muhammad bukan nabi. Muhammad hanya seorang pemimpin yang sangat cerdas dan seorang politisi yang menggabungkan hukum dan aturan-aturan dalam keyakinan orang Yahudi dan Kristen, kemudian menambahkannya dengan ide-idenya sendiri dan menaklukkan dunia.""Di sekolah, kami diajarkan untuk mengolok-olok Nabi Muhammad, para isteri dan sahabat-sahabatnya," sambung Tina.

Meski demikian, Tina menyatakan bahwa saat ini tidak orang Yunani yang masih mempercayai ajaran semacam itu. "Alhamdulillah, Allah melindungi hati saya. Banyak orang-orang Yunani lainnya yang berhasil melepaskan diri dari kepercayaan yang diwariskan agama Kristen Ortodoks, yang dibebankan pada pundak mereka. Dengan kehendak Allah, mata, hati dan telinga mereka telah terbuka untuk melihat bahwa Islam adalah agama yang benar yang diturunkan oleh Allah. Dan Muhammad adalah seorang Nabi, Nabi terakhir dari seluruh Nabi," papar Tina.

Tina bersyukur karena tidak sulit baginya untuk memeluk Islam, karena kedua orangtua Tina sendiri bukanlah penganut Kristen Ortodoks yang relijius. "Mereka jarang beribadah dan hanya ke gereka jika ada pemakaman atau acara pernikahan," kata Tina.

Ia menambahkan, "Ayah saya jauh dari agamanya, karena ia hampir setiap hari menyaksikan penyelewangan yang dilakukan para pendeta. Bagaimana mereka bisa ceramah soal Tuhan dan ketuhanan, jika pada saat yang sama mereka mencuri uang gereja untuk membeli villa, mobil Mercedes dan melakukan homokseksualitas di kalangan mereka?Ayah saya jadi muak dan memutuskan untuk jadi ateis."

Menurut Tina, dalam kekristenan, menjadi seorang pendeta adalah profesi yang menguntungkan. Para pendeta yang korup memicu anak-anak muda Kristen menjauh dari agama Kristen dan mereka mencari keyakinan yang lain. Termasuk Tina yang kala itu masih remaja.
Menjadi Seorang Muslim

Tina mengaku sejak remaja ia sudah merasa tidak puas dan tidak percaya lagi dengan ajaran Kristen. Tina percaya Tuhan itu ada, ia mencintai Tuhan dan takut pada Tuhan. Tapi ajaran Kristen membuatnya bingung. Tina pun mulai melakukan pencarian, tapi tidak pernah melirik agama Islam. "Mungkin karena latar belakang lingkungan saya yang membenci Islam," tukasnya.

Hidayah itu datang dari seorang lelaki Muslim yang kemudian menikah dengan Tina. Suaminya menjawab semua pertanyaan Tina tentang agama Islam tanpa merendahkan agama yang dipeluk Tina sejak lahir. "Suami saya juga tidak pernah menekan saya atau menyuruh saya pindah agama," aku Tina.Tiga tahun menjalani pernikahan, Tina belajar banyak tentang Islam, membaca Al-Quran dan buku-buku agama. Wawasannya tentang ketuhanan mulai terbuka, bahwa tidak ada konsep trinitas dalam Islam dan bahwa Yesus bukan Tuhan. Muslim meyakini bahwa Tuhan itu satu dan Yesus adalah seorang Nabi. Keyakinan itu yang mendorong Tina mengucapkan dua kalimat syahadat untuk menjadi seorang Muslim.

"Selama bertahun-tahun saya merahasiakan keislaman saya dari orang tua, keluarga dan teman-teman saya. Saya dan suami tinggal di Yunani dan berusaha ibadah sesuai ajaran Islam meski sangat sulit karena dii tempat tinggal saya, tidak ada masjid dan tidak akses untuk belajar Islam. Ia juga tidak pernah menjumpai orang salat atau mengenakan jilbab, " tutur Tina.

Yang ada, kata Tina, hanya sejumlah imigran Muslim yang datang ke Yunani untuk mengembangkan bisnis. Tapi mereka sudah terpengaruh oleh budaya dan gaya hidup Barat dan tidak lagi menjalankan ajaran Islam.

"Saya dan suami melaksanakan salat dan puasa dengan mengandalkan kalender. Kami tidak pernah mendengar adzan di sini dan tidak ada komunitas Muslim yang bisa memberikan dukungan moril pada kami. Lama kelamaan, kami merasakan adanya penurunan dari sisi keimanan. Bisa dibayangkan, saya seorang mualaf tanpa dasar-dasar pengetahuan tentang Islam yang memadai," ujar Tina.

Oleh sebab itu, Tina dan suaminya memutuskan pindah ke salah satu negara Muslim ketika anak perempuannya lahir. "Kami ingin menyelamatkan puteri dan jiwa kami. Kami tidak ingin puteri kami hidup di lingkungan budaya Barat dimana ia harus berjuang untuk mempertahankan identitasnya sebagai Muslim atau bahkan identitasnya itu hilang sama sekali," papar Tina. (ln/readislam


selengkapnya...

Waktu-waktu dan Tempat-tempat Berdoa

Ibnu 'Atha' menjelaskan doa itu mempunyai beberapa rukun (sendi) yang menyebabkan teguh dan kuat berdirinya, mempunyai beberapa sayap yang menyebabkan ia naik ke langit tinggi, mempunyai beberapa sebab yang menyebabkan diterimanya. Maka apabila doa-doa itu dilekatkan di atas rukun-rukun (sendi-sendinya), maka kokoh dan tegaklah berdirinya doa itu. Jika ia mempunyai sayap, maka terbanglah ia ke langit menuju tujuannya dan jika ada sebabnya, maka diterimalah doa itu." Menurut Ibnu 'Atha', rukun-rukun doa itu, ialah: kehadiran hati bila berdoa, serta tunduk menghinakan diri kepada Allah.

Sayap-sayapnya, ialah: berdoa dengan sepenuh kemauan dan keikhlasan yang timbul dan lubuk jiwa dan bertepatan dengan waktunya. Sebab utama doa diterima ialah bershalawat kepada Nabi sebelum berdoa.

Waktu-waktu untuk berdoa, ialah:


1. Pada bulan Ramadhan, terutama pada malam Lailatul Qadar.
2. Pada waktu wukuf di 'Arafah, ketika menunaikan ibadah haji.
3. Ketika turun hujan.
4. Ketika akan memulai shalat dan sesudahnya.
5. Ketika menghadapi barisan musuh dalam medan peperangan.
6. Di tengah malam.
7. Di antara adzan dan iqamat.
8. Ketika I'tidal yang akhir dalam shalat.
9. Ketika sujud dalam shalat.
10. Ketika khatam (tamat) membaca Al-Quran 30 Juz.
11. Sepanjang malam, utama sekali sepertiga yang akhir dan waktu sahur.
12.Sepanjang hari Jumat, karena mengharap berjumpa dengan saat ijabah (saat diperkenankan doa) yang terletak antara terbit fajar hingga terbenam matahari pada hari Jumat itu.
13. Antafa Zhuhur dengan 'Ashar dan antara 'Ashar dengan Maghrib.
14. Pada waktu pengajian (belajar) di suatu majelis.
15. Pada waktu minum air zam-zam
.
Nabi Saw. bersabda:






Artinya: "Tuhan turun ke langit dunia, ketika malam telah tinggal sepertiga yang akhir. Maka berkatalah Tuhan: Siapa-siapa yang mendoa kepada-Ku, maka Aku perkenankan doanya. Siapa yang minta ampun kepada-Ku, maka Aku ampuni dia." (HR. Bukhârî dan Muslim).






Artinya: "Pada waktu malam, sesungguhnya ada suatu saat, dimana jika seseorang Muslim memohon kepada Allah suatu kebajikan dunia dan akhirat ketika itu, niscaya Allah mengabulkannya." (HR. Muslim).



Artinya: "Mendoalah di saat doa itu diperkenankan Tuhan; yatu: di saat berjumpa pasukan-pasukan tentara (bertempur), ketika hendak mendirikan salat dan ketika turun hujan." (HR. Al-Syâfi'i).




Artinya: "Tidak ditolak suatu doa yang dimohonkan antara adzan dan iqamat. (HR. Al-Turmudzî).






Artinya: "Inginkah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dapat menyelamatkan kalian dari musuh-musuh dan memudahkan tezeki bagi kalian? Maka berdoalah kalian kepada Allah diwaktu malam dan diwaktu siang. Karena sesunggunya doa itu adalah senjata orang mukmin."(HR. Abû Ya'lâ).






Artinya: "Ditanyakan orang kepada Rasulullah Saw. Wahai Rasulullah, manakah doa yang paling didengar Allah."? Rasulullah menjawab: "Doa ditengah malam dan doa setelah shalat wajib." (HR. Al-Turmudzî).




Artinya: "Jarak yang paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika sujud. Maka perbanyaklah doa (ketika itu)." (HR. Muslim).




Artinya: "Allah mempunyai nama-nama yang baik, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama tersebut. Dan tinggalkanlah (cara-cara) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang mereka kerjakan."
(Al-A'râf: 180)

Tempat-tempat yang baik untuk berdoa

1. Di kala melihat ka'bah.
2. Di kala me1ihat mesjid Rasulullah Saw.
3. Di tempat dan di kala melakukan thawaf.
4. Di sisi Multazam. Didalam Ka'bah.
5. Di sisi sumur Zamzam.
6. Di belakang makam Ibrahim.
7. Di atas bukit Shafa dan Marwah.
8. Di 'Arafah, di Muzdalifah, di Mina dan di sisi Jamarat yang tiga.
9. Di tempat-tempat yang mulia lainnya, seperti di Mesjid dan tempat-tempat peribadatan lainnya.


selengkapnya...

Gabung bersama kami

About Me

admin jg menerima pelayanan jasa

admin jg menerima pelayanan jasa
Jasa arsitek rumah; desain arsitek / desain rumah, gambar denah rumah, bangun rumah baru, renovasi rumah dan pembangunan mesjid, mushola, ruko, disaign taman, dll. klik gambar utk kontak personal.

Syiar Islam On Twitter

Site info

Kalkulator Zakat Fitrah

  © Syiar islam Intisari Muslim by Dede Suhaya (@putra_f4jar) 2015

Back to TOP  

Share |